[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-316732-113":53,"doc-detail-316732-id":121},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":114,"head_meta":116,"extra_data":118,"updated_unix":120},113,"id","phenomenon-of-ringback-tone-rbt-music-capitalism-pop-culture-and-lifestyle","Fenomena Musik RingBack Tone (RBT) - Kapitalisme, Budaya Populer, dan Gaya Hidup","","Musik RBT merupakan fenomena yang digemari berjuta pelanggan. RBT atau nada sambung menjadi gaya hidup para pelanggannya, karena menghadirkan arti suara dalam bentuk musik yang terdengar oleh penelepon melalui jalur telepon hingga telepon dijawab. Melalui RBT, konsumen dapat dengan mudah mengunduh lagu yang digemari. Dalam konteks fenomena ini, kapitalisme, budaya populer, dan gaya hidup dipandang sebagai tiga unsur yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.",{"@graph":63,"@context":113},[64,81,96],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":35,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/phenomenon-of-ringback-tone-rbt-music-capitalism-pop-culture-and-lifestyle/316732/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"author":83,"headline":59,"publisher":86,"fileFormat":89,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":90,"datePublished":90,"encodingFormat":89,"isAccessibleForFree":91,"interactionStatistic":92},"DigitalDocument",{"name":84,"@type":85},"Seraphina","Person",{"url":68,"name":87,"@type":88},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-20",true,{"@type":93,"interactionType":94,"userInteractionCount":4},"InteractionCounter",{"@type":95},"ViewAction",{"@type":97,"mainEntity":98},"FAQPage",[99,105,109],{"name":100,"@type":101,"acceptedAnswer":102},"Apa yang dimaksud dengan RBT dan bagaimana cara kerjanya dalam komunikasi telepon?","Question",{"text":103,"@type":104},"RBT (ring back tone) adalah nada sambung yang berupa musik. Musik tersebut terdengar oleh pihak penelepon setelah melakukan pemanggilan hingga telepon dijawab.","Answer",{"name":106,"@type":101,"acceptedAnswer":107},"Mengapa RBT dapat menjadi bagian dari gaya hidup pengguna?",{"text":108,"@type":104},"RBT dinilai mampu mendorong konsumsi konten musik yang mudah diunduh, sehingga memengaruhi cara pengguna mengekspresikan preferensi dan aktivitas komunikasi mereka.",{"name":110,"@type":101,"acceptedAnswer":111},"Bagaimana hubungan kapitalisme, budaya populer, dan gaya hidup dalam fenomena RBT?",{"text":112,"@type":104},"Kapitalisme, budaya populer, dan gaya hidup dipandang sebagai tiga unsur yang saling berkaitan dalam membentuk realitas dan praktik konsumsi pada audiens.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":115,"og:title":59,"og:site_name":87,"og:description":61},"article",{"robots":117,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":119,"site_id":56},316732,1789922264,{"code":4,"msg":5,"data":122},{"doc_id":119,"user_id":123,"nickname":84,"user_avatar":124,"doc_module":4,"category_id":34,"category_name":35,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":125,"file_id":126,"file_url":127,"file_type":128,"file_size":129,"view_count":4,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":130,"language":131,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":132,"faqs":133,"seo_title":134,"seo_description":61,"update_tm":120,"read_time":135},962075114101,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/e000253a75eb197efd?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1780044092746381165","Fenomena Musik RingBack Tone (RBT): Kapitalisme, Budaya Popular, dan Gaya Hidup  \nRosta Minawati  \nEmail: [rostaminawati@yahoo.co.id](rostaminawati@yahoo.co.id)  \nInstitut Seni Indonesia Padangpanjang  \n“Kamu Bergaya Maka Kamu Ada!  \n(David Chaney)  \nABSTRACT  \nRBT music is a phenomenon enjoyed by millions of fans. RBT, better known as ring back tones have become part of the lifestyle of subscribers. Ring back tones have sound meanings (as music) which are experienced by callers after placing their calls. The music is heard by callerstill the phone is answered. Through RBT consumers can easily download their favorite songs. In the context of this phenomenon capitalism, pop culture and lifestyle represent three inseparable interrelated elements.  \nKeywords: Music RBT, Capitalisme, Cultural Popular, Lifestyle.  \nABSTRAK  \nMusik RBT merupakan fenomena yang digemari berjuta pelanggan. RBT atau yanglebih dikenal dengan nada sambung menjadi gaya hidup para pelanggannya. Nada sambung (ring back tone) memiliki arti suara (musik) yang didengar lewat jalur teleponoleh pihak penelepon setelah melakukan pemanggilan. Musik tersebut dapat didengarpihak yang menghubungi sampai telepon dijawab. Melalui RBT, para konsumen dengan mudah mendownload lagu-lagu yang digemari. Berkaitan dengan fenomena tersebut, kapitalisme, budaya populer dan gaya hidup merupakan tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan.  \nKata kunci: Kapitalisme, Budaya Populer, Gaya Hidup  \nPENDAHULUAN  \nPerkembangan teknologi dan informasidewasa ini telah membawa perubahan paradigma dan prilaku (behaviour) manusia. Salah satu perubahan tersebut disebabkanoleh prilaku pengguna selular. Ponsel bukanlagi sekedar untuk menelepon, melainkan berkembang untuk mendukung terciptanya komunikasi dan informasi yang efektif, cepat, murah, dan fleksibel yang dapat dilakukan kapan dan di mana saja. Saat ini pengguna ponsel sangat tinggi, karenaponsel sangat strategis dan efektif dalam penggunaannya. Dengan jumlah pengguna tersebut, selain sebagai media promosijuga sangat berpotensi sebagai prospek bisnis yang menjanjikan.  \nSejak kemunculannya, musik RBT menarik perhatian para konsumen. Berkaitan dengan hal tersebut, fenomena RBT masuk menjadi wacana kapitalisme, budaya populer dan gaya hidup. Kapitalismemenjadi sutau sistem ekonomi ataupun pemikiran. Pada abad ke-21 inilah, globalisasi yang diisi kapitalisme memantapkan posisinya . Secara lengkap, Marx mendefinisikan kapitalisme sebagai suatusistem ekonomi yang memberikan ruang kepadaindividu menguasai sumber daya produksi vital yang digunakan untuk meraih keuntungan maksimal (Sanderson, 2000: 160) . Hal yang sama juga dinyatakan oleh Braundel, bahwa kapitalisme sebagai pemegang monopoli dalam memperoleh keuntungan besar tanpa menaggung resiko (Kunio, 1990: 3) .  \nFenomena bisnis ring back tone (RBT) atau nada sambung pribadi kini menjadimesin uang baru. Bahkan bagi industri rekaman lokal, RBT memiliki kontribusiterbesar perusahaan. Kontribusi tersebut lebih dari 50 persen, bila dibandingkandengan penjualan konvensional CD ataupun kaset. Menurut Bens Leo, per-  \nkembangan RBTdi Indonesia adalah bentuk penyelamatan industri musik. RBT adalah bentuk teknologi yang tidak bisa dibajak dan penyelamat aksi pembajakan ([http://](http://)[ ](http://)[id.wikipedia. org/wiki/Nada_sambung](id.wikipedia. org/wiki/Nada_sambung) ). Dengan demikian, RBT merupakan upayadalam memberikan ruh baru dalam industri musik Indonesia. Namun menurut pandangan Chaney (2008: 110) perilaku kelompok tersebut untuk mendapatkan penghargaan yang besar dalam memanipulasi nilai-nilai simbolik yang mengistimewakancita rasa mereka sendiri.  \nMETODE  \nMetode yang dilakukan penulis dalam merangkum data dalam penulisan ini, seperti observasi, wawancara, dan studikepustakaan . Akan tetapi penulis lebih menekankan pengumpulan data pada pengamatan fenomena di masyarakat dan studi kepustakaan. Data dikolaborasi untuk menguraikan fenomena pengguna RBT dan mengilmiahkan fenomena yang t","cbCaijctassrpV7A","https://ap.wps.com/l/cbCaijctassrpV7A","pdf",210846,10,"Indonesian","# PENDAHULUAN\n## Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pengguna selular\n## Kapitalisme, globalisasi, dan pandangan para ahli\n# METODE\n## Observasi dan wawancara pengguna RBT\n## Studi kepustakaan dan kolaborasi data\n# HASIL DAN PEMBAHASAN\n## Fenomena RBT sebagai komoditas dan gaya hidup","[{\"question\":\"Apa yang dimaksud dengan RBT dan bagaimana cara kerjanya dalam komunikasi telepon?\",\"answer\":\"RBT (ring back tone) adalah nada sambung yang berupa musik. Musik tersebut terdengar oleh pihak penelepon setelah melakukan pemanggilan hingga telepon dijawab.\"},{\"question\":\"Mengapa RBT dapat menjadi bagian dari gaya hidup pengguna?\",\"answer\":\"RBT dinilai mampu mendorong konsumsi konten musik yang mudah diunduh, sehingga memengaruhi cara pengguna mengekspresikan preferensi dan aktivitas komunikasi mereka.\"},{\"question\":\"Bagaimana hubungan kapitalisme, budaya populer, dan gaya hidup dalam fenomena RBT?\",\"answer\":\" Kapitalisme, budaya populer, dan gaya hidup dipandang sebagai tiga unsur yang saling berkaitan dalam membentuk realitas dan praktik konsumsi pada audiens.\"}]","Fenomena Musik RingBack Tone (RBT) - Kapitalisme, Budaya Populer, dan Gaya Hidup | PDF",15]