[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-1-id-113":3,"doc-seo-237055-113":41,"doc-detail-237055-id":108},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37],{"id":8,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":11,"show_sort_weight":4,"slug":12},178,1,"Template","Faktur","faktur",{"id":14,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":15,"show_sort_weight":4,"slug":16},192,"Formulir","formulir-192",{"id":18,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":19,"show_sort_weight":4,"slug":20},180,"Media Sosial","media-sosial",{"id":22,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":23,"show_sort_weight":4,"slug":24},179,"Poster","poster",{"id":26,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":27,"show_sort_weight":4,"slug":28},176,"Presentasi","presentasi",{"id":30,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":31,"show_sort_weight":4,"slug":32},177,"Resume","resume",{"id":34,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":35,"show_sort_weight":4,"slug":36},182,"Surat","surat-a95d00d3aaf04f3b854ecf140f00d385",{"id":38,"doc_module":9,"doc_module_name":10,"category_name":39,"show_sort_weight":4,"slug":40},183,"Umum","umum-07d1ff437201438088836b2b1ed3c90f",{"code":4,"msg":42,"data":43},"ok",{"site_id":44,"language":45,"slug":46,"title":47,"keywords":48,"description":49,"schema_data":50,"social_meta":101,"head_meta":103,"extra_data":105,"updated_unix":107},113,"id","chapter-1-introduction-237055","BAB I - PENDAHULUAN","","Bab I membahas latar belakang penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari dalam kehidupan sosial, termasuk perbedaan bahasa Jepang dengan bahasa asing lain terutama pada pembentukan kalimat. Uraian menjelaskan pengertian kalimat menurut para ahli serta fungsi kalimat untuk menyampaikan pikiran agar mudah dipahami. Fokus kemudian beralih pada penolakan dan bentuknya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dikaitkan dengan norma kesopanan budaya Jepang. Selanjutnya dibahas hyougen, khususnya Hitei no Hyougen, beserta contoh negatif penyangkalan dan perluasan menjadi Nijuu Hitei no Hyougen (negatif rangkap).",{"@graph":51,"@context":100},[52,68,83],{"@type":53,"itemListElement":54},"BreadcrumbList",[55,59,62,65],{"item":56,"name":57,"@type":58,"position":9},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":60,"name":10,"@type":58,"position":61},"https://docshare.wps.com/id/template/",2,{"item":63,"name":39,"@type":58,"position":64},"https://docshare.wps.com/id/template/umum/",3,{"item":66,"name":47,"@type":58,"position":67},"https://docshare.wps.com/id/template/chapter-1-introduction-237055/237055/",4,{"url":66,"name":47,"@type":69,"author":70,"headline":47,"publisher":73,"fileFormat":76,"inLanguage":45,"description":49,"dateModified":77,"datePublished":77,"encodingFormat":76,"isAccessibleForFree":78,"interactionStatistic":79},"DigitalDocument",{"name":71,"@type":72},"Clementine","Person",{"url":56,"name":74,"@type":75},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-11",true,{"@type":80,"interactionType":81,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":82},"ViewAction",{"@type":84,"mainEntity":85},"FAQPage",[86,92,96],{"name":87,"@type":88,"acceptedAnswer":89},"Apa yang dimaksud dengan kalimat menurut para ahli yang dibahas pada Bab I?","Question",{"text":90,"@type":91},"Kalimat dijelaskan sebagai susunan kata yang teratur dan berisi pikiran lengkap, sekaligus sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan gagasan agar dipahami dengan mudah.","Answer",{"name":93,"@type":88,"acceptedAnswer":94},"Mengapa penolakan dalam budaya Jepang cenderung disampaikan secara samar?",{"text":95,"@type":91},"Penolakan secara tegas dianggap tidak sopan dan berpotensi melukai perasaan lawan bicara, sehingga ungkapan penolakan perlu dipikirkan agar tidak menimbulkan salah paham.",{"name":97,"@type":88,"acceptedAnswer":98},"Apa perbedaan Hitei no Hyougen dan Nijuu Hitei no Hyougen?",{"text":99,"@type":91},"Hitei no Hyougen adalah penyangkalan dengan bentuk negatif yang jelas, sedangkan Nijuu Hitei no Hyougen menggunakan penolakan rangkap dengan negatif berulang sehingga makna penolakan menjadi kuat namun tetap bersifat tersamar atau tidak langsung.","https://schema.org",{"og:url":66,"og:type":102,"og:title":47,"og:site_name":74,"og:description":49},"article",{"robots":104,"canonical":66},"index,follow",{"doc_id":106,"site_id":44},237055,1789109281,{"code":4,"msg":5,"data":109},{"doc_id":106,"user_id":110,"nickname":71,"user_avatar":111,"doc_module":9,"category_id":38,"category_name":39,"doc_title":47,"doc_description":49,"doc_content":112,"file_id":113,"file_url":114,"file_type":115,"file_size":116,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":9,"is_downloadable":9,"audit_status":9,"page_count":117,"language":118,"language_code":45,"site_id":44,"html_lang":45,"table_of_contents":119,"faqs":120,"seo_title":121,"seo_description":49,"update_tm":107,"read_time":67},1374391974564,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/14000253aa45c000a9e?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1779874745381141002","BAB I  \nPENDAHULUAN  \n1.1 Latar Belakang  \nBahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakatdalam kehidupan sehari-hari untuk bersosialisasi dan berinteraksi satu sama lain. Tak terkecuali bahasa Jepang yang bahasanya sangat berbeda dengan bahasa asing  \nlainnya, karena memiliki keunikan dan kekhasan terutama dalam kalimatnya.  \nKalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang  \nlengkap (Chaer, 2007:240) . Menurut Widjono (2005:141) kalimat merupakan  \nsarana komunikasi untuk menyampaikan pikiran atau gagasan kepada orang lain  \nagar dapat dipahami dengan mudah. Melalui kalimat, si penutur dapat  \nmenyampaikan maksudnya kepada orang lain, baik itu bertanya dengan  \nmenggunakan kalimat tanya, memohon dengan menggunakan kalimat  \npermohonan, memerintah dengan dengan menggunakan kalimat perintah,  \nmelarang dengan menggunakan kalimat larangan, menolak dengan kalimat  \npenolakan, dan sebagainya.  \nSekian banyak jenis kalimat yang ada, terdapat satu jenis kalimat yang  \ncukup sering digunakan yaitu kalimat negatif atau disebut juga kalimat penolakan. Menolak adalah tindak tutur yang sering dipakai dan tidak terlepas dari interaksi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat menolak, makna disampaikandengan sebuah pernyataan yang menyatakan suatu penolakan. Penolakan itu dapat disampaikan secara langsung dan tidak langsung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:867), penolakan berarti “proses, cara, perbuatan menolak”. Kata  \nmenolak bersinonim dengan kata menyangkal. Tidak semua bahasa atau budayamenolak dengan cara yang sama. Lazimnya bagi orang Indonesia untuk menyampaikan penolakan itu secara langsung ataupun tidak langsung tergantung pada apa yang ada dalam pikirannya, dengan siapa ia berbicara ataupun tingkat keakrabannya, karena itulah jika