[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-124536-id":3,"doc-seo-124536-113":32,"detail-sidebar-cat-0-id-113":95},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":28,"seo_description":29,"update_tm":30,"read_time":31},124536,1099523882182,"Eliana","https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_6f874abed73319feea01a86fa6f0fab8",48,"Cerita & Novel","Jantera Bianglala - Ahmad Tohari - Buku Ketiga Terakhir Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk","\u003Cp>Jantera Bianglala mengisahkan kehidupan Dukuh Paruk yang porak-poranda akibat kebakaran dan gejolak politik sekitar 1965. Setelah sebagian besar rumah dan harta musnah, warga menghadapi kelaparan, kematian, dan keterasingan karena bantuan dari luar tidak kunjung datang. Cerita menelusuri kegigihan desa bertahan melalui cara sederhana—makanan seadanya, upaya membangun kembali gubuk, serta doa dan pasrah—sekaligus menghadirkan duka mendalam atas hilangnya Srintil. Narasi juga menyingkap bagaimana ingatan sejarah membentuk ketakutan, kebisuan, dan kebangkitan ritme hidup desa.\u003C/p>","\u003Cp>JANTERA BIANGLALA &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Oleh &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>(Buku Ketiga –Terakhir-Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk) &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>1 of 93 2/19/2008 10:23 AM &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>BagianPertama file:///D:/ATH%20-%20Jantera%20Bianglala.htm &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>KEMARAU di kawasan Banyumas, Jawa Tengah, pada masa kini mungkin tidak lagi sedahsyat akibatnya dibanding masa lalu, &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>ketika hutan-hutan jati di daerah Jatilawang mengering, tanah pecah-pecah, penduduk merana kelaparan. Dulu, seperti &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>ditunjukkan Ahmad Tohari (57), penulis yang pernah menghasilkan novel Ronggeng Dukuh Paruk, hutan menyala menjadi &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>korban kebakaran akibat pertikaian politik yang menyusup sampai ke desa-desa pada masa sebelum 1965. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ahmad Tohari dilahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas tanggal 13 Juni 1948. Pendidikan formalnya &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>hanya sampai SMAN II Purwokerto. Namun demikian beberapa fakultas seperti ekonomi, sospol, dan kedokteran pernah &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>dijelajahinya. Semuanya tak ada yang ditekuninya. Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>kedesaannya yang mewarnai seluruh karya sastranya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (dua yang lainnya Lintang Kemukus Dinihari dan Jentera Bianglala), ia telah &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>mengangkat kehidupan berikut cara pandang orang-orang dari lingkungan dekatnya ke pelataran sastra Indonesia. Sesuai &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>tahun-tahun penerbitannya, karya Ahmad Tohari adalah Kubah (novel, 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982) Lintang &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Kemukus Dinihari (novel, 1984), Jentera Bianglala (novel, 1985), Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1989), Senyum Karyamin &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>(kumpulan cerpen, 1990), Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1993), Bekisar Merah (novel, 1993), Mas Mantri Gugat &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>(kumpulan kolom, 1994). &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggrisnya sedangdisiapkan penerbitannya. