[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-1-id-113":3,"doc-seo-236374-113":41,"doc-detail-236374-id":108},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37],{"id":8,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":11,"show_sort_weight":4,"slug":12},178,1,"Template","Faktur","faktur",{"id":14,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":15,"show_sort_weight":4,"slug":16},192,"Formulir","formulir-192",{"id":18,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":19,"show_sort_weight":4,"slug":20},180,"Media Sosial","media-sosial",{"id":22,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":23,"show_sort_weight":4,"slug":24},179,"Poster","poster",{"id":26,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":27,"show_sort_weight":4,"slug":28},176,"Presentasi","presentasi",{"id":30,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":31,"show_sort_weight":4,"slug":32},177,"Resume","resume",{"id":34,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":35,"show_sort_weight":4,"slug":36},182,"Surat","surat-a95d00d3aaf04f3b854ecf140f00d385",{"id":38,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":39,"show_sort_weight":4,"slug":40},183,"Umum","umum-07d1ff437201438088836b2b1ed3c90f",{"code":4,"msg":42,"data":43},"ok",{"site_id":44,"language":45,"slug":46,"title":47,"keywords":48,"description":49,"schema_data":50,"social_meta":101,"head_meta":103,"extra_data":105,"updated_unix":107},113,"id","public-infrastructure-provision-cooperation-agreement-between-government-and-private-sector","Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan Infrastruktur Publik","","Penelitian ini mengkaji regulasi yang menjadi dasar hukum perjanjian kerja sama antara pemerintah dan swasta dalam penyediaan infrastruktur publik. Hasil kajian menunjukkan adanya kekosongan norma, konflik norma, serta kekaburan norma pada berbagai peraturan, sehingga praktik membuka peluang penafsiran yang melahirkan beragam jenis peraturan yang kurang ideal. Fokus utama dibahas pada pertentangan ketentuan penetapan para pihak dalam perjanjian dan pengaturan penyelesaian sengketa.",{"@graph":51,"@context":100},[52,68,83],{"@type":53,"itemListElement":54},"BreadcrumbList",[55,59,62,65],{"item":56,"name":57,"@type":58,"position":9},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":60,"name":10,"@type":58,"position":61},"https://docshare.wps.com/id/template/",2,{"item":63,"name":35,"@type":58,"position":64},"https://docshare.wps.com/id/template/surat/",3,{"item":66,"name":47,"@type":58,"position":67},"https://docshare.wps.com/id/template/public-infrastructure-provision-cooperation-agreement-between-government-and-private-sector/236374/",4,{"url":66,"name":47,"@type":69,"author":70,"headline":47,"publisher":73,"fileFormat":76,"inLanguage":45,"description":49,"dateModified":77,"datePublished":77,"encodingFormat":76,"isAccessibleForFree":78,"interactionStatistic":79},"DigitalDocument",{"name":71,"@type":72},"Quinn Holloway","Person",{"url":56,"name":74,"@type":75},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-11",true,{"@type":80,"interactionType":81,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":82},"ViewAction",{"@type":84,"mainEntity":85},"FAQPage",[86,92,96],{"name":87,"@type":88,"acceptedAnswer":89},"Apa fokus utama penelitian mengenai perjanjian kerja sama pemerintah dan swasta?","Question",{"text":90,"@type":91},"Penelitian memfokuskan pada dasar regulasi PPP serta konflik dan kekaburan norma, khususnya mengenai penetapan para pihak dan penyelesaian sengketa.","Answer",{"name":93,"@type":88,"acceptedAnswer":94},"Peraturan apa saja yang dibahas sebagai payung hukum perjanjian kerja sama pemerintah dan swasta?",{"text":95,"@type":91},"Payung hukumnya mencakup undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan daerah.",{"name":97,"@type":88,"acceptedAnswer":98},"Bagaimana kondisi norma memengaruhi praktik penyusunan regulasi turunan?",{"text":99,"@type":91},"Adanya kekosongan, konflik, dan kekaburan norma membuka peluang penafsiran yang berujung pada beragam ragam peraturan yang kurang baik.","https://schema.org",{"og:url":66,"og:type":102,"og:title":47,"og:site_name":74,"og:description":49},"article",{"robots":104,"canonical":66},"index,follow",{"doc_id":106,"site_id":44},236374,1789104896,{"code":4,"msg":5,"data":109},{"doc_id":106,"user_id":110,"nickname":71,"user_avatar":111,"doc_module":9,"category_id":34,"category_name":35,"doc_title":47,"doc_description":49,"doc_content":112,"file_id":113,"file_url":114,"file_type":115,"file_size":116,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":9,"is_downloadable":9,"audit_status":9,"page_count":117,"language":118,"language_code":45,"site_id":44,"html_lang":45,"table_of_contents":119,"faqs":120,"seo_title":121,"seo_description":49,"update_tm":107,"read_time":122},2336474466712,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_a8503ba1806abce46bf441b54a3ca4cd","PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA PEMERINTAH DAN SWASTADALAM  \nPENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PUBLIK*  \nZainal Asikin**  \nBagian Hukum Bisnis, Fakultas Hukum Universitas Mataram, Mataram Jalan Majapahit Nomor 62 Mataram, Nusa Tenggara Barat, 83125  \nAbstract  \n\n| This research identifies several regulations related to public-private partnership (PPP) agreements such as acts, government regulations, presidential regulations, and local byelaws. We find that in addition to having some legal lacunae, the existing norms are either conflicting or obscure. In practice, this condition opens chance for many interpretation which eventually result in a cornucopia of different variety of inferior regulations. We will show that provisions pertaining to the designation of the contracting parties in a PPP and its dispute settlement are conflicting.