[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-181533-113":53,"doc-detail-181533-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":121,"head_meta":123,"extra_data":125,"updated_unix":127},113,"id","notes-of-a-demonstrator-more-than-a-daily-journal-reflections-on-morality-humanism-and-honesty","Buku Catatan Seorang Demonstran - Lebih dari Sekadar Buku Catatan Harian - catatan tentang moralitas, humanisme, kejujuran","","Buku Catatan Seorang Demonstran memandang catatan harian Soe Hok Gie sebagai lebih dari sekadar catatan pribadi mahasiswa. Melalui uraian tentang moralitas dan humanisme, teks menegaskan bahwa nilai moral menjadi jiwa yang menopang seluruh gagasan dan sikap Gie. Pembacaan juga menyoroti keberanian dan keterusterangan moral, termasuk cara Gie menulis secara subjektif saat membahas peristiwa Gerakan 30 September. Buku ini mengajak pembaca memahami makna diri serta kejujuran, cinta, dan keberpihakan pada yang tertindas.",{"@graph":63,"@context":120},[64,81,103],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":35,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/notes-of-a-demonstrator-more-than-a-daily-journal-reflections-on-morality-humanism-and-honesty/181533/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/notes-of-a-demonstrator-more-than-a-daily-journal-reflections-on-morality-humanism-and-honesty/181533.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Aria Callaghan","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/vnd.openxmlformats-officedocument.wordprocessingml.document","2026-10-04","2026-09-02",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":102},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",13,{"@type":104,"mainEntity":105},"FAQPage",[106,112,116],{"name":107,"@type":108,"acceptedAnswer":109},"Mengapa buku ini dianggap lebih dari sekadar catatan harian?","Question",{"text":110,"@type":111},"Karena di dalamnya terkandung moralitas dan humanisme yang menjadi jiwa buku, sekaligus sikap berani dan tegas yang melampaui konteks judulnya sebagai catatan harian biasa.","Answer",{"name":113,"@type":108,"acceptedAnswer":114},"Bagaimana hubungan buku dengan kehidupan mahasiswa?",{"text":115,"@type":111},"Tulisan Gie dinilai relevan untuk mahasiswa yang ingin melawan arus, berfungsi sebagai panduan sekaligus bahan evaluasi, namun bukan hanya untuk kepentingan politik semata.",{"name":117,"@type":108,"acceptedAnswer":118},"Apa yang membuat penulis terkesan dari cara Gie menulis peristiwa Gerakan 30 September?",{"text":119,"@type":111},"Gie menempatkan moral di atas segala hal dan berdiri di sisi yang lemah, membela korban penindasan secara subjektif, bukan berbicara secara objektif.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":122,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":124,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":126,"site_id":56},181533,1788345045,{"code":4,"msg":5,"data":129},{"doc_id":126,"user_id":130,"nickname":89,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":34,"category_name":35,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":102,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":77,"language":137,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":138,"faqs":139,"seo_title":140,"seo_description":61,"update_tm":127,"read_time":141},962084926284,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_29158cc5080c5b710cf443261637dec0","Buku Catatan Seorang Demonstran: Lebih dari Sekadar Buku Catatan Harian\n“Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.”\n–Soe Hok Gie (Catatan Seorang Demonstran)\nKalian tentu tak lagi asing dengan kata-kata romantik di atas yang berasal dari buku berjudul catatan seorang demonstran. Sebagai seorang mahasiswa fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik—yang selalu sensitif terhadap kehidupan sosial dan politik— saya rasa-rasanya kok aneh kalau di rak buku tidak ada  buku catatan seorang demonstran. Secara umum, buku itu agaknya tepat kalau kita anggap sebagai sebuah pengantar kehidupan mahasiswa baru. Tetapi, kalau kita telisik lebih dalam, buku yang cukup tebal itu bakal lebih dari sekadar catatan harian.