[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-seo-228233-113":3,"detail-sidebar-cat-0-id-113":80,"doc-detail-228233-id":127},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"ok",{"site_id":7,"language":8,"slug":9,"title":10,"keywords":11,"description":12,"schema_data":13,"social_meta":73,"head_meta":75,"extra_data":77,"updated_unix":79},113,"id","chapter-1-introduction-background-problem-statement-and-research-objectives","BAB I - PENDAHULUAN - Latar Belakang, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian","","Peran ilmu kedokteran forensik sangat menentukan dalam identifikasi jenazah tidak dikenal, kondisi yang rusak/hangus/terbakar, serta korban pada kecelakaan massal, kejahatan terencana maupun tidak terencana, dan bencana yang menimbulkan banyak korban. Penentuan jenis kelamin diperlukan hingga proses peradilan dan keputusan perkara. Penggunaan tes DNA forensik dengan gen Amelogenin melalui kit PCR dibahas beserta dasar pembuktian minimum, alat bukti, dan barang bukti dalam KUHAP. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bercak urin sebagai bahan alternatif identifikasi jenis kelamin melalui pemeriksaan DNA Amelogenin dan kromosom Y, mendukung pemecahan kasus tindak kejahatan dan bencana massal.",{"@graph":14,"@context":72},[15,34,55],{"@type":16,"itemListElement":17},"BreadcrumbList",[18,23,27,31],{"item":19,"name":20,"@type":21,"position":22},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":24,"name":25,"@type":21,"position":26},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":28,"name":29,"@type":21,"position":30},"https://docshare.wps.com/id/document/layanan-kesehatan/","Layanan Kesehatan",3,{"item":32,"name":10,"@type":21,"position":33},"https://docshare.wps.com/id/document/chapter-1-introduction-background-problem-statement-and-research-objectives/228233/",4,{"url":32,"name":10,"@type":35,"image":36,"author":41,"headline":10,"publisher":44,"fileFormat":47,"inLanguage":8,"description":12,"dateModified":48,"datePublished":49,"encodingFormat":47,"isAccessibleForFree":50,"interactionStatistic":51},"DigitalDocument",{"url":37,"@type":38,"width":39,"height":40},"https://docshare.wps.com/thumbnails/chapter-1-introduction-background-problem-statement-and-research-objectives/228233.png","ImageObject",300,407,{"name":42,"@type":43},"Terk","Person",{"url":19,"name":45,"@type":46},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-30","2026-09-10",true,{"@type":52,"interactionType":53,"userInteractionCount":33},"InteractionCounter",{"@type":54},"ViewAction",{"@type":56,"mainEntity":57},"FAQPage",[58,64,68],{"name":59,"@type":60,"acceptedAnswer":61},"Mengapa penentuan jenis kelamin penting dalam proses penyidikan dan peradilan?","Question",{"text":62,"@type":63},"Penentuan jenis kelamin diperlukan untuk rangkaian proses hukum hingga putusan di pengadilan. Identifikasi yang keliru dapat berakibat fatal dalam proses peradilan dan merugikan pihak korban atau pelaku.","Answer",{"name":65,"@type":60,"acceptedAnswer":66},"Bagaimana penggunaan tes DNA forensik dengan gen Amelogenin mendukung identifikasi jenis kelamin?",{"text":67,"@type":63},"Gen Amelogenin menyimpan informasi genetik yang unik pada kromosom X dan Y. Uji Amelogenin menggunakan kit PCR yang memiliki keandalan tinggi dan dapat diterima sebagai bukti hukum di pengadilan.",{"name":69,"@type":60,"acceptedAnswer":70},"Apa yang menjadi fokus penelitian terkait bercak urin?",{"text":71,"@type":63},"Penelitian terfokus untuk membuktikan bercak urin sebagai bahan alternatif dalam identifikasi jenis kelamin melalui pemeriksaan DNA dengan gen Amelogenin dan kromosom Y. Hasilnya diharapkan membantu pemecahan kasus tindak kejahatan dan bencana