[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-40719-id":3,"doc-seo-40719-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":91},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},40719,687197207057,"Sage","https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_29158cc5080c5b710cf443261637dec0",49,"Sastra","Post-Truth: Konsekuensi atas Keruntuhan Modernitas","Tulisan ini membahas hubungan modernitas dengan hegemoni narasi besar dalam legitimasi pengetahuan. Modernitas dipaparkan sebagai masa kemajuan ilmu, revolusi industri, kolonialisme, dan rasionalitas yang sering mengingkari objektivitas bebas nilai. Dari kerangka tersebut, postmodernisme dimunculkan sebagai kritik melalui gagasan permainan bahasa, pluralitas, dan delegitimasi wacana universal. Kemajuan teknologi dan pasca-industri memungkinkan beragam interpretasi sehingga otoritas kebenaran objektif melemah dan ruang diskursus makin heterogen.","POST-TRUTH: KONSEKUENSI ATAS KERUNTUHAN MODERNITAS  \nIlham Perdana Lazuardhi  \nSeperempat paruh awal abad ke-21 ini, manusia dihadapkan kepada pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendisrupsi masyarakat. Tak lain kondisi ini diciptakan oleh modernitas, sebuah masa ketika modernisme diangkat menjadi narasi yang menghegemonimasyarakat. Kata modernisme mengandung makna serba maju, gemerlap, dan progresif (Setiawan & Sudrajat, 2018) . Sementara, modernitas adalah konsep yang dikembangkan berdasarkan rasionalitas yang merupakan buah keberhasilan dalam mengembangkan gagasangagasan ontologis (Tanudirjo, 2017, terj.) . Kemasyhuran era modernitas ditandai oleh perkembangan ilmu pengetahuan, revolusi industri, dan hegemoni budaya barat melalui proseskolonisasi. Hal ini ditandai pada abad ke-17 ketika ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat yang menghadirkan revolusi industri dan sistem ekonomi kapitalistik. Buah dari keberhasilan ini tak lain adalah ekspansi ilmu pengetahuan dan teknologi ke penjuru dunia.  \nDi abad ke-19 dan 20 dunia mengalami zaman modern yang penuh dengan hiruk-pikuk mulai dari pertarungan ideologi, Perang Dunia I dan II, kolonialisme, serta kekacauan yang hadir karena keponggahan manusia dalam memandang dunia hanya dengan melalui rasio (Tejo, 2017). Eksploitasi ilmu pengetahuan demi industri dan perang adalah bukti nyata bahwa sains – menurut pandangan positivisme – telah mengingkari objektivitasnya sebagai ilmu yang bebas nilai (Yuniswara & Ardi, 2021) . Tak lain karena modernitas membentuk narasi besar yang bertujuan membangun hegemoni diskursif, justru meminggirkan kelompok minoritas dancerita mereka yang berbeda-beda. Kekecewaan atas eksklusitivitas dari wacana modernitas membuka ruang bagi postmodernisme yang memiliki cita-cita mengangkat diskursus yang termarginalkan.  \nKebangkitan Postmodernisme  \nDalam filsafat, postmodernisme merupakan istilah yang dipopulerkan oleh JeanFrancois Lyotard dalam bukunya yang berjudul “The Postmodern Condition: A Report on Knowledge”. Lyotard menginterpretasikan postmodernisme berseberangan dengankontekstualisasi modern melalui gagasan bahwa postmodernisme: sesuatu yang menyangkal kenyamanan bentuk-bentuk baik, konsensus rasa yang memungkinkan kita berbagi secarakolektif nostalgia akan hal-hal yang tidak dapat dicapai; sesuatu yang mencari presentasi baru,  \nbukan untuk menikmatinya tetapi untuk memberikan pemahaman yang lebih kuat tentang hal yang tidak dapat dipresentasikan (Lyotard, 1984: 81, terj.) . Lebih lanjut, Lyotard melihat postmodernisme merupakan imbas dari aspek ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosio-politik pada masa modern. Adanya hierarkis yang terstruktur, koheren, dan sistematis merupakan cirikhas dari masa modern dan dipegang oleh otoritas yang disebut narasi besar. Post-modernismemelihat ilmu pengetahuan melegitimasi dirinya sendiri dengan menghubungkan penemuannya dengan otoritas tertentu (Tanudirjo, 2017, terj.) .  \nLegitimasi: Ilmu Pengetahuan dan Bahasa  \nMenurut Lyotard, kemajuan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh bahasa, bahwa ilmu pengetahuan dan bahasa berkesinambungan dalam menciptakan legitimasi. Dalam hal ini, legitimasi adalah proses ketika seorang legislator yang berurusan dengan wacana ilmiah diberi wewenang untuk menentukan kondisi yang dinyatakan (secara umum, kondisi konsistensi internal dan verifikasi eksperimental) yang menentukan apakah suatu pernyataan akan dimasukkan dalam wacana tersebut – ilmu pengetahuan – untuk dipertimbangkan oleh komunitas ilmiah (Lyotard, 1984: 8) . Hal ini menunjukkan eksklusivitas ilmu pengetahuanyang validasinya ditentukan oleh komunitas ilmiah dalam narasi yang mereka bangun. Pragmatik ilmu pengetahuan berpusat pada ujaran-ujaran denotatif yang menjadi landasan membangun lembaga-lembaga pembelajaran (institut, pusat, universitas, dan lain-lain)(Lyotard, 1984: 65, terj.) .  \nLembaga-lembaga pembelajaran menyepakati adanya seorang transfer pengetahuan oleh apa yang Lyotard sebut sebagai sender kepada","cbCaiiQHUHYMFYuB","https://ap.wps.com/l/cbCaiiQHUHYMFYuB","pdf",199566,4,1,6,"Indonesian","id",113,"# Kebangkitan Postmodernisme\n## Jean-Francois Lyotard dan gagasan postmodernisme\n# Legitimasi: Ilmu Pengetahuan dan Bahasa\n## Konsep legitimasi dalam wacana ilmiah\n## Lembaga pembelajaran dan transfer pengetahuan\n## Permainan bahasa dan pluralitas makna\n# Delegitimasi\n## Kehancuran wacana universal modernitas\n## Pasca-industri dan interpretasi beragam","[{\"question\":\"Apa peran modernitas dalam membentuk hegemoni narasi besar?\",\"answer\":\"Modernitas membangun narasi yang mengunggulkan kebenaran dan legitimasi melalui ilmu pengetahuan, ideologi, dan agama, sehingga diskursus cenderung meminggirkan kelompok yang dianggap berbeda atau irasional.\"},{\"question\":\"Bagaimana Lyotard menjelaskan postmodernisme?\",\"answer\":\"Postmodernisme, menurut Lyotard, menolak kenyamanan bentuk dan konsensus yang mendasari narasi besar, serta mengarahkan pada presentasi baru untuk memperkuat pemahaman tentang hal yang tidak dapat dipresentasikan.\"},{\"question\":\"Apa hubungan bahasa dengan legitimasi ilmu pengetahuan menurut Lyotard?\",\"answer\":\"Ilmu pengetahuan dipengaruhi bahasa karena legitimasi dibentuk oleh wewenang untuk menetapkan kondisi konsistensi internal dan verifikasi eksperimental yang menentukan apakah suatu pernyataan dimasukkan dalam wacana ilmiah oleh komunitas ilmiah.\"}]",1783314541,9,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":86,"head_meta":88,"extra_data":90,"updated_unix":28},"post-truth-consequences-of-the-collapse-of-modernity","",{"@graph":36,"@context":85},[37,53,68],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":20},"https://docshare.wps.com/id/document/post-truth-consequences-of-the-collapse-of-modernity/40719/",{"url":52,"name":13,"@type":54,"author":55,"headline":13,"publisher":57,"fileFormat":60,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":61,"datePublished":62,"encodingFormat":60,"isAccessibleForFree":63,"interactionStatistic":64},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":56},"Person",{"url":41,"name":58,"@type":59},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-23","2026-07-06",true,{"@type":65,"interactionType":66,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":67},"ViewAction",{"@type":69,"mainEntity":70},"FAQPage",[71,77,81],{"name":72,"@type":73,"acceptedAnswer":74},"Apa peran modernitas dalam membentuk hegemoni narasi besar?","Question",{"text":75,"@type":76},"Modernitas membangun narasi yang mengunggulkan kebenaran dan legitimasi melalui ilmu pengetahuan, ideologi, dan agama, sehingga diskursus cenderung meminggirkan kelompok yang dianggap berbeda atau irasional.","Answer",{"name":78,"@type":73,"acceptedAnswer":79},"Bagaimana Lyotard menjelaskan postmodernisme?",{"text":80,"@type":76},"Postmodernisme, menurut Lyotard, menolak kenyamanan bentuk dan konsensus yang mendasari narasi besar, serta mengarahkan pada presentasi baru untuk memperkuat pemahaman tentang hal yang tidak dapat dipresentasikan.",{"name":82,"@type":73,"acceptedAnswer":83},"Apa hubungan bahasa dengan legitimasi ilmu pengetahuan menurut Lyotard?",{"text":84,"@type":76},"Ilmu pengetahuan dipengaruhi bahasa karena legitimasi dibentuk oleh wewenang untuk menetapkan kondisi konsistensi internal dan verifikasi eksperimental yang menentukan apakah suatu pernyataan dimasukkan dalam wacana ilmiah oleh komunitas ilmiah.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":87,"og:title":13,"og:site_name":58,"og:description":14},"article",{"robots":89,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":92},[93,98,102,106,110,114,118,120,124,128],{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":95,"show_sort_weight":96,"slug":97},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":99,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":100,"show_sort_weight":96,"slug":101},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":103,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":104,"show_sort_weight":96,"slug":105},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":107,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":108,"show_sort_weight":96,"slug":109},51,"Komik","comic",{"id":111,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":112,"show_sort_weight":96,"slug":113},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":115,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":116,"show_sort_weight":96,"slug":117},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":96,"slug":119},"literature",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":122,"show_sort_weight":96,"slug":123},52,"Teknologi","technology",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":126,"show_sort_weight":96,"slug":127},50,"Ujian","exam",{"id":129,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":130,"show_sort_weight":96,"slug":131},57,"Umum","general"]