[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-199574-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":73,"doc-detail-199574-id":120},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":66,"head_meta":68,"extra_data":70,"updated_unix":72},113,"id","type-2-diabetes-mellitus-relationship-of-medication-adherence-family-support-and-glycated-albumin-values","Diabetes Mellitus Tipe 2 - Hubungan Kepatuhan Berobat, Dukungan Keluarga dan Nilai Glycated Albumin","","Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan beban tinggi dan kontrol glikemik sering tidak tercapai meskipun pengendalian glukosa sudah dilakukan. Edukasi, kepatuhan berobat, serta dukungan keluarga dinilai berpengaruh terhadap kontrol metabolik melalui keterkaitan dengan fungsi keluarga dan penatalaksanaan. Penelitian ini merumuskan analisis hubungan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap nilai glycated albumin, hubungan dukungan keluarga terhadap nilai glycated albumin, serta menilai peran intervensi edukasi pada penderita diabetes melitus tipe 2.",{"@graph":14,"@context":65},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/layanan-kesehatan/","Layanan Kesehatan",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/type-2-diabetes-mellitus-relationship-of-medication-adherence-family-support-and-glycated-albumin-values/199574/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/type-2-diabetes-mellitus-relationship-of-medication-adherence-family-support-and-glycated-albumin-values/199574.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Aurelia","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-10-04","2026-09-04",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",6,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Apa fokus rumusan masalah kedua terkait dukungan keluarga?","Question",{"text":63,"@type":64},"Penelitian menilai hubungan dukungan keluarga dengan nilai glycated albumin pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2.","Answer","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":67,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":69,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":71,"site_id":7},199574,1788506381,{"code":4,"msg":74,"data":75},"success",[76,81,85,89,93,96,100,104,108,112,116],{"id":77,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":78,"show_sort_weight":79,"slug":80},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":82,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":83,"show_sort_weight":79,"slug":84},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":86,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":87,"show_sort_weight":79,"slug":88},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":91,"show_sort_weight":79,"slug":92},51,"Komik","comic",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":79,"slug":95},53,"healthcare",{"id":97,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":98,"show_sort_weight":79,"slug":99},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":101,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":102,"show_sort_weight":79,"slug":103},49,"Sastra","literature",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":106,"show_sort_weight":79,"slug":107},52,"Teknologi","technology",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":79,"slug":111},50,"Ujian","exam",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":79,"slug":115},57,"Umum","general",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":4,"slug":119},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":74,"data":121},{"doc_id":71,"user_id":122,"nickname":42,"user_avatar":123,"doc_module":4,"category_id":94,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":124,"file_id":125,"file_url":126,"file_type":127,"file_size":128,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":77,"language":129,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":130,"faqs":131,"seo_title":132,"seo_description":12,"update_tm":72,"read_time":133},1099514068365,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/10000253d8d9f28188e?