massal.","https://schema.org",{"og:url":32,"og:type":74,"og:title":10,"og:site_name":45,"og:description":12},"article",{"robots":76,"canonical":32},"index,follow",{"doc_id":78,"site_id":7},228233,1789023370,{"code":4,"msg":81,"data":82},"success",[83,88,92,96,100,103,107,111,115,119,123],{"id":84,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":85,"show_sort_weight":86,"slug":87},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":89,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":90,"show_sort_weight":86,"slug":91},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":93,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":94,"show_sort_weight":86,"slug":95},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":97,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":98,"show_sort_weight":86,"slug":99},51,"Komik","comic",{"id":101,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":29,"show_sort_weight":86,"slug":102},53,"healthcare",{"id":104,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":105,"show_sort_weight":86,"slug":106},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":108,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":109,"show_sort_weight":86,"slug":110},49,"Sastra","literature",{"id":112,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":113,"show_sort_weight":86,"slug":114},52,"Teknologi","technology",{"id":116,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":117,"show_sort_weight":86,"slug":118},50,"Ujian","exam",{"id":120,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":121,"show_sort_weight":86,"slug":122},57,"Umum","general",{"id":124,"doc_module":4,"doc_module_name":25,"category_name":125,"show_sort_weight":4,"slug":126},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":81,"data":128},{"doc_id":78,"user_id":129,"nickname":42,"user_avatar":130,"doc_module":4,"category_id":101,"category_name":29,"doc_title":10,"doc_description":12,"doc_content":131,"file_id":132,"file_url":133,"file_type":134,"file_size":135,"view_count":33,"is_deleted":4,"is_public":22,"is_downloadable":22,"audit_status":22,"page_count":136,"language":137,"language_code":8,"site_id":7,"html_lang":8,"table_of_contents":138,"faqs":139,"seo_title":140,"seo_description":12,"update_tm":79,"read_time":141},1099525198933,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_155a257f0dc6eb9ab79c44ca47cae57d","BAB I  \nPENDAHULUAN  \n# 1.1 LATAR BELAKANG\n\nPeranIlmu Kedokteran Forensik dalamidentifikasi sangat besar terutama padajenazah tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus, terbakar, danpadakecelakaan massal, kejahatan berencana atautidakberencana, bencana alam atauhuru-hara yang mengakibatkan banyak korban mati, dan hanya menyisahkanpotongan tubuh, kerangka manusia dan properti. Identifikasi forensik juga berperandalamberbagaikasus lain seperti penculikan anak, bayi yang tertukar ataudiragukanorang tuanya, bertujuan untuk membantu penyidik untuk memecahkan suatu kasusdan identifikasi korban yang disebutkan diatas, maupun identifikasi personal demipenegakkanhukum dankeadilan, karena sedikit kesalahan dalam proses identifikasiakan berakibat fatal dalam proses peradilan dantentunya merugikan salah satupihakkorban atau pelaku (Sampurna Budi.1997) .  \nPenentuan Jenis kelamin seseorang sangat penting untuk penyidikan sampaiputusan hukuman di tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara dipengadilan, Penggunaan tes profil Deoxyribo Nucleid Acid (DNA) forensik dikedokteran gigi menawarkan perspektif baru dalam identifikasi manusia. DNAbertanggung jawab untuk menyimpan semua materi genetik yang unik pada setiapindividu. Tes DNA saat ini tersedia memiliki keandalan yang tinggi dan diterimasebagai bukti hukum di pengadilan. Pada penelitian ini untuk menentukan jeniskelamin peneliti menggunakan tes DNA gen Amelogenin, uji Amelogenin ini sudahtersedia berupa kit Polymerase chain reaction (PCR) yang dipasarkan secarakomersial. Uji jenis kelamin Amelogenin paling banyak digunakan yang berperan  \npenting dalam pemecahan kasus forensik, diagnosis prenatal, data base DNA danpenyimpanan sampel darah (Lattanzi et al.2005) . Gen Amelogenin merupakan gensalinan tunggal yang terletak di kromosom X dan Kromosom Y, lokasi genAmelogenin untuk identifikasi seks kromosom memiliki variabilitas baik antarabentuk kromosom X dan bentuk kromosom Y dan antara alel Amelogenin antarpopulasi berbeda dikarenakan Amelogenin tidak mengkombinasi kromosom Y yangsecara efektif mengisolasitekanan seleksi secara normal (Akane.1998) .  \nPrinsip minimum pembuktian menjelaskan bahwa untuk dapat membuktikanadanya kesalahan terdakwa sampai dapat dijatuhkan putusan pidananya maka harusdibuktikan minimal dengandua alatbukti yang sah. Ketiadaan dua alat bukti yang sahtersebut maka akan mengakibatkan terdakwa bebas, apabila suatu perkara pidanatidakmemiliki minimal dua alat bukti sejak dilakukannya penyidikandan penuntutanmaka akan mengakibatkan dihentikannnya proses penyidikan oleh dan jugadihentikannya proses penuntutan oleh penuntut umum (Kepolisian RepublikIndonesia, 2000), Pada kasus forensik tidak dapat dipastikan barang bukti apa yangtertinggal di TKP. Dalam pencarian barang bukti TKP sering disebut dalam setiapkasus kejahatan, TKP singkatan dari Tempat kejadian perkara adalah tempatditemukannya alat bukti, bukti petunjuk dan atau tempat terjadinya peristiwakejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Alat bukti adalahsesuatu yang sah untuk diajukan ke pengadilan guna menentukan kebenaran suatukasus yang disangkal. Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum AcaraPidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah keterangan saksi,keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Penyidik harus mampumengenali, mengumpulkan, dan menggunakan alat bukti dalam melakukanpenyidikan kasus kriminal guna keberhasilan penyelidikan.  \nAlat bukti dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :  \na. Testimonial Evidence ( Pernyataandibawah sumpah/Response to questioning) .  \nb. Real/Physical Evidence (barang bukti sebagai keberadaan saat kejadian yangterbentuk danterukur) .  \nBukti petunjuk yaitu tanda/pengenal/bekas tertentu yang dapat menyatakan telahterjadi suatu perbuatan, Bukti petunjuk harus netral (Tidak Memihak yaitu suatupetunjukkearah pemikiran apakah perbuatan itu relevan atautidak sehingga bergunauntuk menata hubungan / ","cbCaicvqnLcGwSXs","https://ap.wps.com/l/cbCaicvqnLcGwSXs","pdf",35903,5,"Indonesian","# 1.1 LATAR BELAKANG\n## Identifikasi forensik dan kebutuhan penentuan jenis kelamin\n## Tes DNA forensik dan gen Amelogenin\n## Prinsip minimum pembuktian, alat bukti, dan barang bukti\n## Urin sebagai bahan alternatif identifikasi\n# 1.2 RUMUSAN MASALAH\n# 1.3 TUJUAN PENELITIAN\n## 1.3.1 TUJUAN UMUM","[{\"question\":\"Mengapa penentuan jenis kelamin penting dalam proses penyidikan dan peradilan?\",\"answer\":\"Penentuan jenis kelamin diperlukan untuk rangkaian proses hukum hingga putusan di pengadilan. Identifikasi yang keliru dapat berakibat fatal dalam proses peradilan dan merugikan pihak korban atau pelaku.\"},{\"question\":\"Bagaimana penggunaan tes DNA forensik dengan gen Amelogenin mendukung identifikasi jenis kelamin?\",\"answer\":\"Gen Amelogenin menyimpan informasi genetik yang unik pada kromosom X dan Y. Uji Amelogenin menggunakan kit PCR yang memiliki keandalan tinggi dan dapat diterima sebagai bukti hukum di pengadilan.\"},{\"question\":\"Apa yang menjadi fokus penelitian terkait bercak urin?\",\"answer\":\"Penelitian terfokus untuk membuktikan bercak urin sebagai bahan alternatif dalam identifikasi jenis kelamin melalui pemeriksaan DNA dengan gen Amelogenin dan kromosom Y. Hasilnya diharapkan membantu pemecahan kasus tindak kejahatan dan bencana massal.\"}]","BAB I - PENDAHULUAN - Latar Belakang, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian | PDF",8]