ada sesuatu hal yang tidak disetujui maka orang Indonesia akan berkata “tidak”. Begitu pula dengan orang Jepang yang akan melakukan penolakan jika sesuatu yang sedang dipikirkannya tidak sesuai dengan pikirannya. Namun orang Jepang lebih suka melakukan penolakan secara samar terhadap lawan bicaranya, karena ada kecenderungan bahwa jika menolak secarategas, jelas dan terus terang adalah hal tidak sopan dan seolah-olah tidakmemikirkan perasaan orang lain. Hal ini tidak terlepas dari budaya masyarakat Jepang itu sendiri yang tidak menghendaki lawan bicaranya merasa malu dantersinggung. Oleh karena itu, ungkapan penolakan terhadap mitra tutur harusdipikirkan dengan baik, agar dapat diterima tanpa menimbulkan adaanya kesalahpahaman dalam hubungan.  \nUngkapan yang dimiliki oleh setiap bahasa merupakan salah satu hal yang penting karena jika ungkapan tidak ada, maka seseorang atau suatu kelompok manusia akan kesulitan dalam berkomunikasi, kesulitan dalam mengungkapkan ide, pemikiran, pendapat, bahkan suatu karya. Demikian pula dengan ungkapandalam bahasa Jepang yang dikenal dengan sebutan hyougen. Ungkapan (hyougen) adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang disampaikan dalam bentuk wajah, isyarat tubuh, bahasa, gambar musik atau dengan hal-hal yang memang dapat mengungkapkan perasaan atau pikiran tersebut (Kindaichi, 1995:1842) . Pemakaian hyougen selalu disesuaikan dengan makna, maksud dan inti yang  \nterkandung dalam kalimat yang ingin atau akan disampaikan kepada lawan bicara atau pendengar. Ungkapan (hyougen) itu sendiri terdiri dari bermacam-macam jenis, salah satunya yaitu Hitei no Hyougen (否定の表現) . Menurut Yoshio Ogawa (1995: 193-214) dalam Nihongo Kyouiku Jiten, yang dimaksud dengan Hitei no Hyougen adalah ungkapan yang berupa penyangkalan (ada kalanya kebalikan atau pernyataan negatif) .  \nContoh :  \n(1)あの男は真の政治家ではない。  \nAno otoko wa shin no seijika dewanai.  \n‘Pria itu bukan politikus yang sesungguhnya ’.  \n(2)僕はそんなことを知らない。  \nBoku wa sonna koto wo shiranai.  \n‘Saya tidak tahu tentang hal itu ’.  \n(The Super Anchor Japanese-English Dictionary, 2004:1146)  \nBerdasarkan contoh (1) kata dewanai pada kalimat tersebut merupakan  \nungkapan penyangkala","cbCaih8MOdB0wugX","https://ap.wps.com/l/cbCaih8MOdB0wugX","pdf",169711,10,"Indonesian","# PENDAHULUAN\n## Latar Belakang\n## Kalimat dan Fungsi Komunikatif\n## Penolakan dalam Interaksi Sehari-Hari\n## Ungkapan (Hyougen) dalam Bahasa Jepang\n## Hitei no Hyougen dan Contoh\n## Nijuu Hitei no Hyougen (Negatif Rangkap) dan Pola","[{\"question\":\"Apa yang dimaksud dengan kalimat menurut para ahli yang dibahas pada Bab I?\",\"answer\":\"Kalimat dijelaskan sebagai susunan kata yang teratur dan berisi pikiran lengkap, sekaligus sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan gagasan agar dipahami dengan mudah.\"},{\"question\":\"Mengapa penolakan dalam budaya Jepang cenderung disampaikan secara samar?\",\"answer\":\"Penolakan secara tegas dianggap tidak sopan dan berpotensi melukai perasaan lawan bicara, sehingga ungkapan penolakan perlu dipikirkan agar tidak menimbulkan salah paham.\"},{\"question\":\"Apa perbedaan Hitei no Hyougen dan Nijuu Hitei no Hyougen?\",\"answer\":\"Hitei no Hyougen adalah penyangkalan dengan bentuk negatif yang jelas, sedangkan Nijuu Hitei no Hyougen menggunakan penolakan rangkap dengan negatif berulang sehingga makna penolakan menjadi kuat namun tetap bersifat tersamar atau tidak langsung.\"}]","BAB I - PENDAHULUAN | PDF"]