[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"doc-detail-129896-id":3,"doc-seo-129896-113":29,"detail-sidebar-cat-0-id-113":72},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",{"doc_id":7,"user_id":8,"nickname":9,"user_avatar":10,"doc_module":4,"category_id":11,"category_name":12,"doc_title":13,"doc_description":14,"doc_content":15,"file_id":16,"file_url":17,"file_type":18,"file_size":19,"view_count":20,"is_deleted":4,"is_public":21,"is_downloadable":21,"audit_status":21,"page_count":4,"language":22,"language_code":23,"site_id":24,"html_lang":23,"table_of_contents":25,"faqs":25,"seo_title":26,"seo_description":27,"update_tm":28,"read_time":4},129896,962084925290,"Caleb Sterling","https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_085a072bc5b1113ac321206ff7593b45",48,"Cerita & Novel","Arjuna Mencari Cinta: Membongkar Konspirasi Keluarga","Novel Arjuna Mencari Cinta mengisahkan perjuangan Tiara yang amnesia akibat kecelakaan. Bersama Arjuna, ia membongkar konspirasi licik ibu tiri dan adik tirinya, mulai dari skandal foto palsu, manipulasi wasiat, hingga sabotase rem mobil yang mematikan. Dari korban yang ketakutan, Tiara bangkit melawan demi mengungkap kebenaran. Ikuti kisah ketegangan, cinta, dan kesetiaan yang mendebarkan ini. Akankah cinta mereka menang melawan kebohongan keluarga?","\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(54, 95, 145);\">Bab 1: Bayangan Setelah Kabut \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Hujan Bandung turun tipis seperti jarum yang tidak bermaksud menyakiti, tetapi cukup membuat \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">jalanan mengilap dan membuat Tiara melambatkan langkah di beranda rumah ayahnya. Udara \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">membawa bau tanah basah dan daun kenanga dari halaman samping. Di genggamannya ada \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">gelas hangat berisi jahe; uapnya naik pelan, seolah mengingatkan bahwa tubuhnya masih belajar \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">percaya pada pagi. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Arjuna duduk di kursi rotan di sebelahnya, jas hujan dilipat di pangkuan, kemeja putih digulung \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">sampai siku. Matanya tidak lepas dari wajah Tiara setiap kali angin berembus kencang. Sejak \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tiara keluar dari tahap rehabilitasi intensif, ia seperti membawa bayangan di belakang kelopak \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">mata—bayangan lampu rumah sakit, suara monitor, dan kekosongan yang sempat memisahkan \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">mereka. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Pusingnya berkurang?” tanya Arjuna pelan. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tiara mengangguk, lalu tersenyum tipis. “Kalau kamu terus bertanya seperti itu, aku jadi merasa \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">seperti barang pecah yang sedang diuji.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Kamu bukan barang,” sahut Arjuna cepat. “Kamu orang yang aku tunggu sampai aku hampir \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">gila.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Kalimat itu membuat dada Tiara hangat dan perih sekaligus. Ia ingat sebagian: bahwa ada laki\u0002\u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">laki yang tidak pergi dari ruang tunggu, bahwa ada nama “Arjuna” yang terus disebut perawat, \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">bahwa ada tangan yang menggenggam jarinya meski ia tidak mengenal wajah di depannya. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Sisanya masih kabur—seperti foto yang direndam air terlalu lama. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Di dalam rumah, suara Hendra terdengar sedang berbicara di telepon. Nada ayahnya terdengar \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">tenteram, hampir terlalu tenteram untuk seseorang yang beberapa bulan lalu menangis di lorong \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">ICU. Tiara menatap pintu kaca. Ada rasa rindu yang aneh: rindu pada ayah yang dulu lebih \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">tegas, sebelum rumah ini diisi senyum-senyum baru yang terlalu rapi. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Ibu Mirna bilang mau mampir siang ini,” kata Arjuna, hati-hati, seolah menyebut nama itu bisa \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">membuat udara retak. “Katanya bawa kue. Damai-damaian.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tiara menunduk ke gelasnya. “Damai yang dibawa di atas nampan biasanya punya harga.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">1Arjuna menghela napas. “Aku bisa bilang mereka jangan datang.