[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-43013-id":3,"doc-seo-43013-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":92},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},43013,4398048949847,"Eliana","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/400002536579ef2da7f?_k=1778318612642679267",49,"Sastra","Gerakan Literasi Sekolah dari Pucuk Hingga Akar Sebuah Refleksi","Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dibahas melalui refleksi tentang munculnya program literasi dalam kebijakan Kemendikbud. Dokumen menekankan bahwa perubahan bermula dari interaksi guru dan siswa di kelas, lalu merembet ke keluarga dan masyarakat. Penumbuhan budi pekerti diposisikan sebagai pintu gerak baru setelah program pengentasan buta aksara. GLS dipaparkan sebagai kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta merangkum kegiatan pelaksanaan GLS oleh Ditjen Dikdasmen pada periode 2015–2017.","Gerakan Literasi Sekolah i  \nGERAKAN LITERASI SEKOLAH  \nDari PucukHinggaAkar  \nSebuahRefleksi  \nPenulis: Billy Antoro Penelititeks: Satriyo Wibowo Desainer grafis dan ilustrator: Tri Isti  \nCetakan 1: Oktober 2017  \nDiterbitkan oleh:  \nDirektorat Jenderal PendidikanDasar dan Menengah Kementerian Pendidikandan Kebudayaan  \nAlamat:  \nBagian Perencanaan dan Penganggaran Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikandan Kebudayaan Gedung Elantai 5 Kompleks Kemendikbud Jl. Jenderal Sudirman Senayan, Jakarta 10270 Telp./Faks: (021) 5725613  \n© 2017 Kementerian Pendidikandan Kebudayaan Hak ciptadilindungi Undang-undang.  \nAll rights reserved.  \nKata Pengantar  \nDirektur JenderalPendidikanDasar dan Menengah  \nPenerbitan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  \nNomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekertimerupakan pintu masuk bagi program baru Kemendikbud setelah bertahun-tahun bergelut dalam program pengentasan buta aksara, yaitu literasi. Saya memandang, momen ini adalah angin segarmenuju perubahan substansial dalam pembelajaran di sekolah. Selama ini, fokus pembangunan dunia pendidikan lebih banyak tertuju pada perluasanaksespendidikan. Perhatianterhadapkualitaspendidikan sudah tampak, namun masih terasa ada yang kurang.  \nBertahun-tahunsaya mengidentifikasi bahwakekuranganitu terletak padaperhatiandalam prosespembelajarandikelas. Interaksi guru dan siswa, dalam proses belajar mengajar, seharusnya mendapatporsi besar dalam kebijakan di dunia pendidikan. Sebab dari dalam kelaslah perubahan itu dimulai, kemudian merambahke lingkungan keluarga, dan memengaruhikehidupan masyarakat.  \nSebenarnya “sinyal” itu sudah muncul dari sekian survei internasional yang dimulai sejak abad 21. Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengukur tingkat literasi siswa di sejumlah negara, mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang dapat dilakukan negara dalam meningkatkan kualitassumber dayamanusia (SDM). Negaranegara maju menggunakan pengukuran literasi sebagaibatupijakan bagi proses perbaikan di bidang pendidikan dan pembangunan SDM.  \nMaka, ketika Permendikbud tentang Penumbuhan Budi Pekertiterbit, yang memberi ruang bagi munculnya program literasi, kami di Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah menyambutnya dengan suka cita. Ini merupakan angin segar yang harussegera dihirup dandimanfaatkan sebaik-baiknya.  \nKami kemudian melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Paradigma baru abad 21 yang mengutamakan kolaborasi, bukan kompetisi, menjadi sarana menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan secarabersama-sama. Gerakan yang menjadi ciri pengembangan literasi menjadi energi tersendiri yang mendorong Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, praktisi, akademisi, pegiat literasi, dan lembagaswadayamasyarakat untuk duduk satu mejamerumuskan kehendak bersama.  \nDitahun ke-3 Gerakan Literasi Sekolah (2015–2017) berjalan, kami disibukkan dengan banyak sekali kegiatan yang menghimpunsekian jumlah kalangan dalam satu meja. Kami berdiskusi, berbagi informasi, dan menetapkan strategi pencapaian yang tidakhanya melibatkan sekolah, namun juga keluarga dan masyarakat. Bagaimanapun, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) akan berjalan optimal jika melibatkan unsur keluarga dan masyarakat. Literasi, akhirnya, menjadi jembatanbagi implementasi tripusat pendidikan.  \nBuku ini merangkum sekaligus menginformasikan secara singkat dan padat beragam kegiatan yang telah dilakukan Ditjen Dikdasmen seputar pelaksanaan GLS. Jarang sekali ada buku yang mengupas proses di balik sebuah kebijakan dan memotretnya daridekat, mengungkap kegelisahan dan harapan para pelaku dengan menjaga kredibilitas dan transparansi. Dapat dikatakan, buku ini membuka “dapur”Ditjen Dikdasmen menjelang dansetelah program GLS muncul.  \nDiharapkan, buku ini mampu menyamakan persepsi ","cbCaigyMm025w1Ha","https://ap.wps.com/l/cbCaigyMm025w1Ha","pdf",5157131,7,1,215,"Indonesian","id",113,"# Kata Pengantar\n## Pijakan Kebijakan dan Latar Belakang Literasi\n## Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam GLS\n## Ringkasan Kegiatan GLS 2015–2017\n## Harapan, Ucapan Terima Kasih, dan Masukan Perbaikan","[{\"question\":\"Apa landasan kebijakan yang mendorong munculnya Gerakan Literasi Sekolah (GLS)?\",\"answer\":\"Penumbuhan Budi Pekerti melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 menjadi pintu masuk bagi program literasi. Latar belakangnya juga diperkuat oleh hasil pengukuran literasi internasional seperti PIRLS, TIMSS, dan PISA.\"},{\"question\":\"Mengapa fokus GLS dipandang harus melibatkan kelas, keluarga, dan masyarakat?\",\"answer\":\"Perubahan dinilai dimulai dari interaksi guru dan siswa di dalam kelas, kemudian merambah ke lingkungan keluarga dan memengaruhi kehidupan masyarakat. GLS akan berjalan optimal jika unsur keluarga dan masyarakat turut terlibat.\"},{\"question\":\"Apa tujuan buku ini dalam konteks pelaksanaan GLS?\",\"answer\":\"Buku ini merangkum dan menginformasikan secara singkat serta padat beragam kegiatan pelaksanaan GLS oleh Ditjen Dikdasmen. Buku ini juga diharapkan menyamakan persepsi pemangku kepentingan agar terlibat dalam gerakan literasi.\"}]",1783375744,331,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":87,"head_meta":89,"extra_data":91,"updated_unix":28},"school-literacy-movement-from-stem-to-root-a-reflection","",{"@graph":36,"@context":86},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/school-literacy-movement-from-stem-to-root-a-reflection/43013/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-16","2026-07-06",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Apa landasan kebijakan yang mendorong munculnya Gerakan Literasi Sekolah (GLS)?","Question",{"text":76,"@type":77},"Penumbuhan Budi Pekerti melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 menjadi pintu masuk bagi program literasi. Latar belakangnya juga diperkuat oleh hasil pengukuran literasi internasional seperti PIRLS, TIMSS, dan PISA.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Mengapa fokus GLS dipandang harus melibatkan kelas, keluarga, dan masyarakat?",{"text":81,"@type":77},"Perubahan dinilai dimulai dari interaksi guru dan siswa di dalam kelas, kemudian merambah ke lingkungan keluarga dan memengaruhi kehidupan masyarakat. GLS akan berjalan optimal jika unsur keluarga dan masyarakat turut terlibat.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Apa tujuan buku ini dalam konteks pelaksanaan GLS?",{"text":85,"@type":77},"Buku ini merangkum dan menginformasikan secara singkat serta padat beragam kegiatan pelaksanaan GLS oleh Ditjen Dikdasmen. Buku ini juga diharapkan menyamakan persepsi pemangku kepentingan agar terlibat dalam gerakan literasi.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":88,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":90,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":93},[94,99,103,107,111,115,119,121,125,129],{"id":95,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":96,"show_sort_weight":97,"slug":98},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":100,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":101,"show_sort_weight":97,"slug":102},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":104,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":105,"show_sort_weight":97,"slug":106},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":108,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":109,"show_sort_weight":97,"slug":110},51,"Komik","comic",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":113,"show_sort_weight":97,"slug":114},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":116,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":117,"show_sort_weight":97,"slug":118},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":97,"slug":120},"literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":123,"show_sort_weight":97,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":127,"show_sort_weight":97,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":131,"show_sort_weight":97,"slug":132},57,"Umum","general"]