\nBuku yang berisi catatan harian milik Soe Hok Gie, seorang mahasiswa, sekaligus intelektual yang mati muda itu menurut saya kurang tepat kalau diberi judul catatan seorang demonstran. Mungkin kalau dilihat dalam konteks gerakan mahasiswa, judul catatan seorang demonstran pas-pas saja. Tetapi, bagi saya, buku itu telah melampaui judulnya sendiri, bahkan melampaui esensinya sebagai buku catatan harian.\nSebagai seorang mahasiswa, saya sendiri cukup sepakat kiranya kalau buku ini merupakan buku saku yang wajib dimiliki oleh mahasiswa. Tak pelak, tulisan-tulisan Gie dalam buku itu masih dan akan terus relevan dengan kehidupan mahasiswa yang ingin melawan arus. Sebagai pemandu? Okelah. Sebagai bahan evaluasi? Boleh juga. Menurut saya, buku itu lebih pantas disebut sebagai buku pedoman manusia dalam berperikemanusiaan dan bermoral.\nMoralitas dan Humanisme\nSoe Hok Gie, selain seorang mahasiswa idealis yang tangguh, baik di medan perang tulis-menulis maupun jalanan, Ia adalah seorang yang humanis; pribadi yang menempatkan moral di atas segalanya. Nilai-nilai humanismenya jelas bertumpah ruah di buku catatan harian yang diberi judul catatan harian seorang demonstran itu.\nBagi kita yang hanya ingin mengetahui segi politik dan pergerakan, catatan seorang demonstran menjadi buku yang tepat, karena kental dengan pemikiran-pemikiran politiknya Gie. Namun, ada satu hal yang mendasari itu semua—saya menyebutnya sebagai dasar yang terlupakan dan dilupakan—yakni kuatnya akar nilai moral dan humanisme yang menopang semua sendi-sendi yang menghidupi buku itu.\nKalau tak berlebihan, moralitas dan humanisme saya anggap sebagai jiwa dari buku itu. Moralitas dan humanisme lah yang menghidupi buku itu. Sering kali kita mengira buku itu hanya sekadar buku saku bagi siapa pun yang penasaran dengan pemikiran politik Gie, apalagi yang hanya membaca sampul akan mengira kalau buku itu sekadar buku panduan praktis cara berdemonstrasi.\nKeberadaan moralitas dan humanisme sebagai jiwa yang menghidupi buku catatan seorang demonstran itu tidak bisa disangkal. Dan mungkin saja disadari oleh kita yang benar-benar mampu mendalami apa yang ingin ditumpahkan Gie melalui catatan hariannya; kegelisahan, keresahan terhadap segala yang degil, munafik, non humanis, dan tak bermoral.\nBuku yang Menyingkap Tabir Gelap\nBagi saya sendiri, buku ini memiliki semacam sayap yang mengepak kabut hitam yang menjadi tabir gelap. Yang membuat buku ini tetap hidup sampai sekarang adalah jiwanya; di dalam jiwa itu tersimpan semangat murni dari sosok Gie yang berani, jujur, dan tegas terhadap segala yang menurutnya tidak benar.\nSalah satu tulisan yang membuat saya kagum adalah ketika Gie menulis tentang peristiwa Gerakan 30 September secara subjektif; menempatkan moral di atas segalanya, dengan berani berdiri di sisi yang lemah dan tak berdaya—korban-korban penumpasan yang dituduh sebagai partisipan PKI. Dalam tulisan itu Gie tidak berbicara secara objektif, melainkan dengan tegas membela mereka yang ditindas secara sewenang-wenang oleh mereka yang berkuasa.\nKeberanian dan keterusterangan moralnya yang menakjubkan membuat saya semakin yakin bahwa buku itu bukanlah sekadar","cbCair7JlKraXhj1","https://ap.wps.com/l/cbCair7JlKraXhj1","docx",17138,"Indonesian","# Moralitas dan Humanisme\n## Makna politik dan akar moral\n# Buku yang Menyingkap Tabir Gelap\n## Keberanian dan keterusterangan moral\n# Manifestasi Kejujuran, Cinta, dan Makna\n## Pembacaan untuk siapa saja","[{\"question\":\"Mengapa buku ini dianggap lebih dari sekadar catatan harian?\",\"answer\":\"Karena di dalamnya terkandung moralitas dan humanisme yang menjadi jiwa buku, sekaligus sikap berani dan tegas yang melampaui konteks judulnya sebagai catatan harian biasa.\"},{\"question\":\"Bagaimana hubungan buku dengan kehidupan mahasiswa?\",\"answer\":\"Tulisan Gie dinilai relevan untuk mahasiswa yang ingin melawan arus, berfungsi sebagai panduan sekaligus bahan evaluasi, namun bukan hanya untuk kepentingan politik semata.\"},{\"question\":\"Apa yang membuat penulis terkesan dari cara Gie menulis peristiwa Gerakan 30 September?\",\"answer\":\"Gie menempatkan moral di atas segala hal dan berdiri di sisi yang lemah, membela korban penindasan secara subjektif, bukan berbicara secara objektif.\"}]","Buku Catatan Seorang Demonstran - Lebih dari Sekadar Buku Catatan Harian - catatan tentang moralitas, humanisme, kejujuran | DOCX",5]