[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-40088-id":3,"doc-seo-40088-113":31,"detail-sidebar-cat-0-id-113":92},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":28,"seo_description":14,"update_tm":29,"read_time":30},40088,1099513958607,"Jiven","https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/100002390cf8733938c?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1778829742770036399",54,"Penelitian & Laporan","Gen Z Indonesia Memilih Pemimpin Nihil Gagasan","Tulisan membahas opini Indra Nanda Awalludin tentang Pemilu 2024 dan “virus FOMO politik” di kalangan Gen Z, kemudian menelaah kelemahan argumen pada paragraf yang menyatakan antusiasme Gen Z tidak disertai sikap kritis. Analisis menggunakan kerangka logika proposisi dan operator konjungsi untuk menilai klaim “gagasan nol besar” serta menyoroti cacat logika generalisasi yang mengabaikan pengecualian. Pembahasan juga mempertanyakan makna “relate” dan mengaitkannya dengan data survei Litbang Kompas tentang faktor pengaruh sosial dalam pilihan politik Gen Z.","Gen Z Indonesia Memilih Pemimpin Nihil Gagasan? Tanggapan atas Opini Indra Nanda Awalludin\nDek Cadi\ndek.cadi@outlook.com\nPemilu serentak 2024 telah berjalan dengan lancar. Masyarakat Indonesia sudah memilih calon pemimpin bangsa ini selama lima tahun ke depan. Semua suara sudah direkapitulasi, yang dapat diakses melalui situs resmi \u0013 HYPERLINK \"https://pemilu2024.kpu.go.id\" \u0014Komisi Pemilihan Umum\u0015 (KPU).\nMeski telah berakhir, berita terkait dengan Pemilu 2024 belum sepenuhnya padam. Pemberitaan mengenai calon wakil presiden yang dianggap bermasalah, pelanggaran yang dilakukan Presiden, hingga adanya dugaan kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM), masih disidangkan di Mahkamah Konstitusi.\nSalah satu tulisan yang masih membahas isu Pemilu 2024 diterbitkan oleh situs Historical Meaning (HM). Tulisan tersebut, yang terbit dalam rubrik Opini HM, bertajuk \u0013 HYPERLINK \"https://historicalmeaning.id/pemilu-2024-dan-virus-fomo-politik-di-kalangan-gen-z/\" \u0014Pemilu 2024 dan Virus FOMO Politik di Kalangan Gen Z\u0015. Tulisan yang ditulis oleh Indra Nanda Awalludin, salah satu penulis tetap HM, menarik untuk dibedah. Maka, melalui tulisan ini, izinkan saya untuk membedah tulisan tersebut.\nPada paragraf ketiga tulisan tersebut, Indra menulis seperti ini:\n“[s]ayangnya, antusiasme [generasi Z] itu tidak dibarengi dengan sikap kritis. Rata-rata Gen Z memilih calon pemimpin yang dianggap relate dengan kehidupan mereka, meskipun gagasannya nol besar. Ada juga yang memilih karena sekadar ikut-ikutan. Mereka memilih kandidat mengikuti suara mayoritas, meski mereka tidak tahu apa visi misi kandidita yang mereka dukung.”\nUntuk mengetahui kesalahan paragraf tersebut, kita perlu mengetahui propisisi di dalamnya. Menurut M. Rakhmat dalam buku \u0013 HYPERLINK \"https://etheses.uinsgd.ac.id/5420/1/PengantarLogikaDasar.pdf\" \u0014Pengantar Logika Dasar\u0015, proposisi adalah suatu pernyataan yang dapat bernilai benar (B) atau salah (S). Simbol-simbol, seperti P dan Q, menunjukkan proposisi.  Dua atau lebih proposisi dapat digabungkan dengan menggunakan operator logika. Dengan menggunakan operator konjungsi (and), mengkombinasikan dua buah proposisi, akan diperoleh hasil benar jika kedua proposis bernilai benar, dan bernilah salah jika kedua proposis bernilai salah.\nTerkait dengan paragraf yang saya kutip di atas, operator konjungsi yang muncul adalah sebagai berikut:\nP\t: Rata-rata Gen Z memilih calon pemimpin yang dianggap relate dengan kehidupan mereka\nQ\t: Meskipun gagasannya nol besar\nP ∧ Q\t: Rata-rata Gen Z memilih calon pemimpin yang dianggap relate dengan kehidupan mereka, dan meskipun gagasannya nol besar (tidak punya gagasan).\nDari proposisi di atas, muncul pertanyaan, 1) apakah calon pemimpin yang dipilih Gen Z adalah mereka yang gagasannya nol besar (tidak punya gagasan)?; 2) ari banyaknya calon pemimpin yang dipilih Gen Z pada Pemilu 2024 (dari DPR, DPRD, DPD, dan presiden/wakil presiden); 3) apakah semua calon pemimpin tidak mempunyai gagasan?, dan; 4) apakah Gen Z memilih capres/cawapres yang tidak punya gagasan? Bagaimana cara membuktikan bahwa Gen Z memilih capres/cawapres yang tidak mempunyai gagasan?\nMenjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentunya, kita tidak bisa melakukan generalisasi, mengatakan bahwa semua calon pemimpin yang berkontestasi pada Pemilu 2024 gagasannya nol besar. Melihat ketiga capres/cawapres yang bertarung, misakan, mereka memiliki gagasan yang jelas, yang dapat kita saksikan dalam lima ajang debat yang resmi diselenggarakan KPU.\nKalaupun ditemukan ada calon pemimpin yang gagasannya nol besar, alias tidak punya gagasan, Indra tidak menyebutkan nama secara spesifik, dan jika kata “calon pemimpin” kita beri generalisasi, maka proposis pada paragraf yang saya kutip bernilai salah (S), karena secara fakta, semua calon pemimpin yang bertarung dalam Pemilu 2024 mempunyai gagasan.