[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-37203-id":3,"doc-seo-37203-113":29},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":20,"is_downloadable":20,"audit_status":20,"page_count":21,"language":22,"language_code":23,"site_id":24,"html_lang":23,"table_of_contents":25,"faqs":26,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":27,"read_time":28},37203,962075006959,"Anda","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/e0002397efbe92a78e?_k=1776741047341049297",55,"Agama & Spiritualitas","Pos-Islamisme","Pos-Islamisme merupakan upaya memahami perubahan gerakan politik Islam di kalangan muslim garis keras, khususnya dalam konteks Iran. Buku Asef Bayat menegaskan terjadinya pergeseran paradigma dari orientasi yang militan, eksklusif, dogmatis menuju sikap yang lebih inklusif, plural, dan toleran. Partisipasi dalam sistem politik modern mencakup peningkatan hak suara, afiliasi partai, bahkan pembentukan partai baru. Perubahan tersebut dikaitkan dengan periode pasca Perang Iran–Irak 1988 serta transformasi sosial, politik, dan intelektual era Rafsanjani, yang membuat isu demokrasi, civil society, gender, serta relasi agama-politik menjadi arus utama.","Pos-lslamisme  \nLK[S  \nPOS-ISLAMISMEAsef Bayat © LKJS, 2011  \nxviii + 432 halaman; 14,5 x 21 cm  \n1. Pos-Islamisme 2. Demokratisasi  \n3. Civil society 4. Politik kehadiran  \nISBN: 979-25-5347-9  \nISBN 13: 978-979-25-5347-5  \nDiterjemahkan dari buku: Making Islam Democratic: Social Movements and the Post-Islamist Turn (Stanford: Stanford University Press, 2007)  \nPenerjemah: Faiz Tajul Milah  \nEditor: Haqqul Yaqin  \nPenyelaras Akhir: Ahmala Arifin  \nRancang Sampul: Haitami el Jaid  \nPenata lsi: Santo  \nPenerbit & Distribusi: LKiS Yogyakarta  \nSalakan Baru No. 1 Sewon Bantu! JI. Parangtritis Km. 4.4 Yogyakarta Telp.: (0274) 387194  \nFaks.: (0274) 379430  \n[http://](http://ww.lkis.co.id)[ww](http://ww.lkis.co.id)[.lkis.co.id](http://ww.lkis.co.id)  \ne-mail: [lkis@lkis.co.id](lkis@lkis.co.id)  \n[Cetakan I:](Cetakan I: 2011)[ 2011](Cetakan I: 2011)  \nPercetakan:  \nPT. LKJ.S Printing Cemerlang Salakan Baru No. 3 Sewon Bantu! JI. Parangtritis Km. 4.4 Yogyakarta Telp.: (0274) 417762  \ne-mail: [elkisprinting@yahoo.co.id](elkisprinting@yahoo.co.id)  \nPENGANTAR REDAKSI  \nPos-Islamisme adalah sebuah terminologi baru untuk meng gambarkan sebuah fenomena baru dalam gerakan politik Islam di kalangan muslim garis keras di negara-negara Timur Tengah, terutama Iran. Fenomena baru itu adalah berupa keikutsertaan dan partisipasi mereka dalam sistem politik modern/nasional, yang sebelumnya oleh merekadiangap sebagai sistem politik yang tidak Islami. Partisipasi mereka dalam politik nasional bisaberupapeningkatan hak suara pada pemilu, afiliasi terhadap partai politik tertentu, bahkan bisa pula membentuk partai politik yang [sama sekali] baru.  \nBuku yang ada di tangan pembaca ini, karyaAsef Bayat, ingin menegaskan bahwa pos-Islamisme merupakan kategori paradigmatik baru tentang gerakan politik Islam. Artinya, telah terjadi perubahan paradigma dan gerakan politik Islam di kalangan muslim garis keras, dari yang militan, eksklusif, dogmatis, ke arah paradigma dan gerakan yang menghargai inklusivitas, pluralitas, dan toleransi. Perubahan-perubahan itu terjadi terutama pasca Perang Iran-Irak tahun 1988 serta adanya transformasi sosial, politik, dan intelektual di bawah pemerintahan Presiden Rafsanjani. Isu-isu sentral seperti demokrasi, toleransi, civil society, gender, dan relasi agama dan politik, menjadi mainstream di Iran dalam dua dekade terakhir ini.  \nPos-lslamisme  \nTerlepas dari kontroversi atau lebih tepatnya belum seragam nya pemahaman terhadap terminologi pos-Islamisme di kalangan pakar dan pengamat politik Islam (him. 18-19), pos-Islamismedapat dikatakan sebagai \"manifesto politik\" baru yang melampaui [gerakan] Islamisme-ekstremismesebelumnya. Di sinitelah terjadi metaformosis yang signifikan di kalangan intelektual muslim Iran, yaitu munculnya fenomena sikap-sikap keberagamaan yang inklusif dengan cara mempromosikan negara tanpa mengabaikanetika agama (him. 21).  \nDalam konteks wacana dan gerakan politik Islam di Indonesia, sesungguhnya pos-Islamisme bisa dijadikan refleksi dalam membangun kultur dan etika politik kenegaraan yang mampu menghargai keragaman, keterbukaan, dan weltanschauung yang berkembang di masyarakat. Sebagai langkah awal, kategorisasiterminologi pos-Islamisme bisa digunakan untuk mengklarifikasi ideologi dan strategi kelompok gerakan radikal Islam (dan partai politik Islam) di Indonesia. Selanjutnya, kita bisa menunjukkan bahwa Ideologi dan orientasi gerakan politik Islam oleh kelompok kelompok tertentu yang bersikeras mengusung berdirinya Negara Islam, sesungguhnya semakin lama semakin tidak populer danahistoris, berdasarkan realitas objektif yang terjadi di negara negara Arab (Iran) . Dengan demikian, negara kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, merupakan common platform yang bukan anti-Islam, bukan tidak Islami, dansekaligus bukan sekuler, seperti yang ditunjukkan oleh Asef Bayat dalam pengertiannya tentang kemunculan kategori pos-Islamismedalam gerakan politik Islam dewasa ini.  \nKehadiran te","cbCaiq0SeRveaTGm","https://ap.wps.com/l/cbCaiq0SeRveaTGm","pdf",8311231,1,450,"Indonesian","id",113,"# Pengantar Redaksi\n# Pos-Islamisme sebagai Kategori Paradigmatik\n# Pos-Islamisme dalam Konteks Indonesia\n# Pengantar Penulis","[{\"question\":\"Apa yang dimaksud dengan pos-Islamisme menurut pengantar redaksi?\",\"answer\":\"Pos-Islamisme adalah terminologi untuk menggambarkan fenomena baru dalam gerakan politik Islam muslim garis keras: keterlibatan dan partisipasi dalam sistem politik modern yang sebelumnya dianggap tidak Islami.\"},{\"question\":\"Bagaimana perubahan paradigma gerakan politik Islam dijelaskan dalam buku ini?\",\"answer\":\"Terjadi pergeseran dari pola militan, eksklusif, dan dogmatis menuju paradigma yang menghargai inklusivitas, pluralitas, dan toleransi, terutama setelah 1988 serta transformasi di era Rafsanjani.\"},{\"question\":\"Mengapa pos-Islamisme relevan untuk konteks wacana politik Islam di Indonesia?\",\"answer\":\"Pos-Islamisme dapat dijadikan refleksi untuk membangun kultur dan etika politik kenegaraan yang menghargai keragaman dan keterbukaan, sekaligus membantu mengklarifikasi ideologi serta strategi kelompok gerakan radikal Islam.\"}]",1782998082,693,{"code":4,"msg":30,"data":31},"ok",{"site_id":24,"language":23,"slug":32,"title":13,"keywords":33,"description":14,"schema_data":34,"social_meta":85,"head_meta":87,"extra_data":89,"updated_unix":27},"pos-islamisme","",{"@graph":35,"@context":84},[36,53,67],{"@type":37,"itemListElement":38},"BreadcrumbList",[39,43,47,50],{"item":40,"name":41,"@type":42,"position":20},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":44,"name":45,"@type":42,"position":46},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":48,"name":12,"@type":42,"position":49},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",3,{"item":51,"name":13,"@type":42,"position":52},"https://docshare.wps.com/id/document/pos-islamisme/37203/",4,{"url":51,"name":13,"@type":54,"author":55,"headline":13,"publisher":57,"fileFormat":60,"inLanguage":23,"description":14,"dateModified":61,"datePublished":61,"encodingFormat":60,"isAccessibleForFree":62,"interactionStatistic":63},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":56},"Person",{"url":40,"name":58,"@type":59},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-02",true,{"@type":64,"interactionType":65,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":66},"ViewAction",{"@type":68,"mainEntity":69},"FAQPage",[70,76,80],{"name":71,"@type":72,"acceptedAnswer":73},"Apa yang dimaksud dengan pos-Islamisme menurut pengantar redaksi?","Question",{"text":74,"@type":75},"Pos-Islamisme adalah terminologi untuk menggambarkan fenomena baru dalam gerakan politik Islam muslim garis keras: keterlibatan dan partisipasi dalam sistem politik modern yang sebelumnya dianggap tidak Islami.","Answer",{"name":77,"@type":72,"acceptedAnswer":78},"Bagaimana perubahan paradigma gerakan politik Islam dijelaskan dalam buku ini?",{"text":79,"@type":75},"Terjadi pergeseran dari pola militan, eksklusif, dan dogmatis menuju paradigma yang menghargai inklusivitas, pluralitas, dan toleransi, terutama setelah 1988 serta transformasi di era Rafsanjani.",{"name":81,"@type":72,"acceptedAnswer":82},"Mengapa pos-Islamisme relevan untuk konteks wacana politik Islam di Indonesia?",{"text":83,"@type":75},"Pos-Islamisme dapat dijadikan refleksi untuk membangun kultur dan etika politik kenegaraan yang menghargai keragaman dan keterbukaan, sekaligus membantu mengklarifikasi ideologi serta strategi kelompok gerakan radikal Islam.","https://schema.org",{"og:url":51,"og:type":86,"og:title":13,"og:site_name":58,"og:description":14},"article",{"robots":88,"canonical":51},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":24}]