[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-39758-id":3,"doc-seo-39758-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":83},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},39758,4398048949847,"Eliana","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/400002536579ef2da7f?_k=1778318612642679267",55,"Agama & Spiritualitas","Jalan Menuju Yang Ilahi: Mistisisme dalam Agama","Tulisan mengurai definisi dan karakteristik mistisisme sebagai jalan menuju keintiman serta kebersatuan dengan Yang Ilahi. Mistisisme dipahami sebagai proses yang tidak dapat dinalar secara rasional dan tidak terjelaskan melalui narasi deskriptif, sehingga pengetahuan mistisisme bersifat intuitif dan diperoleh melalui laku spiritual yang ketat. Berangkat dari dimensi mistik dalam agama, artikel menampilkan refleksi mistisisme dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam.","Zaenal Muttaqin, Jalan Menuju Yang Ilahi Mistisisme dalam agama. .. | 105  \nJalan Menuju yang Ilahi Mistisisme dalam Agama-Agama  \nZaenal Muttaqin  \n[Zaenal.muttaqin@uinjkt.ac.id](Zaenal.muttaqin@uinjkt.ac.id)  \nAbstrak: Tulisan ini hendak mengurai definisi dan karakteristik mistisisme sebagai jalan menuju keintiman dan kebersatuan dengan Yang Ilahi. Sebagai jalan menuju yang ilahi, mistisismedidefinisikan sebagai proses yang tak bisa dinalar (irrational) dan tak terjelaskan dalam narasi deskriptif. Karena itulah, pengetahuan mistisisme juga lebih bersifat intuitif, bukan diskursif. Sebab berbeda dengan pengetahuan diskursif yang didapat melalui proses penalaran ilmiah, pengetahuan mistisisme merupakan pengetahuan yang didapat melalui laku spiritual sehingga karenanya ia bersifat personal dan partikular.Selain itu, sebagai jalan menuju keintiman denganyang ilahi, artikel ini memotret bagaimana refleksi mistisisme berlangsung dalam tiga agama semitik, Yahudi, Kristen, dan Islam.  \nKata Kunci: Dimensi Mistik, Pengetahuan Diskursif, Kabbalah,  \nA. Pendahuluan  \nAgama hadir dalam sejarah manusia tak hanya dalamseperangkat doktrin teologis tentang tuhan dan ciptaanNya.Alih-alih demikian, agama juga hadir tak hanya dalamseperangkat peraturan hukum (syari’at) ketat yang mengaturkerumitan hidup individu dan kolektif umat manusia, baik sesama manusia sendiri maupun dengan bagian lain dari semesta ini.Lebih dari itu, agama hadir sebagai medium yang mewadahi dialog sekaligus keintiman relasi antara kholiq dan makhluq.Medium inilah yang disebut, dalam studi agamaagama, sebagai dimensi mistik dalam agama. Sebagai salah satu dimensi, mistisisme menjadi bagian penting dalamagama seperti halnya dimensi-dimensi lain seperti dimensi ritual, dimensi intelektual, dan dimensi doktrinal. Namun  \n106 | Zaenal Muttaqin, Jalan Menuju Yang Ilahi Mistisisme dalam agama. ..  \nberbeda dengan berbagai dimensi lain, mistisisme merupakan dimensi yang cukup unik. Iamerepresentasikan dunia yang tak bisa dinalar rasio dalam prinsip-prinsip ilmiah. Berbeda denganaspek-aspek lain yang membutuhkan nalar, aspek ini hanya bisaditerima melalui iman dan ditempuh dalam laku spiritual yang ketat. Dalam tulisan sederhana ini, penulis ingin menguraidimensi mistikal, baik dari sudut pengertian maupun hakikatnya. Selanjutnya, penulis akan melihat realitas tersebut dalam sisi spiritualitas tiga agama besar, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.  \nB. Mistisisme: Wilayah yang Tak Bisa Dinalar  \nTerminologi mistisisme diserap dari bahasa Inggris‘mysticism’ atau ungkapan‘mystic’ Inggris abad pertengahan, setelah sebelumnya diderivasikan dari bahasa Yunani ‘mystikos, mustikos, mustēs, yang berarti rahasia, mistis, dan terkait dengan hal-hal misterius sebagai turunan dari mystes “orang yang diinisiasi”. Searah pengaruh filsafat dan kebudayaan Yunani ke dunia Barat Eropa, kata ini kemudian diserap dalam berbagai bahasa Inggris dan kawasan kebudayaan Eropa lainnya. Perancisklasik,misalnya, menggunakan istilah mystique ‘penuh misteriatau misterius’, bahasa Latin mysticus merujuk sisi mistikal dari ritual-ritual rahasia, begitu juga Italia dan Spanyol yang samasama menggunakan istilah