[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-137101-113":53,"doc-detail-137101-id":127},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":120,"head_meta":122,"extra_data":124,"updated_unix":126},113,"id","introduction-stigma-and-labeling-issues-in-gacha-game-fandom","Pendahuluan - Permasalahan Stigma dan Labeling dalam Fandom Gacha Game","","Fokus pembahasan membahas bagaimana anggota fandom gacha game mengekspresikan diri melalui perilaku penggemar yang dianggap wajar dalam komunitas, namun sering dipersepsikan menyimpang oleh masyarakat umum. Uraian menyoroti peran toxic masculinity yang memicu hinaan seperti “bencong”, serta stigma terhadap ekspresi romantik pada karakter melalui istilah waifu/husbando. Kerangka labeling menurut Edwin M. Lammert digunakan untuk menjelaskan munculnya label “cringe”. Di sisi lain, komunitas juga memandang ekspresi tersebut sebagai sumber kebanggaan dan peluang meningkatkan rasa percaya diri.",{"@graph":63,"@context":119},[64,81,102],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":31,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/introduction-stigma-and-labeling-issues-in-gacha-game-fandom/137101/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/introduction-stigma-and-labeling-issues-in-gacha-game-fandom/137101.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Seraphina","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-20","2026-08-22",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":74},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",{"@type":103,"mainEntity":104},"FAQPage",[105,111,115],{"name":106,"@type":107,"acceptedAnswer":108},"Mengapa ekspresi penggemar gacha game sering dianggap menyimpang oleh orang awam?","Question",{"text":109,"@type":110},"Dalam komunitas fandom perilaku ekspresi dianggap wajar, tetapi bagi orang awam kerap dipandang tidak sesuai norma. Stigma membuat penggemar enggan mengekspresikan diri di publik.","Answer",{"name":112,"@type":107,"acceptedAnswer":113},"Apa hubungan toxic masculinity dengan hinaan yang dialami penggemar?",{"text":114,"@type":110},"Toxic masculinity memicu hinaan seperti “bencong” terutama ketika penggemar laki-laki melakukan crossdress karakter perempuan.",{"name":116,"@type":107,"acceptedAnswer":117},"Bagaimana teori labeling menjelaskan munculnya label “cringe”?",{"text":118,"@type":110},"Labeling dipahami sebagai reaksi masyarakat terhadap perilaku yang dianggap menyimpang. Perilaku tersebut belum tentu melanggar norma, tetapi justru diberi label “cringe” karena dinilai memalukan.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":121,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":123,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":125,"site_id":56},137101,1787399959,{"code":4,"msg":5,"data":128},{"doc_id":125,"user_id":129,"nickname":89,"user_avatar":130,"doc_module":4,"category_id":30,"category_name":31,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":131,"file_id":132,"file_url":133,"file_type":134,"file_size":135,"view_count":74,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":136,"language":137,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":138,"faqs":139,"seo_title":140,"seo_description":61,"update_tm":126,"read_time":141},962075114101,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/e000253a75eb197efd?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1780044092746381165","1. PENDAHULUAN  \n1.1 Latar Belakang Masalah  \nSeseorang yang berada di dalam fandom gacha game melaku kan beberapa tingkahlaku yang dilaku kan para penggemar untuk mengekspresikan diri untuk mengungkapkan rasasuka atau du kungan terhadap game yang dimainkan sebagai kebut uhan tersier. Meskipun hal ini dianggap wajar dan ditoleransi apabila dilaku kan di dalam komunitas, bagi orang awam tidak jarang dianggap menyimpang. Adanya toxic masculinity menyebabkan hinaan seperti“bencong” seringkali dialami ketika seorang penggemar laki-laki melaku kan crossdress karakter perempuan ( Noor & Damaiyanti, 2024) .  \nHinaan “halu” atau “aneh” ketika seorang penggemar menunju kan rasa suka pada karakter dengan menyebut karakter sebagai waifu atau husbando. Dikutip dari wawancara yang dilaku kan oleh Wicaksono (2023), “...Tapi emang kalau untuk beberapa orang tu h masihmelihat aneh gitu sih kayak ngeliat aku kayak terlalu nge-hype-in sama karakter game gitu gitu. Terus mereka kayak bingung gitu loh ko kamu bisa suka gitu...”