[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-339079-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":80,"doc-detail-339079-id":127},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":73,"head_meta":75,"extra_data":77,"updated_unix":79},113,"id","revealing-the-confusion-of-the-jahmiyah-in-grounding-their-heretical-speculative-speech-volume-two","Mengungkap Kerancuan Kaum Jahmiyah dalam Mendasarkan Bid’ah-Bid’ah Kalam Mereka - Jilid Kedua","","Naskah membahas kekeliruan pemahaman kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah, dan pihak lain terkait tata cara menetapkan sifat dan perbuatan Allah. Uraian menegaskan sikap Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” tidak dijadikan pintu pembahasan, sementara pengetahuan tentang hakikat tetap berada pada Allah. Penjelasan juga menguraikan perbedaan larangan pertanyaan “mengapa” dengan pembahasan hikmah perbuatan, termasuk penggunaan struktur bahasa (lam, maf'ul lah) dan contoh dalil serta syair, lalu menutup dengan penegasan batas jangkauan akal terhadap rahasia takdir.",{"@graph":14,"@context":72},[15,34,55],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/","Agama & Spiritualitas",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/revealing-the-confusion-of-the-jahmiyah-in-grounding-their-heretical-speculative-speech-volume-two/339079/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/revealing-the-confusion-of-the-jahmiyah-in-grounding-their-heretical-speculative-speech-volume-two/339079.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Olivia Brown","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-30","2026-09-21",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":26},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",{"@type":56,"mainEntity":57},"FAQPage",[58,64,68],{"name":59,"@type":60,"acceptedAnswer":61},"Apa prinsip utama tentang pertanyaan “bagaimana” dalam membahas sifat Allah?","Question",{"text":62,"@type":63},"Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa tidak boleh memperbincangkan sifat Allah dengan pertanyaan “bagaimana”. Istiwa' diketahui maknanya, sedangkan detail “bagaimana”-nya tidak diketahui selain oleh Allah.","Answer",{"name":65,"@type":60,"acceptedAnswer":66},"Apakah larangan pertanyaan “mengapa” meniadakan hikmah perbuatan Allah?",{"text":67,"@type":63},"Larangan itu meniadakan pembahasan dengan kata “mengapa” (yang keliru dipahami), bukan meniadakan tetapnya hikmah yang memang dimaksudkan oleh Allah. Bahkan Allah menghendaki dan memaksudkan hikmah tersebut meskipun sebagian pihak menolaknya.",{"name":69,"@type":60,"acceptedAnswer":70},"Bagaimana naskah menjelaskan perbedaan penggunaan “lam” dalam menyebut sebab/tujuan?",{"text":71,"@type":63},"Jika “lam” disertakan, yang dinashabkan berkaitan dengan objek sebab/tujuan dan selaras dengan waktu serta perbuatan pelakunya, seperti “demi mengharap wajah Allah”. Jika “lam” dihilangkan, fokusnya bergeser pada pendorong pelaku seperti iradah dan karahah.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":74,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":76,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":78,"site_id":7},339079,1790787432,{"code":4,"msg":81,"data":82},"success",[83,87,91,95,99,103,107,111,115,119,123],{"id":84,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":85,"slug":86},55,60,"religion-spirituality",{"id":88,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":89,"show_sort_weight":85,"slug":90},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":92,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":93,"show_sort_weight":85,"slug":94},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":96,