[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-1-id-113":3,"doc-seo-668644-113":41,"doc-detail-668644-id":113},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37],{"id":8,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":11,"show_sort_weight":4,"slug":12},178,1,"Template","Faktur","faktur",{"id":14,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":15,"show_sort_weight":4,"slug":16},192,"Formulir","formulir-192",{"id":18,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":19,"show_sort_weight":4,"slug":20},180,"Media Sosial","media-sosial",{"id":22,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":23,"show_sort_weight":4,"slug":24},179,"Poster","poster",{"id":26,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":27,"show_sort_weight":4,"slug":28},176,"Presentasi","presentasi",{"id":30,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":31,"show_sort_weight":4,"slug":32},177,"Resume","resume",{"id":34,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":35,"show_sort_weight":4,"slug":36},182,"Surat","surat-a95d00d3aaf04f3b854ecf140f00d385",{"id":38,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":39,"show_sort_weight":4,"slug":40},183,"Umum","umum-07d1ff437201438088836b2b1ed3c90f",{"code":4,"msg":42,"data":43},"ok",{"site_id":44,"language":45,"slug":46,"title":47,"keywords":48,"description":49,"schema_data":50,"social_meta":106,"head_meta":108,"extra_data":110,"updated_unix":112},113,"id","poem-putra-victory-by-ws-rendra","PUISI PUTRA - GUGUR - Karya W.S. Rendra","","Puisi “Gugur” karya W.S. Rendra melukiskan seorang lelaki tua yang merangkak di atas bumi yang dicintainya setelah pertempuran gemilang. Luka-luka dan serangan lanjutan tak menghentikannya untuk kembali menuju kota yang disayanginya, sambil menyampaikan pesan asal-usul dari tanah serta kehormatan bumi. Setelah itu, bumi dipandang sebagai tempat berpelukan selamanya, disambung oleh janji cucu yang akan menanam benih, hingga ia menutup mata.",{"@graph":51,"@context":105},[52,68,88],{"@type":53,"itemListElement":54},"BreadcrumbList",[55,59,62,65],{"item":56,"name":57,"@type":58,"position":9},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":60,"name":10,"@type":58,"position":61},"https://docshare.wps.com/id/template/",2,{"item":63,"name":39,"@type":58,"position":64},"https://docshare.wps.com/id/template/umum/",3,{"item":66,"name":47,"@type":58,"position":67},"https://docshare.wps.com/id/template/poem-putra-victory-by-ws-rendra/668644/",4,{"url":66,"name":47,"@type":69,"image":70,"author":75,"headline":47,"publisher":78,"fileFormat":81,"inLanguage":45,"description":49,"dateModified":82,"datePublished":82,"encodingFormat":81,"isAccessibleForFree":83,"interactionStatistic":84},"DigitalDocument",{"url":71,"@type":72,"width":73,"height":74},"https://docshare.wps.com/thumbnails/poem-putra-victory-by-ws-rendra/668644.png","ImageObject",442,249,{"name":76,"@type":77},"Đào","Person",{"url":56,"name":79,"@type":80},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-10-31",true,{"@type":85,"interactionType":86,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":87},"ViewAction",{"@type":89,"mainEntity":90},"FAQPage",[91,97,101],{"name":92,"@type":93,"acceptedAnswer":94},"Puisi “Gugur” menggambarkan peristiwa apa?","Question",{"text":95,"@type":96},"Puisi menggambarkan seorang lelaki tua yang, setelah pertempuran, merangkak dengan luka-luka menuju kota kesayangannya meski terus menghadapi tindak maut berikutnya.","Answer",{"name":98,"@type":93,"acceptedAnswer":99},"Apa pesan utama yang disampaikan tokoh dalam puisi?",{"text":100,"@type":96},"Tokoh menegaskan bahwa manusia berasal dari tanah dan kembali kepada tanah, serta memuji bumi sebagai kehormatan, jiwa dari jiwa, dan waris yang akan datang.",{"name":102,"@type":93,"acceptedAnswer":103},"Apa isi puisi “Putri” secara garis besar?",{"text":104,"@type":96},"Puisi “Putri” menuturkan ketiadaan jawaban di suatu ruang bisu, kehancuran janji-janji gemerlap, serta generasi yang bertikai dan membangun kota dari beribu