[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-46042-id":3,"doc-seo-46042-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":91},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},46042,1099514067415,"Rowan","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/100002539d78ffe74a7?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1779092875211072502",54,"Penelitian & Laporan","Modearasi Indonesia dan Keindonesiaan Perspektif Sosiologi","Naskah membahas moderasi Indonesia dan keindonesiaan dengan sudut pandang sosiologi, berangkat dari gejala meningkatnya darurat “radikal” dan radikalisme, termasuk isu terorisme dan kontestasi narasi di ruang publik. Uraian menekankan bahwa radikalisme agama merupakan fakta sosial yang nyata, namun konsep dan aspeknya bersifat universal serta tidak terbatas pada satu golongan tertentu. Pembahasan juga mengaitkan liberalisasi pascareformasi dengan munculnya ekstremisme dalam politik, ekonomi, dan budaya, serta dampaknya pada kebangsaan dan keamanan negara.","MODERASI INDONESIA DAN KEINDONESIAAN Perspektif Sosiologi  \nOleh  \nDr. H. Haedar Nashir, M.Si.  \nA. Pendahuluan  \nIndonesia dalam kurun terakhir seakan beradadalam darurat “radikal” dan “radikalisme”. Radikalisme dan khususnya terorisme menjadi isu dan agenda penanggulangan utama. Narasi waspada kaum “jihadis”,“khilafah”,“wahabi”, dan lain-lain disertai berbagaikebijakan deradikasasi meluas di ruang publik. Isu tentang masjid, kampus, BUMN, majelis taklim, dan bahkan lembaga PendidikanUsiaDini (PAUD) terpapar radikalismedemikian kuat dan terbuka di ruang publik yang menimbulkankontroversi nasional.  \nJika konsep radikal dikaitkan dengan apa yang oleh Taspinar (2015) disebut “violent movements”(gerakan kekerasan) seperti dalam berbagai kasus bom teror, penyerangan fisik, dan segala aksi atau tindakan kekerasan  \nMODERASI INDONESIA DAN KEINDONESIAAN  \n1  \ndi Indonesia maka dapat dipahami sebagai pandangan dan kenyataan yang objektif. Radikalisme agama, termasuk di sebagian kecil kelompok umat Islam pun tentu merupakan fakta sosial yang nyata. Dalam posisi yang demikian baikpemerintah maupun banyak komponen bangsaberkomitmenuntuk bersama menolak segalabentukpahamdan tindakan radikal atau radikalisme yang bermuara pada kekerasan, makar, dan merusakkehidupan manusiadan lingkungannya yang Tuhan sendiri melarang tegas karena masuk dalamtindakan “fasad fil-ardl” atau merusak di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2] : 11, 12, 60; QS. Al-’A`raf [7] : 56, 74, 85; QS. Al-’Anfal [8] : 73; QS. Hud [11] : 85, 116; QS. Ash-Shu`ara’  \n[26] : 151, 152; QS. Al-Qasas [28] : 77, 83, QS. Al-`Ankabut  \n[29] : 36; QS. Ar-Rum [30]: 41; dll.) .  \nRadikalisme agama memang terjadidalam kehidupan, sebagaimana radikalismelainnya di belahan bumi manapun. Stigma radikalisme Islam itu begitu kuat dan kadang bersentuhandengan Islamophobia, yangakarnyakompleks, sebagaimana dijelaskan Esposito dan Deyra (2018):“radicalism is used interchangeably when referring to Islamist radicalism or generically to denote levels of extremity. Islamophobia and Islamist Radicalism are exclusivist ideologies which survive and thrive by blaming, defaming and despising the other and such exclusivist ideologies do not occur in a vacuum.”. Fakta sosial puntidak terbantahkanadanya gerakankaum radikalis-ekstirmisseperti Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, Jamaah Islamiyah, dan  \n2  \nMODERASI INDONESIA DAN KEINDONESIAAN  \nberbagai kelompok Jihadis baik di tingkat global maupun nasional dan lokal yang menimbulkan banyak persoalan dan kekerasan dalam perikehidupan umat manusia di era mutakhir.  \nNamun konsep danaspek tentang radikalismebaik dalampemikiran maupun kenyataan itu sesungguhnya bersifat universal atau berlaku umum, apakah di tingkat global atau internasional maupun domestik di Indonesia. Peristiwa teror di Masjid Christchurch Selandia Baru yang menewaskan 49 orang di dunia internasional, tidak dilakukan orang Islam, bahkansasarannya jamaahdi masjid. Demikian pulakejadian ditanahairseperti pembakaran masjid diTolikara, penyerangankelompok bersenjatadiWamena yang menewaskan 33 korbanjiwa dan ratusan luka-luka diiringi ribuan warga eksodusdari bumi Papua, pembunuhan 31 pekerja pembangunan jalan di Distrik Yigi-Nduga Papua, dan gerakan separatis yang mengancam keamanan rakyat dan negara. Semuanya menunjukkan fakta sosial tentang radikalisme, lebih khususekstremismedanterorisme yang tidak sederhana dan bermuarapada satu golongan.  \nMenurut Menteri Pertahanan dan Keaman an RI, Ryamizard Ryacudu, penyerangan yang tetjadi di Nduga Papua pelakunya “bukan kelompok kriminaltapi pemberontak.”([https://www.bbc.com/indonesia/](https://www.bbc.com/indonesia/)[ ](https://www.bbc.com/indonesia/)[indonesia-46435847](indonesia-46435847), 27/12/2018) . Sedangkan Menurut Andreas, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) merupakan“tindakankejisebagai bentuk perlawanan  \nMODERASI INDONESIA DAN KEINDONESIAAN  \n3  \nterhadapNKRI,”[ujar Andreas kepadaKompas.com](ujar Andreas kepadaKompas.com), Selasa (4/12/20","cbCaibT7XhBbvD8h","https://ap.wps.com/l/cbCaibT7XhBbvD8h","pdf",639298,2,1,85,"Indonesian","id",113,"# A. Pendahuluan\n# Radikalisme, terorisme, dan kontroversi di ruang publik\n# Radikalisme sebagai fakta sosial dan stigma Islamophobia\n# Radikalisme yang tidak sederhana: ekstremisme dan terorisme\n# Perspektif kebijakan, narasi pelaku, dan respons politik\n# Konteks liberalisasi pascareformasi dan perubahan konstitusional\n# Dampak bagi kebangsaan dan tarikan ekstremisme di ranah keindonesiaan","[{\"question\":\"Apa yang menjadi latar belakang pembahasan moderasi Indonesia dan keindonesiaan?