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Jangan.” Tiara menggeleng. “Kalau aku terus bersembunyi, aku tidak akan tahu mana yang \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">nyata dan mana yang hanya takutku sendiri.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Arjuna mengangguk, meski rahangnya mengeras. Ia menyentuh punggung tangan Tiara, ibu jari \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">mengusap pelan bekas luka tipis di pergelangan—bekas dari malam yang hampir merenggut \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">semuanya. “Aku di sini. Apa pun yang mereka omongkan, kamu tidak sendirian.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Menjelang siang, mobil hitam menggilap berhenti di depan pagar. Mirna turun lebih dulu dengan \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">kebaya modern warna krem, rambut digulung rapi, senyum setajam wangi parfum mahalnya. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Vania menyusul, membawa kotak kue bertali pita merah muda, wajahnya cerah seolah tidak \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">pernah ada luka di antara mereka. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Tiara sayang,” sapa Mirna, membuka kedua tangan. “Akhirnya kelihatan lebih segar. Ibu \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">senang sekali.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tiara menerima pelukan itu karena sopan santun masih bekerja lebih cepat daripada naluri. Bau \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Mirna—mawar putih dan sesuatu yang dingin—membuat tenggorokannya mengencang. Vania \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">menatap Arjuna lebih lama daripada yang sopan, lalu tersenyum ke Tiara. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Kak, ini kue lemon yang kamu suka dulu,” kata Vania manis. “Atau… kamu belum ingat? \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tidak apa-apa. Nanti kita bikin kenangan baru.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Kata “belum ingat” jatuh seperti batu kecil ke gelas. Hendra muncul dari dalam, wajahnya lega \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">melihat “keluarganya” berkumpul. “Bagus, bus. Sudah lama rumah ini sepi tanpa tawa.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Mereka duduk di ruang tamu yang jendela besarnya menghadap pohon mangga. Mirna menuang \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">teh sendiri, gerakan anggun yang membuat siapa pun merasa kasar jika menolak. Vania \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">meletakkan ponselnya di meja dengan layar menghadap bawah, tetapi sekali-sekali ibu jarinya \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">mengetuk sisi gawai itu seolah menunggu getaran penting. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Arjuna,” kata Mirna lembut, “terima kasih sudah menjaga Tiara. Keluarga Putra berutang budi. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Kami ingin mulai dari nol. Tidak ada lagi salah paham.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Arjuna tersenyum tipis, matanya tidak ikut tersenyum. “Kalau benar dari nol, Bu, mulai dari \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">kejujuran. Bukan dari kue.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">2Hendra batuk kecil. “Nak, jangan tegang. Mirna sudah banyak membantu biaya perawatan.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tiara menatap ayahnya. “Ayah… membantu bagaimana?” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Mirna menyela cepat, nada bipih. “Oh, soal kecil. Administrasi rumah sakit, urusan asuransi, \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">menenangkan wartawan yang suka mengarang. Ayahmu sibuk, jadi Ibu yang atur. Semua demi \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">kamu, Tiara.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Vania tersenyum. “Iya. Dulu sempat ada yang bilang kecelakaan itu… dramatiss. Untung Ibu \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">cepat menutup.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Arjuna menoleh tajam. “Menutup apa?” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Maksudnya menenangkan,” koreksi Mirna sambil tertawa kecil. “Bahasa anak muda kadang \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">kasar. Yang penting sekarang Tiara aman.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Di sudut ruang, seorang pembantu lama—Bu Sari—membawa nampan kacang. Saat \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">meletakkannya, tangan perempuan itu gemetar sebentar. Matanya sempat bertemu mata Arjuna, \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">lalu buru-buru menunduk. Di saku celemek Bu Sari, sekilas tampak ujung flashdisk hitam yang \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">terbungkus plastik. Arjuna melihatnya, tetapi belum sempat bertanya karena Vania sudah \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">menyodorkan potongan kue ke arah Tiara. