[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-1-id-113":3,"doc-seo-237011-113":41,"doc-detail-237011-id":108},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37],{"id":8,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":11,"show_sort_weight":4,"slug":12},178,1,"Template","Faktur","faktur",{"id":14,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":15,"show_sort_weight":4,"slug":16},192,"Formulir","formulir-192",{"id":18,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":19,"show_sort_weight":4,"slug":20},180,"Media Sosial","media-sosial",{"id":22,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":23,"show_sort_weight":4,"slug":24},179,"Poster","poster",{"id":26,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":27,"show_sort_weight":4,"slug":28},176,"Presentasi","presentasi",{"id":30,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":31,"show_sort_weight":4,"slug":32},177,"Resume","resume",{"id":34,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":35,"show_sort_weight":4,"slug":36},182,"Surat","surat-a95d00d3aaf04f3b854ecf140f00d385",{"id":38,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":39,"show_sort_weight":4,"slug":40},183,"Umum","umum-07d1ff437201438088836b2b1ed3c90f",{"code":4,"msg":42,"data":43},"ok",{"site_id":44,"language":45,"slug":46,"title":47,"keywords":48,"description":49,"schema_data":50,"social_meta":101,"head_meta":103,"extra_data":105,"updated_unix":107},113,"id","chapter-1-introduction-237011","BAB I - PENDAHULUAN","","Bab I Pendahuluan membahas pendidikan sebagai parameter kualitas sumber daya manusia dan pentingnya pembelajaran yang menyeluruh. Uraian menyoroti konteks revolusi teknologi dan kebutuhan pendekatan yang mencakup kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Dokumen menekankan adanya bias gender dalam berbagai aspek pembelajaran, termasuk pandangan stereotip melalui iklan, materi ajar, rumusan kalimat, perlakuan guru, hingga praktik di sekolah. Kajian juga mengaitkan mutu buku teks dengan tujuan pembelajaran dan penerapan pembelajaran berbasis teks pada Kurikulum 2013.",{"@graph":51,"@context":100},[52,68,83],{"@type":53,"itemListElement":54},"BreadcrumbList",[55,59,62,65],{"item":56,"name":57,"@type":58,"position":9},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":60,"name":10,"@type":58,"position":61},"https://docshare.wps.com/id/template/",2,{"item":63,"name":39,"@type":58,"position":64},"https://docshare.wps.com/id/template/umum/",3,{"item":66,"name":47,"@type":58,"position":67},"https://docshare.wps.com/id/template/chapter-1-introduction-237011/237011/",4,{"url":66,"name":47,"@type":69,"author":70,"headline":47,"publisher":73,"fileFormat":76,"inLanguage":45,"description":49,"dateModified":77,"datePublished":77,"encodingFormat":76,"isAccessibleForFree":78,"interactionStatistic":79},"DigitalDocument",{"name":71,"@type":72},"Mimi","Person",{"url":56,"name":74,"@type":75},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-11",true,{"@type":80,"interactionType":81,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":82},"ViewAction",{"@type":84,"mainEntity":85},"FAQPage",[86,92,96],{"name":87,"@type":88,"acceptedAnswer":89},"Mengapa pembelajaran dianggap mutlak diperlukan dalam pendidikan?","Question",{"text":90,"@type":91},"Pembelajaran diperlukan karena pendidikan menjadi parameter kualitas sumber daya manusia, sehingga diperlukan pendekatan yang menyeluruh agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.","Answer",{"name":93,"@type":88,"acceptedAnswer":94},"Bagaimana stereotip gender muncul dalam pembelajaran dan materi ajar?",{"text":95,"@type":91},"Stereotip muncul melalui contoh gambar, rumusan kalimat, dan cara guru memperlakukan siswa yang sering menempatkan peran tertentu pada perempuan atau laki-laki.",{"name":97,"@type":88,"acceptedAnswer":98},"Apa kaitan pembelajaran berbasis teks dengan Kurikulum 2013?",{"text":99,"@type":91},"Kurikulum 2013 menerapkan pembelajaran berbasis teks yang mencakup memahami teks, mengolah teks, mendiskusikan, mengubah, dan memproduksi teks agar bahasa juga mengembangkan kemampuan berpikir siswa.","https://schema.org",{"og:url":66,"og:type":102,"og:title":47,"og:site_name":74,"og:description":49},"article",{"robots":104,"canonical":66},"index,follow",{"doc_id":106,"site_id":44},237011,1789109096,{"code":4,"msg":5,"data":109},{"doc_id":106,"user_id":110,"nickname":71,"user_avatar":111,"doc_module":9,"category_id":38,"category_name":39,"doc_title":47,"doc_description":49,"doc_content":112,"file_id":113,"file_url":114,"file_type":115,"file_size":116,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":9,"is_downloadable":9,"audit_status":9,"page_count":117,"language":118,"language_code":45,"site_id":44,"html_lang":45,"table_of_contents":119,"faqs":120,"seo_title":121,"seo_description":49,"update_tm":107,"read_time":67},2336477974920,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_155a257f0dc6eb9ab79c44ca47cae57d","BAB I  \nPENDAHULUAN  \nA. Latar Belakang Masalah  \nPendidikan merupakan salah satu parameter kualitas sumber daya manusia. Karenaitu, pembelajaran yang ada di dalamnya sangat mutlak diperlukan. Terlebih pada saatrevolusi teknologi dan industri sedang menjadi prioritas utama sehingga perlu pendekatansecara menyeluruh dan mencakup berbagai segi seperti persamaan hak, kedudukan, kesempatan maupun pastisipasi antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang.  \nSebagai negara yang telah meratifikasi konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita sehingga wanita menunjukkan potensi, kemampuan maupun perannya dan berhak atas pembelajaran yang layak. Meskipun saat ini sudah banyak perubahan, namun dalam beberapa hal masih ada kecenderungan untuk menilai perempuan dari bentuk fisik dan perannya yang tidak jauh dari mengurus rumah tangga.  \nSalah satu contohnya adalah bagaimana iklan di berbagai media yang dipenuhidengan aneka produk yang dikhususkan untuk perempuan dan itu terkait dengan penampilan fisik. Tidak hanya produk kecantikan, iklan yang sasarannya laki-laki pun yang menjadi objeknya adalah perempuan. Iklan yang berhubungan dengan masak-memasak pun menjadikan perempuan sebagai pelakunya. Tentunya ini tak terlepas dari stereotip yang melekat pada perempuan.  \nIsmail (2015), telah meneliti buku teks pelajaran kelas VII bahasa Indonesia SMP/ MTS yang mengandung bias gender. Hasil penelitian yang diperoleh menempatkan lebih  \nbanyak perempuan sebagai objek penceritaan. Laki-laki memosisikan dirinya sebagaisubjek. Sementara itu, laki-laki yang muncul sebagai objek selalu diceritakan dalam penceritaan baik. Idealnya, buku teks yang merupakan sumber belajar bagi siswa tidak boleh mengandung bias gender.  \nMuthalib dalam bukunya yang berjudul ”Bias Gender dalam Pendidikan”, mengungkapkan bahwa pembelajaran ternyata sarat dengan bias gender. Dalam buku ajar misalnya, banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaansebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang \"hanya\" dimiliki oleh laki-laki. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guruselalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. Ironisnya siswa pun melihatbahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan, tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. Dalam rumusan kalimat pun demikian. Kalimat seperti\"Ini ibu Budi\" dan bukan \"ini ibu Suci\", \"Ayah membaca koran dan ibu memasak didapur\" dan bukan sebaliknya \"Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran\", masihsering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. Rumusan kalimat tersebut seolah ingin dikatakanbahwa sifat feminin dan kerja domestik diperuntukkan bagi perempuan, sementara itusifat maskulin dan kerja publik diperuntukkan bagi laki-laki.  \nDemikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa, yang berlangsung di dalamatau di luar kelas. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis, ia akan mengatakan \"Masak laki-laki menangis, laki-laki kan nggak boleh cengeng kayak  \nperempuan\". Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya, ia akan mengatakan \"Anak perempuan kok naik meja kayak laki-laki, tidak tahu sopan santun\". Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis, sementara itu hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya.  \nDi beberapa sekolah, saat upacara bendera selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah, tetapi bahkan di tingkat nasional. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara, selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. Belum pernah terjadidalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera ","cbCaitg2iCeSLuQO","https://ap.wps.com/l/cbCaitg2iCeSLuQO","pdf",429635,12,"Indonesian","# BAB I\n## PENDAHULUAN\n## A. Latar Belakang Masalah","[{\"question\":\"Mengapa pembelajaran dianggap mutlak diperlukan dalam pendidikan?\",\"answer\":\"Pembelajaran diperlukan karena pendidikan menjadi parameter kualitas sumber daya manusia, sehingga diperlukan pendekatan yang menyeluruh agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.\"},{\"question\":\"Bagaimana stereotip gender muncul dalam pembelajaran dan materi ajar?\",\"answer\":\"Stereotip muncul melalui contoh gambar, rumusan kalimat, dan cara guru memperlakukan siswa yang sering menempatkan peran tertentu pada perempuan atau laki-laki.\"},{\"question\":\"Apa kaitan pembelajaran berbasis teks dengan Kurikulum 2013?\",\"answer\":\"Kurikulum 2013 menerapkan pembelajaran berbasis teks yang mencakup memahami teks, mengolah teks, mendiskusikan, mengubah, dan memproduksi teks agar bahasa juga mengembangkan kemampuan berpikir siswa.\"}]","BAB I - PENDAHULUAN | PDF"]