[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-124542-id":3,"doc-seo-124542-113":32,"detail-sidebar-cat-0-id-113":95},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":28,"seo_description":29,"update_tm":30,"read_time":31},124542,2336474459895,"Aria","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/22000baeef7a5ed0655?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1786071322749376916",48,"Cerita & Novel","Ronggeng Dukuh Paruk - Bagian Pertama","\u003Cp>Ronggeng Dukuh Paruk - Bagian Pertama menghadirkan suasana kemarau panjang yang meluluhlantakkan sawah di Dukuh Paruk, Banyumas, disertai gambaran alam yang rinci tentang keringnya tanah, mati rumput, dan perubahan ekosistem. Narasi juga menampilkan ketegangan kehidupan lewat adegan burung yang mencari air hingga perburuan di udara, serta penyebaran biji-bijian yang diatur angin untuk memastikan kelahiran kembali tumbuhan. Di tengah gambaran getir itu, kampung kecil dengan leluhur Ki Secamenggala dan kebiasaan kebatinannya menjadi latar budaya yang mempertebal konflik dan harapan.\u003C/p>","\u003Cp>Ronggeng Dukuh Paruk &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>( Buku Pertama Dari Trilogi) &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Oleh &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>KEMARAU di kawasan Banyumas, Jawa Tengah, padamasa kini mungkin tidak lagi sedahsyat akibatnyadibanding masa lalu, ketika hutan-hutan jati di daerah Jatilawang mengering, tanah pecah-pecah, penduduk merana kelaparan. Dulu, seperti ditunjukkan Ahmad Tohari (57), penulis yang pernah menghasilkan novel Ronggeng Dukuh Paruk, hutan menyala menjadi korban kebakaran akibat pertikaian politik yang menyusup sampai ke desa-desa pada masa sebelum 1965. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari dilahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya hanya sampai SMAN II Purwokerto. Namun demikian beberapa fakultas seperti ekonomi, sospol, dan kedokteran pernah dijelajahinya. Semuanya tak ada yang ditekuninya. Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (dua yang lainnya Lintang Kemukus Dinihari dan Jentera Bianglala), ia telah mengangkat kehidupan berikut cara pandang orang-orang dari lingkungan dekatnya ke pelataran sastra Indonesia. Sesuai tahun-tahun penerbitannya, karya Ahmad Tohari adalah Kubah (novel, 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982) Lintang Kemukus Dinihari (novel, 1984), Jentera Bianglala (novel, 1985), Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1989), Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1990), Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1993), Bekisar Merah (novel, 1993), Mas Mantri Gugat (kumpulan kolom, 1994) . &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggrisnya sedang disiapkanpenerbitannya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Dikumpulkan dari berbagai sumber, &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Untuk warga [http://groups.yahoo.com/group/id-ebook](http://groups.yahoo.com/group/id-ebook) &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ronggeng Dukuh Paruk &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Bagian Pertama &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Sepasang burung bangau melayang meniti angin berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua unggasitu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. Telahlama mereka merindukan amparan lumpur tempat mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang atau serangga air lainnya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justruhanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankannyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadijadinya. Di belakangnya, seekor alap-alap mengejar dengan kecepatan berlebih. Udara yang ditempuh kedua binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu terdengar ketika paruh alap-alap menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus beterbangan. Pembunuhan terjadi di udara yang lengang, diatas Dukuh Paruk. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemersik rumpun bambu. Berderit baling-baling bambu yang dipasang anak gembala ditepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Udara panas berbulan-bulan mengeringkan berjenis biji-bijian. Buah randutelah menghitam kulitnya, pecah menjadi tiga juring. Bersama tiupan anginterburai gumpalan-gumpalan kapuk. Setiap gumpal kapuk mengandung bijimasak yang siap tumbuh pada tempat ia hinggap di bumi. Demikian kearifan alam mengatur agar pohon randu baru tidak tumbuh berdekatandengan biangnya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Pohon dadap memilih cara yang hampir sama bagi penyebaran jenisnya. Biji dadap yang telah tua meng\u003C/p>","cbCaidJFb2KZDa4Q","https://ap.wps.com/l/cbCaidJFb2KZDa4Q","pdf",475001,8,1,128,"Indonesian","id",113,"# Bagian Pertama\n## Kemarau panjang di Dukuh Paruk\n## Kehidupan burung dan kehendak alam\n## Penyebaran biji-bijian saat musim kering\n## Dukuh Paruk dan asal-usul Ki Secamenggala\n## Anak-anak mencabut singkong di tanah kapur","[{\"question\":\"Apa yang melatarbelakangi kemarau di Dukuh Paruk pada Bagian Pertama?