[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-291068-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":81,"doc-detail-291068-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":74,"head_meta":76,"extra_data":78,"updated_unix":80},113,"id","chapter-ii-overview-of-pkl-place-21-background-of-the-institution","BAB II - GAMBARAN UMUM TEMPAT PKL - 2.1 Latar Belakang Instansi","","Bab II menjelaskan latar belakang instansi yang menjadi tempat PKL melalui uraian sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia. Teks menelusuri perkembangan pengamatan sejak 1841, pembentukan jaringan penakar hujan dan pemindahan pengamatan medan magnet, hingga pelaksanaan pengamatan seismik. Selanjutnya dipaparkan perubahan nama dan struktur lembaga dari masa pendudukan Jepang, periode pengambilalihan, hingga transformasi menjadi BMKG melalui keputusan presiden dan peraturan presiden. Uraian juga memuat tugas dan fungsi BMKG serta susunan pimpinan dan unit kerja terkait.",{"@graph":14,"@context":73},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/","Penelitian & Laporan",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/chapter-ii-overview-of-pkl-place-21-background-of-the-institution/291068/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/chapter-ii-overview-of-pkl-place-21-background-of-the-institution/291068.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Theodora","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-20","2026-09-17",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",5,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59,65,69],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Kapan sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai?","Question",{"text":63,"@type":64},"Pengamatan dimulai pada tahun 1841 oleh Dr. Onnen, pada awalnya dilakukan secara individu untuk data cuaca dan geofisika.","Answer",{"name":66,"@type":61,"acceptedAnswer":67},"Apa saja perubahan nama instansi pengamatan dari masa ke masa?",{"text":68,"@type":64},"Nama instansi berubah beberapa kali, termasuk pada masa pendudukan Jepang menjadi Kisho Kauso Kusho, setelah itu menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst, lalu berkembang hingga dikenal sebagai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).",{"name":70,"@type":61,"acceptedAnswer":71},"Apa tugas dan fungsi BMKG menurut bagian ini?",{"text":72,"@type":64},"BMKG bertugas mengkaji dan menyusun kebijakan nasional terkait meteorologi, klimatologi, dan geofisika; mengoordinasikan kegiatan; melaksanakan pengamatan, pengumpulan data, penyebaran informasi, serta analisis; dan menyediakan layanan informasi yang cepat, tepat, akurat, luas, serta mudah diterima masyarakat.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":75,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":77,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":79,"site_id":7},291068,1789643363,{"code":4,"msg":82,"data":83},"success",[84,89,93,97,101,105,108,112,116,120,124],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":86,"show_sort_weight":87,"slug":88},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":91,"show_sort_weight":87,"slug":92},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":95,"show_sort_weight":87,"slug":96},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":99,"show_sort_weight":87,"slug":100},51,"Komik","comic",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":103,"show_sort_weight":87,"slug":104},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":87,"slug":107},54,"research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":87,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":87,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":87,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":122,"show_sort_weight":87,"slug":123},57,"Umum","general",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":126,"show_sort_weight":4,"slug":127},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":82,"data":129},{"doc_id":79,"user_id":130,"nickname":42,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":106,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":137,"language":138,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":12,"update_tm":80,"read_time":142},687197207919,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/a000253d6f5f7c60be?