[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-46131-id":3,"doc-seo-46131-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":96},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},46131,2336464648746,"Skyler","https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_276721f389ce27ea32af1340a28f341c",54,"Penelitian & Laporan","Sejarah Pemilu 1955 di Indonesia","Naskah ini memaparkan riset sejarah tentang Pemilu 1955 di Indonesia dengan menyoroti mengapa narasi sejarah arus utama hanya banyak menyinggung pemilu ini, sementara Pilkada 1957 dan rencana pemilu kedua (1959/1960) nyaris tidak muncul. Pembahasan mengkaji temuan riset terdahulu Herbert Feith dan celah yang belum tercakup, lalu menekankan nilai pembukaan arsip di ANRI. Contoh konkret meliputi kisah pencurian surat suara oleh Djanawin, mekanisme pelelangan surat suara sisa, dugaan gangguan keamanan, penculikan, serta peran militer dan aturan partisipasi penyelenggara maupun peserta.","Faishal Hilmy Maulida  \nSelamat malam semuanya, mohon maafbila baru bisa share soal Pemilu 1955 hari ini. Temaberkaitan dg pemilu 55 ini adalah bagian bab dari riset tesis, garis besarnya ada 3 pemilu yang saya ulas. Pemilu 1955, 'Pilkada 1957', dan rencana Pemilu Kedua (1959/1960) -riset tesis ini akan terbit segera (Sejarah Pemilu yang Dihilangkan, Pemilihan Umum dalam Kemelut Politik Indonesia Tahun 1950-an. Yogyakarta, Media Pressindo, 2020) . Sementara bahasan yg akan saya ulas malam ini berfokus pada Pemilu 1955 (naskahnya terbit terbatas dalam Di Balik Bilik Suara, Konstruksi Pemilu Pertama di Indonesia 1953-1956, Jakarta: Kemdikbud RI, 2018) . Sementara 'printilannya' beberapa di antaranya saya olah jadi naskah populer, sudah tayang di Tirto. Ada 3 naskah. 'Jelang Pencoblosan, Surat Suara Pemilu 1955 Dicuri'; 'Sejarah Pemilu 1955: Panitia Diculik hingga Dibunuh'; 'PKI pun Pernah Tuduh Penyelenggara Pemilu Curang'. Sampai sejauh ini bila mencermati buku teks sejarah versi pemerintah hanya pemilu 1955 yang disebut. sementara pilkada 1957 hilang atau mungkin sengaja dihilangkan, dan rencana pemilukedua yang juga tidak pernah ada dalam narasi sejarah pemilu di Indonesia. Ini bukan sebuah kebetulan, tapi ada proses panjang dan berliku mengapa hanya ada satu pemilu di era demokrasi liberal/parlementer yang disebut dalam narasi sejarah mainstream  \nBerhubung tema malam ini adalah pemilu 1955 jadi saya ulas dulu soal pemilu pertama ini. Untuk pemilu pemilu lainnya nanti bisa diulas di lain waktu  \nRiset Pemilu 1955 sebetulnya sudah 'hampir' tuntas dilakukan oleh Herbert Feith  \nTapi ada banyak hal yg luput dari pengamatan dia, ini bisa dimaklumi karena riset yang ia terbitkan tahun 50-an 60-an berdasar risetnya sebagai ilmuan politik, sementara arsip-arsip pemilu baru bisa diakses di erah setelahnya dan ini adalah tugas periset Indonesia untukmeneruskan karya karya feith  \nMembuka arsip pemilu di ANRI membuat saya takjub sekaligus tertantang. Ada ribuan macamarsip menarik yang sama sekali belum disentuhjadi tulisan-tulisan menarik  \nKalau kawan sekalian ke ANRI bisa membuka inventaris arsip sekretariat negara kabinet perdana menteri 1950-1959 jilid 1 dan jilid 2  \nInventaris arsip komando operasi tertinggi (KOTI) -terutama kalau mau cari dokumen ttgaktifitas PKI. Inventaris ini menarik dan kalau boleh jujur, sejarah partai yang paling memungkinkan ditulis dengan lengkap adalah PKI!, sementara partai lain seperti Masjumi, NU, PNI, PSI dan lainnya kalau mengacu pada sumber di ANRI hampir mustahil untuk direkonstruksi  \nKenapa demikian?  \nSaat 65, KOTI melakukan perampasan terhadap dokumen PKI mulai dari CC sampai CBD. Danakhirnya arsip2 PKI bisa diamankan dengan baik oleh negara, beruntungnya sekarang kita bisamengaksesnya  \nSementara partai lain yang tidak punya ketertiban dalam mengarsipkan dokumen terutama penyerahannya ke ANRI ya tentu saja akan segera digilas oleh zaman, kecuali mau mencari pretelan dokumennya dari para pelaku sejarah tiap partai tersebut dan mencari di toko buku langka  \nIda  \nFaishalHilmy Maulida  \nSaat 65, KOTI melakukan perampasan terhadap dokumen PKI mulai dari CC sampai CBD. Danakhirnya arsip2 PKIbisa diamankan dengan  \nTapi arsip Lekra hilang ?  \nFaishal Hilmy Maulida  \nIda  \nTapi arsip Lekra hilang ?  \nAda beberapa arsip yang tidak spesifik menyebut Lekra dll, tapi bila ditelaah satu persatu ada yang bicara soal lekra, meski tidak banyak. Saya malah dapat dokumen silabus kaderisasi PKI. Dokumen ini bisa dipakai untuk menganalisa mengapa PKI begitu massif di tahun 1950-an. Saya teruskan soal pembahasan tadi.  \nJadi di ANRI ada dokumen2 pemilu yang menarik, termasuk yg sifatnya mikro  \nMisal, dalam artikel yg saya tulis di Tirto 'Jelang Pencoblosan, Surat Suara Pemilu 1955' dicuri itu saya dapat dari BAP pemeriksaan Djanawin bin Nali, orang Jatinegara yang didakwa mencuri surat suara pemilu  \nKisah djanawin ini bermula ketika ia mencuri kotak suara, ngakunya mengambil 2 lembar tapisaksi mengatakan dia","cbCaijm9E01f6GnW","https://ap.wps.com/l/cbCaijm9E01f6GnW","pdf",5894342,6,1,60,"Indonesian","id",113,"# Pengantar riset Pemilu 1955\n## Ruang lingkup: Pemilu 1955, Pilkada 1957, dan rencana pemilu kedua\n## Kesenjangan narasi sejarah arus utama\n# Lanjutan riset dan peran arsip ANRI\n## Karya Herbert Feith dan keterbatasan akses arsip\n## Inventaris arsip: sekretariat negara dan KOTI\n## Dampak penyalinan/penyelamatan arsip partai\n# Temuan kasus dan detail penyelenggaraan\n## Pencurian surat suara dan respons ketua PPI\n## Plot twist: pelelangan surat suara sisa setelah pemilu\n## Gangguan keamanan, penculikan, dan korban penyelenggara\n# Aturan partisipasi dan kesalahan persepsi data\n## Peran militer: aktif dan pasif\n## Mekanisme pencoblosan dan pencalonan\n## Klarifikasi jumlah peserta DPR dan Konstituante","[{\"question\":\"Apa fokus utama pembahasan pada naskah ini?\",\"answer\":\"Fokus utamanya adalah Pemilu 1955. Naskah juga menyinggung dua agenda lain—Pilkada 1957 dan rencana pemilu kedua (1959/1960)—untuk menunjukkan celah dalam narasi sejarah mainstream.\"},{\"question\":\"Mengapa riset Pemilu 1955 perlu dilanjutkan setelah karya Herbert Feith?\",\"answer\":\"Feith meneliti pada era 1950-an–1960-an ketika arsip pemilu belum banyak bisa diakses. Pembukaan arsip setelah periode itu membuat banyak materi baru dapat ditelusuri dan melengkapi pengamatan sebelumnya.\"},{\"question\":\"Apa contoh temuan menarik dari arsip yang dibahas?\",\"answer\":\"Salah satunya kasus Djanawin bin Nali yang didakwa mencuri surat suara. Selain detail proses penanganan awal dan vonis, naskah menyebut ada “plot twist” berupa pelelangan surat suara sisa setelah pemilu berakhir.\"},{\"question\":\"Apa klarifikasi yang diberikan tentang jumlah peserta pemilu DPR dan Konstituante?\",\"answer\":\"Naskah menjelaskan bahwa angka 28 yang sering disebut Feith mengacu pada partai, organisasi, dan perseorangan untuk mendapatkan kursi. Untuk DPR jumlah peserta disebut 100, sedangkan Konstituante disebut lebih banyak lagi.\"}]",1783471228,92,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":91,"head_meta":93,"extra_data":95,"updated_unix":28},"history-of-the-1955-election-in-indonesia","",{"@graph":36,"@context":90},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/history-of-the-1955-election-in-indonesia/46131/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-20","2026-07-08",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82,86],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Apa fokus utama pembahasan pada naskah ini?","Question",{"text":76,"@type":77},"Fokus utamanya adalah Pemilu 1955. Naskah juga menyinggung dua agenda lain—Pilkada 1957 dan rencana pemilu kedua (1959/1960)—untuk menunjukkan celah dalam narasi sejarah mainstream.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Mengapa riset Pemilu 1955 perlu dilanjutkan setelah karya Herbert Feith?",{"text":81,"@type":77},"Feith meneliti pada era 1950-an–1960-an ketika arsip pemilu belum banyak bisa diakses. Pembukaan arsip setelah periode itu membuat banyak materi baru dapat ditelusuri dan melengkapi pengamatan sebelumnya.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Apa contoh temuan menarik dari arsip yang dibahas?",{"text":85,"@type":77},"Salah satunya kasus Djanawin bin Nali yang didakwa mencuri surat suara. Selain detail proses penanganan awal dan vonis, naskah menyebut ada “plot twist” berupa pelelangan surat suara sisa setelah pemilu berakhir.",{"name":87,"@type":74,"acceptedAnswer":88},"Apa klarifikasi yang diberikan tentang jumlah peserta pemilu DPR dan Konstituante?",{"text":89,"@type":77},"Naskah menjelaskan bahwa angka 28 yang sering disebut Feith mengacu pada partai, organisasi, dan perseorangan untuk mendapatkan kursi. Untuk DPR jumlah peserta disebut 100, sedangkan Konstituante disebut lebih banyak lagi.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":92,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":94,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":97},[98,102,106,110,114,118,120,124,128,132],{"id":99,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":100,"show_sort_weight":22,"slug":101},55,"Agama & Spiritualitas","religion-spirituality",{"id":103,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":104,"show_sort_weight":22,"slug":105},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":107,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":108,"show_sort_weight":22,"slug":109},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":111,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":112,"show_sort_weight":22,"slug":113},51,"Komik","comic",{"id":115,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":116,"show_sort_weight":22,"slug":117},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":22,"slug":119},"research-report",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":122,"show_sort_weight":22,"slug":123},49,"Sastra","literature",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":126,"show_sort_weight":22,"slug":127},52,"Teknologi","technology",{"id":129,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":130,"show_sort_weight":22,"slug":131},50,"Ujian","exam",{"id":133,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":134,"show_sort_weight":22,"slug":135},57,"Umum","general"]