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":97,"show_sort_weight":85,"slug":98},51,"Komik","comic",{"id":100,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":101,"show_sort_weight":85,"slug":102},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":104,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":105,"show_sort_weight":85,"slug":106},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":108,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":109,"show_sort_weight":85,"slug":110},49,"Sastra","literature",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":113,"show_sort_weight":85,"slug":114},52,"Teknologi","technology",{"id":116,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":117,"show_sort_weight":85,"slug":118},50,"Ujian","exam",{"id":120,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":121,"show_sort_weight":85,"slug":122},57,"Umum","general",{"id":124,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":125,"show_sort_weight":4,"slug":126},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":81,"data":128},{"doc_id":78,"user_id":129,"nickname":42,"user_avatar":130,"doc_module":4,"category_id":84,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":131,"file_id":132,"file_url":133,"file_type":134,"file_size":135,"view_count":26,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":136,"language":137,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":138,"faqs":139,"seo_title":140,"seo_description":12,"update_tm":141,"read_time":142},16904993612988,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_a8503ba1806abce46bf441b54a3ca4cd","QantaraLit Seri Ke-628  \nMengungkap Kerancuan Kaum Jahmiyah dalam Mendasarkan Bid’ah-Bid’ah Kalam Mereka 02  \nبيان تلبيس الجهمية في تأسيس بدعهم الكلامية  \nJilid Kedua: Al-'Uluw-Al-Istiwa' -Al-Hadd-Al-Jism  \n-Al-Hayyiz-Al-Jihah  \nPenulis: Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) Ditahqiq oleh: Dr. Rasyid Hasan Muhammad Ali Tata Letak: Muhamad Abid Hadlori, S.Ag. ,Lc.  \nTerjemahan berbantuan AI  \nSelesai diterjemahkan:  \n07 Rabi’ul Akhir 1448 H – 19 September 2026 Ponpes Ibnu Abbas As-Salafy Sragen, Jawa Tengah, Indonesia  \nWakaf untuk Kaum Muslimin  \n(bebas sebar, cetak & gandakan, bukan untuk tujuan komersial)  \nSPESIFIKASI NASKAH:  \n• Ukuran Buku : (B5 / 18,2 × 25,7 cm) PENGATURAN TEKS:  \n• Font Teks : (Souvenir Lt BT)  \n• Ukuran Font : (16 pt)  \n• Spasi Baris : (1,15)  \n• Perataan Teks : Rata kiri-kanan (Justify)  \n• Indent Paragraf : 1,27 cm  \nPENGATURAN HALAMAN:  \n• Margin Atas : 2,54 cm  \n• Margin Bawah : 2,54 cm  \n• Margin Kanan : 1,9 cm  \n• Margin Kiri : 1,9 cm  \nLAYOUT:  \n• Desain Sampul : Canva Desain Isi : Microsoft 365  \nPasal  \nYang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ahadalah bahwa tidak boleh dikatakan tentang sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan pertanyaan \"bagaimana\" (kaifa), dantidak pula tentang perbuatan-perbuatan-Nya dengan pertanyaan \"mengapa\" (lima) . Kami telah menyebutkan ditempat lain bahwa para salaf dan para imam menafikan pengetahuan kita sekarang tentang bagaimana sifat itu, sebagaimana perkataan Imam Malik rahimahullah: \"Istiwa'itu diketahui (maknanya), sedangkan bagaimananya tidak diketahui.\" Mereka tidak menafikan bahwa pada hakikatnyasifat itu memiliki kenyataan yang hanya diketahui oleh Allah sendiri. Kami telah membahas kemungkinan mengetahui hakikat tersebut ketika melihat-Nya di akhirat kelak atauselainnya.  \nAkan tetapi banyak dari kalangan Jahmiyah, Mu'tazilah, dan lainnya menafikan bahwa Allah memilikimahiyah (hakikat esensial) dan kenyataan di balik apa yang telah mereka ketahui. Demikian pula ketika kami katakantidak boleh dikatakan tentang perbuatan-perbuatan-Nyadengan \"mengapa\", maka yang kami nafikan hanyalah pertanyaan dengan kata \"mengapa\" (lima), yang menafikan pengetahuan tentang hikmah tujuan akhir yang dimaksudkan oleh suatu perbuatan, yang layak menjadi jawaban dari pertanyaan \"mengapa\" —yaitu hikmah yang  \ndisertakan dalam ucapan orang yang menjawab \"karena begini\", yang dinashabkan sebagai maf'ul lah (objek yang menunjukkan sebab/tujuan) ketika huruf lam dihilangkan, dengan syarat bahwa sebab itu berupa mashdar dari perbuatan pelaku perbuatan yang disebabkan tersebut, dansejalan dengannya dalam waktu, seperti ucapan \"aku melakukan ini demi mengharap wajah Allah\" dansemacamnya.  \nNamun huruf lam itu disertakan pada hikmah yang dimaksud itu sendiri, serta pada maksud dan tujuan mencarinya, sehingga dikatakan \"aku melakukan ini karena Allah\" dan \"demi mengharap wajah Allah\" . Adapun bilahuruf lam dihilangkan, maka yang dinashabkan hanyalah sesuatu yang berkaitan dengan pendorong pelaku, sepertikeinginan (iradah) dan kebencian (karahah), serta hal-hal yang mengharuskannya, seperti ucapan \"ia duduk (tidak ikut perang) karena pengecut\", sebab sifat pengecut mengandung kebencian dan penolakan. Demikian pula ucapan dalamsebuah syair:  \n\"Dan aku maafkan aib orang mulia karena ingin memanfaatkannya,  \nDan aku berpaling dari celaan orang hina karena kemuliaandiri\"  \nSebab menyimpan (kesalahan orang mulia) mengandung maksud untuk memanfaatkannya, dan sikap  \nmulia mengandung maksud menjaga diri dari tersakiti oleh celaannya. Akan tetapi ucapan \"tidak boleh dikatakantentang perbuatan-perbuatan-Nya dengan 'mengapa'\"tidaklah menafikan tetapnya hikmah yang memang dimaksudkan oleh-Nya pada hakikatnya, dan tidak pula menafikan bahwa Dia menghendaki dan memaksudkan hikmah tersebut—meskipun hal ini dinafikan oleh sebagian orang yang menafikan ta'lil (penyebutan tujuan/sebab bagi perbuatan Allah) maupun yang menetapkannya.  \nOleh karena itu sebagian ulama salaf berkata:\"Sesungguhnya Allah memi","cbCairpzq6R9IOwd","https://ap.wps.com/l/cbCairpzq6R9IOwd","pdf",6151427,499,"Indonesian","# Penafian pertanyaan “bagaimana” dan pembahasan sifat Allah\n## Perbedaan pengetahuan hakikat dan cara mempersoalkan\n# Pembahasan pertanyaan “mengapa” dan hikmah perbuatan\n## Analisis struktur lam dan maf'ul lah\n## Hubungan iradah, karahah, dan sebab tujuan\n# Rahasia takdir dalam riwayat dan pengajaran\n## Kisah Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Uzair\n## Penegasan batas akal terhadap rahasia tujuan","[{\"question\":\"Apa prinsip utama tentang pertanyaan “bagaimana” dalam membahas sifat Allah?\",\"answer\":\"Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa tidak boleh memperbincangkan sifat Allah dengan pertanyaan “bagaimana”. Istiwa' diketahui maknanya, sedangkan detail “bagaimana”-nya tidak diketahui selain oleh Allah.\"},{\"question\":\"Apakah larangan pertanyaan “mengapa” meniadakan hikmah perbuatan Allah?\",\"answer\":\"Larangan itu meniadakan pembahasan dengan kata “mengapa” (yang keliru dipahami), bukan meniadakan tetapnya hikmah yang memang dimaksudkan oleh Allah. Bahkan Allah menghendaki dan memaksudkan hikmah tersebut meskipun sebagian pihak menolaknya.\"},{\"question\":\"Bagaimana naskah menjelaskan perbedaan penggunaan “lam” dalam menyebut sebab/tujuan?\",\"answer\":\"Jika “lam” disertakan, yang dinashabkan berkaitan dengan objek sebab/tujuan dan selaras dengan waktu serta perbuatan pelakunya, seperti “demi mengharap wajah Allah”. Jika “lam” dihilangkan, fokusnya bergeser pada pendorong pelaku seperti iradah dan karahah.\"}]","Mengungkap Kerancuan Kaum Jahmiyah dalam Mendasarkan Bid’ah-Bid’ah Kalam Mereka - Jilid Kedua | PDF",1790027751,768]