\",\"answer\":\"Pembahasan berangkat dari kondisi Indonesia yang dinilai berada dalam darurat radikal dan radikalisme, termasuk isu terorisme yang menjadi agenda penanggulangan utama. Narasi terkait kelompok-kelompok tertentu meluas di ruang publik dan menimbulkan kontroversi nasional.\"},{\"question\":\"Mengapa radikalisme agama dipandang sebagai fakta sosial?\",\"answer\":\"Radikalisme agama dipahami sebagai kenyataan yang objektif dan nyata dalam kehidupan sosial. Document juga menyinggung bahwa radikalisme memiliki kompleksitas yang dapat berhubungan dengan stigma dan Islamophobia.\"},{\"question\":\"Bagaimana penulis mengaitkan radikalisme dengan konteks pascareformasi di Indonesia?\",\"answer\":\"Penulis mengaitkan kondisi liberalisasi politik, ekonomi, dan budaya pascareformasi dengan kemunculan pemahaman dan istilah “radikal” yang bersifat historis. Perubahan konstitusional dan praktik hegemoni penguasaan negara/ekonomi juga disebut dapat memunculkan reaksi balik serta tarikan ekstremisme dalam ranah keindonesiaan.\"}]",1783470071,131,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":86,"head_meta":88,"extra_data":90,"updated_unix":28},"indonesian-moderation-and-indoneisanitya-sociological-perspective","",{"@graph":36,"@context":85},[37,53,68],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,47,50],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":20},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",{"item":48,"name":12,"@type":43,"position":49},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":51,"name":13,"@type":43,"position":52},"https://docshare.wps.com/id/document/indonesian-moderation-and-indoneisanitya-sociological-perspective/46042/",4,{"url":51,"name":13,"@type":54,"author":55,"headline":13,"publisher":57,"fileFormat":60,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":61,"datePublished":62,"encodingFormat":60,"isAccessibleForFree":63,"interactionStatistic":64},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":56},"Person",{"url":41,"name":58,"@type":59},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-13","2026-07-08",true,{"@type":65,"interactionType":66,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":67},"ViewAction",{"@type":69,"mainEntity":70},"FAQPage",[71,77,81],{"name":72,"@type":73,"acceptedAnswer":74},"Apa yang menjadi latar belakang pembahasan moderasi Indonesia dan keindonesiaan?","Question",{"text":75,"@type":76},"Pembahasan berangkat dari kondisi Indonesia yang dinilai berada dalam darurat radikal dan radikalisme, termasuk isu terorisme yang menjadi agenda penanggulangan utama. Narasi terkait kelompok-kelompok tertentu meluas di ruang publik dan menimbulkan kontroversi nasional.","Answer",{"name":78,"@type":73,"acceptedAnswer":79},"Mengapa radikalisme agama dipandang sebagai fakta sosial?",{"text":80,"@type":76},"Radikalisme agama dipahami sebagai kenyataan yang objektif dan nyata dalam kehidupan sosial. Document juga menyinggung bahwa radikalisme memiliki kompleksitas yang dapat berhubungan dengan stigma dan Islamophobia.",{"name":82,"@type":73,"acceptedAnswer":83},"Bagaimana penulis mengaitkan radikalisme dengan konteks pascareformasi di Indonesia?",{"text":84,"@type":76},"Penulis mengaitkan kondisi liberalisasi politik, ekonomi, dan budaya pascareformasi dengan kemunculan pemahaman dan istilah “radikal” yang bersifat historis. Perubahan konstitusional dan praktik hegemoni penguasaan negara/ekonomi juga disebut dapat memunculkan reaksi balik serta tarikan ekstremisme dalam ranah keindonesiaan.","https://schema.org",{"og:url":51,"og:type":87,"og:title":13,"og:site_name":58,"og:description":14},"article",{"robots":89,"canonical":51},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":92},[93,98,102,106,110,114,116,120,124,128],{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":95,"show_sort_weight":96,"slug":97},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":99,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":100,"show_sort_weight":96,"slug":101},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":103,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":104,"show_sort_weight":96,"slug":105},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":107,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":108,"show_sort_weight":96,"slug":109},51,"Komik","comic",{"id":111,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":112,"show_sort_weight":96,"slug":113},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":96,"slug":115},"research-report",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":118,"show_sort_weight":96,"slug":119},49,"Sastra","literature",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":122,"show_sort_weight":96,"slug":123},52,"Teknologi","technology",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":126,"show_sort_weight":96,"slug":127},50,"Ujian","exam",{"id":129,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":130,"show_sort_weight":96,"slug":131},57,"Umum","general"]