[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-124539-id":3,"doc-seo-124539-113":32,"detail-sidebar-cat-0-id-113":96},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":28,"seo_description":29,"update_tm":30,"read_time":31},124539,1099523882367,"Hazel","https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_9964176cb1d06d4a9deccf72a44ae3dc",48,"Cerita & Novel","Lintang Kemukus Dinihari - Buku Kedua dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk - Kisah pagi Dukuh Paruk","\u003Cp>Lintang Kemukus Dinihari mengisahkan suasana pagi di Dukuh Paruk yang hidup oleh detail alam: embun, lebah, burung, dan ternak yang mulai gelisah. Di balik ketenangan itu, perhatian tertuju pada nenek Rasus yang linglung serta kehadiran Srintil, ronggeng yang masih berada dalam ruang transisi dari mimpi ke kesadaran. Narasi menegaskan keterkaitan watak tokoh dengan ritme kehidupan desa, membangun suasana intim, puitis, dan penuh tanda tentang perubahan yang akan datang.\u003C/p>","\u003Cp>LINTANGKEMUKUSDINIHARI file:///D:/ATH%20-%20Lintang%20Kemukus%20Dinihari.htm &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>LINTANG KEMUKUS DINIHARI &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Oleh &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahamad Tohari &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>(Buku Kedua dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk) &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>1 of 84 2/19/2008 10:21 AM &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>LINTANGKEMUKUSDINIHARI file:///D:/ATH%20-%20Lintang%20Kemukus%20Dinihari.htm &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>KEMARAU di kawasan Banyumas, Jawa Tengah, pada masa kini mungkin tidak lagi sedahsyat akibatnya dibanding masa lalu, &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>ketika hutan-hutan jati di daerah Jatilawang mengering, tanah pecah-pecah, penduduk merana kelaparan. Dulu, seperti &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>ditunjukkan Ahmad Tohari (57), penulis yang pernah menghasilkan novel Ronggeng Dukuh Paruk, hutan menyala menjadi &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>korban kebakaran akibat pertikaian politik yang menyusup sampai ke desa-desa pada masa sebelum 1965. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari dilahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>hanya sampai SMAN II Purwokerto. Namun demikian beberapa fakultas seperti ekonomi, sospol, dan kedokteran pernah &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>dijelajahinya. Semuanya tak ada yang ditekuninya. Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (dua yang lainnya Lintang Kemukus Dinihari dan Jentera Bianglala), ia telah &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>mengangkat kehidupan berikut cara pandang orang-orang dari lingkungan dekatnya ke pelataran sastra Indonesia. Sesuai &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>tahun-tahun penerbitannya, karya Ahmad Tohari adalah Kubah (novel, 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982) Lintang &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Kemukus Dinihari (novel, 1984), Jentera Bianglala (novel, 1985), Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1989), Senyum Karyamin &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>(kumpulan cerpen, 1990), Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1993), Bekisar Merah (novel, 1993), Mas Mantri Gugat &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>(kumpulan kolom, 1994). &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggrisnya sedangdisiapkan penerbitannya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Dikumpulkan dari berbagai sumber, &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Untuk warga [http://groups.yahoo.com/group/id-ebook](http://groups.yahoo.com/group/id-ebook) &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>2 of 84 2/19/2008 10:21 AM &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>LINTANGKEMUKUSDINIHARI file:///D:/ATH%20-%20Lintang%20Kemukus%20Dinihari.htm &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Bagian Pertama &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Dukuh Paruk masih diam meskipun beberapa jens satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Kokok ayam jantan terdengar satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecet-cecet dari tempat persembunyiannya. Dia siap melesat bilaterlihat serangga pertama melintas dalam sudut pandangnya. Dari sarangnya di pohon aren keluar seekorbajing karena tercium bau lawan jenisnya. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan. Tetes-tetes &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>embun jatuh menimbulkan suara serempak. Seekor codot melintas di atas pohon pisang. Tepat di atas &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>daun yang masih kuncup, binatang mengirap itu mendadak menghentikan kecepatannya. Tubuh yang &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>ringan jatuh begitu saja ke dalam lubang kuncup daun pisang itu. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Jangkrik, gangsir, dan walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>sehingga terjadi suara yang khas. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ada sebatang pohon jambu air di salah satu sudut Dukuh Paruk. Dalam kerimbunan daun-daunnya sedangdipagelarkan harmoni alam; beratus-ratus lebah madu dengan ketekunan yang menakjubkan sedang &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>menghimpun serbuk sari. Sayap-sayapnya mendengungkan aneka nada halus dan datar, mengisi &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>kelengangan pagi yang masih temaram. Tanah di bawah pohon jambu itu memutih oleh hamparan beribu-ribu tangkai sari. Bau wangi tanah, suara lembut sayap-sayap lebah madu dan pendar embun yang mulai menangkap cahaya dari timur. