[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"detail-sidebar-cat-0-id-113":3,"doc-seo-199421-113":53,"doc-detail-199421-id":128},{"code":4,"msg":5,"data":6},0,"success",[7,13,17,21,25,29,33,37,41,45,49],{"id":8,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":10,"show_sort_weight":11,"slug":12},55,"Document","Agama & Spiritualitas",60,"religion-spirituality",{"id":14,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":15,"show_sort_weight":11,"slug":16},48,"Cerita & Novel","story-novel",{"id":18,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":19,"show_sort_weight":11,"slug":20},56,"Gaya Hidup","lifestyle",{"id":22,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":23,"show_sort_weight":11,"slug":24},51,"Komik","comic",{"id":26,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":27,"show_sort_weight":11,"slug":28},53,"Layanan Kesehatan","healthcare",{"id":30,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":31,"show_sort_weight":11,"slug":32},54,"Penelitian & Laporan","research-report",{"id":34,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":35,"show_sort_weight":11,"slug":36},49,"Sastra","literature",{"id":38,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":39,"show_sort_weight":11,"slug":40},52,"Teknologi","technology",{"id":42,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":43,"show_sort_weight":11,"slug":44},50,"Ujian","exam",{"id":46,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":47,"show_sort_weight":11,"slug":48},57,"Umum","general",{"id":50,"doc_module":4,"doc_module_name":9,"category_name":51,"show_sort_weight":4,"slug":52},181,"Formulir","formulir",{"code":4,"msg":54,"data":55},"ok",{"site_id":56,"language":57,"slug":58,"title":59,"keywords":60,"description":61,"schema_data":62,"social_meta":121,"head_meta":123,"extra_data":125,"updated_unix":127},113,"id","acehnology-examining-signs-of-culture","Acehnologi - Menebah Tanda-Tanda Kebudayaan","","Tulisan ini membahas gagasan “Acehnologi” sebagai pengetahuan tentang Aceh, berangkat dari pembacaan karya antropologis Snouck C. Hurgronje. Fokus utamanya mencakup momentum pembagian warisan di Aceh, peran uleebalang dan ha’pra’e, serta fungsi meunasah dalam praktik sosial-budaya, termasuk potensi sebagai ruang pementasan tradisi rakyat. Artikel menilai keterbatasan dan muatan politis beberapa gambaran Hurgronje, sekaligus menyoroti minimnya rekonstruksi kebudayaan Aceh pascakarya tersebut dan kecenderungan plagiasi atas pengetahuan lama.",{"@graph":63,"@context":120},[64,81,103],{"@type":65,"itemListElement":66},"BreadcrumbList",[67,72,75,78],{"item":68,"name":69,"@type":70,"position":71},"https://docshare.wps.com","Home","ListItem",1,{"item":73,"name":9,"@type":70,"position":74},"https://docshare.wps.com/id/document/",2,{"item":76,"name":35,"@type":70,"position":77},"https://docshare.wps.com/id/document/sastra/",3,{"item":79,"name":59,"@type":70,"position":80},"https://docshare.wps.com/id/document/acehnology-examining-signs-of-culture/199421/",4,{"url":79,"name":59,"@type":82,"image":83,"author":88,"headline":59,"publisher":91,"fileFormat":94,"inLanguage":57,"description":61,"dateModified":95,"datePublished":96,"encodingFormat":94,"isAccessibleForFree":97,"interactionStatistic":98},"DigitalDocument",{"url":84,"@type":85,"width":86,"height":87},"https://docshare.wps.com/thumbnails/acehnology-examining-signs-of-culture/199421.png","ImageObject",300,407,{"name":89,"@type":90},"\tWilliam","Person",{"url":68,"name":92,"@type":93},"DocShare","Organization","application/pdf","2026-09-25","2026-09-04",true,{"@type":99,"interactionType":100,"userInteractionCount":102},"InteractionCounter",{"@type":101},"ViewAction",8,{"@type":104,"mainEntity":105},"FAQPage",[106,112,116],{"name":107,"@type":108,"acceptedAnswer":109},"Apa