[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-39905-id":3,"doc-seo-39905-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":92},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":20,"language":22,"language_code":23,"site_id":24,"html_lang":23,"table_of_contents":25,"faqs":26,"seo_title":27,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},39905,8796095462418,"Noah","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/80000253c1241d02b47?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1778826106357471780",54,"Penelitian & Laporan","Ida I Dewa Gde Catra, Ber-Yadnya Melestarikan Naskah Lontar Bali","Ida I Dewa Gde Catra dipandang sebagai pahlawan kebudayaan Indonesia karena dedikasinya pada kegiatan nyurat (menulis dan menyalin) lontar serta pengalihaksaraan ke aksara Bali maupun aksara latin. Perjuangannya melestarikan dan memperkenalkan naskah lontar dilakukan melalui upaya perintisan Museum Pustaka Lontar. Ketekunan yang konsisten ditunjukkan lewat jumlah penyalinan lontar yang sangat besar serta penghargaan yang diterima, dengan motivasi menjadikan nyurat sebagai yadnya, pengabdian, dan pengorbanan tulus bagi Bali dan Indonesia.","Ida I Dewa Gde Catra, Ber-Yadnya Melestarikan Naskah Lontar Bali  \nPutu Prima Cahyadi  \n[e-mail: ](e-mail: prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id)[prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id](e-mail: prima.cahyadi.p@mail.ugm.ac.id)  \nIndra Nanda Awalludin  \ne-mail: [indraawalludin87@gmail.com](indraawalludin87@gmail.com)  \nMuh. Zulkifli  \n[e-mail: ](e-mail: muh.zulkifli2306@gmail.com)[muh.zulkifli2306@gmail.com](e-mail: muh.zulkifli2306@gmail.com)  \nDilsa Fahila Hi. Adam  \ne-mail: [dilsafahila6@gmail.com](dilsafahila6@gmail.com)  \nABSTRAK  \nSosok Ida I Dewa Gde Catra dapat disebut sebagai pahlawan kebudayaan Indonesia.  \nPengabdiannya nyurat (menulis dan menyalin) lontar serta mengalihaksarakannya ke aksara latin, merupakan pengabdian yang patut diteladani oleh seluruh generasi masyarakat Indonesia.  \nPerjuangannya melestarikan dan memperkenalkan naskah lontar kepada masyarakat umum, yang ia wujudkan melalui perintisan Museum Pustaka Lontar bersama Hedi Hinzler, patut ditiru oleh generasi penerus Indonesia, agar kebudayaan Indonesia yang adiluhung dapat terus lestari dandinikmati serta dihayati secara mendalam. Meski tidak mendapatkan bayaran yang membuatdirinya menjadi kaya raya, pekerjaannya sebagai penyalin lontar telah lebih cari dukup bagi Ida I Dewa Gde Catra. Baginya, nyurat lontar merupakan yadnya, pengabdian dan pengorbanan tulusikhlas, bagi Bali, dan bagi Indonesia.  \nKata kunci: Ida I Dewa Gde Catra, pelestarian naskah lontar, yadnya  \nPENDAHULUAN  \nJulukan pahlawan seringkali identik dengan mereka yang memiliki peranan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan bangsanya. Di Indonesia, terdapat tokoh-tokoh nasional yang berjuang secara fisik dengan mengangkat senjata, seperti Bung Tomo, dan Jendral Sudirman. Selain itu, terdapat juga pahlawan yang aktif berjuang melalui ide dan pemikirannya, seperti Sukarno, Hatta, dan Syahrir.  \nDisamping adanya pahlawan yang memperjuangkan kedaulatan bangsa, terdapat juga sosok pahlawan kebudayaan. Mereka adalah pahlawan yang memiliki peran utama dalam melestarikan budaya nasional yang mulai tersisih dan hampir punah.  \nPada bulan Agustus 2023 lalu, pemerintah, melalui Kemendikbud, memberikan gelarkehormatan kepada tiga pahlawan budaya dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI). Ketiga pahlawan tersebut adalah Tjokorda Gde Agung Sukawati, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Djojokusumo, dan Ki Mohammad Amir Sutaarga (Anonim, 2023) .  \nTjokorda Gde Agung Sukawati mendapatkan tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma atas jasanya mengantarkan Ubud menjadi pusat seni internasional berkelanjutan. Selanjutnya, tokoh Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Djojokusumo mendapatkan tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma atas jasanya mendirikan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) . ASKImerupakancikal bakal Institut Seni Indonesia (ISI) . Terakhir, tokoh Ki Mohammad Amir Sutaarga mendapatkan  \ntanda kehormatan Bintang Jasa Nararya, atas jasanya sebagai perintis permuseuman Indonesia (Anonim, 2023) .  \nSelain ketiga pahlawan budaya tersebut, terdapat seorang pahlawan budaya yang masih hidup hingga saat ini. Ia adalah Ida I Dewa Gede Catra, pahlawan budaya yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melestarikan naskah lontar dan menyalinnya ke aksara Bali ataupun latin.  \nDilansir dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Monster Journal (Cahyadi, 2023), Ida IDewa Gde Catra lahir pada 23 September 1937 di Desa Sidemen, Karangasem, Bali. Pria yang akrab disapa Pak Catra ini sudah mengenal dunia lontar sejak tahun 1958. Ketertarikannya pada dunia lontar berawal dari kegemarannya merawat koleksi lontar milik orangtuanya. Lontar tersebut mendorongminatnya, sehingga ia memutuskan untuk mempelajari secara mendalam mengenai berbagai hal seputarlontar.  \nUsaha Ida I Dewa Gde Catra untuk merawat tradisi dan budaya nyurat (menulis dan menyalin), mengalihaksarakan, serta merawat lontar menghadapi jalan yang terjal. Mengapa demikian? Generasi muda Bali dewasa ini mulai mengabaikan lontar. Padahal, lontar, yang menj","cbCaidJSvRVmpX5F","https://ap.wps.com/l/cbCaidJSvRVmpX5F","pdf",612064,9,1,"Indonesian","id",113,"# Pendahuluan\n## Latar belakang pahlawan budaya\n## Sosok Ida I Dewa Gde Catra dan perjalanan nyurat lontar\n## Tantangan pelestarian lontar di kalangan generasi muda\n## Penghargaan dan capaian pelestarian\n# Pembahasan","[{\"question\":\"Mengapa Ida I Dewa Gde Catra disebut pahlawan kebudayaan?\",\"answer\":\"Ia mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk merawat naskah lontar, menyalinnya, serta mengalihaksarakannya ke aksara Bali maupun latin. Dedikasinya berkontribusi pada pelestarian dan pengenalan lontar kepada masyarakat.\"},{\"question\":\"Apa bentuk pengabdian yang dilakukan Ida I Dewa Gde Catra dalam melestarikan lontar?\",\"answer\":\"Pengabdiannya diwujudkan melalui aktivitas nyurat (menulis dan menyalin) serta perawatan naskah, termasuk mengalihaksarakan ke aksara latin. Ia juga merintis Museum Pustaka Lontar bersama Hedi Hinzler untuk memperkenalkan lontar lebih luas.\"},{\"question\":\"Penghargaan apa yang pernah diterima Ida I Dewa Gde Catra?\",\"answer\":\"Pada 2020 ia memperoleh penghargaan “Penulis Aksara Lontar Bali Terbanyak” dari MURI, tercatat menyalin 4.120 cakep lontar. Sebelumnya, pada 2019 ia juga mendapat penghargaan “Nugra Jasadharma Pustaloka” kategori Pelestari Naskah Kuno dari Perpustakaan Nasional.\"}]","Ida I Dewa Gde Catra, Ber-Yadnya Melestarikan Naskah Lontar Bali | PDF",1783087797,14,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":24,"language":23,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":87,"head_meta":89,"extra_data":91,"updated_unix":28},"ida-i-dewa-gde-catra-ber-yadnya-preserving-balinese-lontar-manuscripts","",{"@graph":36,"@context":86},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/ida-i-dewa-gde-catra-ber-yadnya-preserving-balinese-lontar-manuscripts/39905/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":23,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-08-15","2026-07-03",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Mengapa Ida I Dewa Gde Catra disebut pahlawan kebudayaan?","Question",{"text":76,"@type":77},"Ia mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk merawat naskah lontar, menyalinnya, serta mengalihaksarakannya ke aksara Bali maupun latin. Dedikasinya berkontribusi pada pelestarian dan pengenalan lontar kepada masyarakat.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Apa bentuk pengabdian yang dilakukan Ida I Dewa Gde Catra dalam melestarikan lontar?",{"text":81,"@type":77},"Pengabdiannya diwujudkan melalui aktivitas nyurat (menulis dan menyalin) serta perawatan naskah, termasuk mengalihaksarakan ke aksara latin. Ia juga merintis Museum Pustaka Lontar bersama Hedi Hinzler untuk memperkenalkan lontar lebih luas.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Penghargaan apa yang pernah diterima Ida I Dewa Gde Catra?",{"text":85,"@type":77},"Pada 2020 ia memperoleh penghargaan “Penulis Aksara Lontar Bali Terbanyak” dari MURI, tercatat menyalin 4.120 cakep lontar. Sebelumnya, pada 2019 ia juga mendapat penghargaan “Nugra Jasadharma Pustaloka” kategori Pelestari Naskah Kuno dari Perpustakaan Nasional.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":88,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":90,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":24},{"code":4,"msg":5,"data":93},[94,99,103,107,111,115,117,121,125,129,133],{"id":95,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":96,"show_sort_weight":97,"slug":98},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":100,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":101,"show_sort_weight":97,"slug":102},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":104,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":105,"show_sort_weight":97,"slug":106},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":108,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":109,"show_sort_weight":97,"slug":110},51,"Komik","comic",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":113,"show_sort_weight":97,"slug":114},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":97,"slug":116},"research-report",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":119,"show_sort_weight":97,"slug":120},49,"Sastra","literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":123,"show_sort_weight":97,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":127,"show_sort_weight":97,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":131,"show_sort_weight":97,"slug":132},57,"Umum","general",{"id":134,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":135,"show_sort_weight":4,"slug":136},181,"Formulir","formulir"]