[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-199543-113":53,"doc-detail-199543-id":131},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":124,"head_meta":126,"extra_data":128,"updated_unix":130},113,"id","chapter-ii-contextual-research-history-of-the-indonesian-film-industry","BAB II - KONTEKSTUAL PENELITIAN - Sejarah Industri Perfilman Indonesia","","Bab II membahas sejarah industri perfilman Indonesia dengan memaparkan pembagian perkembangan film ke dalam beberapa babak. Uraian dimulai dari periode awal di bawah kekuasaan kolonial hingga kemunculan film bisu serta produksi film pertama berlatarkan legenda rakyat. Selanjutnya dibahas pembatasan pada masa Jepang, munculnya film bersuara, serta dinamika era pascakemerdekaan dan kebijakan pemerintah Orde Baru seperti sensor dan kuota. Bagian lain menyoroti kebangkitan pada 1970-an dan kemunduran ketika film sensasional dan televisi swasta mendominasi perhatian penonton.",{"@graph":63,"@context":123},[64,81,102],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":31,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/penelitian-laporan/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/chapter-ii-contextual-research-history-of-the-indonesian-film-industry/199543/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/chapter-ii-contextual-research-history-of-the-indonesian-film-industry/199543.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"Caleb Sterling","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-10-03","2026-09-04",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":77},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",{"@type":103,"mainEntity":104},"FAQPage",[105,111,115,119],{"name":106,"@type":107,"acceptedAnswer":108},"Bagaimana pembagian babak perkembangan perfilman Indonesia pada dokumen ini?","Question",{"text":109,"@type":110},"Dokumen membagi perkembangan perfilman Indonesia menjadi beberapa babak, yang dijelaskan melalui rentang tahun. Setiap babak memuat karakteristik dan dinamika yang berbeda, mulai dari periode awal hingga kemunduran di akhir 1980-an hingga 1990-an.","Answer",{"name":112,"@type":107,"acceptedAnswer":113},"Apa dampak masa penjajahan dan awal kemunculan film terhadap industri perfilman Indonesia?",{"text":114,"@type":110},"Perkembangan film dimulai sejak 1900 pada masa kolonial, lalu menghadirkan film dokumenter awal dan masuknya film dari China serta Amerika Serikat. Pada periode ini juga muncul film bisu dan produksi film Indonesia awal seperti Lotoeng Kasaroeng.",{"name":116,"@type":107,"acceptedAnswer":117},"Mengapa pembuatan film Indonesia dibatasi pada masa Jepang?",{"text":118,"@type":110},"Jepang melarang film-film barat masuk ke Indonesia dan memaksa sineas membuat film propaganda. Namun, sebagian sineas memanfaatkan situasi tersebut untuk mengkritik Jepang dan mempromosikan nasionalisme Indonesia.",{"name":120,"@type":107,"acceptedAnswer":121},"Kebijakan pemerintah Orde Baru bagaimana memengaruhi perfilman Indonesia?",{"text":122,"@type":110},"Pemerintah memperketat peraturan sensor dan mempromosikan tema nasionalisme. Selain itu, diterapkan sistem kuota yang mewajibkan bioskop memutar sejumlah film Indonesia setiap tahun, yang membantu industri lokal tetapi sekaligus membatasi kreativitas dan menurunkan kualitas.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":125,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":127,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":129,"site_id":56},199543,1788506274,{"code":4,"msg":5,"data":132},{"doc_id":129,"user_id":133,"nickname":89,"user_avatar":134,"doc_module":4,"category_id":30,"category_name":31,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":135,"file_id":136,"file_url":137,"file_type":138,"file_size":139,"view_count":77,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":140,"language":141,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":142,"faqs":143,"seo_title":144,"seo_description":61,"update_tm":130,"read_time":145},962084925290,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_085a072bc5b1113ac321206ff7593b45","BAB II  \nKONTEKSTUAL PENELITIAN  \n2.1 Sejarah Industri Perfilman Indonesia  \nPerkembangan film Indonesia dimulai pada tahun 1900 ketika Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial belanda. Garin Nugroho dan Dyna Herlinamembagi perkembangan film Indonesia menjadi 6 babak (Ardiyanti, 2020:168) . Babak pertama yaitu periode tahun 1900-1930. Pada tahun 1900, sebuah film dokumenter pertama tentang ekspedisi Ratu dan Raja Belanda sampai ke Kebon Jae, Tanah Abang ditayangkan. Kemudian, film-film dari China dan Amerika Serikat mulai muncul di Indonesia dalam dua setengah dekade berikutnya. Padatahun 1926, Indonesia berhasil memproduksi film pertama dengan judul Lotoeng Kasaroeng karya G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film Lotoeng Kasaroeng merupakan film dengan kisah asli Indonesia tentang legenda rakyat yang seringdibawakan dalam puisi Sunda. Pada periode ini, film-film yang ditayangkan adalah film bisu atau film tanpa suara.  \nBabak kedua yakni periode tahun 1930-1950. Pada periode ini, perfilman Indonesia sangat dibatasi pada pemerintahan Jepang. Jepang melarang film-film barat masuk ke Indonesia dan memaksa para sineas Indonesia untuk membuat film propaganda dengan tujuan mendukung upaya perang Jepang dan mempromosikan nilai-nilai Jepang. Namun, disisi lain, beberapa sineas Indonesia memanfaatkan situasi tersebut untuk mengkritik Jepang dan mempromosikan nasionalisme Indonesia. Pada tahun 1930, seorang wartawan Belanda bernama Albert Balink dan  \nWong Bersaudara membuat film berjudul Pareh, tetapi pembuatan film tersebuttidak berhasil sehingga tidak jadi ditayangkan. Kemudian, pada tahun 1931, film dengan suara berhasil dibuat oleh The Teng Chun dengan judul Boenga Roos dari Tjikembang. Film dengan suara lainnya yang berhasil dibuat dengan suara adalah film berjudul Film Indonesia Malaise hasil produksi Halimoen Film dan Sinjo Tjo Main di Film hasil produksi Wong Bersaudara dan Ph Carli, M. H. Shililing. Padatahun 1937 di tengah krisis ekonomi dunia, Albert Balink berhasil membuat film Terang Boelan atau Het Eiland. Film Terang Boelan atau Het Eiland merupakan film Indonesia pertama yang mendapatkan banyak sambutan baik dari penonton kelas bawah. Hingga pada tahun 1941, Indonesia berhasil membuat 30 judul film. Pada tahun 1942 hingga 1944, perusahaan film Jepang yang berada di Indonesia membuat 3 film denganjudul Bunga Semboja, 1001 Malam, dan Pulolenten. Padamasa kemerdekaan, pembuatan film Indonesia sempat terhenti karena adanyaproklamasi kemerdekaan (Ardiyanti, 2020:168) .  \nBabak ketiga yakni periode tahun 1950-1970. Pada babak ini, para sineas Indonesia berhasil membuat film-film populer seperti Tiga Dara serta Darah dan Doa. Film-film tersebut mengangkat tema-tema seperti cinta, keluarga, dan masalahsosial. Hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa pada tanggal 30 Maret 1950 kemudian ditetapkan menjadi Hari Film Nasional. Namun, datangnya film-film impor ke Indonesia menyebabkan kondisi perfilman Indonesia memburuk antara tahun 1950-an hingga 1956. Pada tahun 1953, masuknya film-film impor semakin memonopoli pasar film nasional. Akibatnya, produksi film Indonesia terus menurun menjadi 36 film sampai tahun 1956. Kemudian, pada tahun 1954,  \n“Perusahaan Persatuan Film Indonesia” didirikan oleh asosiasi industri film dengantujuan untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas produksi film. Pada tanggal 30 Maret-5 April 1955, Djamaludin Malik mengadakan Festival Film Indonesia untuk memperkenalkan film produksi Indonesia kepada masyarakat Indonesia. Pemenang dari festival tersebut adalah film Djam Malam karya Usmar Ismail yang menceritakan tentang mantan militer yang kembali ke masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kemenangan film Djam Malam pada Festival Film Indonesia membuat film tersebut menjadi perwakilan Indonesia dalam acara Asian Film Festival di Singapura. Pada tahun 1966, Departemen Penerangan yang didirikan oleh Pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto bertugas mengawasi industri perfilman.","cbCailTZCa4C0HYh","https://ap.wps.com/l/cbCailTZCa4C0HYh","pdf",2334196,18,"Indonesian","# Kontekstual Penelitian\n## Sejarah Industri Perfilman Indonesia\n## Babak I: 1900-1930\n## Babak II: 1930-1950\n## Babak III: 1950-1970\n## Babak IV: 1970-1985\n## Babak V: 1985-1998","[{\"question\":\"Bagaimana pembagian babak perkembangan perfilman Indonesia pada dokumen ini?\",\"answer\":\"Dokumen membagi perkembangan perfilman Indonesia menjadi beberapa babak, yang dijelaskan melalui rentang tahun. Setiap babak memuat karakteristik dan dinamika yang berbeda, mulai dari periode awal hingga kemunduran di akhir 1980-an hingga 1990-an.\"},{\"question\":\"Apa dampak masa penjajahan dan awal kemunculan film terhadap industri perfilman Indonesia?\",\"answer\":\"Perkembangan film dimulai sejak 1900 pada masa kolonial, lalu menghadirkan film dokumenter awal dan masuknya film dari China serta Amerika Serikat. Pada periode ini juga muncul film bisu dan produksi film Indonesia awal seperti Lotoeng Kasaroeng.\"},{\"question\":\"Mengapa pembuatan film Indonesia dibatasi pada masa Jepang?\",\"answer\":\"Jepang melarang film-film barat masuk ke Indonesia dan memaksa sineas membuat film propaganda. Namun, sebagian sineas memanfaatkan situasi tersebut untuk mengkritik Jepang dan mempromosikan nasionalisme Indonesia.\"},{\"question\":\"Kebijakan pemerintah Orde Baru bagaimana memengaruhi perfilman Indonesia?\",\"answer\":\"Pemerintah memperketat peraturan sensor dan mempromosikan tema nasionalisme. Selain itu, diterapkan sistem kuota yang mewajibkan bioskop memutar sejumlah film Indonesia setiap tahun, yang membantu industri lokal tetapi sekaligus membatasi kreativitas dan menurunkan kualitas.\"}]","BAB II - KONTEKSTUAL PENELITIAN - Sejarah Industri Perfilman Indonesia | PDF",28]