[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-339178-113":53,"doc-detail-339178-id":127},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":120,"head_meta":122,"extra_data":124,"updated_unix":126},113,"id","unveiling-the-contradictions-of-the-jahmiyyah-in-grounding-their-innovations-in-speech-volume-3-body-limit-direction-loftiness-hand-space-and-vision","Mengungkap Kerancuan Kaum Jahmiyah dalam Mendasarkan Bid’ah-Bid’ah Kalam Mereka - Jilid Ketiga - Al-Jism (Jisim) - Al-Hadd (Batas) - Al-Jihah (Arah) - Al-Fauqiyyah (Ketinggian) - Al-Yad (Tangan) - AlHayyiz (Ruang) - Ar-Ru'yah (Penglihatan)","","Seri QantaraLit mengulas kekeliruan gagasan Jahmiyyah terkait dasar “bid’ah-bid’ah kalam” melalui penegasan istilah sifat Allah sebagaimana dipahami dalam tradisi ulama. Naskah membahas al-istiwa’, penetapan tanpa ta’wil dan tanpa menafsirkan dengan duduk, bersentuhan, menempati, atau makna tertentu yang menyimpang, serta perdebatan tentang konsep batas, arah (al-jihah), jisim, ruang (al-hayyiz), dan penglihatan (ar-ru’yah). Kutipan para imam, argumentasi kebahasaan, dan bantahan terhadap penakwilan menjadi fokus utama jilid ini.",{"@graph":63,"@context":119},[64,81,102],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":10,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/unveiling-the-contradictions-of-the-jahmiyyah-in-grounding-their-innovations-in-speech-volume-3-body-limit-direction-loftiness-hand-space-and-vision/339178/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/unveiling-the-contradictions-of-the-jahmiyyah-in-grounding-their-innovations-in-speech-volume-3-body-limit-direction-loftiness-hand-space-and-vision/339178.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Ava Thompson","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-10-04","2026-09-21",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":80},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",{"@type":103,"mainEntity":104},"FAQPage",[105,111,115],{"name":106,"@type":107,"acceptedAnswer":108},"Apa pokok bahasan utama jilid ketiga ini?","Question",{"text":109,"@type":110},"Jilid ini menelaah kekeliruan dasar ucapan Jahmiyyah dengan memusatkan pembahasan pada konsep-konsep sifat seperti al-istiwa’ serta rincian al-jism, al-hadd, al-jihah, al-fauqiyyah, al-yad, al-hayyiz, dan ar-ru’yah.","Answer",{"name":112,"@type":107,"acceptedAnswer":113},"Bagaimana naskah menjelaskan al-istiwa' di atas 'Arsy?",{"text":114,"@type":110},"Naskah menegaskan perlunya memutlakkan sifat al-istiwa' tanpa penafsiran dan tanpa ta’wil, yakni Allah berada di atas 'Arsy, bukan dengan makna duduk, bersentuhan, menempati, atau makna ketinggian/keluhuran tertentu yang dipahami secara salah.",{"name":116,"@type":107,"acceptedAnswer":117},"Mengapa isu arah (al-jihah) dibahas dalam konteks perbedaan pendapat?",{"text":118,"@type":110},"Karena muncul perbedaan pemahaman terkait batas dan arah. Naskah memuat pendapat sejumlah ulama, penyangkalan dan kemudian pembahasan kembali, serta kritik terhadap kelompok yang menafsirkan al-istiwa' dengan makna duduk atau bersentuhan.