[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-40691-id":3,"doc-seo-40691-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":91},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},40691,1099514067438,"River Wang","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/100002539ee87300030?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1780474512215547542",49,"Sastra","Peran Intelektual - Edward W Said","Dokumen ini membahas gagasan “peran intelektual” melalui serangkaian kuliah Reith tahun 1993 oleh Edward W. Said, dengan pengantar dari Franz Magnis-Suseno serta penerjemahan oleh Rin Hindriyati P. dan P. Hasudungan Sirait. Uraian awal menyoroti fungsi intelektual dalam masyarakat, perbedaan perhatian media terhadap pemikir di konteks Jerman dibanding Indonesia, serta bagaimana situasi politik—termasuk mekanisme peran oposisi dan relevansi opini publik—mempengaruhi ruang bagi pendapat kaum intelektual.","PERAN INTELEKTUAL Kuliah-kuliah Reith Tahun 1993  \nEDWARD W. SAID  \n!tl!ltlll'\"l/U,  \nKuliah-buliah Reith Tahun 1993  \nPengantar:  \nFranz Magnis-Suseno  \nPenerjemah:  \nRin Hindryati P.  \ndan P. Hasudungan Sirait  \nYayasan Pustaka Obor Indonesia  \nJakarta, 2014  \nPerpuscaka Nasional: Katalog dalamTerbitan (KDT)  \nSaid, Edward W  \nPeran lntelektuaL· Kuliah-kuliah Reith Tahun 1993/Edward W Said; penganrar Franz Magnis-Suseno; penerjemah, Rin Hindriyati P. dan P. Hasudungan Sirait-Ed 1.-Jakarta Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014  \nIx+ 112 him. : 21 cm  \nJudulAsli: Repmentationsofthelnte!kctual  \nISBN 978-979-461-866-0  \n1. Kebebasan Incelektual I. Judul  \nII. Rin Hindryati P. III. Sirait, P. Hasudungan  \n324.44  \nJudulAsli:  \nRepresentation ofthe lntel· lhe I993Reith Lectures, Vintage, London  \nCopyright ©Edward W. Said, 1978, 1995  \nAll rights reserved  \nHak terjemahan Indonesia  \npada Yayasan Pustaka Obor Indonesia Hak cipta dilindungiolehUndang-Undang  \nAll rights reserved  \nDiterbitkan pertama kali oleh Yayasan PustakaObor Indonesia Anggota IKAPI OKI Jakarta  \nCetakan pertama: April 1998  \nCetakan kedua: Januari 2014  \nYOI: 759.31.29.2013  \nDesain sampul: Rahmatika  \nAlamat Penerbit:  \nJI. Plaju No . 10, Jakarta 10230 Telepon (021} 31926978 & 3920114  \nFax: (021) 31924488  \n[e-mail: yayasan](e-mail: yayasan_obor@cbn.net.id)[_](e-mail: yayasan_obor@cbn.net.id)[obor@cbn.net.id](e-mail: yayasan_obor@cbn.net.id)[ ](e-mail: yayasan_obor@cbn.net.id)[ww](ww.obor.or.id)[.obor.or.id](ww.obor.or.id)  \nUntuk Ben Sonnenberg  \nDAFTARISI  \nPengantar,  \nFranz Magnis-Suseno Vlll Pengantar Penerjemah  \nRin Hindryati P. dan P. Hasudungan Sirait xvii  \nPendahuluan Ii  \nBabI Peran lntelektual 1  \nBabII Mengesampingkan Bangsa danTraclisi 20  \nBab III lntelektual di Pengasingan: Kaum Ekspatriat dan Kaum Marjinal 39  \nBabIV Kaum Profesional dan Kaum Arnatir 55  \nBabV Mengatakan Kebenaran kepada Kekuasaan 72  \nBabVI Dewa-dewa yang Selalu Gagal 89  \nlndeks 107  \nTentang Penulis 111  \nPENGANTAR  \nFranz Magnis-Suseno  \na itu, seorang intelektual? Dan apa fungsinya dalam  \nmasyarakat? Meskipun dua pertanyaan ini tidak mudah  \njawab, akan tetapi tidak dapat disangkal bahwa dalammasyarakat Indonesia mereka yang dianggap termasuk intelektual itu mempunyai kedudukan istimewa. Bandingkan saja koranJerman atau, kalau mau, 7he Herald Tribune, dengan koran-koran di Indonesia. Di koran-koran Jerman percuma kita mencari nama t0koh tokoh intelektual. Tajuk rencana danlain kolom \"pendapat\" umumnya ditulis oleh jurnalis dari koran itu sendiri. Barangkali di bagianfeuilleton tokoh intelektual dibahas, atau bukunya yang baru. Akan tetapi pendapat seorang intelektual tentang situasi politik tentang apa yang dilakukanpemerinrah, percuma dicari.  \nTetapi di Indonesia pendapat seorang intelektual yang tidak mempunyaikekuasaansedikitpun, barangkali dia hanya dosendi sebuah perguruan tinggi, dapat menjadi headline di halaman pertama! Para tokoh intelektual sering diwawancarai, pendapat mereka dikomentari. Coba, kapan Die Frankforter Allgemeine atau Die Sudutsche Zeitung akan minta Profesor Jurgen Habermas memberikan pendapatnya, misalnya tentang uang baru Eropa 'Euro' atau tentang rencana undang undang kewarganegaraan? Ataupun tentang pemilihan umum?  \nPENGANTAR  \nJawabannya ialah: tak pernah! Siapa yang peduli akan pendapat seorang Jurgen Habermas!  \nTetapi di Indonesia, orang rupa-rupanya peduli! ltulah perbedaannya. Kalau tidak, untuk apa koran dan majalah membukahalaman mereka yang tidak banyak bagi pendapat kaum intelekcual? Darimana perbedaan itu?  \nKalau di Jerman semua keputusan penting pemerintah dan rencana undang-undang tentu banyak dibahas dalam koran. Namun yang membahasnya, atau yang dilaporkan membahasnya, bukankaum intelektual, melainkan kaum politisi. Dari pihak pemerintah dan dari pihak oposisi. Iculah yang asyik diikuti oleh masyarakat. Di warca berita di televisi pun sama saja Sebagian cukup besar hanyalah mengenai pendapat si pemimpin parcai A atau B c","cbCair54TaEp9yOH","https://ap.wps.com/l/cbCair54TaEp9yOH","pdf",4270118,4,1,173,"Indonesian","id",113,"# Pengantar\n## Pengantar Franz Magnis-Suseno\n# Pendahuluan\n# Bab I Peran Intelektual\n# Bab II Mengesampingkan Bangsa dan Tradisi\n# Bab III Intelektual di Pengasingan\n# Bab IV Kaum Profesional dan Kaum Amatir\n# Bab V Mengatakan Kebenaran kepada Kekuasaan\n# Bab VI Dewa-dewa yang Selalu Gagal\n# Indeks\n# Tentang Penulis","[{\"question\":\"Apa yang menjadi fokus utama pembahasan dalam bagian awal buku ini?\",\"answer\":\"Fokusnya adalah pertanyaan tentang siapa intelektual itu dan apa fungsinya dalam masyarakat, termasuk bagaimana opini intelektual dipandang dan ditampilkan oleh media.\"},{\"question\":\"Mengapa opini intelektual dalam konteks Jerman tidak mudah ditemukan di ruang publik seperti di Indonesia?\",\"answer\":\"Teks menjelaskan bahwa di Jerman topik kebijakan lebih banyak dibahas oleh politisi, sementara pendapat intelektual tidak menjadi sorotan utama publik.\"},{\"question\":\"Bagaimana perbedaan sistem politik Indonesia memengaruhi relevansi opini intelektual?\",\"answer\":\"Teks mengaitkan perhatian publik dengan mekanisme politik dalam negeri, sehingga pendapat politisi menjadi lebih mendapat ruang dibanding pendapat tokoh intelektual yang tidak memiliki kekuasaan.\"}]",1783314224,266,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":86,"head_meta":88,"extra_data":90,"updated_unix":28},"intellectuals-in-society-edward-w-said","",{"@graph":36,"@context":85},[37,53,68],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":20},"https://docshare.wps.com/id/document/intellectuals-in-society-edward-w-said/40691/",{"url":52,"name":13,"@type":54,"author":55,"headline":13,"publisher":57,"fileFormat":60,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":61,"datePublished":62,"encodingFormat":60,"isAccessibleForFree":63,"interactionStatistic":64},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":56},"Person",{"url":41,"name":58,"@type":59},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-19","2026-07-06",true,{"@type":65,"interactionType":66,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":67},"ViewAction",{"@type":69,"mainEntity":70},"FAQPage",[71,77,81],{"name":72,"@type":73,"acceptedAnswer":74},"Apa yang menjadi fokus utama pembahasan dalam bagian awal buku ini?","Question",{"text":75,"@type":76},"Fokusnya adalah pertanyaan tentang siapa intelektual itu dan apa fungsinya dalam masyarakat, termasuk bagaimana opini intelektual dipandang dan ditampilkan oleh media.","Answer",{"name":78,"@type":73,"acceptedAnswer":79},"Mengapa opini intelektual dalam konteks Jerman tidak mudah ditemukan di ruang publik seperti di Indonesia?",{"text":80,"@type":76},"Teks menjelaskan bahwa di Jerman topik kebijakan lebih banyak dibahas oleh politisi, sementara pendapat intelektual tidak menjadi sorotan utama publik.",{"name":82,"@type":73,"acceptedAnswer":83},"Bagaimana perbedaan sistem politik Indonesia memengaruhi relevansi opini intelektual?",{"text":84,"@type":76},"Teks mengaitkan perhatian publik dengan mekanisme politik dalam negeri, sehingga pendapat politisi menjadi lebih mendapat ruang dibanding pendapat tokoh intelektual yang tidak memiliki kekuasaan.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":87,"og:title":13,"og:site_name":58,"og:description":14},"article",{"robots":89,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":92},[93,98,102,106,110,114,118,120,124,128],{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":95,"show_sort_weight":96,"slug":97},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":99,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":100,"show_sort_weight":96,"slug":101},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":103,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":104,"show_sort_weight":96,"slug":105},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":107,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":108,"show_sort_weight":96,"slug":109},51,"Komik","comic",{"id":111,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":112,"show_sort_weight":96,"slug":113},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":115,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":116,"show_sort_weight":96,"slug":117},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":96,"slug":119},"literature",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":122,"show_sort_weight":96,"slug":123},52,"Teknologi","technology",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":126,"show_sort_weight":96,"slug":127},50,"Ujian","exam",{"id":129,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":130,"show_sort_weight":96,"slug":131},57,"Umum","general"]