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">“Coba, Kak. Manisnya pas.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Tiara menerima. Rasanya memang lemon, asam ringan di ujung lidah, tetapi ada aftertaste yang \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">membuatnya ingin minum air. Ia tersenyum sopan. “Terima kasih.” \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Percakapan beralih ke rencana “keluarga utuh”: makan malam Minggu, foto bersama, mungkin \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">liburan singkat ke Lembang. Hendra mengangguk-angguk seperti orang yang lapar akan \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">normalitas. Tiara mendengar semuanya seperti mendengar radio dari kamar sebelah—suara ada, \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">makna goyah. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Ketika Mirna pergi ke dapur “membantu” Bu Sari, Vania berdiri hendak ke kamar mandi. \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Ponselnya tertinggal di meja. Layar menyala karena notifikasi, dan sebelum gelap kembali, \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">Arjuna sempat melihat pratinjau singkat: nama kontak “Rizal – Portal Hot”, diikuti pesan masuk \u003C/span>\u003C/p>\u003Cp>\u003Cspan style=\"color: rgb(0, 0, 0);\">yang hanya terbaca separuh, “Foto siap kalau…”\u003C/span>\u003C/p>","cbCaiutSgp30fYFB","https://ap.wps.com/l/cbCaiutSgp30fYFB","pdf",392553,4,1,"Indonesian","id",113,"","Arjuna Mencari Cinta: Cinta, Amnesia & Dendam | PDF","Baca fanfiction Arjuna Mencari Cinta! Tiara & Arjuna membongkar foto palsu dan sabotase keluarga. Alternatif kisah dari drama TV favoritmu. Klik sekarang!",1786501474,{"code":4,"msg":30,"data":31},"ok",{"site_id":24,"language":23,"slug":32,"title":26,"keywords":25,"description":27,"schema_data":33,"social_meta":67,"head_meta":69,"extra_data":71,"updated_unix":28},"arjuna-mencari-cinta-membongkar-konspirasi-keluarga",{"@graph":34,"@context":66},[35,51],{"@type":36,"itemListElement":37},"BreadcrumbList",[38,42,46,49],{"item":39,"name":40,"@type":41,"position":21},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",{"item":43,"name":44,"@type":41,"position":45},"https://docshare.wps.com/id/document/","Document",2,{"item":47,"name":12,"@type":41,"position":48},"https://docshare.wps.com/id/document/cerita-novel/",3,{"item":50,"name":26,"@type":41,"position":20},"https://docshare.wps.com/id/document/arjuna-mencari-cinta-membongkar-konspirasi-keluarga/129896/",{"url":50,"name":26,"@type":52,"author":53,"headline":26,"publisher":55,"fileFormat":58,"inLanguage":23,"description":27,"dateModified":59,"datePublished":60,"encodingFormat":58,"isAccessibleForFree":61,"interactionStatistic":62},"DigitalDocument",{"name":9,"@type":54},"Person",{"url":39,"name":56,"@type":57},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-08-17","2026-08-12",true,{"@type":63,"interactionType":64,"userInteractionCount":20},"InteractionCounter",{"@type":65},"ViewAction","https://schema.org",{"og:url":50,"og:type":68,"og:title":26,"og:site_name":56,"og:description":27},"article",{"robots":70,"canonical":50},"index,follow",{"doc_id":7,"site_id":24},{"code":4,"msg":5,"data":73},[74,79,81,85,89,93,97,101,105,109,113],{"id":75,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":76,"show_sort_weight":77,"slug":78},55,"Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":11,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":12,"show_sort_weight":77,"slug":80},"story-novel",{"id":82,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":83,"show_sort_weight":77,"slug":84},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":86,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":87,"show_sort_weight":77,"slug":88},51,"Komik","comic",{"id":90,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":91,"show_sort_weight":77,"slug":92},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":94,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":95,"show_sort_weight":77,"slug":96},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":98,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":99,"show_sort_weight":77,"slug":100},49,"Sastra","literature",{"id":102,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":103,"show_sort_weight":77,"slug":104},52,"Teknologi","technology",{"id":106,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":107,"show_sort_weight":77,"slug":108},50,"Ujian","exam",{"id":110,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":111,"show_sort_weight":77,"slug":112},57,"Umum","general",{"id":114,"doc_module":4,"doc_module_name":44,"category_name":115,"show_sort_weight":4,"slug":116},181,"Formulir","formulir"]