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Dikumpulkan dari berbagai sumber, &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Untuk warga [http://groups.yahoo.com/group/id-ebook](http://groups.yahoo.com/group/id-ebook) &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>2 of 93 2/19/2008 10:23 AM &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>BagianPertama file:///D:/ATH%20-%20Jantera%20Bianglala.htm &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Bagian Pertama &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Ketika Dukuh Paruk menjadi karang abang lemah ireng pada awal tahun 1966 hampir semua dari kedua puluh tiga rumah di sana menjadi abu. Waktu itu banyak orang mengira kiamat bagi pedukuhan kecil itu telah tiba. Siapa yang masih ingin bertahan hidup harus meninggalkan Dukuh Paruk. Karena hampir segalaharta-benda, padi, dan gaplek musnah terbakar, bahkan juga kambing dan ayam. Lalu siapa yang tetap &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>tinggal di atas tumpukan abu dan arang itu boleh memilih cara kematian masing-masing; melalui &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>busung-lapar atau melalui keracunan ubi gadung atau singkong beracun. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Tetapi Dukuh Paruk sampai kapan pun tetap Dukuh Paruk. Dia sudah cukup pengalaman dengan kagetiran kehidupan, dengan kondisi-kondisi hidup yang paling bersahaja. Dan dia tidak mengeluh. Dukuh Paruk &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>hidup dalam kesadarannya sendiri yang amat mengagumkan. Dia sudah diuji dengan sekian kali mala &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>petaka tempe bongkrek, dengan kemiskinan langgeng dan dengan kebodohan sepanjang masa. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Memang. Mala petaka kobaran api yang hampir memusnahkan Dukuh Paruk secara keseluruhan dalamgeger politik 1965 itu adalah pengalaman yang paling dahsyat tergores dalam lintasan hidup Dukuh Paruk. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Hari-hari pertama sesudah kebakaran besar itu adalah hari-hari kebisuan. Setiap keluarga berkumpul, jongkok di bekas rumah masing-masing hampir tanpa suara kecuali desah panjang dan kadang tangis kaumperempuan. Mereka tanpa makanan dan tempat tinggal. Malam hari mereka membuat sudhung, semacamsarang berangka batang singkong yang ditutupi dengan rumput dan kelaras pisang. Dan kematian akibat &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>lapar segera akan menjadi kenyataan karena tak seorang pun manusia luar Dukuh Paruk merasa perlu &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>memberi bantuan kepada puak yang sedang diamuk mala petaka hebat itu. Hanya karena Dukuh Paruk &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>masih menyimpan singkong yang tumbuh di sekitarnya maka orang-orang di sana berhasil menyambung &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>hidup. &nbsp;\u003C/p>\u003Cp>Kemudian Dukuh Paruk memperoleh napas pertama ketika ternyata Sakarya, kamitua pedukuhan\u003C/p>","cbCaia4BU1tPimsw","https://ap.wps.com/l/cbCaia4BU1tPimsw","pdf",223652,5,1,93,"Indonesian","id",113,"# Bagian Pertama\n## Kebakaran dan kebisuan pascakejadian politik\n## Bertahan hidup: makanan, cara sederhana, dan kelaparan\n## Tahanan sakarya dan hilangnya Srintil\n## Pasrah, kebingungan menghadapi sejarah, dan pembangunan gubuk baru\n## Denyut kehidupan: suara, alam, dan tanda-tanda kebangkitan","[{\"question\":\"Apa yang terjadi pada Dukuh Paruk pada awal 1966?\",\"answer\":\"Hampir semua rumah di Dukuh Paruk menjadi abu akibat kebakaran besar. Banyak harta benda, termasuk padi dan gaplek, musnah sehingga warga menghadapi ancaman kelaparan dan kematian.\"},{\"question\":\"Bagaimana warga Dukuh Paruk bertahan setelah kebakaran besar?\",\"answer\":\"Warga bergantung pada singkong yang masih ada di sekitar desa. Mereka membuat sudhung sebagai tempat penyimpanan/olahan makanan, lalu membangun gubuk-gubuk baru secara gotong royong agar terlindung dari hujan dan panas.\"},{\"question\":\"Mengapa Srintil belum kembali menjadi sumber penantian paling besar warga?\",\"answer\":\"Ketiadaan Srintil terkait dengan kebisuan dan kegagapan Dukuh Paruk dalam membaca “pesan sejarah”. Hilangnya Srintil membuat warga terperangkap dalam teka-teki tentang keberadaan dan keadaan dirinya, sehingga semua hanya mampu menunggu tanpa berani mengucapkan.