[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-39904-id":3,"doc-seo-39904-113":31,"detail-sidebar-cat-0-id-113":93},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":28,"seo_description":14,"update_tm":29,"read_time":30},39904,8796095462418,"Noah","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/80000253c1241d02b47?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1778826106357471780",54,"Penelitian & Laporan","Pseudo-Ideologi Pancasila Dalam Cengkeraman Liberalisme Ancaman Komunisme","Naskah ini membahas kritik terhadap Pancasila ketika dianggap tidak lagi menjadi rujukan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Teks menyoroti pergeseran Indonesia menuju kapitalisme-liberalisme serta kebingungan publik yang muncul saat Pancasila makin sering dibahas. Penulis mengajukan pentingnya otokritik dan menegaskan perlunya melihat Pancasila dalam peta ideologi besar dunia. Pembahasan kemudian menguraikan konsep ideologi sebagai akidah dan sistem aturan, serta mengklasifikasikan ideologi dominan yang ada saat ini.","Judul  \nPenulis  \nDesain & layout  \n: PSEUDO-IDEOLOGI PANCASILADalam Cengkeraman Liberalisme Ancaman Komunisme  \n: Arief B. Iskandar  \n: Tim Follback Dakwah 2019  \ndan  \n“S  \nurya Paloh: Indonesia Kini, Negara Kapitalis yang Liberal.” Demikian  \nsalah satu judul berita Republika  \nOnline (14/8/2019) mengutip pernyataan Petinggi Nasdem, Surya Paloh, baru-baru ini.  \nDi sisi lain, saat membuka Kongres Pancasila XI di UGM, Wapres Jusuf Kallaberkomentar,“Pancasila makin dibahas, makin bingung kita.”([Tirto.id](Tirto.id, 15/8/2019).)[, 15/8/2019).](Tirto.id, 15/8/2019).)  \nDua pernyataan kedua tokoh di Tanah Air ini tentu amat menarik. Di satu sisi, jelas bahwa ada pengakuan jujur dari Surya Paloh bahwa Indonesia kini sudah sangat liberal, jauh dari nilai-nilai Pancasila yang diklaim sebagai dasar  \nPseudo-Ideologi Pancasila |3   \nnegara. Di sisi lain, ada semacam kegalauan dari Wapres JK terhadap Pancasila itu sendiri yang dianggap terlalu sering dibahas sehingga makin membingungkan.  \nKarena itu, di tengah slogan “Saya Indinesia, Saya Pancasila”, kita layak bertanya: Betulkah Pancasila selama ini dijadikan sebagaiacuan dalam berbangsa dan bernegara? Ataukah Pancasila hanya jargon belaka? Artinya, tidakbenar-benar nyata, dan tidak berpengaruh apaapa terhadap bangsa dan negara ini? Betulkah Indonesia telah berubah menjadi negara kapitalis-liberal?  \nTulisan berikut sedikit banyak ingin menjawab pertanyaan di atas, sekaligus hendak menegaskan pentingnya bangsa dan negara ini melakukan semacam otokritik terhadap Pancasila.  \n*****  \nPancasila, jika dihitung sejak tahun 1945- -tepatnya tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari  \n 4| AriefB. Iskandar  \nkelahirannya--hingga tahun ini, berarti sudahmemasuki usia 74 tahun. Sudah beranjak tua bahkan jompo jika diasosiasikan dengan manusia.  \nTentu menarik jika Pancasila dikaitkandengan isu kekinian. Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini Pancasila dikaitkan kembali  \ndengan isu anti kebhinekaan, anti NKRI, radikalisme, syariah Islam, termasuk isu Negara Islam atau Khilafah Islam. Belakangan isu ini makin menguat sejak Aksi Bela Islam 212. Termasuk kini menjelang Pilpres 2019. Tidak lain, karena isu-isu tersebut dianggap sebagaiantitesis terhadap Pancasila yang telah lama diklaim sebagai dasar negara.  \nPertanyaannya:  \nMengapa isu Pancasila tidak dimunculkan saat maraknya kasus korupsi yang melibatkan banyak pejabat negara dan anggota parlemen dari tingkat daerah hingga tingkat pusat?  \nPseudo-Ideologi Pancasila |5   \nMengapa isu Pancasila tidak muncul saat penguasa negeri ini menyerahkan kekayaanalamnya ke pihak asing atas nama privatisasi?  \nMengapa isu Pancasila juga tidak muncul saat negeri ini secara membabibuta menerapkanekonomi neoliberalisme?  \nBukankah semua itu yang malah lebih pantas dianggap sebagai antitesis terhadap Pancasila?  \nNamun demikian, tulisan berikut tidak akan membincangkan lebih jauh Pancasila. Tulisanberikut hanya ingin membahas ideologi-ideologi besar dunia.  \nHal ini penting mengingat Pancasila saat ini bukan hanya berada di tengah arus besar ideologi-ideologi besar dimaksud. Pancasila bahkan hanyut dan tenggelam ditelan arus besar ideologi-ideologi besar tersebut.  \nTegasnya, tulisan ini sekadar inginmemaparkan kembali realitas ideologi-ideologidi dunia, termasuk posisi Pancasila di dalamnya, yang sebetulnya lebih layak dikategorikan  \n 6| AriefB. Iskandar  \nsebagai \"pseudo-ideologi\" (ideologi semu)  \nketimbang sebuah ideologi hakiki.  \nRealitas Ideologi  \nSecara umum, ideologi (Arab: mabda’) adalah pemikiran paling asasi yang melahirkan—sekaligus menjadi landasan bagi—pemikiran-pemikiran lain yang menjadi turunannya (M. Muhammad Ismail, 1958) .  \nPemikiran mendasar dari ideologi ini dapatdisebut sebagai akidah (‘aqîdah), yang dalam konteks modern terdiri dari: (1) materialisme (al-madiyah); (2) sekularisme (fashl ad-din ‘anal-hayah); (3) Islam (Al-Islam) .  \nAkidah ini berisi pemikiran mondial dan global mengenai manusia, alam semesta dan kehidupan dunia; tentang apa ","cbCaiuDOoJ5Ryyol","https://ap.wps.com/l/cbCaiuDOoJ5Ryyol","pdf",2809681,7,1,32,"Indonesian","id",113,"# Pendahuluan\n## Pertanyaan tentang peran Pancasila\n## Tujuan tulisan\n# Pancasila dalam arus ideologi\n## Isu kekinian yang dikaitkan dengan Pancasila\n# Realitas ideologi\n## Definisi ideologi sebagai mabda'\n## Akidah dan cabang pemikiran\n## Tiga ideologi yang ada di dunia","[{\"question\":\"Apa inti kritik penulis terhadap Pancasila dalam naskah ini?\",\"answer\":\"Penulis menilai Pancasila kurang dijadikan acuan yang benar-benar nyata, sehingga hanya berfungsi sebagai slogan. Karena itu diperlukan otokritik bangsa dan negara terhadap Pancasila.\"},{\"question\":\"Mengapa penulis mempertanyakan kaitan isu Pancasila saat berbagai masalah sosial-politik terjadi?\",\"answer\":\"Penulis mempertanyakan mengapa isu Pancasila tidak muncul ketika terjadi kasus korupsi, penyerahan kekayaan alam kepada pihak asing, serta penerapan ekonomi neoliberalisme. Pertanyaannya menekankan bahwa hal-hal tersebut justru lebih berpotensi bertentangan dengan Pancasila.\"},{\"question\":\"Bagaimana penulis mendefinisikan ideologi dan bagaimana ideologi dikaitkan dengan akidah?\",\"answer\":\"Penulis menjelaskan ideologi sebagai pemikiran paling asasi (mabda’) yang melahirkan landasan bagi pemikiran lain dan turunannya. Pemikiran mendasar itu disebut akidah, yang dalam konteks modern mencakup materialisme, sekularisme, dan Islam, lalu melahirkan sistem aturan untuk mengatur kehidupan manusia.\"}]","Pseudo-Ideologi Pancasila Dalam Cengkeraman Liberalisme Ancaman Komunisme | PDF",1783087783,49,{"code":4,"msg":32,"data":33},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":34,"title":13,"keywords":35,"description":14,"schema_data":36,"social_meta":88,"head_meta":90,"extra_data":92,"updated_unix":29},"pseudo-ideology-of-pancasila-in-the-grip-of-liberalism-the-threat-of-communism","",{"@graph":37,"@context":87},[38,55,70],{"@type":39,"itemListElement":40},"BreadcrumbList",[41,45,49,52],{"item":42,"name":43,"@type":44,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":46,"name":47,"@type":44,"position":48},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":50,"name":12,"@type":44,"position":51},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":53,"name":13,"@type":44,"position":54},"https://docshare.wps.com/id/document/pseudo-ideology-of-pancasila-in-the-grip-of-liberalism-the-threat-of-communism/39904/",4,{"url":53,"name":13,"@type":56,"author":57,"headline":13,"publisher":59,"fileFormat":62,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":63,"datePublished":64,"encodingFormat":62,"isAccessibleForFree":65,"interactionStatistic":66},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":58},"Person",{"url":42,"name":60,"@type":61},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-08-15","2026-07-03",true,{"@type":67,"interactionType":68,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":69},"ViewAction",{"@type":71,"mainEntity":72},"FAQPage",[73,79,83],{"name":74,"@type":75,"acceptedAnswer":76},"Apa inti kritik penulis terhadap Pancasila dalam naskah ini?","Question",{"text":77,"@type":78},"Penulis menilai Pancasila kurang dijadikan acuan yang benar-benar nyata, sehingga hanya berfungsi sebagai slogan. Karena itu diperlukan otokritik bangsa dan negara terhadap Pancasila.","Answer",{"name":80,"@type":75,"acceptedAnswer":81},"Mengapa penulis mempertanyakan kaitan isu Pancasila saat berbagai masalah sosial-politik terjadi?",{"text":82,"@type":78},"Penulis mempertanyakan mengapa isu Pancasila tidak muncul ketika terjadi kasus korupsi, penyerahan kekayaan alam kepada pihak asing, serta penerapan ekonomi neoliberalisme. Pertanyaannya menekankan bahwa hal-hal tersebut justru lebih berpotensi bertentangan dengan Pancasila.",{"name":84,"@type":75,"acceptedAnswer":85},"Bagaimana penulis mendefinisikan ideologi dan bagaimana ideologi dikaitkan dengan akidah?",{"text":86,"@type":78},"Penulis menjelaskan ideologi sebagai pemikiran paling asasi (mabda’) yang melahirkan landasan bagi pemikiran lain dan turunannya. Pemikiran mendasar itu disebut akidah, yang dalam konteks modern mencakup materialisme, sekularisme, dan Islam, lalu melahirkan sistem aturan untuk mengatur kehidupan manusia.","https://schema.org",{"og:url":53,"og:type":89,"og:title":13,"og:site_name":60,"og:description":14},"article",{"robots":91,"canonical":53},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":94},[95,100,104,108,112,116,118,121,125,129,133],{"id":96,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":97,"show_sort_weight":98,"slug":99},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":101,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":102,"show_sort_weight":98,"slug":103},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":106,"show_sort_weight":98,"slug":107},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":110,"show_sort_weight":98,"slug":111},51,"Komik","comic",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":114,"show_sort_weight":98,"slug":115},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":12,"show_sort_weight":98,"slug":117},"research-report",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":119,"show_sort_weight":98,"slug":120},"Sastra","literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":123,"show_sort_weight":98,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":127,"show_sort_weight":98,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":131,"show_sort_weight":98,"slug":132},57,"Umum","general",{"id":134,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":135,"show_sort_weight":4,"slug":136},181,"Formulir","formulir"]