[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-293950-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":81,"doc-detail-293950-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":74,"head_meta":76,"extra_data":78,"updated_unix":80},113,"id","evidentiary-strength-of-integrated-assessment-from-juridical-and-psychological-perspectives-in-court","Kekuatan Bukti Asesmen Terpadu dalam Perspektif Yuridis dan Psikologis di Pengadilan","","Penelitian mengkaji kekuatan pembuktian asesmen terpadu dalam perspektif yuridis dan psikologis melalui pendekatan yuridis normatif. Asesmen terpadu dipakai untuk menilai kondisi psikologis, sosial, dan medis pada subjek hukum, terutama dalam perkara yang melibatkan anak, korban kekerasan, disabilitas mental, atau terdakwa dengan gangguan kejiwaan. Walau dikenal dalam praktik, statusnya sebagai alat bukti yang dapat diterima belum diatur secara eksplisit dalam hukum acara pidana. Dari sisi psikologis, asesmen memiliki nilai ilmiah tinggi dan memberi gambaran objektif, namun pemahaman aparat hukum mengenai interpretasinya masih menjadi hambatan, sehingga diperlukan harmonisasi regulasi serta penguatan kapasitas lintas sektor untuk mengoptimalkan perannya dalam proses pembuktian di pengadilan.",{"@graph":14,"@context":73},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/","Penelitian & Laporan",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/evidentiary-strength-of-integrated-assessment-from-juridical-and-psychological-perspectives-in-court/293950/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/evidentiary-strength-of-integrated-assessment-from-juridical-and-psychological-perspectives-in-court/293950.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Rhys","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-10-02","2026-09-17",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",5,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59,65,69],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Apa tujuan penelitian tentang asesmen terpadu?","Question",{"text":63,"@type":64},"Penelitian bertujuan mengkaji kekuatan pembuktian hasil asesmen terpadu dari perspektif yuridis dan psikologis melalui pendekatan yuridis normatif.","Answer",{"name":66,"@type":61,"acceptedAnswer":67},"Bagaimana status asesmen terpadu sebagai alat bukti dalam hukum acara pidana?",{"text":68,"@type":64},"Asesmen terpadu dikenal dalam praktik, tetapi kedudukannya sebagai alat bukti yang sah belum sepenuhnya diatur secara eksplisit dalam hukum acara pidana.",{"name":70,"@type":61,"acceptedAnswer":71},"Apa manfaat asesmen terpadu dari perspektif psikologis forensik?",{"text":72,"@type":64},"Asesmen terpadu memiliki nilai ilmiah tinggi dan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kondisi subjek hukum, sekaligus mendeteksi gangguan mental, trauma, atau disfungsi perilaku yang memengaruhi keputusan hukum.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":75,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":77,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":79,"site_id":7},293950,1789671030,{"code":4,"msg":82,"data":83},"success",[84,89,93,97,101,105,108,112,116,120,124],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":86,"show_sort_weight":87,"slug":88},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":91,"show_sort_weight":87,"slug":92},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":95,"show_sort_weight":87,"slug":96},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":99,"show_sort_weight":87,"slug":100},51,"Komik","comic",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":103,"show_sort_weight":87,"slug":104},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":87,"slug":107},54,"research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":87,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":87,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":87,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":122,"show_sort_weight":87,"slug":123},57,"Umum","general",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":126,"show_sort_weight":4,"slug":127},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":82,"data":129},{"doc_id":79,"user_id":130,"nickname":42,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":106,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":137,"language":138,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":12,"update_tm":80,"read_time":142},687207024643,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_3d24733baf745e90a7e4bdd5f77d97b2","Kekuatan Bukti Asesmen Terpadu dalam Perspektif Yuridis dan  \nPsikologis di Pengadilan  \nHaidar Aufan Maulana1*, Sulistyanta2  \n1,2 Universitas Sebelas Maret,Indonesia  \nAlamat: Kentingan JI. Ir. No.36, Jebres Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126  \nKorespondensi penulis: [haidar.aufan.m@student.uns.ac.id](haidar.aufan.m@student.uns.ac.id)*  \nAbstract. Integrated assessment is a multidisciplinary approach used in the judicial system to evaluate the psychological, social and medical conditions of legal subjects, particularly in cases involving children, victims of violence, persons with mental disabilities or defendants with psychological disorders. This study aims to examine the evidentiary strength of integrated assessment from juridical and psychological perspectives using a normative juridical approach. The findings reveal that although integrated assessments are recognized in legal practice, their status as admissible evidence is not yet explicitly regulated in criminal procedural law. From a psychological perspective, such assessments possess high scientific value and can provide an objective overview of the subject’s condition. However, limited understanding among legal practitioners regarding the interpretation of assessment results remains a major challenge. Therefore, regulatory harmonization and cross-sectoral capacity building are needed to optimize the function of integrated assessments in court proceedings.  \nKeywords: Criminal Procedure Law; Forensic Psychology; Integrated Assessment; Judicial System; Legal Evidence  \nAbstrak. Asesmen terpadu merupakan salah satu pendekatan multidisipliner yang digunakan dalam sistemperadilan untuk mengevaluasi kondisi psikologis, sosial dan medis subjek hukum khususnya dalam kasus yang melibatkan anak, korban kekerasan, penyandang disabilitas mental atau terdakwa dengan gangguan kejiwaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekuatan pembuktian hasil asesmen terpadu dalam perspektif yuridis dan psikologis melalui pendekatan yuridis normatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun asesmen terpadutelah dikenal dalam praktik hukum, kedudukannya sebagai alat bukti sah masih belum sepenuhnya diatur secaraeksplisit dalam hukum acara pidana. Dari sisi psikologis, asesmen memiliki nilai ilmiah tinggi dan dapat memberikan gambaran objektif kondisi subjek hukum. Keterbatasan pemahaman aparat hukum terhadap interpretasi hasil asesmen masih menjadi kendala utama. Oleh karena itu diperlukan harmonisasi regulasi dan peningkatan kapasitas lintas sektor agar asesmen terpadu dapat berfungsi secara optimal dalam proses pembuktian di pengadilan.  \nKata kunci: Alat Bukti; Asesmen Terpadu; Hukum Acara Pidana; Psikologi Forensik; Sistem Peradilan  \n1. LATAR BELAKANG  \nDalam sistem peradilan modern yang semakin kompleks, kebutuhan akan pendekatanyang menyeluruh dalam memeriksa perkara-perkara yang melibatkan kondisi kejiwaan ataukerentanan psikologis individu menjadi semakin mendesak. Salah satu instrumen yang muncul sebagai respon atas kebutuhan ini adalah asesmen terpadu, yaitu suatu bentuk evaluasi multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang keilmuan, seperti hukum, psikologi, sosial dan kedokteran guna memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi subjek hukum baikterdakwa maupun saksi atau korban dalam suatu perkara pidana maupun perdata (Munajat, 2023) . Dalam peradilan pidana, asesmen terpadu umumnya digunakan untuk menilai kapasitas pertanggungjawaban pidana, kondisi psikis terdakwa ataupun untuk melindungi kepentingan  \nterbaik anak dalam perkara yang menyangkut anak sebagai pelaku, korban, atau saksi. Seiring dengan meningkatnya penggunaan asesmen ini, muncul berbagai pertanyaan tentang kekuatan pembuktian hasil asesmen terpadu di mata hukum serta bagaimana nilai bukti tersebut dikonstruksi dalam proses peradilan berdasarkan pertimbangan yuridis dan psikologis.  \nSalah satu problem utama yang muncul dalam praktik adalah belum adanya regulasi yang secara eksplisit dan kompre","cbCaiqrLrl3Kvjj8","https://ap.wps.com/l/cbCaiqrLrl3Kvjj8","pdf",383368,12,"Indonesian","# Latar Belakang\n## Asesmen Terpadu dalam Sistem Peradilan Modern\n## Problematika Regulasi Mekanisme Pelaksanaan\n## Kebutuhan Harmonisasi dalam Kerangka Yuridis dan Psikologis","[{\"question\":\"Apa tujuan penelitian tentang asesmen terpadu?\",\"answer\":\"Penelitian bertujuan mengkaji kekuatan pembuktian hasil asesmen terpadu dari perspektif yuridis dan psikologis melalui pendekatan yuridis normatif.\"},{\"question\":\"Bagaimana status asesmen terpadu sebagai alat bukti dalam hukum acara pidana?\",\"answer\":\"Asesmen terpadu dikenal dalam praktik, tetapi kedudukannya sebagai alat bukti yang sah belum sepenuhnya diatur secara eksplisit dalam hukum acara pidana.\"},{\"question\":\"Apa manfaat asesmen terpadu dari perspektif psikologis forensik?\",\"answer\":\"Asesmen terpadu memiliki nilai ilmiah tinggi dan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kondisi subjek hukum, sekaligus mendeteksi gangguan mental, trauma, atau disfungsi perilaku yang memengaruhi keputusan hukum.\"}]","Kekuatan Bukti Asesmen Terpadu dalam Perspektif Yuridis dan Psikologis di Pengadilan | PDF",18]