[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-40031-id":3,"doc-seo-40031-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":84},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},40031,1099514067415,"Rowan","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/100002539d78ffe74a7?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1779092875211072502",55,"Agama & Spiritualitas","Tri Kaya Parisudha Praktek Spiritual Dasar Dalam Tradisi Ajaran Hindu Dharma Di Nusantara","Tri Kaya Parisudha membahas makna “tiga kegiatan” sebagai upaya penyucian: pikiran (Manacika), perkataan (Wacika), dan perbuatan (Kayika). Dalam tradisi Hindu Dharma di Nusantara, praktik ini diposisikan sebagai disiplin spiritual persiapan dan pendahuluan sebelum memasuki samudera praktik spiritual yang lebih luas, agar tidak salah arah dan tetap aman. Penjelasan menekankan bahwa Manacika bukan sekadar membuat pikiran selalu positif atau menekan pikiran negatif, melainkan membebaskan kesadaran dari cengkeraman riak gelombang pikiran-perasaan menuju kejernihan Kesadaran Atma.","Rumah Dharma-Hindu Indonesia  \nTRI KAYA PARISUDHA  \nPraktek Spiritual Pendahuluan Atau Praktek Spiritual Dasar Dalam Tradisi Ajaran Hindu Dharma Di Nusantara  \nDitulis Oleh : I Nyoman Kurniawan  \nUcapan terimakasih dan sujud hormat saya yang mendalam kepada para Guru spiritual Agung, kepada para Ista Dewata pengayom dan pelindung, serta kepada leluhur.  \nTRI KAYA PARISUDHA  \nPraktek Spiritual Pendahuluan Atau Praktek Spiritual Dasar Dalam Tradisi Ajaran Hindu Dharma Di Nusantara  \nPenulis :  \nI Nyoman Kurniawan  \nDiterbitkan oleh :  \nRumah Dharma-Hindu Indonesia  \nRahina Suci Tumpek Krulut, 22 Oktober 2016  \nMEMAHAMI TRI KAYA PARISUDHA  \nTri berarti “tiga”, Kaya berarti “kegiatan” dan Parisudha berarti \"upaya penyucian”. Secara literal Tri Kaya Parisudha berarti upaya penyucian tiga kegiatan. Tiga kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Tri Kaya Parisudha terdiri dari Manacika [pikiran yang baik], Wacika [perkataan yang baik] dan Kayika [perbuatan yang baik ] .  \nDalam tradisi Hindu Dharma di Nusantara, Tri Kaya Parisudha merupakan praktek spiritual persiapan, praktek spiritual pendahuluan, praktek spiritual dasar, atau disiplin spiritual dasar. Tri Kaya Parisudha merupakan praktek spiritual pembuka yang harus dilaksanakan setiap sadhaka [praktisi spiritual], sebelum para sadhaka memasukisamudera praktek spiritual yang sangat luas. Dengan tujuan agar praktek spiritual lanjutan yang dilakukan kemudian, menjadi terjaga dengan baik, tidak salah arah, tidak tersesat dan tidak berbahaya.  \nAkan tetapi juga, kita hendaknya sangat hatihati agar tidak salah paham dengan Tri Kaya Parisudha sebagai praktek spiritual persiapan, praktek spiritual pendahuluan, praktek spiritual dasar, atau disiplin spiritual dasar. Hal itu tidak berarti Tri Kaya Parisudha adalah praktek spiritual yang lebih rendah dari praktek spiritual lainnya. Tapi justru Tri Kaya Parisudha merupakan praktek spiritual paling inti dari seluruh praktek spiritual. Tri Kaya Parisudha adalah praktek spiritual yang lengkap dan mencukupi, yang dapat mengantarkanseorang sadhaka [praktisi spiritual] secara langsung menuju pencapaian Atma Jnana atau pencerahan Kesadaran Atma.  \nMANACIKA : PIKIRANYANG BAIK  \nSecara alami sifat pikiran-perasaan kita manusia laksana riak-riak gelombang di samudera. Ada saat gelombangnya naik dengan kemunculanpikiran-perasaan yang baik dan positif. Ada saat gelombangnya turun dengan kemunculan pikiranperasaan yang buruk dan negatif. Sebagaimana sifatalami gelombang di samudera, kemunculangelombang naik dan gelombang turun selaluberada dalam siklus datang dan pergi, muncul dan lenyap. Seperti itulah sifat alami pikiran-perasaan manusia.  \nManacika bukanlah praktek spiritual untuk membuat pikiran-perasaan kita agar selalu baik, damai dan positif untuk selama-lamanya. Karena hal itu tidak mungkin dapat tercapai. Semasih kitaberada di dunia ini menggunakan badan manusia, maka sifat alami pikiran-perasaan kita adalahlaksana riak-riak gelombang di samudera, dimana  \nkemunculan pikiran-perasaan positif dan negatif, selalu berada dalam siklus datang dan pergi, muncul dan lenyap.  \nManacika juga bukan praktek spiritual untuk berusaha keras mengendalikan, melawan, ataumelenyapkan kemunculan pikiran-perasaan negatif. Karena hal itu pada akhirnya tidak berguna, sekaligus memiliki dampak yang buruk. Jika kita berusaha keras untuk mengendalikan, melawan, atau melenyapkan kemunculan pikiran-perasaannegatif, maka sebagai akibatnya semakin besar dan kuatlah cengkeramannya pada kesadaran kita. Sekaligus akan membuat pikiran kita dipenuhi guncangan konflik, akan sangat melukai pikiran kita sendiri, serta membuat kita menjadi frustasi.  \nYang dimaksud dengan Manacika, yaitupikiran yang baik, adalah sadhana [praktek spiritual] untuk membebaskan kesadaran kita daricengkeraman riak-riak gelombang pikiran-perasaan.  \nTUJUAN MANACIKA  \nKebanyakan manusia tidak menyadari, bahwakenyataan sejati manusia adalah Kesadaran Atma  \nyang hening, j","cbCaikhE0JmfGqRG","https://ap.wps.com/l/cbCaikhE0JmfGqRG","pdf",1065154,7,1,87,"Indonesian","id",113,"# Memahami Tri Kaya Parisudha\n## Pengertian Tri Kaya Parisudha\n## Tri Kaya Parisudha sebagai praktek spiritual inti\n# Manacika: Pikiran yang Baik\n## Sifat alami pikiran-perasaan manusia\n## Bukan sekadar membuat pikiran positif\n## Membebaskan kesadaran dari cengkeraman pikiran-perasaan\n## Tujuan Manacika","[{\"question\":\"Apa yang dimaksud dengan Manacika menurut naskah ini?\",\"answer\":\"Manacika adalah sadhana untuk membebaskan kesadaran dari cengkeraman riak-riak gelombang pikiran-perasaan, bukan upaya membuat pikiran selalu baik atau menekan/melawan pikiran negatif secara paksa.\"}]",1783089521,134,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":79,"head_meta":81,"extra_data":83,"updated_unix":28},"tri-kaya-parisudha-basic-spiritual-practice-in-hindu-dharma-teachings-in-the-indonesian-archipelago","",{"@graph":36,"@context":78},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/tri-kaya-parisudha-basic-spiritual-practice-in-hindu-dharma-teachings-in-the-indonesian-archipelago/40031/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-21","2026-07-03",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Apa yang dimaksud dengan Manacika menurut naskah ini?","Question",{"text":76,"@type":77},"Manacika adalah sadhana untuk membebaskan kesadaran dari cengkeraman riak-riak gelombang pikiran-perasaan, bukan upaya membuat pikiran selalu baik atau menekan/melawan pikiran negatif secara paksa.","Answer","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":80,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":82,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":85},[86,89,93,97,101,105,109,113,117,121],{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":87,"slug":88},60,"religion-spirituality",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":91,"show_sort_weight":87,"slug":92},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":95,"show_sort_weight":87,"slug":96},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":99,"show_sort_weight":87,"slug":100},51,"Komik","comic",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":103,"show_sort_weight":87,"slug":104},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":107,"show_sort_weight":87,"slug":108},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":110,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":111,"show_sort_weight":87,"slug":112},49,"Sastra","literature",{"id":114,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":115,"show_sort_weight":87,"slug":116},52,"Teknologi","technology",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":119,"show_sort_weight":87,"slug":120},50,"Ujian","exam",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":123,"show_sort_weight":87,"slug":124},57,"Umum","general"]