[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-40072-id":3,"doc-seo-40072-113":30,"detail-sidebar-cat-0-id-113":92},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":22,"language":23,"language_code":24,"site_id":25,"html_lang":24,"table_of_contents":26,"faqs":27,"seo_title":13,"seo_description":14,"update_tm":28,"read_time":29},40072,687197207057,"Sage","https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_29158cc5080c5b710cf443261637dec0",54,"Penelitian & Laporan","Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Seni dan Sastra","Kekerasan Budaya Pasca 1965 mengkaji bagaimana Orde Baru membentuk dan mempertahankan ideologi anti-komunis, terutama melalui agresi kebudayaan yang melegitimasi kekerasan terhadap mereka yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan komunis pada 1965–1966. Legitimasi dipandang sebagai bagian integral dari praktik kekerasan, tidak terpisah dari konsepsi tentang kekerasan. Fokus utama terletak pada penggunaan produk budaya—khususnya ideologi liberalisme dan narasi sejarah Orde Baru dalam sastra dan film—untuk menormalisasikan penghancuran komunisme serta membuka ruang dekonstruksi terhadap warisan ideologis tersebut.","# KEKERASAN BUDAYA PASCA 1965\n\n◎ Ahmad Zamroni  \nWIJAYA HERLAMBANG menyelesaikan pascasarjana diUniversity of Queensland dengan tesis master“Exposing StateTerror:Violence in Contemporary Indonesian Literature”(2005)disusul dengan disertasi doktoral“Cultural Violence:Its Practiceand Challenge in Indonesia”(2011).Penerima Australian Post-graduate Award(2006-2009)ini sekarang mengajar di Universi-tas Pancasila dan Gunadarma.  \n# Kekerasan Budaya Pasca 1965\n\nBagaimana Orde Baru MelegitimasiAnti-Komunisme Melalui Sastra dan Film  \nWIJAYA HERLAMBANG  \n# Kekerasan Budaya Pasca 1965:Bagaimana Orde Baru MelegitimasiAnti-Komunisme Melalui Seni dan Sastra◎Wijaya Herlambang,2013\n\nTerbit pertama kali dalam bahasa Inggris di Saarbrücken,Jerman pada 2011oleh VDM Verlag Dr.Muller dengan judul Cultural Violence:Its Practice andChallenge in Indonesia.Diterjemahkan oleh penulis sendiri.  \nCetakan kedua,Februari 2014Cetakan pertama,November 2013xiv+334 hlm,14×20,3 cmISBN:978-979-1260-26-8  \nCV.Marjin Kiri  \nRegensi Melati Mas A9/10  \nSerpong,Tangerang Selatan 15323www.marjinkiri.com  \nDilarang memperbanyak atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku iniuntuk tujuan komersial.Setiap tindak pembajakan akan diproses sesuai hukumyang berlaku.Pengutipan untuk kepentingan akademis,jurnalistik,dan advokasidiperkenankan.Tersedia potongan harga bagi staf pengajar,mahasiswa,per-pustakaan,dan lembaga-lembaga riset kampus.  \nDicetak oleh GAJAH HIDUP Didistribusikan oleh NALARIsi di luar tanggung jawab percetakan  \n## Pengantar Penulis\n\nJATUHNYA PEMERINTAHAN ORDE BARU PADA 1998 TIDAK SERTAmerta diikuti dengan memudarnya ideologi anti-komunis.Se-baliknya,anti-komunisme tetap bercokol dalam masyarakatIndonesia.Buku ini menjelajahi kembali faktor-faktor yang me-nentukan di dalam proses pembentukan dan bertahannya ideo-logi anti-komunis di Indonesia.Buku ini berargumen bahwaterpeliharanya ideologi anti-komunis tidak saja merupakan hasildari kampanye politik pemerintah Orde Baru,tetapijuga-yanglebih penting lagi—hasil dari agresi kebudayaan untuk mela-wan komunisme,terutama melalui pembenaran atau legitimasiterhadap kekerasan yang dialami oleh kaum yang dituduh seba-gai anggota dan simpatisan komunis pada 1965-1966.  \nPembenaran atas kekerasan yang terjadi pada 1965-1966,yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan agen-agen ke-budayaannya melalui produk-produk budaya,merupakan ben-tuk dukungan yang sangat mendasar dalam menciptakan sudutpandang bahwa komunisme merupakan musuh negara yangpaling utama.Buku ini juga mengajukan argumen bahwa legi-timasi terhadap kekerasan 1965-1966 tidak kalah brutal diban-dingkan dengan aksi kekerasan itu sendiri.Dengan demikian,legitimasi terhadap kekerasan dapat dilihat sebagai bagian daripraktik kekerasan itu sendiri yang sesungguhnya tidak dapatdipisahkan dari pengertian atas konsep kekerasan.Dengan  \nmemfokuskan bahasan pada bagaimana pemerintah Orde Barudan agen-agen kebudayaannya memanfaatkan produk-produkbudaya dalam melegitimasi kekerasan terhadap kaum komunis,buku ini bermaksud memaparkan bagaimana kekerasan 1965-1966 itu kemudian dilihat sebagai hal yang lumrah dan normal.  \nDalam mengeskplorasi bentuk kekerasan tak-langsung ter-hadap kaum komunis,buku ini secara khusus melihat penggu-naan produk-produk budaya,terutama,ideologi liberalismedan narasi sejarah pemerintah Orde Baru,yang dituangkan me-lalui karya-karya sastra dan film oleh para penulis anti-komunisdan militer,untuk melegitimasi penghancuran komunisme danbangkitnya rezim Orde Baru di Indonesia.Dengan demikian,pemanfaatan produk-produk budaya seperti film dan sastra un-tuk melegitimasi kekerasan 1965-1966 menjadi sangat krusialdalam menyediakan fondasi ideologis agar kekerasan tersebutdapat dilihat sebagai hal yang normal dan natural.  \nDengan mengeksplorasi bagaimana produk-produk buda-ya digunakan sebagai fondasi ideologis untuk menormalisasikekerasan terhadap kaum komunis,buku ini berupaya memberikontribusi terhadap diskusi atas praktik kekerasan negara ","cbCaicMbQwZYKIpn","https://ap.wps.com/l/cbCaicMbQwZYKIpn","pdf",13108256,8,1,348,"Indonesian","id",113,"# Pengantar Penulis\n## Latar Historis 1998 dan Ketahanan Ideologi Anti-Komunis\n## Agresi Kebudayaan dan Legitimasi Kekerasan 1965–1966\n## Produk Budaya (Sastra dan Film) untuk Menormalisasi Kekerasan\n## Kontribusi Akademis dan Dekonstruksi Warisan Ideologis","[{\"question\":\"Mengapa ideologi anti-komunis tidak langsung memudar setelah jatuhnya Orde Baru pada 1998?\",\"answer\":\"Buku ini menyatakan bahwa anti-komunisme tetap bertahan dalam masyarakat, bukan hanya karena kampanye politik Orde Baru, melainkan karena agresi kebudayaan yang melegitimasi kekerasan 1965–1966.\"},{\"question\":\"Bagaimana buku ini menjelaskan hubungan antara legitimasi dan praktik kekerasan pada 1965–1966?\",\"answer\":\"Legitimasi terhadap kekerasan dipandang sama brutalnya dengan aksi kekerasan itu sendiri, sehingga legitimasi menjadi bagian dari praktik kekerasan yang tidak dapat dipisahkan dari pengertian tentang kekerasan.\"},{\"question\":\"Produk budaya apa yang menjadi fokus utama dalam analisis legitimasi kekerasan?\",\"answer\":\"Fokus diarahkan pada penggunaan produk budaya, terutama karya sastra dan film, yang menyampaikan ideologi liberalisme dan narasi sejarah Orde Baru untuk membenarkan penghancuran komunisme dan menghidupkan rezim tersebut.\"}]",1783089878,536,{"code":4,"msg":31,"data":32},"ok",{"site_id":25,"language":24,"slug":33,"title":13,"keywords":34,"description":14,"schema_data":35,"social_meta":87,"head_meta":89,"extra_data":91,"updated_unix":28},"cultural-violence-after-1965-how-the-new-order-legitimated-anti-communism-through-art-and-literature","",{"@graph":36,"@context":86},[37,54,69],{"@type":38,"itemListElement":39},"BreadcrumbList",[40,44,48,51],{"item":41,"name":42,"@type":43,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":45,"name":46,"@type":43,"position