mati.","https://schema.org",{"og:url":66,"og:type":107,"og:title":47,"og:site_name":79,"og:description":49},"article",{"robots":109,"canonical":66},"index,follow",{"doc_id":111,"site_id":44},668644,1793488676,{"code":4,"msg":5,"data":114},{"doc_id":111,"user_id":115,"nickname":76,"user_avatar":116,"doc_module":9,"category_id":38,"category_name":39,"doc_title":47,"doc_description":49,"doc_content":117,"file_id":118,"file_url":119,"file_type":120,"file_size":121,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":9,"is_downloadable":9,"audit_status":9,"page_count":64,"language":122,"language_code":45,"site_id":44,"html_lang":45,"table_of_contents":123,"faqs":124,"seo_title":125,"seo_description":49,"update_tm":112,"read_time":9},1374402968488,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_29158cc5080c5b710cf443261637dec0","PUISI PUTRA  \nGUGUR  \nKarya W.S. Rendra  \nIa merangkak  \ndi atas bumi yang dicintainya Tiada kuasa lagi menegak  \nTelah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya  \nKe dada musuh yang merebut kotanya.  \nIa merangkak  \ndi atas bumi yang dicintainya Ia sudah tua  \nluka-luka di badannya.  \nBagai harimau tua  \nsusah payah maut menjeratnya Matanya bagai saga  \nmenatap musuh pergi dari kotanya.  \nSesudah pertempuran yang gemilang itu  \nlima pemuda mengangkatnyadi antaranya anaknya Ia menolak  \ndan tetap merangkak menuju kota kesayangannya Ia merangkak  \ndi atas bumi yang dicintainya.  \nBelum lagi selusin tindakmaut pun menghadangnya.  \nKetika anaknya memegang tangannya ia berkata :  \n“Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah. Dan aku pun berasal dari tanah tanah Ambarawa yang kucinta Kita bukanlah anak jadah  \nKerna kita punya bumi kecintaan. Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya.  \nBumi kita adalah tempat pautan yang sah. Bumi kita adalah kehormatan.  \nBumi kita adalah jiwa dari jiwa.  \nIa adalah bumi nenek moyang.  \nIa adalah bumi waris yang sekarang. Ia adalah bumi waris yang akan datang.  \nHari pun berangkat malam Bumi berpeluh dan terbakar  \nKerna api menyala di kota Ambarawa.  \nOrang tua itu kembali berkata:  \n“Lihatlah, hari telah fajar!  \nWahai bumi yang indah,  \nkita akan berpelukan buat selama-lamanya! Nanti sekali waktu  \nseorang cucuku  \nakan menancapkan bajak di bumi tempatku berkuburkemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan subur Maka ia pun berkata:  \n“Alangkah gembur tanah di sini! Hari pun lengkap malam ketika ia menutup matanya  \nPUISI PUTRI  \nKEMBALI TAK ADA SAHUTAN DI SANA  \nKarya Abdul Hadi WM  \nKembali tak ada sahutan di sana Ruang itu bisu sejak lama  \ndan kami gedor terus pintu-pintunya Hingga runtuh dan berderak  \nmenimpa tahun-tahun penuh kebohongandan teror yang tak henti-hentinya Hingga kami tak bisa tinggal lagi di sana memerah keputusasaan dan cuaca  \nDemikian kami tinggalkan janji-janjigemerlap itu dan mulai bercerai-berai  \nLari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada  \nDari generasi ke generasi Menenggelamkan rumah sendiri ribut tak henti-henti  \nHingga kautanyakan lagi padaku Penduduk negeri damai macam apa kami ini raja-raja datang dan pergiseperti sambaran kilat dan api  \nDan kami bangun kota kami dari beribu mati.  \nTinggi gedung-gedungnya di atas jurang dan tumpukan belulang  \nDan yang takut mendirikan menara sendiri membusuk bersama sepi  \nDemikian kami tinggalkan janji-janji gemerlap itu dan matahari 'kan lama terbit lagi","cbCainKHwk8J3ZZt","https://ap.wps.com/l/cbCainKHwk8J3ZZt","pdf",57636,"Indonesian","# PUISI PUTRA - GUGUR\n## Karya W.S. Rendra\n## Pesan tentang tanah dan kehormatan\n# PUISI PUTRI\n## Karya Abdul Hadi WM\n## Kehilangan ruang dan kehancuran berulang","[{\"question\":\"Puisi “Gugur” menggambarkan peristiwa apa?\",\"answer\":\"Puisi menggambarkan seorang lelaki tua yang, setelah pertempuran, merangkak dengan luka-luka menuju kota kesayangannya meski terus menghadapi tindak maut berikutnya.\"},{\"question\":\"Apa pesan utama yang disampaikan tokoh dalam puisi?\",\"answer\":\"Tokoh menegaskan bahwa manusia berasal dari tanah dan kembali kepada tanah, serta memuji bumi sebagai kehormatan, jiwa dari jiwa, dan waris yang akan datang.\"},{\"question\":\"Apa isi puisi “Putri” secara garis besar?\",\"answer\":\"Puisi “Putri” menuturkan ketiadaan jawaban di suatu ruang bisu, kehancuran janji-janji gemerlap, serta generasi yang bertikai dan membangun kota dari beribu mati.\"}]","PUISI PUTRA - GUGUR - Karya W.S. Rendra | PDF"]