[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-298908-113":53,"doc-detail-298908-id":127},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":120,"head_meta":122,"extra_data":124,"updated_unix":126},113,"id","strategy-for-confronting-radicalism-terrorism-isis","Strategi Menghadapi Paham Radikalisme - Terorisme – ISIS","","Strategi Menghadapi Paham Radikalisme membahas hubungan antara radikalisme dan terorisme, menekankan bahwa terorisme berakar pada keyakinan, doktrin, dan ideologi yang dapat mengganggu kesadaran masyarakat. Naskah menguraikan ciri-ciri paham radikal, faktor domestik, internasional, dan kultural yang memotivasi bergabungnya individu dalam jaringan terorisme, serta definisi terorisme melalui unsur metode kekerasan, target warga sipil, dan tujuan menebar ketakutan. Dokumen juga memuat dasar hukum UU No.15 Tahun 2003 dan sejarah kebijakan penanggulangan dari Orde Lama, Orde Baru hingga era reformasi serta peran BNPT, termasuk pendekatan holistik hard power dan soft power.",{"@graph":63,"@context":119},[64,81,102],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":10,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/strategy-for-confronting-radicalism-terrorism-isis/298908/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/strategy-for-confronting-radicalism-terrorism-isis/298908.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Logic","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-27","2026-09-18",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":74},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",{"@type":103,"mainEntity":104},"FAQPage",[105,111,115],{"name":106,"@type":107,"acceptedAnswer":108},"Apa keterkaitan radikalisme dengan terorisme dalam dokumen ini?","Question",{"text":109,"@type":110},"Dokumen menyatakan bahwa radikalisme diposisikan sebagai embrio lahirnya terorisme. Radikalisme mendorong perubahan total melalui cara-cara ekstrem yang dapat berujung pada tindakan teror.","Answer",{"name":112,"@type":107,"acceptedAnswer":113},"Sebutkan ciri-ciri paham radikal yang dapat dikenali.",{"text":114,"@type":110},"Ciri-ciri yang disebut meliputi intoleran, fanatik, eksklusif, dan revolusioner. Setiap ciri dijelaskan sebagai sikap terhadap pendapat/ keyakinan lain, keyakinan selalu benar, pemisahan dari umat secara umum, serta kecenderungan menggunakan kekerasan.",{"name":116,"@type":107,"acceptedAnswer":117},"Strategi apa yang digunakan BNPT menurut dokumen ini untuk penanggulangan terorisme?",{"text":118,"@type":110},"BNPT menjalankan pendekatan holistik dari hulu ke hilir dengan hard power dan soft power. Dalam pencegahan, strategi yang disebut adalah kontra radikalisasi melalui penanaman nilai-nilai ke-Indonesiaan dan nilai non-kekerasan melalui pendidikan serta kerja sama dengan berbagai tokoh dan pemangku kepentingan.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":121,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":123,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":125,"site_id":56},298908,1790522401,{"code":4,"msg":5,"data":128},{"doc_id":125,"user_id":129,"nickname":89,"user_avatar":130,"doc_module":4,"category_id":8,"category_name":10,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":131,"file_id":132,"file_url":133,"file_type":134,"file_size":135,"view_count":74,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":136,"language":137,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":138,"faqs":139,"seo_title":140,"seo_description":61,"update_tm":141,"read_time":142},1099513958762,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/1000023916a998db790?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1784791008015729253","STRATEGI MENGHADAPI PAHAM RADIKALISME  \nTERORISME – ISIS  \nOleh :  \nBadan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)  \nDari Radikalisme ke Terorisme  \nTerorisme bukan persoalan siapa pelaku, kelompok dan jaringannya. Namun, lebih dari itu terorisme merupakan tindakan yang memiliki akar keyakinan, doktrindan ideologi yang dapat menyerang kesadaran masyarakat. Tumbuh suburnyaterorisme tergantung di lahan mana ia tumbuh dan berkembang. Jika ia hidup di tanah gersang, maka terorisme sulit menemukan tempat, sebaliknya jika ia hidup dilahan yang subur maka ia akan cepat berkembang. Ladang subur tersebut menurut Hendropriyono adalah masyakarat yang dicemari oleh paham fundamentalismeekstrim atau radikalisme keagamaan.1  \nRadikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusionerdengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal. 1) intoleran (tidak mau menghargai pendapat &keyakinan  \norang lain), 2) fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), 3) eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) dan 4) revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan) .  \nMemiliki sikap dan pemahaman radikal saja tidak mesti menjadikanseseorang terjerumus dalam paham dan aksi terorisme. Ada faktor lain yang memotivasi seseorang bergabung dalam jaringan terorisme. Motivasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, Faktor domestik, yakni kondisi dalam negeri yang semisal kemiskinan, ketidakadilan atau merasa Kecewa denganpemerintah. Kedua, faktor internasional, yakni pengaruh lingkungan luar negeri yang memberikan daya dorong tumbuhnya sentiment keagamaan seperti ketidakadilan global, politik luar negeri yg arogan, dan imperialisme modern negara adidaya. Ketiga, faktor kultural yang sangat terkait dengan pemahaman keagamaan yang dangkal dan penafsiran kitab suci yang sempit dan leksikal (harfiyah) . Sikap dan pemahaman yang radikal dan dimotivasi oleh berbagai faktor di atas seringkali menjadikan seseorang memilih untuk bergabung dalam aksi dan jaringan terorisme.  \n1 A. M. Hendroprioyono, Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi dan Islam (Jakarta: Buku Kompas, 2009), hlm. 13.  \nLalu apa itu terorisme? Banyak ragam pengertian dalam mendefinisikan terorisme. Dari beragam definisi baik oleh para pakar dan ilmuwan maupun yang dijadikandasar oleh suatu negara, setidaknya memuat tiga hal: pertama, metode, yakni menggunakan kekerasan; kedua, target, yakni korban warga sipil secara acak, dan ketiga tujuan, yakni untuk menebar rasa takut dan untuk kepentingan perubahansosial politik.2 Karena itulah, definisi yang dijadikan dasar oleh negara Indonesia dalam melihat terorisme pun tidak dilepaskan dari tiga komponen tersebut  \nDalam UU No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme disebutkan : Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan situasi teror atau rasa takutterhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan ataukehancuran terhadap obyek-oyek vital strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.3  \nSejarah Penanggulangan Terorisme  \nAksi terorisme sebernanya bukanlah hal baru. Sejak awal kemerdekaan hingga reformasi aksi terorisme selalu ada dalam bentuk, motif dan gerakan yang berbeda-beda serta dengan strategi penanggulangan yang berbeda-beda pula. Dimasa Orde Lama kebijakan dan strategi penanggulangan terorisme dilaksanakandengan pendekatan keamanan melalui operasi militer dengan basis UU Subversif. Hampir sama dengan Orde Lama, penanggulangan terorisme pada masa Orde Baru juga mendasarkan pada UU Subversif dengan penekanan lebih pada operasi intelijen. Pada era reformasi, demokrat","cbCaimDUhL182ghf","https://ap.wps.com/l/cbCaimDUhL182ghf","pdf",66977,6,"Indonesian","# Strategi Menghadapi Paham Radikalisme\n## Terorisme – ISIS\n## Dari Radikalisme ke Terorisme\n## Pengertian Terorisme\n## Dasar Hukum\n## Sejarah Penanggulangan Terorisme\n## Kebijakan BNPT","[{\"question\":\"Apa keterkaitan radikalisme dengan terorisme dalam dokumen ini?\",\"answer\":\"Dokumen menyatakan bahwa radikalisme diposisikan sebagai embrio lahirnya terorisme. Radikalisme mendorong perubahan total melalui cara-cara ekstrem yang dapat berujung pada tindakan teror.\"},{\"question\":\"Sebutkan ciri-ciri paham radikal yang dapat dikenali.\",\"answer\":\"Ciri-ciri yang disebut meliputi intoleran, fanatik, eksklusif, dan revolusioner. Setiap ciri dijelaskan sebagai sikap terhadap pendapat/ keyakinan lain, keyakinan selalu benar, pemisahan dari umat secara umum, serta kecenderungan menggunakan kekerasan.\"},{\"question\":\"Strategi apa yang digunakan BNPT menurut dokumen ini untuk penanggulangan terorisme?\",\"answer\":\"BNPT menjalankan pendekatan holistik dari hulu ke hilir dengan hard power dan soft power. Dalam pencegahan, strategi yang disebut adalah kontra radikalisasi melalui penanaman nilai-nilai ke-Indonesiaan dan nilai non-kekerasan melalui pendidikan serta kerja sama dengan berbagai tokoh dan pemangku kepentingan.\"}]","Strategi Menghadapi Paham Radikalisme - Terorisme – ISIS | PDF",1789765972,9]