[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-1-id-113":3,"doc-seo-235668-113":41,"doc-detail-235668-id":100},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37],{"id":8,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":11,"show_sort_weight":4,"slug":12},178,1,"Template","Faktur","faktur",{"id":14,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":15,"show_sort_weight":4,"slug":16},192,"Formulir","formulir-192",{"id":18,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":19,"show_sort_weight":4,"slug":20},180,"Media Sosial","media-sosial",{"id":22,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":23,"show_sort_weight":4,"slug":24},179,"Poster","poster",{"id":26,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":27,"show_sort_weight":4,"slug":28},176,"Presentasi","presentasi",{"id":30,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":31,"show_sort_weight":4,"slug":32},177,"Resume","resume",{"id":34,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":35,"show_sort_weight":4,"slug":36},182,"Surat","surat-a95d00d3aaf04f3b854ecf140f00d385",{"id":38,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":39,"show_sort_weight":4,"slug":40},183,"Umum","umum-07d1ff437201438088836b2b1ed3c90f",{"code":4,"msg":42,"data":43},"ok",{"site_id":44,"language":45,"slug":46,"title":47,"keywords":48,"description":49,"schema_data":50,"social_meta":93,"head_meta":95,"extra_data":97,"updated_unix":99},113,"id","jurnal-making-a-2d-animated-film-seeing-things-using-frame-by-frame-technique-final-project","JURNAL - PEMBUATAN FILM ANIMASI 2D“SEEING THINGS” - DENGAN TEKNIK FRAME BY FRAME - Tugas Akhir","","Inspirasi film animasi 2D “Seeing Things” berasal dari sifat penakut yang umum dialami anak kecil namun dapat terbawa hingga dewasa. Cerita menghadirkan suasana nostalgia melalui kenangan kejadian konyol yang muncul akibat rasa takut tidak rasional sejak kanak-kanak. Pesan yang disampaikan diharapkan relevan bagi berbagai usia karena setiap orang pernah mengalami fase tersebut. Proses pengerjaan mengikuti tiga tahap, mulai praproduksi hingga pascaproduksi, dengan penerapan teknik frame by frame serta penataan warna berbasis kontras.",{"@graph":51,"@context":92},[52,68,83],{"@type":53,"itemListElement":54},"BreadcrumbList",[55,59,62,65],{"item":56,"name":57,"@type":58,"position":9},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":60,"name":10,"@type":58,"position":61},"https://docshare.wps.com/id/template/",2,{"item":63,"name":39,"@type":58,"position":64},"https://docshare.wps.com/id/template/umum/",3,{"item":66,"name":47,"@type":58,"position":67},"https://docshare.wps.com/id/template/jurnal-making-a-2d-animated-film-seeing-things-using-frame-by-frame-technique-final-project/235668/",4,{"url":66,"name":47,"@type":69,"author":70,"headline":47,"publisher":73,"fileFormat":76,"inLanguage":45,"description":49,"dateModified":77,"datePublished":77,"encodingFormat":76,"isAccessibleForFree":78,"interactionStatistic":79},"DigitalDocument",{"name":71,"@type":72},"Genevieve","Person",{"url":56,"name":74,"@type":75},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-11",true,{"@type":80,"interactionType":81,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":82},"ViewAction",{"@type":84,"mainEntity":85},"FAQPage",[86],{"name":87,"@type":88,"acceptedAnswer":89},"Mengapa teknik frame by frame dipilih?","Question",{"text":90,"@type":91},"Frame by frame dipilih untuk memperoleh visual yang diinginkan serta tingkat familiaritas dalam proses pembuatan, dengan cara menggambar banyak frame berurutan untuk membentuk ilusi gerakan.","Answer","https://schema.org",{"og:url":66,"og:type":94,"og:title":47,"og:site_name":74,"og:description":49},"article",{"robots":96,"canonical":66},"index,follow",{"doc_id":98,"site_id":44},235668,1789099708,{"code":4,"msg":5,"data":101},{"doc_id":98,"user_id":102,"nickname":71,"user_avatar":103,"doc_module":9,"category_id":38,"category_name":39,"doc_title":47,"doc_description":49,"doc_content":104,"file_id":105,"file_url":106,"file_type":107,"file_size":108,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":9,"is_downloadable":9,"audit_status":9,"page_count":109,"language":110,"language_code":45,"site_id":44,"html_lang":45,"table_of_contents":111,"faqs":112,"seo_title":113,"seo_description":49,"update_tm":99,"read_time":114},1374391974585,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_276721f389ce27ea32af1340a28f341c","JURNAL  \nPEMBUATAN FILM ANIMASI 2D“SEEING THINGS”  \nDENGAN TEKNIK FRAME BY FRAME  \nTugas