(p. 124) . Adapun juga dikutip dari wawancara yang dilaku kan oleh Hermawan dan Marciu (2024),“...It seems a bit annoying, it’s a bit cringe, if it 's too much, if it’s normal, it’s normal.”(p. 110) .  \nStigma yang b uruk seringkali membuat para penggemar enggan untuk mengekspresikan diri di publik karena merasa dirinya memalu kan. ( D. Hermawan & Marciu, 2024) Perkataan dan hinaan yang muncul menjadi sebuah label yang dituju kan kepadaorang-orang yang berani mengekspresikan diri. Berdasarkan teori penjul u kan oleh Edwin M. Lammert, labeling merupakan reaksi masyarakat yang dianggap menyimpang. Perilaku tersebut bukan tindakan yang melanggar norma namun menyebabkan masyarakat menjul uki perilaku tersebut dengan suatu label. ( Noor & Damaiyanti, 2024) Salah satu label yang sering digunakanadalah “cringe”, yang berarti tindakan yang dianggap memalukan bagi masyarakat meskipun belum tentu melanggar aturan ( Brody, 2022) .  \nDi saat yang bersamaan, para penggemar di dalam komunitas fandom gacha game merasa bangga akan tindakan yang dilaku kan bila dilaku kan di dalam lingkup komunitas.(Wicaksono, 2023) Keironisan yang terjadi memiliki potensial untu k membuat suatu karya intellectual property karakter yang mampu mengaburkan perbedaan suatu hal yang dianggap cringe dengan yang tidak, sekaligus dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan rasapercaya diri komunitas dalam mengekspresikan diri dan memberi kesempatan pada masyarakat  \n1  \nUniversitas Kristen Petra  \numum untuk lebih memahami budaya fandom tersebut. Hal ini dilaku kan dengan cara memahami apa yang membuat perilaku tersebut menjadi memalukan dan dibesar-besarkansehingga menjadi suatu hal yang menarik dan relatable. Salah satu contohnya adalah karya dari Nick Vyssotsky yang berjud ul “Display of Commodity Accessories (Zack’s Room)”. Pada karyatersebut terdapat instalasi berupa kamar dari seseorang yang dianggap cringe di internet, seperti kamar yang berantakan, kotor, sampah dimana-mana, serta ponsel pintar yang memutar video yang berisikan cuplikan video dan lagu secara cepat dan berulang. Akan tetapi pengunjung dapat memasuki dan merasakan secara langsung instalasi tersebut sehinggamemunculkan rasa pemahaman yang melahirkan kenikmatan ironis. (Sloan, 2022)  \nContoh kenikmatan ironis lainnya terjadi di Gansu Museum, Cina dengan intellectual property (IP) Anthropomorphism berhasil menarik perhatian masyarakat dan internet denganidentitas “ugly cute”. Salah satu IP yang paling dikenal adalah Horse Stepping on a Swallow, yaitu sebuah boneka karakter yang dibuat berdasarkan patung di dalam museum. Pengunjung dapat merasa relate melalui IP yang dijual. Penjualan merchandise meningkat terutama produk boneka dan perabotan rumah tangga. (Yang, 2024) Intellectual property (IP) merupakan kekayaan yang lahir dari kemampuan intelektual manusia dalam bentuk teknologi, ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Produk intellectual property ini dilindungi Undang-Undang dalam bentuk Ha","cbCaif8bQtKcYPoq","https://ap.wps.com/l/cbCaif8bQtKcYPoq","pdf",256996,8,"Indonesian","# Pendahuluan\n## Latar Belakang Masalah\n## Fandom Gacha Game dan Ekspresi Penggemar\n## Stigma, Hinaan, dan Labeling “Cringe”\n## Kenikmatan Ironis dan Peran IP\n## Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual\n## Art Convention dan Komunitas","[{\"question\":\"Mengapa ekspresi penggemar gacha game sering dianggap menyimpang oleh orang awam?\",\"answer\":\"Dalam komunitas fandom perilaku ekspresi dianggap wajar, tetapi bagi orang awam kerap dipandang tidak sesuai norma. Stigma membuat penggemar enggan mengekspresikan diri di publik.\"},{\"question\":\"Apa hubungan toxic masculinity dengan hinaan yang dialami penggemar?\",\"answer\":\"Toxic masculinity memicu hinaan seperti “bencong” terutama ketika penggemar laki-laki melakukan crossdress karakter perempuan.\"},{\"question\":\"Bagaimana teori labeling menjelaskan munculnya label “cringe”?\",\"answer\":\"Labeling dipahami sebagai reaksi masyarakat terhadap perilaku yang dianggap menyimpang. Perilaku tersebut belum tentu melanggar norma, tetapi justru diberi label “cringe” karena dinilai memalukan.\"}]","Pendahuluan - Permasalahan Stigma dan Labeling dalam Fandom Gacha Game | PDF",12]