[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-199578-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":81,"doc-detail-199578-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":74,"head_meta":76,"extra_data":78,"updated_unix":80},113,"id","chapter-2-character-education-based-on-local-wisdom-basic-concepts-of-character-education","BAB II - PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL - Konsep Dasar Pendidikan Karakter","","Bagian ini membahas pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sebagai usaha terencana untuk membentuk dan mengarahkan karakter serta kedewasaan individu. Uraian menekankan sistem penanaman nilai yang meliputi pengetahuan, kesadaran/kemauan, dan tindakan dalam hubungan dengan Tuhan, diri, sesama, alam, lingkungan, serta kebangsaan. Dikemukakan pula pendapat Doni Koesoema tentang pembentukan karakter melalui proses pendidikan dalam arti luas, termasuk kebebasan individu di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Selanjutnya dijelaskan hakikat manusia, termasuk pandangan jiwa-raga dalam Islam dan tiga aliran filsafat besar: materialisme, idealisme, dan rasionalisme, serta urgensinya bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.",{"@graph":14,"@context":73},[15,34,56],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/agama-spiritualitas/","Agama & Spiritualitas",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/chapter-2-character-education-based-on-local-wisdom-basic-concepts-of-character-education/199578/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/chapter-2-character-education-based-on-local-wisdom-basic-concepts-of-character-education/199578.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Rowan","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-20","2026-09-04",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":55},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",5,{"@type":57,"mainEntity":58},"FAQPage",[59,65,69],{"name":60,"@type":61,"acceptedAnswer":62},"Apa pengertian pendidikan karakter dalam bagian ini?","Question",{"text":63,"@type":64},"Pendidikan karakter dipahami sebagai sistem penanaman nilai karakter yang mencakup pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk mengimplementasikan nilai hidup terhadap Tuhan, diri, sesama, alam, lingkungan, dan kebangsaan.","Answer",{"name":66,"@type":61,"acceptedAnswer":67},"Mengapa pendidikan karakter harus bersifat membebaskan menurut bagian ini?",{"text":68,"@type":64},"Karena hanya dalam kebebasan individu dapat menghayati kebebasannya dan bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya serta perkembangan orang lain, tanpa mengekang kreativitas dan potensi anak.",{"name":70,"@type":61,"acceptedAnswer":71},"Bagaimana hakikat manusia dijelaskan dalam pandangan Islam dan filsafat?",{"text":72,"@type":64},"Dalam pandangan Islam, hakikat manusia terdiri dari badan dan ruh (badan dari materi dan ruh berasal dari Allah), dengan daya pikir dan daya rasa. Dalam filsafat, hakikat manusia berkaitan materi dan jiwa/rohani, mencakup materialisme, idealisme, dan rasionalisme.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":75,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":77,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":79,"site_id":7},199578,1788506391,{"code":4,"msg":82,"data":83},"success",[84,88,92,96,100,104,108,112,116,120,124],{"id":85,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":86,"slug":87},55,60,"religion-spirituality",{"id":89,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":90,"show_sort_weight":86,"slug":91},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":93,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":94,"show_sort_weight":86,"slug":95},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":97,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":98,"show_sort_weight":86,"slug":99},51,"Komik","comic",{"id":101,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":102,"show_sort_weight":86,"slug":103},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":105,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":106,"show_sort_weight":86,"slug":107},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":109,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":110,"show_sort_weight":86,"slug":111},49,"Sastra","literature",{"id":113,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":114,"show_sort_weight":86,"slug":115},52,"Teknologi","technology",{"id":117,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":118,"show_sort_weight":86,"slug":119},50,"Ujian","exam",{"id":121,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":122,"show_sort_weight":86,"slug":123},57,"Umum","general",{"id":125,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":126,"show_sort_weight":4,"slug":127},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":82,"data":129},{"doc_id":79,"user_id":130,"nickname":42,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":85,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":55,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":137,"language":138,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":12,"update_tm":80,"read_time":142},1099514067415,"https://ap-avatar.wpscdn.com/avatar/100002539d78ffe74a7?x-image-process=image/resize,m_fixed,w_180,h_180&k=1779092875211072502","BAB II  \nPENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL  \nA. Konsep Dasar Pendidikan Karakter  \nKarakter pada diri seseorang dapat terbentuk karena adanya interaksidengan dunia luar. Cara seseorang menanggapi setiap keadaan biasanyadipengaruhi oleh kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Karakter menjadisesuatu yang abstrak tetapi begitu nyata dalam tingkah laku sehingga bisadibentuk dan diarahkan. Pembentukannya tentu saja dengan pengajaran dan pelatihan melalui proses pendidikan. Itulah yang bisa disebut sebagai pendidikan karakter, suatu usaha yang ditujukan untuk membentuk dan mengarahkan karakter serta kedewasaan seseorang.  \nPendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakanuntuk melaksanakan nilai-nilai hidup, baik terhadap Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, alam dan lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadimanusia yang berakhlak mulia. Pendidikan karakter menggarap berbagaiaspek dari pendidikan moral, pendidikan kewarganegaraan, dan jugapengembangan karakter.1  \nMenurut Doni Koesoema Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusifbagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri.2 Segala usaha baik yang formal di sekolah ataupun informal dalam keluarga dan lingkungan yang memberi kebebasan seseorang untuk berkembang merupakan prosespendidikan-dalam arti luas- . Dari sinilah karakter individu terbentuk, terutamadalam lingkungan keluarganya sebagai lingkungan pertama bagi tumbuhkembang seseorang.  \nPendidikan karakter harus bersifat membebaskan karena hanya dalam kebebasannya individu “dapat menghayati kebebasannya sehingga ia dapat  \n1Yudi Latif, Menyemai Karakter Bangsa,(Jakarta: Kompas, 2009), hlm. 82-83.  \n2Doni Koesoema, Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman Global,(Jakarta: Grafindo, 2007), hlm. 194.  \n15  \nbertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain dalam hidup mereka”.3 Kebebasan dalam hal ini berarti tidak mengekang kreativitas dan potensi anak dengan belenggubelenggu sekolah atau keotoriteran orang tua.  \nMembahas tentang pendidikan karakter, sama halnya denganmembahas manusia sebagai pribadi serta perilakunya dalam masyarakat. Tentu saja hal itu menyangkut permasalahan kebudayaan, etika, moral danakhlak. Dengan demikian akan dapat dipahami urgensi pendidikan karakter bagi kehidupan manusia dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa.  \n1. Hakikat Manusia  \nHakikat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya, yakni jiwa dan raga. Dalam pandangan Islam, hakikatmanusia itu terdiri dari badan dan ruh, badan terbuat dari materi (tanah) sedangkan ruh berasal dari Allah SWT. Ruh manusia mempunyai duadaya, yakni daya pikir (akal) dan daya rasa (kalbu) .4 Sementara dalampandangan filsafat5, hakikat manusia itu berkaitan antara materi dan jiwa/rohani. Terkait dengan hal tersebut, pandangan tentang manusia didalam pemikiran filsafat berkisar pada tiga kelompok besar, yaitu Materialisme6, Idealisme7, dan Rasionalisme8.  \nMaterialisme telah diawali sejak filsafat Yunani yakni sejak munculnya filsuf alam Yunani. Fokus dari aliran ini adalah benda, karenaitu bagi penganut materialisme, yang nyata dari segala sesuatu hanya dunia  \n3Ibid, hlm. 123.  \n4Zainuddin Ali, Pendidikan Agama Islam,(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 14-15.  \n5Filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang merupakan kata majemuk dari philo yang berarti cinta dan shopia yang artinya bijaksana. Jadi filsafat mempunyai arti cintakebijaksanaa. Secara terminologi, filsafat didefinisikan beragam oleh para filosof, diantaranya ada yang mengatakan bahwa fisafat adalah suatu sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang diterima secara kritis. Lihat Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filssafat dan Etika, (Jakarta: Prenada Media, 2005), cet. II, hlm. 1-3.  \n6Materialisme dalam arti sempit adalah paham yang mengataka","cbCaio3vYuGl2Be2","https://ap.wps.com/l/cbCaio3vYuGl2Be2","pdf",228385,29,"Indonesian","# Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal\n## Konsep Dasar Pendidikan Karakter\n## Hakikat Manusia","[{\"question\":\"Apa pengertian pendidikan karakter dalam bagian ini?\",\"answer\":\"Pendidikan karakter dipahami sebagai sistem penanaman nilai karakter yang mencakup pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk mengimplementasikan nilai hidup terhadap Tuhan, diri, sesama, alam, lingkungan, dan kebangsaan.\"},{\"question\":\"Mengapa pendidikan karakter harus bersifat membebaskan menurut bagian ini?\",\"answer\":\"Karena hanya dalam kebebasan individu dapat menghayati kebebasannya dan bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya serta perkembangan orang lain, tanpa mengekang kreativitas dan potensi anak.\"},{\"question\":\"Bagaimana hakikat manusia dijelaskan dalam pandangan Islam dan filsafat?\",\"answer\":\"Dalam pandangan Islam, hakikat manusia terdiri dari badan dan ruh (badan dari materi dan ruh berasal dari Allah), dengan daya pikir dan daya rasa. Dalam filsafat, hakikat manusia berkaitan materi dan jiwa/rohani, mencakup materialisme, idealisme, dan rasionalisme.\"}]","BAB II - PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KEARIFAN LOKAL - Konsep Dasar Pendidikan Karakter | PDF",45]