[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-41039-id":3,"doc-seo-41039-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":92},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},41039,1099514068365,"Aurelia","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/10000253d8d9f28188e?_k=1776742907772140068",55,"Agama & Spiritualitas","Gagalnya Islam di Indonesia","Gagalnya Islam di Indonesia mengangkat persoalan keberagamaan yang dinilai tidak sehat dan berpotensi merusak nalar publik. Melalui refleksi atas kondisi masyarakat, buku menyoroti ideologi kematian yang muncul dalam fanatisme, serta manipulasi doktrin agama untuk kepentingan kuasa. Penulis menekankan bahwa agama seharusnya mengarahkan pada pembangunan kebudayaan dan peradaban, menumbuhkan cinta pada kehidupan serta kemanusiaan, dan menguatkan mental agar masyarakat mampu berpikir rasional. Fokusnya adalah menyelamatkan nalar dari kepentingan ideologis berkedok ketuhanan.","GAGALNYA ISLAM DI INDONESIA  \nAHMAD FAUZI 2018 Gubug Saloka  \nMenyelamatkan nalar masyarakat kita samadengan menyelamatkan masa depan bangsa.  \n(Ahmad Fauzi)  \nKATA PENGANTAR  \nDemi Indonesia, untuk masa depan Nusantara. Rasa cinta pada bangsa dan negara adalah salah satu alasan untuk apa kita mengada. Kitabisa hidup layak dan berdiri tegak karenabertopang di atas bumi Nusantara. Sudahsepantasnya kita menjunjung tinggi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita telah banyak berhutang budi pada ibu pertiwi. Padamu negeri, kami berjanji. Padamu negeri, kami mengabdi.  \nBuku ini merupakan refleksi keberagamaanatas kondisi masyarakat kita yang sedang terjangkiti delusi ketuhanan yang berpotensimenenggelamkan nalar dan mengusirkewarasan. Nalar kolektif bangsa terancam oleh ideologi kematian yang menari-nari dalamfanatisme dan teriakan atas nama tuhan. Keberagamaan yang tidak sehat terasamembebani dan menghambat proses-prosespembangunan ekonomi-politik negara. Agama pun turun derajatnya hampir-hampir identik dengan sentimen kebencian. Enersi kita punterkuras hanya sibuk menanggapi hal-halkonyol dan menggelikan. Jantung masyarakatharusnya berdetak dengan semangat mencinta  \nsesama, bukannya membenci sesama anak negeri sendiri.  \nAkhir-akhir ini banyak kejadian dan peristiwadi Indonesia khususnya kota Jakarta yang menunjukkan bahwa kemanusiaan dan akalsehat mudah termanipulasi oleh kekuatan ideologis yang bersembunyi dalam sesuatu yang dianggap suci dan ilahi. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sedang diuji, apakah betul keduanya adalah falsafah dankepribadian bangsa ini. Toleransi dan penghormatan atas perbedaan seharusnyamenjadi kekayaan bukan ancaman. Pilkada Jakarta tahun 2017 membuktikan kalau nalardan rasionalitas hanyalah igauan dan mimpi mewah bagi masyarakat bawah. Kita mudahditakut-takuti oleh sesuatu yang delusif dan manipulatif, di mana keduanya bisamengancam kestabilan mental masyarakat kita. Kawanan serigala pecundang politik dangerombolan singa hitam pengumpul modal betul-betul memanfaatkan doktrin dan dogma agama yang mengendap dalam alam bawah sadar masyarakat untuk dijadikan senjata ideologis demi kuasa dan kepentingan terselubung.  \nNalar adalah warisan kekayaan terbesar bagi bangsa manapun yang ingin maju dan memiliki masa depan. Aset negara bukan hanya cadangan devisa, kekuatan material ataupun perekonomian yang dapat dihitung dandikalkulasi tetapi kekuatan psikologis dalam nalar dan mental juga merupakan warisanyang tidak kalah berharganya dengansemuanya yang disebutkan di atas. Oleh karenaitu, menyelamatkan nalar masyarakat darikepentingan ideologis yang berkedok agama dan ketuhanan merupakan tujuan utama penulisan buku ini.  \nTerimakasih penulis haturkan pada malammalam hening dan khusyuk di desa Tambah Subur, Lampung Timur. Untuk istri tercinta dan anakku yang sedang lucu-lucunya jugamenggemaskan, Karen Vimala Fauzi Wahab, kalian berdua menjadi mata dan tangankuketika menulis buku ini. Kakakku Muhammad Fathurahman, yang telah menyentuhkan ruhkupada badai. Terimakasih sangat untuk temanteman FB budiman yang saya berhutang buditerlalu banyak pada panjenengan sekalian, sayatidak bisa menyebutkan panjenengan satu persatu. Ibu Saminem dan Bapak Samijo, Kakeknya Ayen Pak Wahidin, Mbah Jumangin,  \nMbok De Sari dan Pak De Ipo, Mas Pur, Mbak Desi, Ibnu, Lek Lasio, Mas Harno, Lek Diren, Lek Galingging, Lek Sardi, Lek Sogleng, Om Yudi, Lek Sukar, Mas Gatot, Bos Maryono, Mas Nur Hudi dan seluruh sedulur-sedulur Tambah Subur, kulo ngaturaken maturnuwunsanget. Desa ini betul-betul menyediakan habitat