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1779446848396160552","BAB II  \nGAMBARAN UMUM TEMPAT PKL  \n2.1 Latar Belakang Instansi  \nSejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulaipada tahun 1841 oleh Dr. Onnen, seorang Kepala Rumah Sakit di Bogor. Awalnya, pengamatanini dilakukan secara individu untuk data cuaca dan geofisika. Kegiatan ini berkembang seiring kebutuhan data cuaca dan geofisika yang meningkat. Padatahun 1866, Pemerintah Hindia Belanda meresmikan pengamatan tersebut menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium yang dipimpin oleh Dr. Bergsma. Instansi ini terus berkembang mengikuti permintaan data yang semakin tinggi. Kemudian pada tahun 1879, dibangun jaringan penakar hujan sebanyak 74 stasiun pengamatan di Jawa. Tahun 1902 pengamatan medan magnet bumi dipindahkan dari Jakarta ke Bogor. Untuk pengamatan gempa bumi dimulai pada tahun 1908 dengan pemasangan komponen horizontal seismograf Wiechert di Jakarta. Kemudian, pemasangan komponenvertikal dilaksanakan pada tahun 1928. Pada tahun 1912 dilakukan reorganisasi pengamatan meteorologi dengan menambah jaringan sekunder, sedangkan jasa meteorologi mulai digunakan untuk penerbangan pada tahun 1930 (BMKG, 2024) .  \nPada masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama instansi ini diubah menjadi Kisho Kauso Kusho. Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, instansi ini dibagimenjadi dua, yaitu Biro Meteorologi di Yogyakarta yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia, serta Jawatan Meteorologi dan Geofisika di Jakarta, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga. Padatanggal 21 Juli 1947, Pemerintah Belanda mengambil alih Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Pemerintah Belanda juga mengubah nama menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst. Sementara itu, ada juga Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang dipertahankan oleh Pemerintah Belanda Republik Indonesia, kedudukan instansi tersebut di Jl. Gondangdia, Jakarta. Nama dan status instansi ini terusberubah seiring waktu.  \nPada tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan negara Republik Indonesia dari Belanda, Meteorologisch en Geofisiche Dienst diubah menjadi Jawatan  \nMeteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Selanjutnya, pada tahun 1950, Indonesia secara resmi masuk sebagaianggota Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization) . Serta, Kepala Jawaran Meteorologi dan Geofisika menjadi Jawatan Meteorologimenjadi Permanent Representative of Indonesia with WMO. Kemudian secararesmi, Indonesia menjadi anggota Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization) atau WMO dan Kepala Jawatan Meteorologi dan Geofisika menjadi Perwakilan Tetap Indonesia di WMO pada tahun 1950.  \nPada tahun 1955, Jawatan Meteorologi dan Geofisika berganti nama menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika di bawah naungan Departemen Perhubungan. Namun, pada tahun 1960, lembaga ini kembali menggunakan nama Jawatan Meteorologi dan Geofisika dan berada di bawah Departemen Perhubungan Udara. Kemudian, pada tahun 1965 berubah nama menjadi Direktorat Meteorologi dan Geofisika yang masih tetap berada di bawah Departemen Perhubungan Udara. Padatahun 1972, berganti nama menjadi Pusat Meteorologi dan Geofisika dengan status instansi setara dengan eselon II di bawah Departemen Perhubungan. Kemudian pada akhirnya tahun 1980, statusnya meningkat menjadi instansi setingkat eselon Idengan nama Badan Meteorologi dan Geofisika, dan tetap berada di bawah Departemen Perhubungan.  \nPada tahun 2002, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 46 dan 48, struktur organisasi diubah menjadi Lembaga Pemerintahan Non Departemen (LPND) dengan tetap menggunakan nama Badan Meteorologi dan Geofisika. Kemudian berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, berubah nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan status tetapsebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab ataspengamatan, pemodelan, dan penyebaran informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Kemudian, pada","cbCaiu2fi8Inw1Q8","https://ap.wps.com/l/cbCaiu2fi8Inw1Q8","pdf",343620,12,"Indonesian","# BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT PKL\n## 2.1 Latar Belakang Instansi","[{\"question\":\"Kapan sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai?\",\"answer\":\"Pengamatan dimulai pada tahun 1841 oleh Dr. Onnen, pada awalnya dilakukan secara individu untuk data cuaca dan geofisika.\"},{\"question\":\"Apa saja perubahan nama instansi pengamatan dari masa ke masa?\",\"answer\":\"Nama instansi berubah beberapa kali, termasuk pada masa pendudukan Jepang menjadi Kisho Kauso Kusho, setelah itu menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst, lalu berkembang hingga dikenal sebagai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).\"},{\"question\":\"Apa tugas dan fungsi BMKG menurut bagian ini?\",\"answer\":\"BMKG bertugas mengkaji dan menyusun kebijakan nasional terkait meteorologi, klimatologi, dan geofisika; mengoordinasikan kegiatan; melaksanakan pengamatan, pengumpulan data, penyebaran informasi, serta analisis; dan menyediakan layanan informasi yang cepat, tepat, akurat, luas, serta mudah diterima masyarakat.\"}]","BAB II - GAMBARAN UMUM TEMPAT PKL - 2.1 Latar Belakang Instansi | PDF",18]