[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-46438-id":3,"doc-seo-46438-113":29,"detail-sidebar-cat-0-id-113":82},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":20},46438,13056703020460,"Valentina","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/be000253dac470eee5d?_k=1778207105932848923",49,"Sastra","Polemik Sutan Takdir Alisjahbana - Sanusi Pane","Tulisan polemik membahas perbedaan pandangan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane mengenai pembagian sejarah Nusantara dan makna “pra-Indonesia” serta “Indonesia”. Sanusi Pane menolak tuduhan penciptaan sesuatu yang benar-benar baru tanpa kaitan, menegaskan sejarah bersifat berkelanjutan. Ia menguraikan semangat Indonesia sebagai kemauan bersatu yang muncul pada abad kedua puluh, menilai kritik terhadap keindonesiaan masa Majapahit hingga tokoh-tokoh pejuang perlu diluruskan, serta membahas perbedaan cara pandang Barat–Timur dan unsur rohani-jasmani dalam kebudayaan.","Menuju Masyarakat dan Kebudayan Baru  \nSutan Takdir Alisjahbana  \nDalam Bintang Timur dan Suara Umum termuat karangan yang membicarakankarangan saya yang berjudul seperti di atas ini. Kedua karangan itu berisi tuduhan bahwasaya hendak menciptakan sesuatu yang dalam semua hal baru, yang tidak sedikit pun bersangkut paut dengan yang lain.  \nTuduhan yang demikian sama sekali tidak pada tempatnya. Saya pun sadar bahwasejarah itu sesuatu yang berlanjut dan tidak berhenti. Bahwa tiap-tiap masa dalam sejarahitu berkelanjutan dengan masa yang sebelumnya.  \nPembagian sejarah Nusantara ini dalam bagian pra-Indonesia dengan bagian Indonesia, bukan sekali-kali berarti bahwa zaman Indonesia itu tiba-tiba jatuh dari langit, tiba-tiba terjadi dari ketiadaan. Hal yang demikian sama sekali tidak terkandung dalampra. Kalau kita membagi sejarah dalam pra-sejarah, kita sadar bahwa zaman sejarah itukelanjutan dari pra-sejarah. Demikian juga pemakaian “pra” itu di tempat yang lain, seperti: pra-akil balig dengan akil balig, pra-logis dengan logis, pra itu hanya menunjukkan bahwa ada suatu ciri khas dari zaman sesudahnya yang belum terdapatpada zaman sebelumnya. Demikian juga halnya dengan pembagian Indonesia dengan praIndonesia. Dalam zaman keindonesiaan terdapat semangat Indonesia yang belum ada pada zaman pra-Indonesia.  \nApakah semangat Indonesia itu? Semangat Indonesia adalah kemauan yang timbulpada abad kedua puluh di kalangan rakyat yang berjuta-juta ini untuk bersatu. Denganjalan demikian hendak berusaha bersama-sama menduduki tempat yang layak di sisi bangsa-bangsa lain. Kemauan dan cita-cita yang dijunjung dengan kesadaran semacam initidak pernah terjadi di lingkungan kepulauan ini sebelum abad kedua puluh.  \nKehendak bersatu dan cita-cita mulia bersama yang dijunjung dengan sadar inilahciri khas zaman Indonesia abad kedua puluh. Zaman sebelum itu yang belum mempunyaikemauan dan cita-cita secara sadar saya sebut dengan nama pra-indonesia.  \nSemangat keindonesiaan yang hidup di kalangan rakyat Indonesia sekarang tentuakan melahirkan kebudayaan sendiri. Kebudayaan baru itu akan berbeda dengankebudayaan pra-Indonesia. Perbedaan itu bukan berarti bahwa dalam kebudayaan Indonesia tidak terkandung unsur zaman pra-indonesia sama sekali. Perbedaan itu hanya berarti bahwa kebudayaan Indonesia harus sesuai dengan semangat Indonesia. Yang utama ialah semangat keindonesiaan untuk membangun kebudayan sendiri. Dalam mengambil dan mencari ramuan tentu ada juga ramuan yang akan diambilnya dari zaman pra-Indonesia1) . Meskipun bukan menjadi keharusan. Ia dapat, bahkan akan sangat banyak, mengambil ramuan dari luar, khususnya dari Barat. Sebab hakikat semangat Indonesia itu bersaudara dengan semangat dinamis Barat.  \nKekeliruan Tuan Sanusi Pane dalam pikiran saya ialah, ia tidak mengerti arti semangat keindonesiaan. Dan sebab itu, mencampuradukan arti “Indonesia” seperti arti yang dipakai ahli bangsa-bangsa dengan arti Indonesia yang dipakai oleh pergerakan kebangkitan penduduk kepulauan ini. Hal itu nyata sekali pada ucapannya:  \nTuan Sutan Takdir Alisjahbana menyebut bahwa dalam zaman Mahapahit, Diponegoro, Teungku Umar, belum ada keindonesiaan. Pikiran itu menurut pendapat kami kurang benar. Keindonesiaan pada waktu itu pun sudah ada, keindonesiaan dalam adat, dalam seni. Hanya bangsa Indonesia belum timbul, orang Indonesia belum sadar bahwa mereka berbangsa.  \nKeindonesiaan yang dimaksud oleh Tuan Sanusi Pane yang ada pada zaman Majapahit, Diponegoro, dan Teungku Umar itu ialah keindonesiaan menurut ahli bangsa-  \nbangsa. Keindonesiaan yang dimaksudnya utu adalah keindonesiaan yang tidak disadari, keindonesiaan yang terdapat juga di Filipina, Malaka, dan lain-lain.  \nSedangkan keindonesiaan yang saya pisahkan dari pra-Indonesia itu ialah keindonesiaan yang disadari, yang lahir dalam abad kedua puluh ini. Keindonesiaanseperti yang saya maksud sampai sekarang belum terdapat di Malaka, dan lain-lain.  \nSatu hal juga hendak saya tunjukkan terkait dengan pan","cbCaihCc8c6RBPvg","https://ap.wps.com/l/cbCaihCc8c6RBPvg","pdf",97596,5,1,3,"Indonesian","id",113,"# Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru\n## Penolakan Tuduhan dan Konsep Sejarah Berkelanjutan\n## Semangat Indonesia dan Pembagian Pra-Indonesia\n## Kritik terhadap Kekeliruan Pemahaman Keindonesiaan\n## Kebudayaan, Ramuan Masa Lalu, dan Peran Barat\n## Barat–Timur: Rohani, Jasmani, dan Cara Berpikir\n## Catatan Tanggapan Sanusi Pane","[{\"question\":\"Bagaimana posisi Sanusi Pane terkait pandangan Barat–Timur yang membedakan jasmani dan rohani?\",\"answer\":\"Sanusi Pane tidak setuju bahwa Barat hanya mementingkan jasmani dan Timur hanya rohani. Menurutnya, baik Timur maupun Barat tetap mementingkan rohani dan jasmani, meski dalam jasmani Barat bisa lebih unggul karena perbedaan cara berpikir.\"}]",1783518101,{"code":4,"msg":30,"data":31},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":32,"title":13,"keywords":33,"description":14,"schema_data":34,"social_meta":77,"head_meta":79,"extra_data":81,"updated_unix":28},"polemic-between-sutan-takdir-alisjahbana-and-sanusi-pane","",{"@graph":35,"@context":76},[36,52,67],{"@type":37,"itemListElement":38},"BreadcrumbList",[39,43,47,49],{"item":40,"name":41,"@type":42,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":44,"name":45,"@type":42,"position":46},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":48,"name":12,"@type":42,"position":22},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",{"item":50,"name":13,"@type":42,"position":51},"https://docshare.wps.com/id/document/polemic-between-sutan-takdir-alisjahbana-and-sanusi-pane/46438/",4,{"url":50,"name":13,"@type":53,"author":54,"headline":13,"publisher":56,"fileFormat":59,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":60,"datePublished":61,"encodingFormat":59,"isAccessibleForFree":62,"interactionStatistic":63},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":55},"Person",{"url":40,"name":57,"@type":58},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-23","2026-07-08",true,{"@type":64,"interactionType":65,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":66},"ViewAction",{"@type":68,"mainEntity":69},"FAQPage",[70],{"name":71,"@type":72,"acceptedAnswer":73},"Bagaimana posisi Sanusi Pane terkait pandangan Barat–Timur yang membedakan jasmani dan rohani?","Question",{"text":74,"@type":75},"Sanusi Pane tidak setuju bahwa Barat hanya mementingkan jasmani dan Timur hanya rohani. Menurutnya, baik Timur maupun Barat tetap mementingkan rohani dan jasmani, meski dalam jasmani Barat bisa lebih unggul karena perbedaan cara berpikir.","Answer","https://schema.org",{"og:url":50,"og:type":78,"og:title":13,"og:site_name":57,"og:description":14},"article",{"robots":80,"canonical":50},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":83},[84,89,93,97,101,105,109,111,115,119],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":86,"show_sort_weight":87,"slug":88},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":91,"show_sort_weight":87,"slug":92},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":95,"show_sort_weight":87,"slug":96},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":99,"show_sort_weight":87,"slug":100},51,"Komik","comic",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":103,"show_sort_weight":87,"slug":104},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":107,"show_sort_weight":87,"slug":108},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":12,"show_sort_weight":87,"slug":110},"literature",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":113,"show_sort_weight":87,"slug":114},52,"Teknologi","technology",{"id":116,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":117,"show_sort_weight":87,"slug":118},50,"Ujian","exam",{"id":120,"doc_module":4,"doc_module_name":45,"category_name":121,"show_sort_weight":87,"slug":122},57,"Umum","general"]