[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-144355-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":81,"doc-detail-144355-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":74,"head_meta":76,"extra_data":78,"updated_unix":80},113,"id","parasitological-aspects-of-sarcoptes-scabiei-var-hominis","Aspek parasitologi Sarcoptes scabiei var. hominis","","Sarcoptes scabiei adalah tungau penyebab skabies atau kudis yang hidup di lapisan kulit manusia dan mamalia. Taksonomi spesies S. scabiei dibedakan berdasarkan hospes, sehingga tungau yang hidup pada manusia disebut S. scabiei var. hominis. Pengendalian dan pemberantasan skabies, terutama pada level komunitas, membutuhkan pemahaman tentang peran tungau sebagai agen penyakit serta interaksinya dengan manusia sebagai tempat hidup dan hospes.",{"@graph":14,"@context":73},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/layanan-kesehatan/","Layanan Kesehatan",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/parasitological-aspects-of-sarcoptes-scabiei-var-hominis/144355/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/parasitological-aspects-of-sarcoptes-scabiei-var-hominis/144355.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Aditya","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-20","2026-08-25",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",6,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59,65,69],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Apa itu Sarcoptes scabiei dan bagaimana hubungannya dengan skabies?","Question",{"text":63,"@type":64},"Sarcoptes scabiei adalah tungau penyebab skabies atau kudis. Tungau ini hidup dan bereproduksi di lapisan epidermis kulit manusia dan mamalia.","Answer",{"name":66,"@type":61,"acceptedAnswer":67},"Mengapa disebut Sarcoptes scabiei var. hominis?",{"text":68,"@type":64},"Taksonomi S. scabiei dibedakan berdasarkan hospes. Varietas yang hidup pada manusia disebut S. scabiei var. hominis.",{"name":70,"@type":61,"acceptedAnswer":71},"Mengapa pengendalian skabies di tingkat komunitas memerlukan pemahaman khusus?",{"text":72,"@type":64},"Karena eradikasi skabies memerlukan pemahaman skabies sebagai agen penyebab penyakit serta interaksi tungau dengan manusia sebagai hospes. Pemahaman ini mendukung strategi pengendalian yang sesuai.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":75,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":77,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":79,"site_id":7},144355,1787700573,{"code":4,"msg":82,"data":83},"success",[84,89,93,97,101,104,108,112,116,120,124],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":86,"show_sort_weight":87,"slug":88},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":91,"show_sort_weight":87,"slug":92},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":95,"show_sort_weight":87,"slug":96},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":99,"show_sort_weight":87,"slug":100},51,"Komik","comic",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":87,"slug":103},53,"healthcare",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":106,"show_sort_weight":87,"slug":107},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":87,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":87,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":87,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":122,"show_sort_weight":87,"slug":123},57,"Umum","general",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":126,"show_sort_weight":4,"slug":127},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":82,"data":129},{"doc_id":79,"user_id":130,"nickname":42,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":102,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":137,"language":138,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":12,"update_tm":80,"read_time":142},962085564549,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_085a072bc5b1113ac321206ff7593b45","Jurnal Entomologi Indonesia  \np-ISSN: 1829-7722 e-ISSN: 2089-0257  \nTerakreditasi Kemenristekdikti: 105/E/KPT/2022  \nNovember 2023, Vol. 20 No. 3 275–283 Online version: [https://jurnal.pei-pusat.org](https://jurnal.pei-pusat.org)  \nDOI: [https://dx.doi.org/10.5994/jei.20.3.275](https://dx.doi.org/10.5994/jei.20.3.275)  \nREVIEW  \nAspek parasitologi Sarcoptes scabiei var. hominis  \nParasitological aspects of Sarcoptes scabiei var. hominis  \n*  \nSri Wahdini1,2 , Saleha Sungkar2  \n1Program Studi Doktor Ilmu Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat 10430, Indonesia 2Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat-10430, Indonesia  \n(diterima Maret 2023, disetujui November 2023)  \nABSTRAK  \nSarcoptes scabiei (Dee Geer) adalah tungau penyebab penyakit skabies atau kudis. Tungau hidup di lapisan kulit manusia dan hewan mamalia. Saat ini taksonomi spesies S. scabiei dibedakan berdasarkan hospes/inang sehingga S. scabiei yang hidup di manusia disebut S. scabiei var. hominis. Upaya pengendalian dan pemberantasan skabies di manusia terutama ditingkat komunitas memerlukan pemahaman mengenai S. scabiei sebagai agen penyebab penyakit dan interaksi dengan manusia sebagai tempat hidupnya. Artikel ini membahas S. scabiei var. hominis ditinjau dari biologi tungau dan interaksi antara tungau dengan manusia.  \nKata kunci: biologi tungau, manusia, Sarcoptes scabiei var. hominis, skabies  \nABSTRACT  \nSarcoptes scabiei (Dee Geer) is the mite that causes scabies or mange. The mites live in the skin layers of humans and mammals. Nowadays, S. scabiei is classified according to their hospes and S. scabiei that lives in human is called Sarcoptes scabiei var. hominis. Controlling and eradicating human scabies, especially at the community level, requires understanding scabies as a pathogen and its interaction with humans. This paper discusses the biology ofS. scabiei var. hominis and the interactions between mites and humans as hosts.  \nKey words: biology of mite, human, Sarcoptes scabiei var. hominis, scabies  \nPENDAHULUAN  \nSarcoptes scabiei (De Geer) adalah tungau penyebab skabiesatausarkoptosis yang merupakan salah satu penyakit kulit yang sangat menular. Skabies di manusia juga dikenal oleh masyarakatsebagai gudik, kudis, gatal agogo atau budukan.  \nS. scabiei adalah ektoparasitobligat yang hidup dan bereproduksi di lapisan epidermis kulit manusia,  \nhewan liar, hewan peliharaan, dan ternak. Skabies berdampak terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan serta manusia sehingga menimbulkankerugian secara ekonomi, penurunanproduktivitas, bahkan meningkatkan risiko terserang penyakit lain (Currier et al. 2011) .  \nSkabies di manusia umumnya disebabkan oleh infestasi S. scabiei var hominis, walaupun varietaslain yang menginfestasi atau hidup di hewan  \n*Penulis korespondensi: Sri Wahdini. Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat-10430, Indonesia, Email: [sri.wahdini01@ui.ac.id](sri.wahdini01@ui.ac.id)  \n[This is an open access article under the CC BY 4.0 License](This is an open access article under the CC BY 4.0 License)[ ](This is an open access article under the CC BY 4.0 License)([https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/](https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/)).  \n275  \nWahdini & Sungkar: Aspek parasitologi Sarcoptes scabiei  \ndapat menginfestasi kulit manusia, namun hanya bertahan selama beberapa minggu (Niedringhaus et al. 2015) . Sampai saat ini skabies di manusiamenjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara yang menyebabkan 400 juta individu sakit setiap tahunnya (WHO 2019) . Pada tahun 2017, World Health Organization (WHO) menetapkanskabies sebagai penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease) dengan target eliminasipada tahun 2030 (El-Moamly 2021; WHO 2019) .  \nDi Indonesia data prevalensi skabies bervariasi dan prevalensi tinggi umumnya ditemu","cbCainlJ56LfdNFH","https://ap.wps.com/l/cbCainlJ56LfdNFH","pdf",741362,9,"Indonesian","# Pendahuluan\n# Klasifikasi","[{\"question\":\"Apa itu Sarcoptes scabiei dan bagaimana hubungannya dengan skabies?\",\"answer\":\"Sarcoptes scabiei adalah tungau penyebab skabies atau kudis. Tungau ini hidup dan bereproduksi di lapisan epidermis kulit manusia dan mamalia.\"},{\"question\":\"Mengapa disebut Sarcoptes scabiei var. hominis?\",\"answer\":\"Taksonomi S. scabiei dibedakan berdasarkan hospes. Varietas yang hidup pada manusia disebut S. scabiei var. hominis.\"},{\"question\":\"Mengapa pengendalian skabies di tingkat komunitas memerlukan pemahaman khusus?\",\"answer\":\"Karena eradikasi skabies memerlukan pemahaman skabies sebagai agen penyebab penyakit serta interaksi tungau dengan manusia sebagai hospes. Pemahaman ini mendukung strategi pengendalian yang sesuai.\"}]","Aspek parasitologi Sarcoptes scabiei var. hominis | PDF",14]