[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-135299-113":53,"doc-detail-135299-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":121,"head_meta":123,"extra_data":125,"updated_unix":127},113,"id","cultural-negotiation-of-indonesian-comics-case-study-of-wayang-comics-i-wayan-nuriarta","Negosiasi Budaya Komik Indonesia - Studi Kasus Komik Wayang - I Wayan Nuriarta","","Komik identik dengan budaya Barat dan pernah ditolak oleh pendidik Indonesia pada masa Orde Lama karena dianggap mengganggu minat baca serta membawa cerita yang tidak sesuai budaya bangsa. Penelitian ini menjelaskan bentuk negosiasi budaya dalam Komik Wayang dan implikasinya terhadap perkembangan komik di Indonesia. Metode kualitatif digunakan dengan teori komik dan hermeneutika. Hasil menunjukkan negosiasi tampak pada visual, dialog verbal, dan narasi, serta melahirkan genre epigon dari komik legenda hingga humor.",{"@graph":63,"@context":120},[64,81,103],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":31,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/cultural-negotiation-of-indonesian-comics-case-study-of-wayang-comics-i-wayan-nuriarta/135299/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/cultural-negotiation-of-indonesian-comics-case-study-of-wayang-comics-i-wayan-nuriarta/135299.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Asher","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-21","2026-08-21",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":102},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",8,{"@type":104,"mainEntity":105},"FAQPage",[106,112,116],{"name":107,"@type":108,"acceptedAnswer":109},"Mengapa komik pernah ditolak oleh pendidik di Indonesia pada masa Orde Lama?","Question",{"text":110,"@type":111},"Komik dipandang sebagai representasi budaya Barat dan dianggap berbahaya karena cerita yang tidak sesuai budaya Indonesia serta dikhawatirkan merusak minat baca buku pelajaran.","Answer",{"name":113,"@type":108,"acceptedAnswer":114},"Apa tujuan penelitian tentang Komik Wayang dalam dokumen ini?",{"text":115,"@type":111},"Penelitian bertujuan mendeskripsikan bentuk negosiasi budaya dalam komik serta implikasinya terhadap perkembangan komik di Indonesia.",{"name":117,"@type":108,"acceptedAnswer":118},"Dalam aspek apa negosiasi budaya dalam Komik Wayang tampak?",{"text":119,"@type":111},"Negosiasi budaya tampak pada tiga aspek: visual, dialog verbal, dan narasi komik.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":122,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":124,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":126,"site_id":56},135299,1787309056,{"code":4,"msg":5,"data":129},{"doc_id":126,"user_id":130,"nickname":89,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":30,"category_name":31,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":102,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":137,"language":138,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":61,"update_tm":127,"read_time":142},687197207639,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_a8503ba1806abce46bf441b54a3ca4cd","Negosiasi Budaya Komik Indonesia: Studi Kasus Komik Wayang  \nI Wayan Nuriarta  \nInstitut Seni Indonesia Denpasar, Indonesia  \nJalan Nusa Indah Denpasar 80235, Telp. 0361-227316  \n[Email:](Email: nuriarta@isi-dps.ac.id)[ nuriarta@isi-dps.ac.id](Email: nuriarta@isi-dps.ac.id) , Hp. 081337714745  \nABSTRACT  \nComics are identified with western culture. Educators in Indonesia once rejected the presence of comics during the Old Order era. However, the birth of puppet comics has made comics acceptable to society up to the present. The purpose of this research is to describe the form of cultural negotiation in comics and the implications of cultural negotiation on the development of comics in Indonesia. This research uses a qualitative research method. The theories employed are comic theory and hermeneutic theory. The results show that puppet comics represent a form of cultural negotiation, visible in three aspects: visuals, verbal dialogue, and narrative. Puppet comics also led to derivative comic genres in Indonesia, ranging from legendary to humorous comics. Today, comics are accepted as part of popular culture in Indonesia.  \nKeywords: Cultural Studies, puppet comics, cultural negotiation, comic development, visual language  \nABSTRAK  \nKomik identik dengan budaya Barat, kehadirannya pernah ditolak oleh para pendidik di Indonesia pada masa Orde Lama. Namun ‘kelahiran’ Komik Wayang membuat komik bisaditerima oleh masyarakat hingga kini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk negosiasi budaya dalam komik dan implikasinegosiasi budaya terhadapperkembangan komik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori komik dan teori hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komik Wayang adalah bentuk negosiasi budaya yang tampak dalam tiga bentuk yaitu visual, dialog verbal, dan narasi. Kehadiran Komik Wayang pun berimplikasi pada epigon genre komik di Indonesia mulai dari komik legenda hingga komik humor. Saat ini kehadiran komik diterima sebagai budaya populer di Indonesia.  \nKata Kunci: Kajian Budaya, Komik Wayang, negosiasi budaya, perkembangan komik, bahasa visual  \nPENDAHULUAN  \nKeberadaan Komik Wayang hari initidak bisa dilepaskan dari perjalanan komik di Indonesia. Komik dikenal sebagai gambaryang bercerita. Dengan menggunakanelemenilustrasi, teks verbal, panel, dan balon kata,  \nkomik mampu menceritakan sebuah epik menjadi semakin menarik. Dalam teorinya, komik merupakan karya gambar yang terjuktaposisi atau panel-panel yang saling berdampingan yang memiliki keterikatandalam cerita (Eisner, 1985, hlm. 7) .  \nJurnal Panggung V35/N1/03/2025 ~~ ~~  \nKomik yang dikenal di Indonesia, pertama kali dipublikasikan tahun 1930-andengan hadirnya komik strips di media massacetak. Komik merupakan budaya massa yang dipandang sebagai seni kelas rendah dan kuat sebagai representasi budaya Amerika dan Eropa atau disebut budaya ‘Barat’. Sebagai sebuah produk kebudayaan, komik dipandang oleh para pendidik di Indonesia sebagaibacaan yang berbahaya di tahun 1950-an. Komik dipandang telah merusak minatbaca buku pelajaran di sekolah. Sehingga di sekolah-sekolah ada razia komik. Bagi yang membawa komik akan dipandang sebagaianak yang tidak suka belajar mata pelajaranapapun. Komik adalah barang berbahaya bagi generasi muda di Indonesia (Bonneff, 2008, hlm. 22) .  \nPara pendidik menyerukan bahwakomik adalah barang yang berbahaya karena komik merepresentasikan identitas budaya Barat yang cerita-ceritanya tidak sesuaidengan budaya Indonesia. Seruan inipun membuat pemerintah masa Orde Lama ataudi bawah kepemimpinan Presiden Soekarno melarang peredaran komik. Ada laranganuntuk keberadaan komik di Indonesia karenadianggap sebagai budaya Barat dan bukan budaya Bangsa Indonesia. Wacana inisemakindikuatkan atas dasar karena Indonesia baru merdeka, pemerintah masih memandang bahwa Barat adalah bangsa penjajah, segalahal yang beraroma Barat harus dimusnahkan. Wacana tersebut juga sejalan ","cbCailOPNtucpxif","https://ap.wps.com/l/cbCailOPNtucpxif","pdf",1000250,22,"Indonesian","# Pendahuluan\n## Komik sebagai budaya Barat dan penolakannya\n## Lahirnya Komik Wayang\n## Negosiasi budaya dalam Komik Wayang\n## Perspektif Kajian Budaya dan konsep negosiasi","[{\"question\":\"Mengapa komik pernah ditolak oleh pendidik di Indonesia pada masa Orde Lama?\",\"answer\":\"Komik dipandang sebagai representasi budaya Barat dan dianggap berbahaya karena cerita yang tidak sesuai budaya Indonesia serta dikhawatirkan merusak minat baca buku pelajaran.\"},{\"question\":\"Apa tujuan penelitian tentang Komik Wayang dalam dokumen ini?\",\"answer\":\"Penelitian bertujuan mendeskripsikan bentuk negosiasi budaya dalam komik serta implikasinya terhadap perkembangan komik di Indonesia.\"},{\"question\":\"Dalam aspek apa negosiasi budaya dalam Komik Wayang tampak?\",\"answer\":\"Negosiasi budaya tampak pada tiga aspek: visual, dialog verbal, dan narasi komik.\"}]","Negosiasi Budaya Komik Indonesia - Studi Kasus Komik Wayang - I Wayan Nuriarta | PDF",34]