\nKesalahan logika tersebut, mengutip Bo Bennet dalam buku \u0013 HYPERLINK \"https://books.google.co.id/books/about/Kitab_Anti_Bodoh.html?id=hq_3DQAAQBAJ&re","cbCaiqYYqNxgrOyr","https://ap.wps.com/l/cbCaiqYYqNxgrOyr","docx",18060,10,1,3,"Indonesian","id",113,"# Analisis Opini Indra Nanda Awalludin\n## Pemilu 2024 dan konteks pemberitaan\n## Pemeriksaan proposisi dan konjungsi\n## Cacat logika: a dicto simpliciter ad dictum secundum quid\n## Makna “relate” dan bukti empiris\n## Faktor pengaruh pilihan Gen Z berdasarkan survei","[{\"question\":\"Apa inti klaim Indra Nanda Awalludin tentang Gen Z pada Pemilu 2024?\",\"answer\":\"Indra menilai antusiasme Gen Z tidak dibarengi sikap kritis dan banyak yang memilih calon pemimpin yang dianggap relate dengan kehidupan mereka, meski gagasannya nol besar, termasuk karena ikut-ikutan mengikuti suara mayoritas.\"},{\"question\":\"Bagaimana analisis logika menilai paragraf klaim “gagasan nol besar”?\",\"answer\":\" Penulis membentuk proposisi P dan Q lalu menggunakan operator konjungsi untuk menilai apakah kombinasi klaim benar. Kesimpulannya, proposisi bernilai salah karena secara faktual seluruh kandidat capres/cawapres pada Pemilu 2024 memiliki gagasan yang dapat terlihat dari debat resmi KPU.\"},{\"question\":\"Apa yang dipertanyakan penulis terkait istilah “relate” dalam pilihan Gen Z?\",\"answer\":\"Penulis mempertanyakan alasan “relate” itu merujuk pada faktor seperti ketenaran, penampilan, sosok yang “gemoy”, atau tren jejepangan, karena tidak ada survei yang menunjukkan seberapa besar Gen Z memilih pemimpin berdasarkan faktor tersebut.\"}]","Gen Z Indonesia Memilih Pemimpin Nihil Gagasan | DOCX",1783303023,5,{"code":4,"msg":32,"data":33},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":34,"title":13,"keywords":35,"description":14,"schema_data":36,"social_meta":87,"head_meta":89,"extra_data":91,"updated_unix":29},"gen-z-indonesia-choosing-leaders-with-no-ideas","",{"@graph":37,"@context":86},[38,54,69],{"@type":39,"itemListElement":40},"BreadcrumbList",[41,45,49,51],{"item":42,"name":43,"@type":44,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":46,"name":47,"@type":44,"position":48},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":50,"name":12,"@type":44,"position":22},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",{"item":52,"name":13,"@type":44,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/gen-z-indonesia-choosing-leaders-with-no-ideas/40088/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":42,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/vnd.openxmlformats-officedocument.wordprocessingml.document","2026-08-17","2026-07-06",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Apa inti klaim Indra Nanda Awalludin tentang Gen Z pada Pemilu 2024?","Question",{"text":76,"@type":77},"Indra menilai antusiasme Gen Z tidak dibarengi sikap kritis dan banyak yang memilih calon pemimpin yang dianggap relate dengan kehidupan mereka, meski gagasannya nol besar, termasuk karena ikut-ikutan mengikuti suara mayoritas.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Bagaimana analisis logika menilai paragraf klaim “gagasan nol besar”?",{"text":81,"@type":77},"Penulis membentuk proposisi P dan Q lalu menggunakan operator konjungsi untuk menilai apakah kombinasi klaim benar. Kesimpulannya, proposisi bernilai salah karena secara faktual seluruh kandidat capres/cawapres pada Pemilu 2024 memiliki gagasan yang dapat terlihat dari debat resmi KPU.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Apa yang dipertanyakan penulis terkait istilah “relate” dalam pilihan Gen Z?",{"text":85,"@type":77},"Penulis mempertanyakan alasan “relate” itu merujuk pada faktor seperti ketenaran, penampilan, sosok yang “gemoy”, atau tren jejepangan, karena tidak ada survei yang menunjukkan seberapa besar Gen Z memilih pemimpin berdasarkan faktor tersebut.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":88,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":90,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":93},[94,99,103,107,111,115,117,121,125,129,133],{"id":95,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":96,"show_sort_weight":97,"slug":98},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":100,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":101,"show_sort_weight":97,"slug":102},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":104,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":105,"show_sort_weight":97,"slug":106},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":108,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":109,"show_sort_weight":97,"slug":110},51,"Komik","comic",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":113,"show_sort_weight":97,"slug":114},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":12,"show_sort_weight":97,"slug":116},"research-report",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":119,"show_sort_weight":97,"slug":120},49,"Sastra","literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":123,"show_sort_weight":97,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":127,"show_sort_weight":97,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":131,"show_sort_weight":97,"slug":132},57,"Umum","general",{"id":134,"doc_module":4,"doc_module_name":47,"category_name":135,"show_sort_weight":4,"slug":136},181,"Formulir","formulir"]