[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-141904-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":81,"doc-detail-141904-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":74,"head_meta":76,"extra_data":78,"updated_unix":80},113,"id","illusion-of-peace-multidisciplinary-analysis-of-ideology-and-conflict-dynamics-of-madara-uchiha-in-naruto","Ilusi Kedamaian - Analisis Multidisiplin tentang Ideologi dan Dinamika Konflik Madara Uchiha dalam Naruto","","Madara Uchiha, antagonis utama dalam serial Naruto karya Masashi Kishimoto, mempresentasikan paradoks mencari kedamaian lewat kontrol otoriter. Kajian ini menganalisis konflik internal-eksternalnya, filsafat tentang perdamaian, serta dampak naratif melalui lensa interdisipliner (psikoanalitik, Marxis, dan Machiavellian). Analisis kualitatif terhadap adegan kritis manga Naruto volume 55–72, dengan 26 sampel terpilih (Vol. 65–67), menyoroti trauma, ideologi, dan konflik puncak. Temuan menunjukkan trauma memicu konflik id-superego yang mengubah idealisme menjadi hasrat kuasa dan realisme Machiavellian; Tsukuyomi Abadi diparalelkan dengan otoritarianisme modern, sekaligus menegaskan etika kekuasaan yang terlepas dari empati.",{"@graph":14,"@context":73},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/","Penelitian & Laporan",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/illusion-of-peace-multidisciplinary-analysis-of-ideology-and-conflict-dynamics-of-madara-uchiha-in-naruto/141904/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/illusion-of-peace-multidisciplinary-analysis-of-ideology-and-conflict-dynamics-of-madara-uchiha-in-naruto/141904.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Alex Sinclair","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-20","2026-08-25",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",5,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59,65,69],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Apa premis utama penelitian tentang Madara Uchiha dalam Naruto?","Question",{"text":63,"@type":64},"Penelitian berangkat dari gagasan bahwa fiksi populer seperti Naruto dapat menjadi alat reflektif untuk memahami dilema manusia yang universal, khususnya paradoks kekuasaan dan etika melalui karakter antagonis Madara Uchiha.","Answer",{"name":66,"@type":61,"acceptedAnswer":67},"Teori apa saja yang digunakan untuk menganalisis dinamika konflik dan ideologi Madara?",{"text":68,"@type":64},"Kajian memakai lensa interdisipliner: psikoanalitik, Marxis, dan Machiavellian untuk membaca konflik internal-eksternal, filsafat perdamaian, serta simbol naratif Madara.",{"name":70,"@type":61,"acceptedAnswer":71},"Bagaimana trauma Madara berhubungan dengan konsep perdamaian melalui ilusi dalam penelitian?",{"text":72,"@type":64},"Trauma Madara (misalnya kehilangan Izuna) memicu konflik id-superego yang mendistorsi idealismenya menjadi kehendak kuasa ala Nietzsche dan realisme Machiavellian, sehingga proyek perdamaian lewat Tsukuyomi Abadi dipahami sebagai ilusi massal.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":75,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":77,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":79,"site_id":7},141904,1787670419,{"code":4,"msg":82,"data":83},"success",[84,89,93,97,101,105,108,112,116,120,124],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":86,"show_sort_weight":87,"slug":88},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":91,"show_sort_weight":87,"slug":92},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":95,"show_sort_weight":87,"slug":96},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":99,"show_sort_weight":87,"slug":100},51,"Komik","comic",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":103,"show_sort_weight":87,"slug":104},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":87,"slug":107},54,"research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":87,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":87,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":87,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":122,"show_sort_weight":87,"slug":123},57,"Umum","general",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":126,"show_sort_weight":4,"slug":127},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":82,"data":129},{"doc_id":79,"user_id":130,"nickname":42,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":106,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":137,"language":138,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":12,"update_tm":80,"read_time":142},1099523882182,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_6f874abed73319feea01a86fa6f0fab8","Research Article  \nIlusi Kedamaian: Analisis Multidisiplin tentang Ideologi dan Dinamika Konflik Madara Uchiha dalam Naruto  \nAhmad Rosikhul Fahmi1 *, M. Luthfi Luqman Al Mustofa  \nUniversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang  \n*[e-mail:](e-mail: ahmadarrosikhulfah@gmail.com)[ ahmadarrosikhulfah@gmail.com](e-mail: ahmadarrosikhulfah@gmail.com)  \nReceived:21-01-2025; Revised:17-06-2025; Accepted: 