[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-227671-113":53,"doc-detail-227671-id":120},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":113,"head_meta":115,"extra_data":117,"updated_unix":119},113,"id","critique-of-islamic-intelligentsia-of-nationalism-discourse-analysis-of-pembela-islam-magazine-1931-1932","Kritik Inteligensia Islam terhadap Ide Nasionalisme - Analisis Wacana Majalah Pembela Islam 1931-1932","","Penelitian ini bertujuan menguraikan kritik inteligensia Islam terhadap ide nasionalisme melalui majalah PERSIS pertama, Pembela Islam, pada periode 1931-1932. Kajian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan teknik sistem kartu dan studi pustaka. Hasil analisis menegaskan bahwa inteligensia Islam tidak menolak nasionalisme secara total, melainkan menentang muatan sekularistiknya. Islam diposisikan sebagai ideologi tepat karena mampu menghubungkan ikatan lahir-batin rakyat Nusantara serta memberi inspirasi melawan hegemoni penjajahan, dengan gagasan Pan-Islamisme.",{"@graph":63,"@context":112},[64,81,103],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":31,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/critique-of-islamic-intelligentsia-of-nationalism-discourse-analysis-of-pembela-islam-magazine-1931-1932/227671/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/critique-of-islamic-intelligentsia-of-nationalism-discourse-analysis-of-pembela-islam-magazine-1931-1932/227671.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Dipper","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-27","2026-09-10",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":102},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",5,{"@type":104,"mainEntity":105},"FAQPage",[106],{"name":107,"@type":108,"acceptedAnswer":109},"Bagaimana visi nasionalisme yang diinginkan inteligensia Islam dibanding pemimpin nasionalis?","Question",{"text":110,"@type":111},"Inteligensia Islam menghendaki nasionalisme berbasis jaringan persaudaraan Islam, yang dikenal sebagai gagasan Pan-Islamisme, sedangkan pemimpin nasionalis menawarkan konsepsi persatuan tanpa mengikutsertakan agama.","Answer","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":114,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":116,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":118,"site_id":56},227671,1789012561,{"code":4,"msg":5,"data":121},{"doc_id":118,"user_id":122,"nickname":89,"user_avatar":123,"doc_module":4,"category_id":30,"category_name":31,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":124,"file_id":125,"file_url":126,"file_type":127,"file_size":128,"view_count":102,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":129,"language":130,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":131,"faqs":132,"seo_title":133,"seo_description":61,"update_tm":119,"read_time":134},1374404997633,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_a8503ba1806abce46bf441b54a3ca4cd","Kritik Inteligensia Islam terhadap Ide Nasionalisme: Analisis Wacana Majalah Pembela Islam 1931-1932  \nINFO ARTIKEL  \nRiwayat Artikel:  \nDiterima: 01/01/2025  \nDisetujui: 06/02/2025  \nKata Kunci:  \nInteligensia Ideologi Nasionalisme Islam PERSIS  \nNaufalAl-Zahra  \nMahadAly Al-Asma Sumedang, Indonesia  \n[naufalll006@gmail.com](naufalll006@gmail.com)  \nAbstract: This research aims to analyze the criticism of Islamic intelligentsia towards the idea of nationalism through the first PERSIS magazine entitled Pembela Islam in 1931 to 1932. This article was written using historical research methods using the card system technique and literature study. This article shows that Islamic intelligentsia does not absolutely reject the idea of nationalism. They reject the secularistic content contained in the idea ofnationalism. The Islamic intelligentsia believes that Islam is the right ideology to be chosen as the basis for nationalism because it has been grounded and proven to be successful in connecting the inner and outer bonds of the people of the archipelago. Islam has also been proven to bea source ofinspirationfor the people ofthe archipelago against colonial hegemony. The Islamic intelligentsia had a different vision regarding the idea of nationalism with the nationalist leaders. They want nationalism based on an Islamic brotherhood network or what is popularly known as the idea ofPanIslamism. The weaknesses of nationalism which were criticized by Islamic intelligentsia decades ago are evident in the life of the Indonesian nation and state today.  \nAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguraikritik para inteligensia Islam terhadapide nasionalismemelalui majalah pertama PERSIS bertajuk Pembela Islam pada tahun 1931 hingga 1932. Artikel ini ditulis menggunakan metode penelitian sejarah dengan teknik sistem kartu dan studi pustaka. Artikel ini menunjukkan bahwa para inteligensia Islam tidak menolak secara mutlak ide nasionalisme. Merekamenolak muatan sekularistik yang terkandung dalam ide nasionalisme. Para inteligensia Islam meyakinibahwa Islam adalah ideologi yang tepat untuk dipilih sebagai dasar nasionalisme karena telah membumi terbukti sukses menghubungkan ikatan lahir dan batin rakyat Nusantara. Islam juga terbukti telah menjadi sumber inspirasi rakyat Nusantara melawan hegemoni penjajahan. Para inteligensia Islam memiliki perbedaan visi mengenai ide nasionalisme dengan para pemimpin nasionalis. Merekamenghendakinasionalisme berbasiskanjaringan persaudaraan Islam atau yang masyhurdisebut dengangagasan Pan-Islamisme. Kelemahan nasionalisme yang dikritisi oleh para inteligensia Islam puluhantahunsilam tampak nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia hari ini.  \n  ◆    \nPENDAHULUAN  \nNasionalisme terkesan menjadi sebuah diskursus final di Indonesia. Seakan-akan tidak ada ruang lagi bagi kita untuk mengkritisinya. Padahal, sebagai hasil pemikiran manusia, nasionalisme berhak untuk diuji. Hal inilah yang disorot oleh para inteligensia Islam tatkala ide nasionalismedigulirkan puluhan tahun silam di Hindia Belanda. Ide tersebut ramai diperbincangkan para aktivis dan inteligensia bumiputra menjelang 1930-an. Kaum nasionalis menawarkan sebuah konseppersatuan antara semua elemen bumiputra tanpa mengikutsertakan agama (sekuler) . Kampanye ini terus digaungkan melalui rapat umum maupun tulisan-tulisan di surat kabar atau majalah. Agama dianggap sebagai unsur yang melemahkan persatuan masyarakat bumiputra dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme.  \nPeredaranwacana yang digulirkankaum nasionalismendapatkan respons dari sekelompok inteligensia Islam yang berlatar didikan sekolah Barat dan tradisional. Mereka menganggap ide yang dipromosikan kaum nasionalis tidak make sense dengan kondisi rakyat Kepulauan Nusantara yang mayoritas beragama Islam. Kelompok ini berupaya membalas kritik kaum nasionalis menggunakan metode yang sama dengan mereka yakni lewat rapat umum dan tulisan-tulisan berkala dalam pers baik surat kabar ma","cbCaiv5DJg0p8ipg","https://ap.wps.com/l/cbCaiv5DJg0p8ipg","pdf",395170,16,"Indonesian","# PENDAHULUAN\n## Nasionalisme sebagai diskursus yang perlu diuji\n## Respons inteligensia Islam terhadap wacana nasionalis\n## Majalah Pembela Islam dan kritik terhadap nasionalisme\n## Tesis Hilmar Farid dan kebutuhan telaah perbedaan worldview\n# METODE DAN TUJUAN PENELITIAN\n## Tujuan penelitian\n## Metode penelitian sejarah dan studi pustaka","[{\"question\":\"Bagaimana visi nasionalisme yang diinginkan inteligensia Islam dibanding pemimpin nasionalis?\",\"answer\":\"Inteligensia Islam menghendaki nasionalisme berbasis jaringan persaudaraan Islam, yang dikenal sebagai gagasan Pan-Islamisme, sedangkan pemimpin nasionalis menawarkan konsepsi persatuan tanpa mengikutsertakan agama.\"}]","Kritik Inteligensia Islam terhadap Ide Nasionalisme - Analisis Wacana Majalah Pembela Islam 1931-1932 | PDF",25]