[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-45679-id":3,"doc-seo-45679-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":83},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},45679,137441390410,"Hazel","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/2000252f4ab5702993?_k=1776741390130283984",54,"Penelitian & Laporan","Diplomasi Kebun Sawit","Kunjungan delegasi Uni Eropa ke Hutan Harapan di Jambi menyoroti pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan, terutama keterkaitannya dengan konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan hutan, dan dampak sosial-ekonomi. Artikel memuat dialog dengan perwakilan masyarakat adat yang menilai penegakan hukum belum maksimal, paparan luas proyek restorasi sejak 2006, serta program “Executive Oil Palm for Ambassadors”. Delegasi menilai praktik sudah baik namun menekankan peningkatan sertifikasi, penanganan perambahan, dan evaluasi dampak industri terhadap deforestasi.","EKONOMI › DIPLOMASI KEBUN SAWIT  \nKUNJUNGAN UNI EROPA  \nDiplomasiKebun Sawit  \nOleh HENDRIYO WIDI  \n21 Mei 2018 · 7 menit baca  \nDelegasi Uni Eropa (UE) mengunjungi Hutan Harapan yang merupakan hutan hujan tropis yang direstorasi PT Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia di Kabupaten Batanghari, Jambi, Rabu (18/4/2018) . Delegasi Uni Eropa memintakeseriusan seluruh pemangku kepentingan menjaga keragama hayati hutan hujan tropis terutama dari perambahan hutanuntuk dijadikan perkebunan sawit.  \nSawit bukan semata-mata bisnis. Mengelola sawit berarti mengelola pula keanekaragamanhayati dan sosial-ekonomi masyarakat, serta tidak merambah hutan. Ketika berkunjung ke Jambi, Delegasi Uni Eropa ingin Indonesia lebih serius mengelola sawit secara berkelanjutan.  \n“Kami sudah berupaya menjaga hutan karena hutan adalah rumah kami. Namun kerap kali kami tidakberdaya menghadapi masyarakat lain yang merambah hutan yang kami jaga,” kata Muhammad (35), perwakilan masyarakat adat suku batin sembilan di Hutan Harapan, Kabupaten Batanghari, Jambi, pekan lalu.  \nHutan Harapan merupakan proyek restorasi hutan hujan tropis di perbatasan Provinsi JambiSumatera Selatan yang mempunyai luas sekitar 98.555 hektar (ha). Seluas 52.170 ha berada di wilayah Banyuasin, Sumatera Selatan, serta 46.385 ha di Batanghari dan Sarolangun, Jambi. Sejak 2006, konsorsium PT Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI) memperoleh konsesi dari pemerintah untuk merestorasi hutan itu.  \nMuhammad menuturkan, suku batin sembilan telah berupaya mengubah pola hidup darisemula nomaden menjadi bertempat tinggal secara bertahap. Mereka mendapat lahan seluas satu hektar untuk menanam karet.  \nNamun, mereka terkendala modal untuk membudidayakan karet. Mereka juga dibekali  \nketerampilan cara-cara mengolah hasil hutan, seperti karet, jelutung, dan pandan hutan. Di saat  \nlestarikan.  \n“Ini tidak adil. Para pendatang justru merusak hutan yang kami lestarikan untuk ditanami sawit. Ini menunjukkan penegakan hukum masih belum maksimal,” kata dia.  \nMuhammad menyampaikan hal itu saat berdialog dengan Delegasi Uni Eropa (UE) . Delegasi itu terdiri dari 13 duta besar dan perwakilan Kedutaan Besar UE, Austria, Denmark, Jerman, Irlandia, Polandia, Swedia, Belanda, dan Inggris. Mereka berkunjung ke perkebunan sawit yang dikelola swasta dan badan usaha milik negera, demplot penelitian Collaborative Research Center (CRC) 990, dan kawasan restorasi hutan hujan tropis Hutan Harapan.  \nKOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI  \nDelegasi Uni Eropa yang diketuai Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend (batik biru) mengunjungipengelolaan perkebunan kepala sawit berkelanjutan di perkebunan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Senin (16/4/2018). Kegiatan yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri itu bertujuan untuk memaparkan fakta pengelolaansawit berkelanjutan secara langsung kepada Uni Eropa.  \nKunjungan itu terkait dengan program Excecutive Oil Palm for Ambassadors yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit di Jambi pada 15-19 April 2018. Melalui program itu, Indonesia ingin memberikan gambaran konkret tentang sawit dan dampak positifnya terhadap ekonomi Indonesia, daerah, lingkungan, dansosial atau petani.  \nDalam kunjungan itu, Delegasi UEjuga bertemu dengan sejumlah petani sawit. Mereka menilaiupaya pengelolaan sawit Indonesia sudah baik. Petani dan masyarakat sekitar hutan dilibatkan. Penelitian tentang keanekaragaman hayati, serapan air, dan produksi karbon di ekosistem sawitjuga dilakukan.  \nNamun masih ada beberapa catatan dari Delegasi UE. Selisih harga tanda buah segar (TBS) sawit yang bersertifikat dengan yang tidak bersertifikat masih kecil. Selisihnya rata-rata Rp 40 per kilogram.  \nDuta Besar UE untuk Indonesia Vincent Guerend mengatakan, memang Indonesia telah menerapkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Namun, jumlah sawit yang bersertifikat itu baru 20 pe","cbCaifTK1zsr9zfs","https://ap.wps.com/l/cbCaifTK1zsr9zfs","pdf",466548,3,1,14,"Indonesian","id",113,"# Kunjungan Uni Eropa ke Hutan Harapan\n## Fokus keberlanjutan dan keragaman hayati\n# Sawit sebagai pengelolaan lingkungan dan sosial\n## Peran masyarakat adat dan tantangan permodalan\n# Proyek restorasi Hutan Harapan\n## Skala wilayah dan konsesi restorasi\n# Program Executive Oil Palm for Ambassadors\n## Tujuan penyampaian fakta kepada Uni Eropa\n# Penilaian dan catatan delegasi\n## Sertifikasi TBS, dampak hutan, dan ekosistem","[{\"question\":\"Apa saja catatan utama delegasi Uni Eropa terkait sertifikasi dan perlindungan hutan?\",\"answer\":\"Selisih harga TBS sawit bersertifikat dan tidak bersertifikat dinilai masih kecil (sekitar Rp 40 per kilogram), dan cakupan sertifikasi disebut baru sekitar 20 persen dari total produksi. Selain itu, perambahan hutan lindung untuk membuka perkebunan sawit masih terjadi dan upaya perlindungan keanekaragaman hayati dinilai belum mewadahi hewan besar.\"}]",1783464459,22,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":78,"head_meta":80,"extra_data":82,"updated_unix":28},"palm-plantation-diplomacy","",{"@graph":36,"@context":77},[37,53,68],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,50],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":20},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",{"item":51,"name":13,"@type":43,"position":52},"https://docshare.wps.com/id/document/palm-plantation-diplomacy/45679/",4,{"url":51,"name":13,"@type":54,"author":55,"headline":13,"publisher":57,"fileFormat":60,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":61,"datePublished":62,"encodingFormat":60,"isAccessibleForFree":63,"interactionStatistic":64},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":56},"Person",{"url":41,"name":58,"@type":59},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-20","2026-07-07",true,{"@type":65,"interactionType":66,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":67},"ViewAction",{"@type":69,"mainEntity":70},"FAQPage",[71],{"name":72,"@type":73,"acceptedAnswer":74},"Apa saja catatan utama delegasi Uni Eropa terkait sertifikasi dan perlindungan hutan?","Question",{"text":75,"@type":76},"Selisih harga TBS sawit bersertifikat dan tidak bersertifikat dinilai masih kecil (sekitar Rp 40 per kilogram), dan cakupan sertifikasi disebut baru sekitar 20 persen dari total produksi. Selain itu, perambahan hutan lindung untuk membuka perkebunan sawit masih terjadi dan upaya perlindungan keanekaragaman hayati dinilai belum mewadahi hewan besar.","Answer","https://schema.org",{"og:url":51,"og:type":79,"og:title":13,"og:site_name":58,"og:description":14},"article",{"robots":81,"canonical":51},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":84},[85,90,94,98,102,106,108,112,116,120],{"id":86,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":87,"show_sort_weight":88,"slug":89},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":91,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":92,"show_sort_weight":88,"slug":93},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":95,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":96,"show_sort_weight":88,"slug":97},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":99,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":100,"show_sort_weight":88,"slug":101},51,"Komik","comic",{"id":103,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":104,"show_sort_weight":88,"slug":105},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":88,"slug":107},"research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":110,"show_sort_weight":88,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":114,"show_sort_weight":88,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":118,"show_sort_weight":88,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":122,"show_sort_weight":88,"slug":123},57,"Umum","general"]