[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-1-id-113":3,"doc-seo-233894-113":41,"doc-detail-233894-id":106},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37],{"id":8,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":11,"show_sort_weight":4,"slug":12},178,1,"Template","Faktur","faktur",{"id":14,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":15,"show_sort_weight":4,"slug":16},192,"Formulir","formulir-192",{"id":18,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":19,"show_sort_weight":4,"slug":20},180,"Media Sosial","media-sosial",{"id":22,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":23,"show_sort_weight":4,"slug":24},179,"Poster","poster",{"id":26,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":27,"show_sort_weight":4,"slug":28},176,"Presentasi","presentasi",{"id":30,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":31,"show_sort_weight":4,"slug":32},177,"Resume","resume",{"id":34,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":35,"show_sort_weight":4,"slug":36},182,"Surat","surat-a95d00d3aaf04f3b854ecf140f00d385",{"id":38,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":39,"show_sort_weight":4,"slug":40},183,"Umum","umum-07d1ff437201438088836b2b1ed3c90f",{"code":4,"msg":42,"data":43},"ok",{"site_id":44,"language":45,"slug":46,"title":47,"keywords":48,"description":49,"schema_data":50,"social_meta":99,"head_meta":101,"extra_data":103,"updated_unix":105},113,"id","chapter-2-literature-review-233894","BAB II - TINJAUAN PUSTAKA","","Bab II Tinjauan Pustaka membahas landasan teoretis penelitian mengenai bentuk asertivitas tokoh utama dalam komik Cédric tome 13. Pembahasan dimulai dari konsep pragmatik sebagai kajian makna yang disampaikan penutur dan ditafsirkan mitra tutur berdasarkan konteks serta maksud ujaran. Selanjutnya uraian berfokus pada tindak tutur, termasuk sejarah pemikiran Austin dan Searle serta klasifikasi lokusi, ilokusi, dan perlokusi, beserta contoh penggunaan tindak tutur dalam komunikasi.",{"@graph":51,"@context":98},[52,68,89],{"@type":53,"itemListElement":54},"BreadcrumbList",[55,59,62,65],{"item":56,"name":57,"@type":58,"position":9},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":60,"name":10,"@type":58,"position":61},"https://docshare.wps.com/id/template/",2,{"item":63,"name":39,"@type":58,"position":64},"https://docshare.wps.com/id/template/umum/",3,{"item":66,"name":47,"@type":58,"position":67},"https://docshare.wps.com/id/template/chapter-2-literature-review-233894/233894/",4,{"url":66,"name":47,"@type":69,"image":70,"author":75,"headline":47,"publisher":78,"fileFormat":81,"inLanguage":45,"description":49,"dateModified":82,"datePublished":83,"encodingFormat":81,"isAccessibleForFree":84,"interactionStatistic":85},"DigitalDocument",{"url":71,"@type":72,"width":73,"height":74},"https://docshare.wps.com/thumbnails/chapter-2-literature-review-233894/233894.png","ImageObject",442,249,{"name":76,"@type":77},"Dozel","Person",{"url":56,"name":79,"@type":80},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-22","2026-09-10",true,{"@type":86,"interactionType":87,"userInteractionCount":9},"InteractionCounter",{"@type":88},"ViewAction",{"@type":90,"mainEntity":91},"FAQPage",[92],{"name":93,"@type":94,"acceptedAnswer":95},"Apa perbedaan tindak tutur lokusi dan ilokusi menurut Bab II?","Question",{"text":96,"@type":97},"Lokusi menekankan penyampaian isi tuturan sebagai pernyataan/informasi, sedangkan ilokusi berkaitan dengan tindakan yang dilakukan melalui kalimat, sering diidentifikasi melalui kalimat performatif.","Answer","https://schema.org",{"og:url":66,"og:type":100,"og:title":47,"og:site_name":79,"og:description":49},"article",{"robots":102,"canonical":66},"index,follow",{"doc_id":104,"site_id":44},233894,1790044857,{"code":4,"msg":5,"data":107},{"doc_id":104,"user_id":108,"nickname":76,"user_avatar":109,"doc_module":9,"category_id":38,"category_name":39,"doc_title":47,"doc_description":49,"doc_content":110,"file_id":111,"file_url":112,"file_type":113,"file_size":114,"view_count":9,"is_deleted":4,"is_public":9,"is_downloadable":9,"audit_status":9,"page_count":115,"language":116,"language_code":45,"site_id":44,"html_lang":45,"table_of_contents":117,"faqs":118,"seo_title":119,"seo_description":49,"update_tm":120,"read_time":121},962085662650,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_29158cc5080c5b710cf443261637dec0","BAB II  \nTINJAUAN PUSTAKA  \nA. Deskripsi Teoretis  \nBerdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini yakni Apa sajakah bentuk  \nbentuk asertivitas tokoh utama dalam komik Cédric tome 13 karya Laudec dan  \nCauvin, maka pada bab ini dikaji teori-teori yang mendukung penelitian, yaitu :  \nA.1 Pragmatik  \nAkhir-akhir ini selain semantik, pragmatik menjadi salah satu bidang kajian  \nlinguistik yang sedang berkembang pesat. Baik pragmatik maupun semantik sama  \nsama mengkaji tentang ‘arti’ dalam sudut pandang yang berbeda. Menurut Yule  \n(2014:3-4) menyatakan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang  \ndisampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh mitra tutur. Sejalan dengan Yule,  \nMuhadjir (2017:207) mengatakan pragmatik berhubungan dengan maksud ujaran dan  \nmenyangkutkan makna dengan pihak-pihak penutur (interlocutors), yakni penutur  \ndan mitra tutur. Kemudian Frida (2018:82) mengatakan jika pragmatik itu adalah  \ncabang ilmu linguistik yang mengkaji tentang makna berdasarkan konteks atau  \nberdasarkan penutur dan situasi.  \nPragmatik mengkaji tentang maksud dan tujuan yang ingin disampaikan penutur kepada mitra tutur. Dengan menekankan maksud dibalik sebuah kalimat bukan hanya sekedar makna yang terkandung didalam kalimat. Oleh karena itu, pragmatik banyak kita temukan dalam setiap percakapan.  \nDari pengertian tersebut dapat disimpulkan jika pragmatik merupakan cabang  \nilmu linguistik yang membahas tentang makna yang terdapat dalam kalimat atau  \ntuturan yang disampaikan oleh penutur (locuteur) dan makna tersebut ditafsirkan oleh  \nmitra tutur (interlocuteur) dalam konteks tertentu. Karena salah satu topik utama  \ndalam kajian pragmatik adalah tindak tutur. Jadi, penelitian ini memiliki kaitan erat  \ndengan pragmatik yaitu tindak tutur asertif yang termasuk dalam cakupan ilmu  \npragmatik yang mengkaji tentang makna dari sebuah tuturan.  \nA.2 Tindak Tutur dan Jenis-Jenis Tindak Tutur  \nSeorang filsuf Inggris, John L. Austin adalah orang pertama yang  \nmenyampaikan teori tindak tutur (speech act) pada tahun 1960-an, dan dikembangkan  \noleh John Searle1970-an. Austin menjelaskan bahwa tindak tutur dapat diistilahkan  \n“By saying something we do something” dengan mengatakan sesuatu kita akan  \nmelakukan sesuatu pula. Menurut Dubois (2002:14) “On appelle acte de parole l’énoncé effectivement réalisé par un locuteur déterminé dans une situation donnée. On appelle acte de langage l'utilisation du langage comme une action, et non plus  \nseulement comme un message”. Tindak tutur adalah pernyataan yang sebenarnyadituturkan oleh penutur dalam sebuah situasi tertentu. Dan tindak tutur jugamenggunakan bahasa sebagai sebuah tindakan, bukan hanya sebagai sebuah pesan.  \nSelanjutnya, Searle dalam Nadar (2013:12-13) menyatakan bahwa unsur  \nterkecil dalam komunikasi adalah tindak tutur seperti menyatakan, membuat  \npertanyaan, memberi perintah, menguraikan, menjelaskan, minta maaf, berterima  \nkasih, dan mengucapkan selamat. Salah satu contoh dari tindak tutur adalah sebagai  \nberikut.  \n(1) Je suis désolé de venir en retard  \n(Maaf saya datang terlambat)  \nPada contoh (1) penutur tidak hanya menunjukkan sebuah penyesalan pada  \nmitra tutur karena ia datang terlambat, tetapi melakukan tindakan minta maaf karena  \nia datang terlambat dan merasa bersalah atas keterlambatannya.  \nChaer dan Agustina (2010:50) mengatakan bahwa tindak tutur merupakan  \ngejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungan ditentukan oleh  \nkemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dikatakannya juga  \nbahwa tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Jadi  \ndapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan berbagai bentuk tindakan yang  \ndapat dilakukan oleh penutur (termasuk juga penulis) untuk menyampaikan makna atau tujuan tuturan kepada mitra tutur.  \nAustin dalam Wibowo (2006:54) mengklasifikasikan tindak tutur menjadi tiga klasifikasi, yaitu tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak t","cbCaivNBxEGoS7PB","https://ap.wps.com/l/cbCaivNBxEGoS7PB","pdf",506883,26,"Indonesian","# BAB II\n## TINJAUAN PUSTAKA\n### A. Deskripsi Teoretis\n## A.1 Pragmatik\n## A.2 Tindak Tutur dan Jenis-Jenis Tindak Tutur\n### A. Tindak Tutur Lokusi\n### B. Tindak Tutur Ilokusi","[{\"question\":\"Apa perbedaan tindak tutur lokusi dan ilokusi menurut Bab II?\",\"answer\":\"Lokusi menekankan penyampaian isi tuturan sebagai pernyataan/informasi, sedangkan ilokusi berkaitan dengan tindakan yang dilakukan melalui kalimat, sering diidentifikasi melalui kalimat performatif.\"}]","BAB II - TINJAUAN PUSTAKA | PDF",1789081730,9]