[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-230394-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":81,"doc-detail-230394-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":74,"head_meta":76,"extra_data":78,"updated_unix":80},113,"id","rekonstruksi-norma-perjanjian-kerja-pppk-harmonisasi-perlindungan-ketenagakerjaan-dan-akses-jabatan-dalam-sistem-asn-vol-41-no-2-juli-2026","Rekonstruksi Norma Perjanjian Kerja PPPK: Harmonisasi Perlindungan Ketenagakerjaan dan Akses Jabatan dalam Sistem ASN - Vol. 41 No. 2 Juli 2026","","Perjanjian kerja mengikat hubungan kerja Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan negara, namun pengaturannya dalam UU No. 20 Tahun 2023 menimbulkan dua persoalan hukum: kekaburan norma terkait batas masa kerja, mekanisme pengakhiran, dan jaminan sosial, serta disharmoni norma antara rezim kepegawaian dan rezim ketenagakerjaan. Penerapan PPPK Paruh Waktu melalui Keputusan MenPANRB No. 16 Tahun 2025 mempertegas masalah. Penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual merumuskan rekonstruksi norma melalui peraturan pemerintah.",{"@graph":14,"@context":73},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/","Agama & Spiritualitas",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/rekonstruksi-norma-perjanjian-kerja-pppk-harmonisasi-perlindungan-ketenagakerjaan-dan-akses-jabatan-dalam-sistem-asn-vol-41-no-2-juli-2026/230394/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/rekonstruksi-norma-perjanjian-kerja-pppk-harmonisasi-perlindungan-ketenagakerjaan-dan-akses-jabatan-dalam-sistem-asn-vol-41-no-2-juli-2026/230394.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Ben Jamin","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-25","2026-09-10",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",5,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59,65,69],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Apa dua persoalan hukum utama dalam pengaturan perjanjian kerja PPPK menurut penelitian ini?","Question",{"text":63,"@type":64},"Penelitian menyoroti kekaburan norma (batas masa kerja, mekanisme pengakhiran, dan jaminan sosial) serta disharmoni norma antara rezim hukum kepegawaian dan rezim hukum ketenagakerjaan yang melekat pada hubungan kerja PPPK.","Answer",{"name":66,"@type":61,"acceptedAnswer":67},"Bagaimana PPPK Paruh Waktu memperjelas persoalan normatif perjanjian kerja PPPK?",{"text":68,"@type":64},"Kehadirannya melalui Keputusan Menteri PANRB No. 16 Tahun 2025 mempertajam dua persoalan tersebut, khususnya terkait perlindungan dan kejelasan dasar aturan.",{"name":70,"@type":61,"acceptedAnswer":71},"Mengapa posisi PPPK disebut paradoks dalam penelitian ini?",{"text":72,"@type":64},"PPPK dinilai berkedudukan lebih tinggi daripada pekerja kontrak biasa, tetapi lebih lemah dari sisi perlindungan pengakhiran kerja karena pengaturan yang belum koheren dan bercorak hibrida (publik-privat).","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":75,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":77,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":79,"site_id":7},230394,1790099844,{"code":4,"msg":82,"data":83},"success",[84,88,92,96,100,104,108,112,116,120,124],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":86,"slug":87},55,60,"religion-spirituality",{"id":89,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":90,"show_sort_weight":86,"slug":91},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":93,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":94,"show_sort_weight":86,"slug":95},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":97,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":98,"show_sort_weight":86,"slug":99},51,"Komik","comic",{"id":101,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":102,"show_sort_weight":86,"slug":103},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":106,"show_sort_weight":86,"slug":107},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":86,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":86,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":86,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":122,"show_sort_weight":86,"slug":123},57,"Umum","general",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":126,"show_sort_weight":4,"slug":127},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":82,"data":129},{"doc_id":79,"user_id":130,"nickname":42,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":85,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":137,"language":138,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":12,"update_tm":142,"read_time":143},2336478466772,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_3d24733baf745e90a7e4bdd5f77d97b2","[Vol. 41 No. 2 Juli 2026] [JATISWARA]  \nREKONSTRUKSI NORMA PERJANJIAN KERJA PPPK: HARMONISASI PERLINDUNGAN  \nKETENAGAKERJAAN DAN  \nAKSES JABATAN DALAM SISTEM ASN  \nWahyu Aliansa  \nFakultas Hukum, Univeritas Halu Oleo, Indonesia  \n[E-mail: wahyualiansa@uho.ac.id](E-mail: wahyualiansa@uho.ac.id)  \nABSTRAK  \nPerjanjian kerja merupakan instrumen hukum yang mengikat hubungan kerja Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dengan negara, namun pengaturannya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara menyisakan dua persoalan hukum sekaligus, yaitu kekaburan norma (vague norm) mengenai batas masakerja, mekanisme pengakhiran kerja, dan jaminan sosial PPPK, serta disharmoni norma (conflict of norm) antara rezim hukum kepegawaian dan rezim hukum ketenagakerjaanyang keduanya melekat pada hubungan kerja PPPK. Kehadiran PPPK Paruh Waktumelalui Keputusan Menteri PANRB Nomor 16 Tahun 2025 mempertajam kedua persoalan tersebut. Penelitian ini bertujuan menegaskan isu hukum kedudukan perjanjian kerja PPPK, memvalidasi kekaburan dan disharmoni normanya, serta merumuskan rekonstruksi norma yang sekaligus menuntut penafsiran atas norma yang kabur dan harmonisasiatas norma yang saling bertentangan. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Penelitian menyimpulkan bahwa hubungan kerja PPPK bercorak hibrida (publik-privat) yang belum diatur koheren, sehingga menempatkan PPPK pada posisi paradoks: berkedudukan lebih tinggi daripadapekerja kontrak biasa, tetapi lebih lemah dari sisi perlindungan pengakhiran kerja. Karenaitu, rekonstruksi norma perjanjian kerja PPPK melalui peraturan pemerintah tersendiri diperlukan untuk menjamin kepastian hukum, perlindungan ketenagakerjaan yang layak, dan kesetaraan akses jabatan berbasis sistem merit.  \nKata Kunci: perjanjian kerja; pegawaipemerintah dengan perjanjian kerja; aparatur sipil negara.  \nABSTRACT  \nThe work agreement is the legal instrument binding the employment relationship of Government Employees under Work Agreements (PPPK) with the state; however, its regulation under Law Number 20 of 2023 on the State Civil Apparatus leaves two simultaneous legal issues, namely the vagueness of norms regarding the term of employment, termination mechanisms, and social security of PPPK, and the conflict of norms between the civil service regime and the labor law regime that both attach to the PPPK employment relationship. The introduction of Part-Time PPPK through Ministerial Decree of PANRB Number 16 of 2025 sharpens both problems. This study aims to affirm the legal issue of the PPPK work agreement, validate its vagueness and disharmony, and formulate a norm reconstruction that simultaneously requires interpretation of the vague norm and harmonization of the conflicting norms. The study employs a normative juridical method with statutory and conceptual approaches. It concludes that the PPPK employment relationship is hybrid (public-private) and incoherently regulated, placing PPPK in a paradoxical position: institutionally higher than ordinary contract workers, yet weaker in terms of termination protection. Therefore, reconstruction of PPPK work agreement norms through a dedicated government regulation is required to ensure legal certainty, adequate labor protection, and equal merit-based access to positions. Keywords: work agreement; government employees with work agreements; state civil Apparatus.  \n\n| Rekonstruksi Norma Perjanjian Kerja PPPK... | Wahyu Aliansa | 303 |\n| --- | --- |\n\n[JATISWARA] [Vol. 41 No. 2 Juli 2026]  \nA. PENDAHULUAN  \nReformasi birokrasi di Indonesia telah menempatkan penataan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai salah satu agenda strategis pembangunan hukum kepegawaian nasional. Sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, ASN diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) .1  \nKehad","cbCaiq4nClSK37Lp","https://ap.wps.com/l/cbCaiq4nClSK37Lp","pdf",413702,13,"Indonesian","# Pendahuluan\n## Latar reformasi birokrasi dan klasifikasi ASN\n## Pengaturan PPPK dan persoalan normatif perjanjian kerja\n## Pergantian UU ASN dan kebutuhan pengaturan turunan\n## Kekaburan norma pada hierarki, perlindungan, dan akses jabatan","[{\"question\":\"Apa dua persoalan hukum utama dalam pengaturan perjanjian kerja PPPK menurut penelitian ini?\",\"answer\":\"Penelitian menyoroti kekaburan norma (batas masa kerja, mekanisme pengakhiran, dan jaminan sosial) serta disharmoni norma antara rezim hukum kepegawaian dan rezim hukum ketenagakerjaan yang melekat pada hubungan kerja PPPK.\"},{\"question\":\"Bagaimana PPPK Paruh Waktu memperjelas persoalan normatif perjanjian kerja PPPK?\",\"answer\":\"Kehadirannya melalui Keputusan Menteri PANRB No. 16 Tahun 2025 mempertajam dua persoalan tersebut, khususnya terkait perlindungan dan kejelasan dasar aturan.\"},{\"question\":\"Mengapa posisi PPPK disebut paradoks dalam penelitian ini?\",\"answer\":\"PPPK dinilai berkedudukan lebih tinggi daripada pekerja kontrak biasa, tetapi lebih lemah dari sisi perlindungan pengakhiran kerja karena pengaturan yang belum koheren dan bercorak hibrida (publik-privat).\"}]","Rekonstruksi Norma Perjanjian Kerja PPPK: Harmonisasi Perlindungan Ketenagakerjaan dan Akses Jabatan dalam Sistem ASN - Vol. 41 No. 2 Juli 2026 | PDF",1789049970,20]