mistico. Di Eropa sendiri, istilah mysticism digunakan untuk mendeskripsikan laku spiritual parabiarawan gereja dalam membersihkan (purify) jiwa mereka darikegelapan (darkness), kendati belakangan juga digunakan padalaku spiritual Yahudi dan agama-agama lain. 1  \nTerdapat berbagai definisi yang menjelaskan tentang makna mistisisme.AS Hornby misalnya, mendefinisikan mistisisme sebagai pengetahuan tentang tuhan dan kebenaran ril yang dapat dicapai melalui aktifitas penyembahan (prayer) dan meditasi (meditation), lebih dari sekedar pendekatan akal (reason) dan penginderaan (sense) . Sedangkan pelakunya disebut mistikus (mystic), yaitu orang yang berusaha menjadi tersatukan (to becomeunited) dengan tuhan melalui penyembahan dan meditasisehingga dengan cara demikian iamampu memahami pelbagai hal penting melebihi ","cbCaikXDNqxAEMpk","https://ap.wps.com/l/cbCaikXDNqxAEMpk","pdf",482158,3,1,25,"Indonesian","id",113,"# Abstrak dan Kata Kunci\n# Pendahuluan\n# Mistisisme: Wilayah yang Tak Bisa Dinalar","[{\"question\":\"Bagaimana refleksi mistisisme dipotret dalam tiga agama?\",\"answer\":\"Artikel memotret bagaimana refleksi mistisisme berlangsung dalam tiga agama semitik, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Fokusnya pada cara spiritualitas tersebut membimbing pejalan menuju keintiman dengan Yang Ilahi.\"}]",1783086566,39,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":78,"head_meta":80,"extra_data":82,"updated_unix":28},"path-to-the-divine-mysticism-in-religion","",{"@graph":36,"@context":77},[37,53,68],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,50],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":20},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",{"item":51,"name":13,"@type":43,"position":52},"https://docshare.wps.com/id/document/path-to-the-divine-mysticism-in-religion/39758/",4,{"url":51,"name":13,"@type":54,"author":55,"headline":13,"publisher":57,"fileFormat":60,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":61,"datePublished":62,"encodingFormat":60,"isAccessibleForFree":63,"interactionStatistic":64},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":56},"Person",{"url":41,"name":58,"@type":59},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-18","2026-07-03",true,{"@type":65,"interactionType":66,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":67},"ViewAction",{"@type":69,"mainEntity":70},"FAQPage",[71],{"name":72,"@type":73,"acceptedAnswer":74},"Bagaimana refleksi mistisisme dipotret dalam tiga agama?","Question",{"text":75,"@type":76},"Artikel memotret bagaimana refleksi mistisisme berlangsung dalam tiga agama semitik, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Fokusnya pada cara spiritualitas tersebut membimbing pejalan menuju keintiman dengan Yang Ilahi.","Answer","https://schema.org",{"og:url":51,"og:type":79,"og:title":13,"og:site_name":58,"og:description":14},"article",{"robots":81,"canonical":51},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":84},[85,88,92,96,100,104,108,112,116,120],{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":86,"slug":87},60,"religion-spirituality",{"id":89,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":90,"show_sort_weight":86,"slug":91},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":93,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":94,"show_sort_weight":86,"slug":95},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":97,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":98,"show_sort_weight":86,"slug":99},51,"Komik","comic",{"id":101,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":102,"show_sort_weight":86,"slug":103},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":106,"show_sort_weight":86,"slug":107},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":110,"show_sort_weight":86,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":114,"show_sort_weight":86,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":118,"show_sort_weight":86,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":122,"show_sort_weight":86,"slug":123},57,"Umum","general"]