\",\"answer\":\"Kemarau panjang membuat ribuan hektar sawah mengering selama berbulan-bulan, mengubah area pemukiman menjadi padang kering dan menghilangkan genangan air yang dibutuhkan makhluk hidup.\"},{\"question\":\"Bagaimana alam digambarkan berperan dalam kehidupan selama musim kering?\",\"answer\":\"Angin dan biji-bijian dimanfaatkan tumbuhan untuk berkembang biak; misalnya randu dan dadap menggunakan struktur biji agar terbawa angin, sementara hewan mencari sumber air dan bertahan di udara yang panas.\"},{\"question\":\"Siapa Ki Secamenggala dalam cerita dan apa hubungannya dengan Dukuh Paruk?\",\"answer\":\"Ki Secamenggala disebut sebagai moyang orang Dukuh Paruk yang dahulu merupakan musuh kehidupan masyarakat, namun kini dihormati; kuburnya menjadi kiblat kebatinan mereka dan menjadi pusat praktik spiritual.\"}]","Ronggeng Dukuh Paruk Bagian Pertama PDF - Gratis | PDF","Ronggeng Dukuh Paruk - Bagian Pertama menghadirkan suasana kemarau panjang yang meluluhlantakkan sawah di Dukuh Paruk, Banyumas, disertai gambaran alam yang rinci tentang keringnya tanah, mati rumput, dan perubahan ekosistem. Narasi juga menampilkan ketegangan kehidupan lewat adegan burung yang mencari air hingga perburuan di udara, serta penyebaran biji-bijian yang diatur angin untuk memastikan kelahiran kembali tumbuhan. Di tengah gambaran getir itu, kampung kecil dengan leluhur Ki Secamenggala dan kebiasaan kebatinannya menjadi latar budaya yang mempertebal konflik dan harapan.",1785839198,197,{"code":4,"msg":33,"data":34},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":35,"title":36,"keywords":37,"description":29,"schema_data":38,"social_meta":90,"head_meta":92,"extra_data":94,"updated_unix":30},"ronggeng-dukuh-paruk-part-1","Ronggeng Dukuh Paruk Bagian Pertama PDF - Gratis","",{"@graph":39,"@context":89},[40,57,72],{"@type":41,"itemListElement":42},"BreadcrumbList",[43,47,51,54],{"item":44,"name":45,"@type":46,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":48,"name":49,"@type":46,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":52,"name":12,"@type":46,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/cerita-novel/",3,{"item":55,"name":36,"@type":46,"position":56},"https://docshare.wps.com/id/document/ronggeng-dukuh-paruk-part-1/124542/",4,{"url":55,"name":36,"@type":58,"author":59,"headline":36,"publisher":61,"fileFormat":64,"inLanguage":24,"description":29,"dateModified":65,"datePublished":66,"encodingFormat":64,"isAccessibleForFree":67,"interactionStatistic":68},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":60},"Person",{"url":44,"name":62,"@type":63},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-08-17","2026-08-04",true,{"@type":69,"interactionType":70,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":71},"ViewAction",{"@type":73,"mainEntity":74},"FAQPage",[75,81,85],{"name":76,"@type":77,"acceptedAnswer":78},"Apa yang melatarbelakangi kemarau di Dukuh Paruk pada Bagian Pertama?","Question",{"text":79,"@type":80},"Kemarau panjang membuat ribuan hektar sawah mengering selama berbulan-bulan, mengubah area pemukiman menjadi padang kering dan menghilangkan genangan air yang dibutuhkan makhluk hidup.","Answer",{"name":82,"@type":77,"acceptedAnswer":83},"Bagaimana alam digambarkan berperan dalam kehidupan selama musim kering?",{"text":84,"@type":80},"Angin dan biji-bijian dimanfaatkan tumbuhan untuk berkembang biak; misalnya randu dan dadap menggunakan struktur biji agar terbawa angin, sementara hewan mencari sumber air dan bertahan di udara yang panas.",{"name":86,"@type":77,"acceptedAnswer":87},"Siapa Ki Secamenggala dalam cerita dan apa hubungannya dengan Dukuh Paruk?",{"text":88,"@type":80},"Ki Secamenggala disebut sebagai moyang orang Dukuh Paruk yang dahulu merupakan musuh kehidupan masyarakat, namun kini dihormati; kuburnya menjadi kiblat kebatinan mereka dan menjadi pusat praktik spiritual.","https://schema.org",{"og:url":55,"og:type":91,"og:title":36,"og:site_name":62,"og:description":29},"article",{"robots":93,"canonical":55},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":96},[97,102,104,108,112,116,120,124,128,132,136],{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":99,"show_sort_weight":100,"slug":101},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":12,"show_sort_weight":100,"slug":103},"story-novel",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":106,"show_sort_weight":100,"slug":107},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":110,"show_sort_weight":100,"slug":111},51,"Komik","comic",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":114,"show_sort_weight":100,"slug":115},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":118,"show_sort_weight":100,"slug":119},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":122,"show_sort_weight":100,"slug":123},49,"Sastra","literature",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":126,"show_sort_weight":100,"slug":127},52,"Teknologi","technology",{"id":129,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":130,"show_sort_weight":100,"slug":131},50,"Ujian","exam",{"id":133,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":134,"show_sort_weight":100,"slug":135},57,"Umum","general",{"id":137,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":138,"show_sort_weight":4,"slug":139},181,"Formulir","formulir"]