\u003Cbr>Keywords: public-private partnership agreement, infrastructure.\u003Cbr>Intisari |\n| --- |\n| Penelitian ini berhasil menunjukkan beberapa peraturan hukum yang menjadi payung hukum perjanjiankerjasama antara pemerintah dan swasta, antara lain dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan daerah. Ternyata masih terdapat kekosongan norma, konflik norma, dankekaburan norma dalam berbagai peraturan hukum tersebut sehingga menimbulkan berbagai penafsirandalam praktik, dan pada akhirnya berdampak pada berbagai ragam peraturan. Konflik norma berkisartentang siapa yang menjadi para pihak dalam perjanjian kerjasama antara pemerintah dan swasta sertabagaimana penyelesaian sengketa atas sengketa hukum tersebut.\u003Cbr>Kata Kunci: perjanjian kerjasama, infrastruktur.\u003Cbr>Pokok Muatan |\n| A. Latar Belakang .......................................................................................................................... 56\u003Cbr>B. Metode Penelitian ...................................................................................................................... 59\u003Cbr>C. Hasil Penelitian dan Pembahasan .............................................................................................. 59\u003Cbr>1. Konsep Perjanjian Kerjasama.............................................................................................. 59\u003Cbr>2. Bentuk-Bentuk Kerjasama................................................................................................... 60\u003Cbr>3. Penafsiran terhadap Subyek Hukum.................................................................................... 61\u003Cbr>4. Penafsiran terhadap Pihak Ketiga (Government Contracting Agency) ............................... 62\u003Cbr>5. Permasalahan pada Kompetensi Penyelesaian Sengketa..................................................... 64\u003Cbr>D. Kesimpulan ................................................................................................................................ 66 |\n\n* Hasil Penelitian Fakultas Hukum Universitas Mataram Tahun 2011.  \n** Email korespondensi: [asikinzainal@yahoo.com](asikinzainal@yahoo.com)  \n56 MIMBAR HUKUM Volume 25, Nomor 1, Februari 2013, Halaman 55-67  \nA. Latar Belakang  \nSebagaimana diketahui bahwa seiring dengandinamisnya pelaksanaan otonomi daerah, makapemerintah (daerah) memiliki peluang yang sangat besar untuk melaksanakan kerjasamadengan pihak ketiga sebagaimana dijamin dalam Pasal 195 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, sebagai berikut: (1) Dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat, daerah dapat mengadakankerjasama dengandaerahlain yang didasarkan padapertimbangan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, sinergi dan saling menguntungkan; (2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diwujudkan dalam bentuk badan kerjasama antar daerah yang diatur dengan keputusan bersama; (3) Dalam penyediaan pelayanan publik, daerah dapat bekerjasama dengan pihak ketiga;(4) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) yang membebani masyarakat dan daerah harus mendapatkan persetujuan DPRD.  \nPerjanjian antara pemerintah daerah dengan pihak swasta dimungkinkan sepanjang","cbCaio3PkXE5z12h","https://ap.wps.com/l/cbCaio3PkXE5z12h","pdf",435307,13,"Indonesian","# Latar Belakang\n# Metode Penelitian\n# Hasil Penelitian dan Pembahasan\n## Konsep Perjanjian Kerjasama\n## Bentuk-Bentuk Kerjasama\n## Penafsiran terhadap Subyek Hukum\n## Penafsiran terhadap Pihak Ketiga (Government Contracting Agency)\n## Permasalahan pada Kompetensi Penyelesaian Sengketa\n# Kesimpulan","[{\"question\":\"Apa fokus utama penelitian mengenai perjanjian kerja sama pemerintah dan swasta?\",\"answer\":\"Penelitian memfokuskan pada dasar regulasi PPP serta konflik dan kekaburan norma, khususnya mengenai penetapan para pihak dan penyelesaian sengketa.\"},{\"question\":\"Peraturan apa saja yang dibahas sebagai payung hukum perjanjian kerja sama pemerintah dan swasta?\",\"answer\":\"Payung hukumnya mencakup undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan daerah.\"},{\"question\":\"Bagaimana kondisi norma memengaruhi praktik penyusunan regulasi turunan?\",\"answer\":\"Adanya kekosongan, konflik, dan kekaburan norma membuka peluang penafsiran yang berujung pada beragam ragam peraturan yang kurang baik.\"}]","Perjanjian Kerjasama Antara Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan Infrastruktur Publik | PDF",5]