29-06-2025 Available online: 6-11-2025; Published: 6-11-2025  \nAbstract  \nMadara Uchiha, the principal antagonist in Masashi Kishimoto’s Naruto series, embodies the paradox of seeking peace through authoritarian control. His character integrates psychological trauma, political philosophy, and narrative symbolism, reflecting real-world tensions between idealism and power. This study analyzes Madara’s internal-external conflicts, philosophy of peace, and narrative impact through an interdisciplinary lens (psychoanalytic, Marxist, and Machiavellian theories). Qualitative critical-scene analysis of manga volumes 55– 72 (Naruto), focusing on 26 purposively sampled scenes (Vol. 65–67) depicting Madara’s trauma, ideology, and pivotal conflicts. Madara’s trauma (e.g., loss of his brother Izuna) fuels a pathological id-superego conflict, distorting his initial idealism into a Nietzschean will to power and Machiavellian realism. His \"Tsukuyomi Infinite\" project peace via mass illusion parallels modern authoritarianism (e.g., surveillance states) . As a Hegelian antithesis to protagonist Naruto, Madara’s downfall exposes the ethical failure of power detached from empathy. Madara epitomizes how unhealed trauma and systemic injustice mutate into totalitarian ideology. His narrative serves as an allegory for the dangers of absolutist solutions to human suffering, affirming that true peace requires reconciliation not erasure of freedom and vulnerability.  \nKeywords: Character analysis; Madara Uchiha; Power and Trauma; Authoritarian Peace  \n1. Pendahuluan  \nNaruto, karya Masashi Kishimoto, telah menjadi fenomena global tidak hanya sebagai hiburan populer tetapijuga sebagai medium eksplorasi tema-tema humanis yang kompleks (Fiqhri, 2022) . Serial ini, yang berlatar dunia shinobi penuh konflik, secara cerdas mengintegrasikan diskursus tentang moralitas, kekuasaan, dan perdamaian melalui karakter-karakternya yang multidimensi. Studi sebelumnya oleh Amri (2023) menunjukkan bahwa narasi Naruto berfungsi sebagai alegori dinamika sosial-politik kontemporer, seperti perjuangan melawan sistem yang opresif dan pencarian identitas di tengah trauma kolektif (AMRI, 2023) . Popularitas dan kedalaman filosofisnya menjadikan Naruto objek studi yang relevan dalam kajian budaya populer. Lebih jauh, kompleksitas  \nkarakter antagonis dalam serial ini menyediakan lensa untuk menganalisis paradoks kekuasaan dan etika dalammasyarakat modern. Dengan demikian, studi ini berangkat dari premis bahwa fiksi populer seperti Naruto dapat menjadi alatreflektif untuk memahami dilemakemanusiaan yang universal.  \nDalam narasi besar seperti Naruto, karakter antagonis seringkali bukansekadar penghalang bagi protagonis, melainkan representasi dari ideologi alternatif yang menantang status quo tokohutama (Amidong, 2018) . Dalam seri Naruto karakter seperti Madara Uchiha, Pain, atau Obito memperlihatkanbagaimana \"kejahatan\" dalam cerita inibersifat relatif dan berakar pada pengalaman traumatis serta idealisme yang terdistorsi. Studi tentang antagonis dalam  \nNaruto umunya berfokus pada fungsinaratif mereka sebagai penggerak konflik seperti studi oleh Shabrina et al., (2020) membahas ambisi karakter Uchiha Itachi mempertahankan kedamaian desa Konoha sebagai pemicu konflik dan membantu penyelesaian konflik dalam alur cerita anime Naruto Shippuuden, Studi lain oleh Illa et al., (2024) mengulas perjalanan hidup yang kaya dalam hal psikologi, dari masa kecil yang sulit hingga perkembangan diri yang kuat. Namun jarang mengeksplorasi dimensi filosofispolitis yang mendasari motivasi mereka","cbCaiddZZh7GJP7t","https://ap.wps.com/l/cbCaiddZZh7GJP7t","pdf",596887,11,"Indonesian","# Pendahuluan\n## Konteks Naruto sebagai Medium Kajian Moralitas, Kekuasaan, dan Perdamaian\n## Antagonis sebagai Representasi Ideologi Alternatif\n## Kesenjangan Studi Terdahulu dan Alasan Pemilihan Madara Uchiha\n## Karakteristik Madara Uchiha dan Transformasi Visioner ke Simbol Anarki","[{\"question\":\"Apa premis utama penelitian tentang Madara Uchiha dalam Naruto?\",\"answer\":\"Penelitian berangkat dari gagasan bahwa fiksi populer seperti Naruto dapat menjadi alat reflektif untuk memahami dilema manusia yang universal, khususnya paradoks kekuasaan dan etika melalui karakter antagonis Madara Uchiha.\"},{\"question\":\"Teori apa saja yang digunakan untuk menganalisis dinamika konflik dan ideologi Madara?\",\"answer\":\"Kajian memakai lensa interdisipliner: psikoanalitik, Marxis, dan Machiavellian untuk membaca konflik internal-eksternal, filsafat perdamaian, serta simbol naratif Madara.\"},{\"question\":\"Bagaimana trauma Madara berhubungan dengan konsep perdamaian melalui ilusi dalam penelitian?\",\"answer\":\"Trauma Madara (misalnya kehilangan Izuna) memicu konflik id-superego yang mendistorsi idealismenya menjadi kehendak kuasa ala Nietzsche dan realisme Machiavellian, sehingga proyek perdamaian lewat Tsukuyomi Abadi dipahami sebagai ilusi massal.\"}]","Ilusi Kedamaian - Analisis Multidisiplin tentang Ideologi dan Dinamika Konflik Madara Uchiha dalam Naruto | PDF",17]