yang dimaksud dengan “Acehnologi” dalam tulisan ini?","Question",{"text":110,"@type":111},"“Acehnologi” dimaknai sebagai pengetahuan atau cara memahami Aceh, sebagaimana upaya Hurgronje yang menggunakan pendekatan antropologi untuk menggambarkan Aceh sebagai jaring-jaring makna kehidupan.","Answer",{"name":113,"@type":108,"acceptedAnswer":114},"Bagaimana momentum pembagian warisan di Aceh menurut kutipan Hurgronje?",{"text":115,"@type":111},"Pembagian warisan dikatakan diatur setelah urusan pemakaman selesai, pada hari khanduri rayeuk, yakni hari ke-44 sesudah kematian, dengan uleebalang berwenang bila diminta oleh keuchik atau teungku gampong.",{"name":117,"@type":108,"acceptedAnswer":118},"Fungsi meunasah apa yang dipertanyakan penulis dari sudut pandang sejarah?",{"text":119,"@type":111},"Penulis menilai praktik meunasah sebagai tempat pertunjukan sandiwara rakyat, lalu bertanya apakah fungsi tersebut juga pernah ada dalam sejarah Aceh, meski praktik modern lebih sering dikaitkan dengan perayaan barzanji atau dalaekheirat.","https://schema.org",{"og:url":79,"og:type":122,"og:title":59,"og:site_name":92,"og:description":61},"article",{"robots":124,"canonical":79},"index,follow",{"doc_id":126,"site_id":56},199421,1788505932,{"code":4,"msg":5,"data":129},{"doc_id":126,"user_id":130,"nickname":89,"user_avatar":131,"doc_module":4,"category_id":34,"category_name":35,"doc_title":59,"doc_description":61,"doc_content":132,"file_id":133,"file_url":134,"file_type":135,"file_size":136,"view_count":102,"is_deleted":4,"is_public":71,"is_downloadable":71,"audit_status":71,"page_count":137,"language":138,"language_code":57,"site_id":56,"html_lang":57,"table_of_contents":139,"faqs":140,"seo_title":141,"seo_description":61,"update_tm":127,"read_time":142},5909887254083,"https://ap-avatar.wpscdn.com/davatar_276721f389ce27ea32af1340a28f341c","Acehnologi : Menebah Tanda-Tanda Kebudayaan  \nTeuku Kemal Fasya1  \n“Hari yang ditunggu-tunggu. Sesudah semua urusan pemakaman yang paling penting selesai, baru pembagian warisan diatur. Jadi dimaksudkan hari itu telah tiba (ka trok uroe), yakni hari ke-44 atauke-100 sesudah kematian.”2  \nCuplikan kalimat di atas diambil dari buku karangan Dr. Snouck C. Hurgronje, Aceh : Rakyat dan Adat Istiadatnya, (1893) . Bagian itu menjelaskan tentang momentum pembagian warisan di Aceh yang dianggap baru diadakan pada hari khanduri rayeuk, yaitu pada hari ke-44 kematian. Di situ jugadisebutkan bahwa yang berwenang melakukan pembagian warisan adalah uleebalang jika dimintaoleh keuchik atau teungku gampong. Untuk proses itu ia mendapatkan 10 persen dari pembagian yang disebut dengan ha’pra’e (haq al-fara-idh) .  \nBuku itu berisi tiga bab besar, yang berbicara tentang Aceh dari sisi demografis, pemerintahan, dan peradilan; perayaan, musim pertanian, hukum tanah dan air; dan kehidupan keluarga dan hukumnya.  \nBukan itu saja, Hurgronje juga menerbitkan satu buku lain yang sama tebalnya tentang salah satu suku Aceh, Tanah Gayo dan Penduduknya. Di kedua buku itu Hurgronje fasih menggunakan istilah dan kalimat lokal, yang menandakan bahwa ia menguasai bahasa itu dengan sangat baik. Satu babyang membuat saya berhutang budi dengan penemuan antropologis Hurgronje adalah pembahasannya tentang Suku Gayo bersatu perasaan dengan Aceh dalam keikutsertaan dengan perang melawan Belanda ; sebuah penanda yang menunjukkan kulturasi yang baik terjadi di masalampau, namun politik kontemporer seperti membangun fragmentasi antar-suku itu di Aceh.  \nMungkin saja gambaran etnografis yang dikumpulkan oleh Hurgronje berdasarkan pengamatannya bertahun-tahun itu ada bagian yang dianggap sumir atau politis. Seperti pengambarannya tentang fungsi meunasah3 yang sangat penting bagi kehidupan sosial-budaya. Ia sebutkan dalam bukunya bahwa salah satu fungsi meunasah adalah tempat pertunjukan sandiwara selepas tarawih. Apabila ada orang kampung yang tidak hadir dalam piasan malam itu, akan ada sekelompok pemuda yang memukul tambo (tambur besar meunasah) di halaman rumah masyarakat yang tidak berpartisipasi  \n1 Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh.  \n2 Snouck Hurgronje, Aceh : Rakyat dan Adat Istiadatnya, (Jakarta : INIS, 1996), hal. 343.  \n3 Meunasah adalah mesjid mini atau dalam bahasa Melayu disebut surau atau langgar.  \nitu, untuk mempermalukan tuan rumah hingga ia bergabung ke meunasah bersama masyarakatlainnya.4  \nAlam kontemporer kita tentu akan bertanya apakah ada dalam sejarah Aceh fungsi meunasah seperti itu? Meski tetap ada, paling praktik meunasah adalah untuk perayaan barzanji atau dalaekheirat.5 Alam pikir modern kita yang dipengaruhi oleh Islam politik, menganggap praktik seperti inipasti suatu bid’ah. Demikianlah, dengan segala pertimbangan saya menyatakan buku ini sedikit banyak membantu kita untuk meraba zaman itu, bahwa meunasah pernah menjadi tempat pementasan opera rakyat!  \nDalam rentang seratus tahun terakhir, saya tidak lagi menemukan ada sebuah karya yang mampu merekonstruksi kebudayaan Aceh atau melakukan revisi total dari apa yang telah dilakukan oleh Hurgronje. Bahkan selama ini beberapa dokumen kebudayaan dan adat Aceh – secara diam-diamatau malu-malu kucing telah mengambil saja hasil dari buku ini tanpa pernah menyebutkan sumbernya. Praktik plagiasi terjadi beriringan dengan kematian tradisi penulisan hal-hal yang baru dengan bahasa baru.  \nAcehnologi Sebagai Epistimologi  \nApa yang dituliskan oleh Snouck Hurgronje bisa disebut sebagai Acehnologi atau pengetahuan tentang Aceh. Hurgronje mengambil jalan antropologi untuk mengambarkan Aceh sebagaisekumpulan masyarakat yang-dalam bahas Max Weber disebut –“sedang memintal jaring-jaring makna kehidupannya.”  \nKenyataan ini menjadi penting karena dalam konstruksi kebudayaan, Aceh adalah salah satu kerajaan besar pada abad 16 di wilayah di Asia Tenggara yang paling sedikit melahirkan tulisan at","cbCaitEhHtNwJ5Pp","https://ap.wps.com/l/cbCaitEhHtNwJ5Pp","pdf",112797,10,"Indonesian","# Acehnologi: Menebah Tanda-Tanda Kebudayaan\n## Kutipan dan konteks pembagian warisan di Aceh\n## Tiga bab besar buku Hurgronje\n## Suku Gayo dan perang melawan Belanda\n## Fungsi meunasah dan pertunjukan setelah tarawih\n## Acehnologi sebagai epistimologi pengetahuan tentang Aceh\n## Minimnya tulisan kebudayaan serta karya politik setelahnya","[{\"question\":\"Apa yang dimaksud dengan “Acehnologi” dalam tulisan ini?\",\"answer\":\"“Acehnologi” dimaknai sebagai pengetahuan atau cara memahami Aceh, sebagaimana upaya Hurgronje yang menggunakan pendekatan antropologi untuk menggambarkan Aceh sebagai jaring-jaring makna kehidupan.\"},{\"question\":\"Bagaimana momentum pembagian warisan di Aceh menurut kutipan Hurgronje?\",\"answer\":\"Pembagian warisan dikatakan diatur setelah urusan pemakaman selesai, pada hari khanduri rayeuk, yakni hari ke-44 sesudah kematian, dengan uleebalang berwenang bila diminta oleh keuchik atau teungku gampong.\"},{\"question\":\"Fungsi meunasah apa yang dipertanyakan penulis dari sudut pandang sejarah?\",\"answer\":\"Penulis menilai praktik meunasah sebagai tempat pertunjukan sandiwara rakyat, lalu bertanya apakah fungsi tersebut juga pernah ada dalam sejarah Aceh, meski praktik modern lebih sering dikaitkan dengan perayaan barzanji atau dalaekheirat.\"}]","Acehnologi - Menebah Tanda-Tanda Kebudayaan | PDF",15]