":47},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":49,"name":12,"@type":43,"position":50},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":52,"name":13,"@type":43,"position":53},"https://docshare.wps.com/id/document/cultural-violence-after-1965-how-the-new-order-legitimated-anti-communism-through-art-and-literature/40072/",4,{"url":52,"name":13,"@type":55,"author":56,"headline":13,"publisher":58,"fileFormat":61,"inLanguage":24,"description":14,"dateModified":62,"datePublished":63,"encodingFormat":61,"isAccessibleForFree":64,"interactionStatistic":65},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":57},"Person",{"url":41,"name":59,"@type":60},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-07-16","2026-07-03",true,{"@type":66,"interactionType":67,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":68},"ViewAction",{"@type":70,"mainEntity":71},"FAQPage",[72,78,82],{"name":73,"@type":74,"acceptedAnswer":75},"Mengapa ideologi anti-komunis tidak langsung memudar setelah jatuhnya Orde Baru pada 1998?","Question",{"text":76,"@type":77},"Buku ini menyatakan bahwa anti-komunisme tetap bertahan dalam masyarakat, bukan hanya karena kampanye politik Orde Baru, melainkan karena agresi kebudayaan yang melegitimasi kekerasan 1965–1966.","Answer",{"name":79,"@type":74,"acceptedAnswer":80},"Bagaimana buku ini menjelaskan hubungan antara legitimasi dan praktik kekerasan pada 1965–1966?",{"text":81,"@type":77},"Legitimasi terhadap kekerasan dipandang sama brutalnya dengan aksi kekerasan itu sendiri, sehingga legitimasi menjadi bagian dari praktik kekerasan yang tidak dapat dipisahkan dari pengertian tentang kekerasan.",{"name":83,"@type":74,"acceptedAnswer":84},"Produk budaya apa yang menjadi fokus utama dalam analisis legitimasi kekerasan?",{"text":85,"@type":77},"Fokus diarahkan pada penggunaan produk budaya, terutama karya sastra dan film, yang menyampaikan ideologi liberalisme dan narasi sejarah Orde Baru untuk membenarkan penghancuran komunisme dan menghidupkan rezim tersebut.","https://schema.org",{"og:url":52,"og:type":88,"og:title":13,"og:site_name":59,"og:description":14},"article",{"robots":90,"canonical":52},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":25},{"code":4,"msg":5,"data":93},[94,99,103,107,111,115,117,121,125,129],{"id":95,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":96,"show_sort_weight":97,"slug":98},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":100,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":101,"show_sort_weight":97,"slug":102},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":104,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":105,"show_sort_weight":97,"slug":106},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":108,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":109,"show_sort_weight":97,"slug":110},51,"Komik","comic",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":113,"show_sort_weight":97,"slug":114},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":12,"show_sort_weight":97,"slug":116},"research-report",{"id":118,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":119,"show_sort_weight":97,"slug":120},49,"Sastra","literature",{"id":122,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":123,"show_sort_weight":97,"slug":124},52,"Teknologi","technology",{"id":126,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":127,"show_sort_weight":97,"slug":128},50,"Ujian","exam",{"id":130,"doc_module":4,"doc_module_name":46,"category_name":131,"show_sort_weight":97,"slug":132},57,"Umum","general"]