Akhir  \nuntuk memenuhi sebagai persyaratanmencapai derajat Ahli Madya  \nProgram Studi D-3 Animasi  \nI Dewa Made Yoga Wisara Putra  \nNIM 1500118033  \nPROGRAM STUDI D-3 ANIMASI JURUSAN TELEVISIFAKULTAS SENI MEDIA REKAM INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA  \nABSTRAK  \nInspirasi untuk animasi ini didapat dari sifat penakut yang umumdirasakan anak kecil yang masih dibawa hingga dewasa. Dari cerita ini efek nostalgia bisa didapat ketika mengingat kejadian-kejadian konyol yang terjadi dulu karena rasa takut tidak rasional ketika masih kanak-kanak, danterkadang dibawa hingga dewasa. Karena setiap orang pernah mengalaminya, pesan yang ingin disampaikan bisa cepat diterima semua umur.  \nProses pengerjaan animasi dibagi menjadi tiga tahap yaitu Praproduksi,Produksi,dan Pascaproduksi. Saat Praproduksi rancangan awal seperti Storyboard, Desain Karakter, dan Layout dibuat sebagai bluepritnt animasi. Bagian ini sangat penting karena akan menentukan hasil akhir darianimasi, menentukan bagaimana tiap adegan akan terlihat dan jugapergerakan kamera adalah salah satu contoh pentingnya tahap ini. Untukmenentukan durasi, animatic juga dibuat di Praproduksi, yang juga berfungsiuntuk melihat apakah jalan animasi per adegan sudah bisa dimengerti ataubelum. Dilanjutkan dengan Produksi dimana sebagian besar waktupengerjaandiambil. Tahap ini dimana proses penganimasian, membuat background, dan pewarnaan dilakukan. Penganimasian dibuat dengan teknik frame by frame yaitu membuat sebuah gambar (frame) kemudian membuat gambar yang identical lagi dan seterusnya untuk membuat ilusi gerakan. Frame by frame dipilih untuk mendapat visual yang dicari dan kefamiliaritas teknik ini. Pembuatan background didasarkan dengan storyboard dari PraProduksi, dan pewarnaan dipilih dengan mengkontraskan warna dingin  \nKata Kunci : Frame, Visual, Rasa Takut, Produksi  \nABSTRACT  \nThe inspiration for this animation is derived from the cowardly nature common to children who are still brought to adulthood. Nostalgia can be obtained from this story when remembering the silly events that occurred in the past because of the overwhelming fear as a irrational child that sometimes brought into adulthood. Because everyone has experienced it, the message tobe conveyed can be quickly accepted by all ages.  \nThe process of animation is divided into three stages: Preproduction, Production, and Postproduction. During Preproduction, designs such as Storyboard, Character Design, and Layout were created as animation bluepritnt. This section is very important because it will determine the end result of the animation, determining how each scene will be seen and movement of the camera is one example of the importance of this stage. To determine the duration, animatics are also created in Preproduction, which also serves to see if each animated scene is understandable or not. Continued with Production where most of the time for work is taken. This stage is where the process of animating, creating background, and coloring are done. Animation are made by using the frame by frame technique that is making animage (frame) then make the image that is identical again and so on to make the illusion of movement. Frame by frame is selected to get the desired visual style and familiarity of this technique. The background creation is based on the storyboard of PreProduction, and coloring is selected by contrasting the cool and warm colors  \nKeywords: Frame, Visual, Fear, Production  \nI. Pendahuluan  \nA. Latar Belakang  \nAnimasi 2d ini menggunakan cerita yang terinspirasi dari rasa takut tidak rasional. Rasa takut sering dirasakan terutama ketika masih kecil, terkadang bahkan hingga dewasa. Ketika seseorang masih kecil otak yang masih mudabekerja secara aktif untuk mendukung pertumbuhan, tetapi di saat yang bersamaan belum bisa memproses sebuah informasi dengan logis dan sesuainalar sehingga anak kecil mempunyai imajinasi yang","cbCaimzWunJjbXrT","https://ap.wps.com/l/cbCaimzWunJjbXrT","pdf",1972440,18,"Indonesian","# Abstrak\n# Kata Kunci\n# Pendahuluan\n## Latar Belakang\n# Perwujudan\n## Pembuatan Pipeline Kerja\n## Praproduksi","[{\"question\":\"Mengapa teknik frame by frame dipilih?\",\"answer\":\"Frame by frame dipilih untuk memperoleh visual yang diinginkan serta tingkat familiaritas dalam proses pembuatan, dengan cara menggambar banyak frame berurutan untuk membentuk ilusi gerakan.\"}]","JURNAL - PEMBUATAN FILM ANIMASI 2D“SEEING THINGS” - DENGAN TEKNIK FRAME BY FRAME - Tugas Akhir | PDF",6]