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun bambu menerima kehangatan pertama pagi hari. Pancaran cahaya &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>matahari adalah tenaga yang setiap kali membangunkan Dukuh Paruk dengan menyingkap kabut yang &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>menyelimutinya. Dua puluh tiga \u003C/p>","cbCaiu03mmanNU1r","https://ap.wps.com/l/cbCaiu03mmanNU1r","pdf",206708,7,1,84,"Indonesian","id",113,"# Bagian Pertama\n## Suasana pagi dan kehidupan Dukuh Paruk\n## Nenek Rasus yang linglung dan perubahan di rumahnya\n## Srintil beralih dari mimpi ke kesadaran","[{\"question\":\"Apa yang terjadi di Dukuh Paruk pada awal cerita?\",\"answer\":\"Pagi perlahan membangunkan Dukuh Paruk melalui rangkaian tanda alam seperti bunyi ayam, kicau burung, embun, dan aktivitas lebah.\"},{\"question\":\"Siapa nenek Rasus dalam cerita ini?\",\"answer\":\"Nenek Rasus tinggal sendirian, namun tampak linglung; ia bahkan menyimpan uang logam di bawah bantalnya tanpa tahu asalnya.\"},{\"question\":\"Bagaimana kondisi Srintil ketika cerita dimulai?\",\"answer\":\"Srintil masih menyambung mimpi setelah malam yang paling berkesan, lalu berangsur beralih ke kesadaran saat sinar pagi menembus dinding bambu.\"}]","[Gratis][PDF]Lintang Kemukus Dinihari - Ahamad Tohari   | PDF","Lintang Kemukus Dinihari mengisahkan suasana pagi di Dukuh Paruk yang hidup oleh detail alam: embun, lebah, burung, dan ternak yang mulai gelisah. Di balik ketenangan itu, perhatian tertuju pada nenek Rasus yang linglung serta kehadiran Srintil, ronggeng yang masih berada dalam ruang transisi dari mimpi ke kesadaran. Narasi menegaskan keterkaitan watak tokoh dengan ritme kehidupan desa, membangun suasana intim, puitis, dan penuh tanda tentang perubahan yang akan datang.",1785839110,129,{"code":4,"msg":33,"data":34},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":35,"title":36,"keywords":37,"description":29,"schema_data":38,"social_meta":91,"head_meta":93,"extra_data":95,"updated_unix":30},"lintang-kemukus-dinihari-second-book-of-the-ronggeng-dukuh-paruk-trilogy-morning-in-dukuh-paruk","[Gratis][PDF]Lintang Kemukus Dinihari - Ahamad Tohari  ","",{"@graph":39,"@context":90},[40,58,73],{"@type":41,"itemListElement":42},"BreadcrumbList",[43,47,51,54],{"item":44,"name":45,"@type":46,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":48,"name":49,"@type":46,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":52,"name":12,"@type":46,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/cerita-novel/",3,{"item":55,"name":56,"@type":46,"position":57},"https://docshare.wps.com/id/document/lintang-kemukus-dinihari-second-book-of-the-ronggeng-dukuh-paruk-trilogy-morning-in-dukuh-paruk/124539/","[Gratis][PDF]Lintang Kemukus Dinihari - Ahamad Tohari",4,{"url":55,"name":36,"@type":59,"author":60,"headline":36,"publisher":62,"fileFormat":65,"inLanguage":24,"description":29,"dateModified":66,"datePublished":67,"encodingFormat":65,"isAccessibleForFree":68,"interactionStatistic":69},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":61},"Person",{"url":44,"name":63,"@type":64},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-08-17","2026-08-04",true,{"@type":70,"interactionType":71,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":72},"ViewAction",{"@type":74,"mainEntity":75},"FAQPage",[76,82,86],{"name":77,"@type":78,"acceptedAnswer":79},"Apa yang terjadi di Dukuh Paruk pada awal cerita?","Question",{"text":80,"@type":81},"Pagi perlahan membangunkan Dukuh Paruk melalui rangkaian tanda alam seperti bunyi ayam, kicau burung, embun, dan aktivitas lebah.","Answer",{"name":83,"@type":78,"acceptedAnswer":84},"Siapa nenek Rasus dalam cerita ini?",{"text":85,"@type":81},"Nenek Rasus tinggal sendirian, namun tampak linglung; ia bahkan menyimpan uang logam di bawah bantalnya tanpa tahu asalnya.",{"name":87,"@type":78,"acceptedAnswer":88},"Bagaimana kondisi Srintil ketika cerita dimulai?",{"text":89,"@type":81},"Srintil masih menyambung mimpi setelah malam yang paling berkesan, lalu berangsur beralih ke kesadaran saat sinar pagi menembus dinding bambu.","https://schema.org",{"og:url":55,"og:type":92,"og:title":36,"og:site_name":63,"og:description":29},"article",{"robots":94,"canonical":55},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":97},[98,103,105,109,113,117,121,125,129,133,137],{"id":99,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":100,"show_sort_weight":101,"slug":102},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":12,"show_sort_weight":101,"slug":104},"story-novel",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":107,"show_sort_weight":101,"slug":108},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":110,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":111,"show_sort_weight":101,"slug":112},51,"Komik","comic",{"id":114,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":115,"show_sort_weight":101,"slug":116},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":119,"show_sort_weight":101,"slug":120},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":123,"show_sort_weight":101,"slug":124},49,"Sastra","literature",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":127,"show_sort_weight":101,"slug":128},52,"Teknologi","technology",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":131,"show_sort_weight":101,"slug":132},50,"Ujian","exam",{"id":134,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":135,"show_sort_weight":101,"slug":136},57,"Umum","general",{"id":138,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":139,"show_sort_weight":4,"slug":140},181,"Formulir","formulir"]