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":121,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":123,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":125,"site_id":56},339178,1790471556,{"code":4,"msg":5,"data":128},{"doc_id":125,"user_id":129,"nickname":89,"user_avatar":130,"doc_module":4,"category_id":8,"category_name":10,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":131,"file_id":132,"file_url":133,"file_type":134,"file_size":135,"view_count":80,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":136,"language":137,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":138,"faqs":139,"seo_title":140,"seo_description":61,"update_tm":141,"read_time":142},1649267921044,"https://us-avatar.wpscdn.com/avatar/1800007509477c92dfb?_k=1786009248482753345","QantaraLit Seri Ke-629  \nMengungkap Kerancuan Kaum Jahmiyah dalam Mendasarkan Bid’ah-Bid’ah Kalam Mereka 03  \nبيان تلبيس الجهمية في تأسيس بدعهم الكلامية  \nJilid Ketiga: Al-Jism (Jisim)– Al-Hadd (Batas)– Al-Jihah (Arah)– Al-Fauqiyyah (Ketinggian)– Al-Yad (Tangan)– AlHayyiz (Ruang)– Ar-Ru'yah (Penglihatan)  \nPenulis: Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) Ditahqiq oleh: Dr. Ahmad Mu'adz Haqqi Tata Letak: Muhamad Abid Hadlori, S.Ag. ,Lc.  \nTerjemahan berbantuan AI  \nSelesai diterjemahkan:  \n08 Rabi’ul Akhir 1448 H – 19 September 2026 Ponpes Ibnu Abbas As-Salafy Sragen, Jawa Tengah, Indonesia  \nWakaf untuk Kaum Muslimin  \n(bebas sebar, cetak & gandakan, bukan untuk tujuan komersial)  \nSPESIFIKASI NASKAH:  \n• Ukuran Buku : (B5 / 18,2 × 25,7 cm) PENGATURAN TEKS:  \n• Font Teks : (Souvenir Lt BT)  \n• Ukuran Font : (16 pt)  \n• Spasi Baris : (1,15)  \n• Perataan Teks : Rata kiri-kanan (Justify)  \n• Indent Paragraf : 1,27 cm  \nPENGATURAN HALAMAN:  \n• Margin Atas : 2,54 cm  \n• Margin Bawah : 2,54 cm  \n• Margin Kanan : 1,9 cm  \n• Margin Kiri : 1,9 cm  \nLAYOUT:  \n• Desain Sampul : Canva Desain Isi : Microsoft 365  \nPasal  \nAllah telah menyifati diri-Nya dengan al-istiwa'(bersemayam) di atas 'Arsy. Wajib memutlakkan sifat initanpa penafsiran dan tanpa ta'wil, bahwa itu adalah istiwa'Dzat di atas 'Arsy, bukan dengan makna duduk dan bersentuhan serta menempati, bukan pula dengan maknaketinggian dan keluhuran, dan bukan pula dengan maknamenguasai dan mengetahui.  \nImam Ahmad pernah berkata dalam riwayat Hanbal:\"Kami beriman bahwa Allah berada di atas 'Arsysebagaimana Dia kehendaki dan bagaimana Dia kehendaki, tanpa batas dan tanpa sifat yang dapat dicapai oleh orang yang mensifati atau dibatasi oleh siapa pun.\"  \nIbnu Taimiyah berkata: Imam Ahmad memutlakkan perkataan tentang hal itu tanpa menyebutkan kaifiyah (bagaimana caranya) al-istiwa'. Namun beliau jugamemberikan penjelasan pada tempat lain. Dalam riwayat AlMarrudzi disebutkan bahwa diriwayatkan dari Ibnul Mubarak, ketika ditanyakan kepadanya: \"Bagaimana kita mengenal Allah?\" Beliau menjawab: \"Di atas 'Arsy dengan batas.\" Imam Ahmad berkata: \"Telah sampai kepadaku hal itu dan aku menyukainya.\"  \nAl-Qadhi (Abu Ya'la) berkata bahwa perkataan inidipahami bahwa batas tersebut kembali kepada 'Arsy, bukan  \nkepada Dzat dan bukan pula kepada al-istiwa', dan maksudnya adalah menjelaskan bahwa 'Arsy meskipun besartetaplah terbatas.  \nIbnu Taimiyah berkata: Apa yang dikatakan Al-Qadhitentang al-istiwa' di sini adalah pendapat yang dikatakanoleh para imam Asy'ariyah generasi awal, dan itu mendekatipendapat Abu Muhammad Ibnu Kullab dan Abul Abbas AlQalanisi serta selain keduanya dari kalangan ahli hadis dan fiqih. Oleh karena itu, Al-Qadhi berbeda pendapat dengankalangan Mu'tazilah yang mengatakan maknanya adalah menguasai dan mengalahkan, dan berbeda pula dengansebagian Asy'ariyah yang mengatakan maknanya adalah ketinggian dari segi kedudukan, keagungan dan kekuasaan— ini adalah pendapat sebagian Asy'ariyah, bukan para imam mereka yang terdahulu. Al-Qadhi juga berbedapendapat dengan kaum Karramiyah dan Mujassimah yang mengatakan maknanya adalah bersentuhan dengan 'Arsy dengan duduk di atasnya.  \nKemudian Al-Qadhi berkata dalam kitab Al-Hujjah:\"Yang menjelaskan kebenaran apa yang kami sebutkan bahwa itu adalah pendapat salaf dari kalangan ahli bahasa dan lainnya.\" Ibnu Qutaibah menyebutkan dalam kitab Mukhtalif Al-Hadits bahwa firman Allah, \"Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), yang bersemayam di atas'Arsy\" (QS. Thaha: 5), artinya menetap, sebagaimana firman  \nAllah, \"Maka apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal\" (QS. AlMu'minun: 28), yakni telah menetap.  \nIbnu Baththah menyebutkan dari Ibnul A'rabi, ia berkata: \"Ibnu Abi Dawud memintaku untuk mencari dalam sebagian bahasa dan makna-makna bahasa Arab bahwa 'ArRahman di atas 'Arsy istawla (menguasai)', maka aku katakan: Demi Allah, ini tidak ada dan aku tidak menemukannya.\"  \nYazid bin Harun berkata: \"Siapa yang menyangkabahwa f","cbCaig88sdj9W0Sk","https://ap.wps.com/l/cbCaig88sdj9W0Sk","pdf",6408587,608,"Indonesian","# Al-istiwa' di atas 'Arsy: penegasan tanpa ta'wil\n## Perincian: Al-Jism, Al-Hadd, Al-Jihah, Al-Fauqiyyah, Al-Yad, Al-Hayyiz, Ar-Ru'yah","[{\"question\":\"Apa pokok bahasan utama jilid ketiga ini?\",\"answer\":\"Jilid ini menelaah kekeliruan dasar ucapan Jahmiyyah dengan memusatkan pembahasan pada konsep-konsep sifat seperti al-istiwa’ serta rincian al-jism, al-hadd, al-jihah, al-fauqiyyah, al-yad, al-hayyiz, dan ar-ru’yah.\"},{\"question\":\"Bagaimana naskah menjelaskan al-istiwa' di atas 'Arsy?\",\"answer\":\"Naskah menegaskan perlunya memutlakkan sifat al-istiwa' tanpa penafsiran dan tanpa ta’wil, yakni Allah berada di atas 'Arsy, bukan dengan makna duduk, bersentuhan, menempati, atau makna ketinggian/keluhuran tertentu yang dipahami secara salah.\"},{\"question\":\"Mengapa isu arah (al-jihah) dibahas dalam konteks perbedaan pendapat?\",\"answer\":\"Karena muncul perbedaan pemahaman terkait batas dan arah. Naskah memuat pendapat sejumlah ulama, penyangkalan dan kemudian pembahasan kembali, serta kritik terhadap kelompok yang menafsirkan al-istiwa' dengan makna duduk atau bersentuhan.\"}]","Mengungkap Kerancuan Kaum Jahmiyah dalam Mendasarkan Bid’ah-Bid’ah Kalam Mereka - Jilid Ketiga - Al-Jism (Jisim) - Al-Hadd (Batas) - Al-Jihah (Arah) - Al-Fauqiyyah (Ketinggian) - Al-Yad (Tangan) - AlHayyiz (Ruang) - Ar-Ru'yah (Penglihatan) | PDF",1790028405,936]