\"}]","[Gratis]Jantera Bianglala - Ahmad Tohari - PDF | PDF","Jantera Bianglala mengisahkan kehidupan Dukuh Paruk yang porak-poranda akibat kebakaran dan gejolak politik sekitar 1965. Setelah sebagian besar rumah dan harta musnah, warga menghadapi kelaparan, kematian, dan keterasingan karena bantuan dari luar tidak kunjung datang. Cerita menelusuri kegigihan desa bertahan melalui cara sederhana—makanan seadanya, upaya membangun kembali gubuk, serta doa dan pasrah—sekaligus menghadirkan duka mendalam atas hilangnya Srintil. Narasi juga menyingkap bagaimana ingatan sejarah membentuk ketakutan, kebisuan, dan kebangkitan ritme hidup desa.",1785838969,143,{"code":4,"msg":33,"data":34},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":35,"title":36,"keywords":37,"description":29,"schema_data":38,"social_meta":90,"head_meta":92,"extra_data":94,"updated_unix":30},"jantera-bianglala-ahmad-tohari-book-three-final-installment-of-the-ronggeng-dukuh-paruk-trilogy","[Gratis]Jantera Bianglala - Ahmad Tohari - PDF","",{"@graph":39,"@context":89},[40,57,72],{"@type":41,"itemListElement":42},"BreadcrumbList",[43,47,51,54],{"item":44,"name":45,"@type":46,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":48,"name":49,"@type":46,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":52,"name":12,"@type":46,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/cerita-novel/",3,{"item":55,"name":36,"@type":46,"position":56},"https://docshare.wps.com/id/document/jantera-bianglala-ahmad-tohari-book-three-final-installment-of-the-ronggeng-dukuh-paruk-trilogy/124536/",4,{"url":55,"name":36,"@type":58,"author":59,"headline":36,"publisher":61,"fileFormat":64,"inLanguage":24,"description":29,"dateModified":65,"datePublished":66,"encodingFormat":64,"isAccessibleForFree":67,"interactionStatistic":68},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":60},"Person",{"url":44,"name":62,"@type":63},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-08-16","2026-08-04",true,{"@type":69,"interactionType":70,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":71},"ViewAction",{"@type":73,"mainEntity":74},"FAQPage",[75,81,85],{"name":76,"@type":77,"acceptedAnswer":78},"Apa yang terjadi pada Dukuh Paruk pada awal 1966?","Question",{"text":79,"@type":80},"Hampir semua rumah di Dukuh Paruk menjadi abu akibat kebakaran besar. Banyak harta benda, termasuk padi dan gaplek, musnah sehingga warga menghadapi ancaman kelaparan dan kematian.","Answer",{"name":82,"@type":77,"acceptedAnswer":83},"Bagaimana warga Dukuh Paruk bertahan setelah kebakaran besar?",{"text":84,"@type":80},"Warga bergantung pada singkong yang masih ada di sekitar desa. Mereka membuat sudhung sebagai tempat penyimpanan/olahan makanan, lalu membangun gubuk-gubuk baru secara gotong royong agar terlindung dari hujan dan panas.",{"name":86,"@type":77,"acceptedAnswer":87},"Mengapa Srintil belum kembali menjadi sumber penantian paling besar warga?",{"text":88,"@type":80},"Ketiadaan Srintil terkait dengan kebisuan dan kegagapan Dukuh Paruk dalam membaca “pesan sejarah”. Hilangnya Srintil membuat warga terperangkap dalam teka-teki tentang keberadaan dan keadaan dirinya, sehingga semua hanya mampu menunggu tanpa berani mengucapkan.","https://schema.org",{"og:url":55,"og:type":91,"og:title":36,"og:site_name":62,"og:description":29},"article",{"robots":93,"canonical":55},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":96},[97,102,104,108,112,116,120,124,128,132,136],{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":99,"show_sort_weight":100,"slug":101},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":12,"show_sort_weight":100,"slug":103},"story-novel",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":106,"show_sort_weight":100,"slug":107},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":110,"show_sort_weight":100,"slug":111},51,"Komik","comic",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":114,"show_sort_weight":100,"slug":115},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":118,"show_sort_weight":100,"slug":119},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":122,"show_sort_weight":100,"slug":123},49,"Sastra","literature",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":126,"show_sort_weight":100,"slug":127},52,"Teknologi","technology",{"id":129,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":130,"show_sort_weight":100,"slug":131},50,"Ujian","exam",{"id":133,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":134,"show_sort_weight":100,"slug":135},57,"Umum","general",{"id":137,"doc_module":4,"doc_module_name":49,"category_name":138,"show_sort_weight":4,"slug":139},181,"Formulir","formulir"]