_k=1776742907772140068","BAB I  \nPENDAHULUAN  \nA. Latar Belakang Masalah  \nDiabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang masih menjadimasalah utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Menurut American Diabetes Association (ADA) 2010, DM adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Lebih dari 90 persen dari semua populasi diabetes adalah diabetes melitus tipe 2 yang ditandai dengan penurunan sekresi insulin karena berkurangnya fungsi sel beta pankreassecara progresif yang disebabkan oleh resistensi insulin.(1)  \nFederasi Diabetes International (International Diabetes Federation) memperkirakan bahwa bahwa akan ada 380 juta orang dengan diabetes padatahun 2025 dibandingkan dengan perkiraan 240 juta orang pada tahun 2007, dengan beban penyakit yang lebih tinggi pada negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah. Survei Kesehatan dan Morbiditas yang ke-3 (the 3rd National Healh and Morbidity Survey) memperlihatkanbahwa prevalensi DM tipe 2 bagi orang berusia 30 tahun keatas dengan hasil yang mengejutkan adalah 14,9%, dengan prevalensi paling tinggi pada etnik India sebanyak 19,9% .(2)  \nDiabetes Mellitus merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup. Dalam pengelolaan penyakit tersebut, selain dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lain, peran pasien dan keluarga menjadisangat penting. Edukasi kepada pasien dan keluarganya bertujuan dengan memberikan pemahaman mengenai perjalanan penyakit, pencegahan, penyulit, dan penatalaksanaan DM maka akan sangat membantu  \nmeningkatkan keikutsertaan keluarga dalam usaha memperbaiki hasilpengelolaan(1) . Fungsi keluarga dan kepatuhan berobat sangat terkait dengankontrol metabolik. Hasil dari informasi demografik menunjukkan bahwakedua faktor ini menyumbang sebanyak 49% dari variasi kontrol metabolik.(3)  \nWalaupun pengendalian glukosa darah telah dilakukan dengan baiknamun sering pengendalian ini tidak tercapai. Faktor-faktor yang memberikontribusi jeleknya hasil pengendalian glukosa darah termasuk penderita dengan kebiasaan tidak memadai dalam pemeliharaan kesehatan sendiri dan pengelolaan medis atau keduanya.(4) Para dokter mengetahui bahwapemeliharaan kebiasaan pribadi penderita mempengaruhi pengendalian diabetes akan tetapi mungkin dengan kurangnya pelatihan untuk meningkatkan motivasi pasiennya untuk memperbaiki kebiasaan ini.(5)  \nMeta-analisis Norris et al. menunjukkan bahwa efek edukasi pada diabetes terlihat dalam kontrol glikemik. Penulis mengindentifikasi 31 artikel dari 1980 sampai 1999 yang mengevaluasi efiksasi pada penanganan edukasidalam kendali glikohemoglobin pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2. Dalam meta-analisisnya, penulis menyatakan bahwa “Rata-rata, intervensiglikohemoglobin menurun sebesar 0,76%(interval kepercayaan 95%, 0,34- 1.18) lebih daripada kelompok kontrol pada masa 1 sampai 3 bulan edukasi. Sebuah temuan tambahan dari penelitian ini bahwa glikohemoglobin \"lebih menurun dengan tambahan waktu kontak antara peserta dan pendidik; sebuah penurunan 1% tercatat untuk setiap tambahan 23,6 jam (13,3-105,4) kontak. \"Secara keseluruhan, ada informasi yang terbatas mengenai hubungan dosis-respons antara pendidikan diabetes dan hasil klinis. Pemeriksaan asosiasi ini adalah tujuan dari penelitian ini.(6)  \nGlikohemoglobin adalah ikatan glukosa darah dengan hemoglobin. Glikohemoglobin (HbA1c) adalah suatu bentuk pada suatu nilai yang  \nproporsional terhadap konsentrasi glukosa rata-rata dengan cara proses nonenzimatik didalam sirkulasi sel darah merah dalam rentang waktu selama 120 hari. Dengan adanya hiperglikemi, suatu peningkatan glikohemoglobin yang menyebabkan suatu peningkatan HbA1c.(7)  \nBeberapa penelitian telah memperlihatkan kepatuhan pengobatan yang bertujuan untuk menurunkan nilai HbA1c. Nilai HbA1c 1,0% lebih rendah rupanya berhubungan dengan menurunnya risiko komplikasi mikrovaskuler sebanyak 25% dengan risiko absolut nilai HbA1c dibawa","cbCaiuvsC7QQgihF","https://ap.wps.com/l/cbCaiuvsC7QQgihF","pdf",466336,"Indonesian","# BAB I PENDAHULUAN\n## A. Latar Belakang Masalah\n## B. Rumusan Masalah","[{\"question\":\"Apa fokus rumusan masalah kedua terkait dukungan keluarga?\",\"answer\":\"Penelitian menilai hubungan dukungan keluarga dengan nilai glycated albumin pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2.\"}]","Diabetes Mellitus Tipe 2 - Hubungan Kepatuhan Berobat, Dukungan Keluarga dan Nilai Glycated Albumin | PDF",85]