[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-39881-id":3,"doc-seo-39881-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":92},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},39881,2336464648322,"Aria","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/2200025388227c56fec?_k=1778556882303663488",55,"Agama & Spiritualitas","Penolakan Ibnu Arabi terhadap Pluralisme Agama","Artikel ini mengkritisi klaim penganut pluralisme agama yang melegitimasi gagasan mereka melalui tokoh sufi, khususnya Ibnu Arabi. Penjelasan menegaskan bahwa wahdat al-wujd yang dipahami para sufi bukan dimaknai dalam konteks agama sebagai relativisme, maupun sebagai panteisme, melainkan dalam kerangka hirarki wujud: Allah sebagai Wujud Akhir Absolut dan yang lain sebagai wujud nisbi. Artikel menekankan pentingnya sikap kritis terhadap ide pluralisme yang terpengaruh orientalis agar tidak menerima tanpa dasar.","Penolakan Ibnu Arabi terhadap Pluralisme Agama  \nKholid Karomi  \nDosen Fak. Ushuluddin ISID Gontor  \n[Email: kholid_k@yahoo.co.id](Email: kholid_k@yahoo.co.id)  \nAbstrak  \nPaham pluralisme agama yang berkembang akhir-akhir ini banyak mengambillegitimasinya dari para sufi. Dari situ, mereka beranggapan bahwa pemikiran pluralismeagama memang telah ada dalam tradisi intelektual Islam dan tentunya berdasarkanajaran Islam. Padahal, legitimasi tersebut hanya merupakan hasil comot yang tidak mendasar. Salah seorang sufi yang paling sering menjadi objek kajian yang dituduh sebagai penyebar paham pluralisme agama ini adalah Ibnu Arabi. Dikatakan, Ibnu Arabimemiliki konsep wah}dat al-adyn yang merupakan cerminan paham pluralisme agama saat ini. Padahal, makna wahdat al-wujd yang dipahami oleh para sufi yang sahihsebenarnya bukan dalam konteks agama atau dalam konteks panteisme, tapi dalam konteks hirarki wujud, di mana Allah dipahami sebagai Wujud Akhir yang Absolut (alWujd al-Akhr al-Mutlaq) dan selain-Nya adalah wujud yang nisbi. Artikel ini ingin mengkritisi sikap para pluralis yang mendistorsi pemikiran Ibnu Arabi tentang pluralismeagama. Hal ini dipandang penting guna mengembangkan sikap kritis bagi para sarjana Muslim agar tidak asal comot dan menerima begitu saja pemikiran para pluralis yang terpengaruh para orientalis.  \nKata Kunci: Sufi, Ibnu Arabi, Pluralisme Agama, Wahdat al-Wujd.  \nAbstract  \nThe understanding of religious pluralism that developed lately, is taking legitimacy of the Sufis. They assumed that the thought of religious pluralism have existed in the Islamic intellectual tradition and based on the teachings of Islam. Infact, the legitimation is an unreasonable thing. One of a Sufi who often became the object of study as the propagator accused of religious pluralism is Ibn Arabi. It is said that Ibn Arabi has the concept of Wah}dat al-Adyn which is a reflection of the current understanding of religious pluralism. In fact, the meaning of Wah}dat al–Wujd form that is understood by the Sufis is not in the context of religion or in the context of pantheism, but in the context of the hierarchy of being, in which God is understood as the end of the Absolute Being (al-wujd al–Mutlaq) and apart from Him is the relative form. This article wants to  \nVol. 12, No. 1, Maret 2014  \n50  \nKholid Karomi  \ncriticize the attitude of the pluralist which distorts Ibn Arabi’s thought about religious pluralism. It was important to develop a critical attitude to the origin of Muslim scholars in order not to take it for granted the thought of the pluralists which are affected by Orientalists.  \nKeywords: Sufi, Ibnu Arabi, Religion Pluralism, Wah}dat al-Wujd.  \nPendahuluan  \nP  \nluralisme agama memandang bahwa tidak ada satu agama pun yang berhak mengklaim bahwa agama itulah yang paling benar. Semua agama dalam pandangan paham ini  \nmemiliki sisi kebenarannya masing-masing. Permasalahannya adalah para penganut paham pluralisme ini selalu mengungkapkan legitimasi-legitimasi dari kalangan sufi, terutama sufi-sufi besarseperti al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, dan Ibn Arabi. Padahal, pengakuan terhadap pluralisme oleh sufi-sufi besar boleh jadi tidakada dalam tradisi sufi.1 Juga perlu diperhatikan bahwa praktiktasawuf mengharuskan untuk selalu berpijak pada al-Qur’an dan al-Sunnah, sertalarangan menyalahi syariat.2 Keharusan-keharusaninilah yang mengimplikasikan bahwa ajaran tasawuf tidak menerima pluralisme agama.  \nUntuk itu, sikap kritis dan sikap selektif terhadap ide-ide dan konsep-konsep asingharus dikedepankan, khususnya terhadapide pluralisme agama ini. Karena yang dikhawatirkan selama ini adalah hilangnya sikap-sikap kritis tersebut, kemudian menerima atau bahkan mendukung paham pluralisme sebagaimana yang berkembang pada beberapa generasi sarjana muslim saat ini. Mereka terlihat latah mengkritisi khazanah pemikiran Islam sendiri, dari pada mengkiritik konsep-konsep asingyang cenderung mendekonstruksi ajaran-ajaran Islam.  \nAtas dasar itu,","cbCaioIwE25iCW5v","https://ap.wps.com/l/cbCaioIwE25iCW5v","pdf",331743,6,1,18,"Indonesian","id",113,"# Pendahuluan\n## Latar belakang pluralisme agama dan legitimasi dari tradisi sufi\n# Penolakan Ibnu Arabi terhadap pluralisme agama\n## Kritik atas distorsi pemikiran Ibnu Arabi\n## Makna wahdat al-wujd dalam hirarki wujud\n# Sekilas Tentang Pluralisme\n## Liberalisasi pemikiran dan dampak pada keyakinan agama","[{\"question\":\"Mengapa pluralisme agama sering mengambil legitimasi dari kalangan sufi?\",\"answer\":\"Pluralisme agama yang berkembang belakangan dinilai banyak mengambil legitimasi dari para sufi dengan anggapan bahwa pemikiran pluralisme telah ada dalam tradisi intelektual Islam dan bersandar pada ajaran Islam. Artikel menolak legitimasi tersebut sebagai sesuatu yang tidak mendasar.\"},{\"question\":\"Apa yang keliru dari pemahaman pluralis tentang wahdat al-wujd milik Ibnu Arabi?\",\"answer\":\"Artikel menyatakan bahwa wahdat al-wujd yang dipahami sufi tidak dipahami dalam konteks agama sebagai relativisme atau dalam konteks panteisme. Pemaknaannya justru berada pada hirarki wujud: Allah sebagai Wujud Akhir Absolut, sedangkan selain-Nya bersifat nisbi.\"},{\"question\":\"Apa tujuan artikel dalam membahas penolakan Ibnu Arabi terhadap pluralisme agama?\",\"answer\":\"Artikel bertujuan mengkritisi sikap pluralis yang mendistorsi pemikiran Ibnu Arabi tentang pluralisme agama. Penekanan juga diarahkan pada perlunya sikap kritis agar sarjana Muslim tidak asal menerima gagasan pluralis yang terpengaruh orientalis.\"}]",1783087649,28,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":87,"head_meta":89,"extra_data":91,"updated_unix":28},"ibn-arabis-rejection-of-religious-pluralism","",{"@graph":36,"@context":86},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/ibn-arabis-rejection-of-religious-pluralism/39881/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-15","2026-07-03",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Mengapa pluralisme agama sering mengambil legitimasi dari kalangan sufi?","Question",{"text":76,"@type":77},"Pluralisme agama yang berkembang belakangan dinilai banyak mengambil legitimasi dari para sufi dengan anggapan bahwa pemikiran pluralisme telah ada dalam tradisi intelektual Islam dan bersandar pada ajaran Islam. Artikel menolak legitimasi tersebut sebagai sesuatu yang tidak mendasar.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Apa yang keliru dari pemahaman pluralis tentang wahdat al-wujd milik Ibnu Arabi?",{"text":81,"@type":77},"Artikel menyatakan bahwa wahdat al-wujd yang dipahami sufi tidak dipahami dalam konteks agama sebagai relativisme atau dalam konteks panteisme. Pemaknaannya justru berada pada hirarki wujud: Allah sebagai Wujud Akhir Absolut, sedangkan selain-Nya bersifat nisbi.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Apa tujuan artikel dalam membahas penolakan Ibnu Arabi terhadap pluralisme agama?",{"text":85,"@type":77},"Artikel bertujuan mengkritisi sikap pluralis yang mendistorsi pemikiran Ibnu Arabi tentang pluralisme agama. Penekanan juga diarahkan pada perlunya sikap kritis agar sarjana Muslim tidak asal menerima gagasan pluralis yang terpengaruh orientalis.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":88,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":90,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":93},[94,97,101,105,109,113,117,121,125,129],{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":95,"slug":96},60,"religion-spirituality",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":99,"show_sort_weight":95,"slug":100},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":103,"show_sort_weight":95,"slug":104},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":107,"show_sort_weight":95,"slug":108},51,"Komik","comic",{"id":110,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":111,"show_sort_weight":95,"slug":112},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":114,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":115,"show_sort_weight":95,"slug":116},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":119,"show_sort_weight":95,"slug":120},49,"Sastra","literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":123,"show_sort_weight":95,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":127,"show_sort_weight":95,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":131,"show_sort_weight":95,"slug":132},57,"Umum","general"]