yang sangat ideal dalam proses penulisan buku. Hijaunya dedaunan, lambaian ranting pepohonan, suara kinjeng tangis yang bersautan, bau-bauan ladang, tetesan keringatakibat kerja seharian, penampakan kulit hitam gosong karena jamahan sinar matahari dan juga tak ketinggalan, aroma teletong sapi yang menggugah semangat agar bermanfaat padasesama dan diri, merupakan kebun magis dankekayaan eksotis nan mengagumkan dari desaini. Semoga","cbCaivzfnbCIcHs9","https://ap.wps.com/l/cbCaivzfnbCIcHs9","pdf",267768,10,1,92,"Indonesian","id",113,"# Kata Pengantar\n# Pendahuluan\n## Agama yang sehat dan dinamis\n## Krisis Agama Pewahyuan\n### Yang Suci dan Ilahi, Layak Dicurigai\n### Agama Kebudayaan\n# Gagalnya Islam di Indonesia\n## Skizofrenia dan Nabi Muhammad\n### Kenabian, Kesurupan dan Perdukunan\n# Nabi Masa Depan","[{\"question\":\"Apa gagasan utama buku ini tentang keberagamaan dalam masyarakat?\",\"answer\":\"Buku ini menilai keberagamaan yang tidak sehat dapat mengganggu nalar, menghambat proses pembangunan, dan membuat agama bergeser mendekati sentimen kebencian. Keberagamaan yang semestinya hadir justru harus menumbuhkan cinta kehidupan dan kemanusiaan.\"},{\"question\":\"Mengapa penulis menganggap ideologis berkedok agama berbahaya bagi nalar masyarakat?\",\"answer\":\"Penulis menyatakan ideologi kematian bisa menari dalam fanatisme dan memicu manipulasi terhadap akal sehat. Karena itu, nalar kolektif terancam dan kestabilan mental masyarakat bisa terganggu.\"},{\"question\":\"Bagaimana buku ini memandang hubungan agama, pembangunan, dan peradaban?\",\"answer\":\"Agama yang sehat dan dinamis diarahkan untuk membangun kebudayaan dan peradaban, bukan sekadar klaim kebenaran serta saling mengkafirkan. Agama juga diharapkan menggerakkan semangat kerja keras, rasa ingin tahu, dan aktualisasi diri.\"}]",1783318138,142,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":87,"head_meta":89,"extra_data":91,"updated_unix":28},"the-failure-of-islam-in-indonesia","",{"@graph":36,"@context":86},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/the-failure-of-islam-in-indonesia/41039/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-24","2026-07-06",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Apa gagasan utama buku ini tentang keberagamaan dalam masyarakat?","Question",{"text":76,"@type":77},"Buku ini menilai keberagamaan yang tidak sehat dapat mengganggu nalar, menghambat proses pembangunan, dan membuat agama bergeser mendekati sentimen kebencian. Keberagamaan yang semestinya hadir justru harus menumbuhkan cinta kehidupan dan kemanusiaan.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Mengapa penulis menganggap ideologis berkedok agama berbahaya bagi nalar masyarakat?",{"text":81,"@type":77},"Penulis menyatakan ideologi kematian bisa menari dalam fanatisme dan memicu manipulasi terhadap akal sehat. Karena itu, nalar kolektif terancam dan kestabilan mental masyarakat bisa terganggu.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Bagaimana buku ini memandang hubungan agama, pembangunan, dan peradaban?",{"text":85,"@type":77},"Agama yang sehat dan dinamis diarahkan untuk membangun kebudayaan dan peradaban, bukan sekadar klaim kebenaran serta saling mengkafirkan. Agama juga diharapkan menggerakkan semangat kerja keras, rasa ingin tahu, dan aktualisasi diri.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":88,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":90,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":93},[94,97,101,105,109,113,117,121,125,129],{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":95,"slug":96},60,"religion-spirituality",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":99,"show_sort_weight":95,"slug":100},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":103,"show_sort_weight":95,"slug":104},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":107,"show_sort_weight":95,"slug":108},51,"Komik","comic",{"id":110,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":111,"show_sort_weight":95,"slug":112},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":114,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":115,"show_sort_weight":95,"slug":116},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":119,"show_sort_weight":95,"slug":120},49,"Sastra","literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":123,"show_sort_weight":95,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":127,"show_sort_weight":95,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":131,"show_sort_weight":95,"slug":132},57,"Umum","general"]